
Rasyid dan dokter Sheina disibukkan dengan mengurus dokumen pernikahan mereka. Aruna dan Kautsar sangat bahagia saat mengetahui semua dokumen berhasil diurus sebelum Rasyid berangkat bertugas.
Malam itu keempatnya bertemu di sebuah tempat yang disukai Aruna. Rasyid dan dokter Sheina yang tiba lebih dulu nampak kagum dengan pilihan Aruna. Keduanya menoleh saat mendengar suara Kautsar menyapa.
" Maaf Kami telat. Maklum lah bumil ini mulai ga nyaman dengan stok pakaian di lemari. Jadi harus sedikit bersabar menunggu dia memilih pakaian yang pas...," kata Kautsar sambil menjabat tangan Rasyid dan dokter Sheina bergantian.
" Ga masalah. Kami sengaja datang lebih awal supaya ga kejebak macet tadi. Iya kan Sayang...?" tanya Rasyid.
" Iya...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum mengamati Aruna.
" Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu Kak ?. Aku jelek ya pakai baju ini...?" tanya Aruna sambil mengamati penampilannya.
" Siapa bilang jelek. Kamu cantik Aruna. Meski pun perutmu udah keliatan membuncit tapi Kamu tetap terlihat Ok kok...," puji dokter Sheina hingga membuat Aruna menghela nafas lega.
" Alhamdulillah, syukur lah kalo begitu...," sahut Aruna.
" Kenapa Kamu lebih senang saat Kak Sheina memuji dibanding Aku. Padahal yang Aku bilang tadi kan sama persis seperti yang Kak Sheina bilang...?" protes Kautsar.
" Kamu ga paham sih apa yang dirasakan perempuan. Aku lebih percaya Kak Sheina karena dia pasti bicara jujur. Ga kaya Kamu yang berusaha membuatku senang. Padahal yang Aku butuh itu kritikan bukan pujian...," sahut Aruna cuek lalu duduk di samping dokter Sheina.
Ucapan Aruna membuat Rasyid dan dokter Sheina tertawa sedangkan Kautsar terlihat mengusap dada sambil menggelengkan kepala.
" Sabar ya Tsar. Emosi bumil emang labil...," kata Rasyid sambil menepuk punggung Kautsar.
" Iya Mas...," sahut Kautsar sambil mengangguk lalu tersenyum.
" Jadi Mas Rasyid berangkat besok Kak...?" tanya Aruna.
" Iya...," sahut Rasyid dan dokter Sheina bersamaan.
" Selamat bertugas ya Mas. Ingat jangan macam-macam. Udah ada wanita cantik di sini yang menanti kepulanganmu...," kata Aruna.
" Iya Aku tau Run. Tolong jaga Sheina sampai Aku kembali ya...," pinta Rasyid.
" Wah kalo itu Aku ga janji Mas. Kak Sheina ini kan aktif banget. Kayanya Kamu salah deh nitipin dia sama Aku. Aku aja ga boleh keluar kemana-mana sama Suamiku...," gurau Aruna sambil melirik Kautsar.
" Iya juga. Harusnya Aku titipin sama siapa dong...?" tanya Rasyid.
" Ga usah titipin sama siapa-siapa. Aku bukan barang ya. Lagian Aku udah dewasa dan bisa menjaga diri kok...," sela dokter Sheina ketus hingga membuat tiga orang yang bersamanya tertawa.
" Aku tau Sayang. Aku kan cuma bercanda tadi...," sahut Rasyid sambil mengusap punggung tangan dokter Sheina dengan lembut.
Dokter Sheina pun tersenyum manis untuk membalas sikap lembut Rasyid padanya.
\=\=\=\=\=
Kepergian Rasyid ke Papua bersama beberapa rekan polisi membuat Raka sedikit kesepian. Karenanya Raka sengaja menyibukkan diri di kantor hingga larut malam agar saat pulang ke rumah bisa langsung tidur.
" Belum pulang Ka...?" tanya salah satu rekannya bernama Yoga.
" Belum Ga. Lo mau kemana buru-buru begitu...?" tanya Raka.
__ADS_1
" Mau ke Rumah Sakit. Istri Gue mau melahirkan Ka...," sahut Yoga sambil bergegas meraih jaketnya yang tergantung di balik pintu.
" Eh, Lo naik apaan ke sana...?" tanya Raka.
" Naik motor lah. Kenapa emangnya...?" tanya Yoga.
" Biar Gue anterin deh. Kebetulan kan Gue juga mau pulang. Lagian bahaya berkendara dalam pikiran kalut kaya gini...," kata Raka.
Yoga nampak berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. Tak lama kemudian Raka dan Yoga sudah berada di dalam mobil yang melaju cepat menuju Rumah Sakit.
" Ini Rumah Sakitnya...?" tanya Raka yang tahu jika itu adalah tempat dokter Sheina bertugas.
" Iya...," sahut Yoga.
" Siapa nama dokter kandungannya...?" tanya Raka.
" Dokter Sheina. Kenapa Ka, Lo kenal sama dia...?" tanya Yoga.
" Kenal. Itu kan calon istrinya si Rasyid...," sahut Raka.
" Oh ya. Wah kalo Gue tau dari awal pasti Gue minta diskon sama dia...," gurau Yoga.
" Bisa aja Lo...," sahut Raka sambil tersenyum.
Kemudian Raka dan Yoga bergegas masuk ke dalam Rumah Sakit. Mereka menuju ruang bersalin dimana istri Yoga tengah berjuang melahirkan anak kedua mereka.
Tak lama berselang suara tangis bayi terdengar memecah keheningan malam. Raka dan Yoga nampak bersorak gembira karena penantian mereka berakhir.
" Selamat ya Ga. Buntut Lo tambah satu nih...," kata Raka.
" Makasih Ka...," sahut Yoga sambil tertawa kecil.
" Sekarang sebaiknya Lo temenin istri Lo sana. Gue mau nyari kopi dulu...," kata Raka sambil berlalu.
" Ok. Jangan lama-lama ya Ka, Gue juga pengen ngopi nih...," kata Yoga sambil mengikuti perawat yang memanggil namanya.
" Siippp...," sahut Raka sambil berlalu.
Kemudian Raka melangkah cepat menuju kantin Rumah Sakit. Setelah mendapatkan dua gelas kopi dan makanan ringan yang ia inginkan, Raka pun kembali menemui Yoga.
Namun saat berjalan pelan di koridor Rumah Sakit, Raka dikejutkan dengan suara menggeram dari balik pepohonan yang ada di taman Rumah Sakit. Raka pun memasang sikap waspada karena yakin jika ada hewan buas di balik pohon itu.
" Duh apes banget sih. Lagi ga tugas, ga bawa pistol, eh malah nemu yang kaya gini...," gumam Raka kesal.
Kemudian Raka menunggu apa yang akan dilakukan makhluk yang ia duga hewan buas itu padanya. Namun setelah sekian lama menunggu ternyata tak ada pergerakan apa pun. Raka menghela nafas lega lalu kembali melanjutkan perjalannya menuju ruang bersalin. Di depan ruang bersalin terlihat Yoga berdiri menanti dan tersenyum melihat kedatangannya.
" Akhirnya kopi Gue datang juga...," kata Yoga sambil meraih segelas kopi dari tangan Raka.
" Gimana bayi sama Istri Lo Ga...?" tanya Raka.
" Alhamdulillah mereka baik-baik aja. Bayi Gue lengkap istri Gue sehat...," sahut Yoga sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian keduanya menoleh saat melihat istri Yoga dan bayi yang baru dilahirkan itu dibawa menuju ruang rawat inap. Yoga dan Raka pun mengikuti dari belakang.
Raka nampak mengedarkan pandangannya sambil mengikuti brankar yang berisi istri dan bayi Yoga. Tak sengaja Raka menatap langit malam dan melihat bulan purnama penuh di sana. Entah mengapa melihat bulan purnama itu membuat perasaan Raka menjadi kacau. Ia teringat saat mengurus kasus kematian anak perempuan di belakang toilet dulu.
" Kenapa Ka, bengong aja Lo...," kata Yoga memutus lamunan Raka.
" Gapapa, Gue cuma inget kalo malam ini sama persis kaya waktu Kita ngurus kematian anak perempuan di belakang toilet itu. Lo inget kan Ga...?" tanya Raka.
" Iya. Sayangnya kematian anak itu belum terungkap sampe sekarang...," sahut Yoga.
" Betul. Waktu itu juga bulan purnama bersinar penuh kaya gini. Dan tadi Gue denger sesuatu di balik rimbunan pohon di dekat kantin. Gue jadi berpikir jangan-jangan pembunuh itu sengaja melakukan aksinya saat bulan purnama kaya gini Ga...," kata Raka.
" Ah, sia*an. Gue lagi ga bawa pistol nih Ka. Mudah-mudahan dia ga beraksi sekarang di sini...," sahut Yoga cemas.
Dan lagi-lagi Raka mendengar suara gemerisik dari balik pepohonan. Ia pun menoleh kearah Yoga yang ternyata juga mendengar suara itu.
" Lo denger kan Ga. Gue yakin ini bukan tikus atau kucing...," kata Raka.
" Iya Ka. Kok kaya binatang buas. Jangan-jangan anak perempuan itu mati karena diterkam binatang buas. Tapi binatang buas apa yang berkeliaran di Rumah Sakit...?" tanya Yoga bingung.
Raka menggeleng. Keduanya mulai memasang sikap siaga dan terkejut saat melihat kelebatan bayangan hitam melesat cepat di atas kepala mereka. Dari tempatnya berdiri Raka bisa melihat jelas penampakan makhluk hitam berbulu itu sama persis dengan apa yang pernah diceritakan Rasyid.
" Ya Allah, makhluk apa itu...," gumam Raka sambil bergidik ngeri dengan sekujur tubuh meremang.
Yoga yang melihat kelebatan bayangan hitam itu memilih mendekati brankar untuk menjaga anak dan istrinya dan meninggalkan Raka di belakangnya.
Raka masih terpaku di tempat sambil menatap arah dimana makhluk itu menghilang.
" Apa itu yang namanya manusia serigala ?. Ternyata makhluk mitos itu benar-benar ada. Artinya bulu yang Gue temuin itu bukan bulu anjing biasa tapi bulu manusia serigala. Hmm..., masuk akal. Kan anjing sama serigala emang mirip. Gue harus ngabarin Rasyid secepatnya karena cuma dia yang paham apa yang Gue maksud...," gumam Raka sambil mengangguk.
Kemudian Raka meraih ponselnya untuk menghubungi Rasyid. Ia menceritakan penemuannya malam ini dan jelas membuat Rasyid terkejut.
" Hati-hati Ka, jangan gegabah. Bisa-bisa Lo yang jadi korban selanjutnya. Karena makhluk itu hanya mengincar darah manusia...," kata Rasyid dari seberang telephon.
" Iya Syid, Lo tenang aja...," sahut Raka.
" Bisa tolong pastiin kalo Sheina baik-baik aja kan Ka...?" tanya Rasyid.
" Sheina baik-baik aja Syid. Dia baru aja selesai bantuin istrinya Yoga melahirkan...," sahut Raka.
" Alhamdulillah...," kata Rasyid lega.
Raka pun mengakhiri pembicaraan dan bergegas menuju ruangan dimana istri dan bayi Yoga berada.
Malam itu Raka menunggu kabar kematian tak wajar di sekitar Rumah Sakit. Namun hingga dini hari tak ada kabar apa pun yang masuk ke ponselnya. Kabar itu justru ia terima saat hendak menunaikan sholat Subuh di musholla Rumah Sakit.
" Korban meninggal dengan luka menganga di leher dan tubuh kehabisan darah...," tulis rekan Raka.
Membaca isi chat itu membuat Raka yakin jika makhluk berbulu yang dilihatnya beberapa jam yang lalu berkaitan dengan kabar kematian tak wajar itu.
bersambung
__ADS_1