
Aruna sedang bekerja di dalam ruangannya seorang diri. Sedangkan Kenzo sedang keluar untuk menemui klien yang juga teman lamanya. Karena merasa pertemuan kali ini berlangsung lama, maka Kenzo tak mengajak Aruna ikut serta.
" Biar Saya sendiri aja Run. Kamu tetap di sini dan lanjutin kerjaan yang belum selesai...," kata Kenzo pagi tadi.
" Baik Pak. Tapi kalo boleh tau kenapa Saya ga boleh ikut Pak...?" tanya Aruna.
" Alex itu teman lama Saya Aruna. Saya mau buat kejutan buat dia. Dan Saya yakin pertemuan ini bakal makan waktu lama. Makanya Saya ga mau ngajak Kamu karena ga tega ngeliat Kamu duduk nungguin Saya selesai ngobrol sama dia nanti...," sahut Kenzo sambil tersenyum.
" Makasih Pak. Saya Kirain Bapak ga berkenan sama pekerjaan Saya...," kata Aruna.
" Ga usah mikir gitu Aruna. Selama ini Saya puas sama hasil kerja Kamu kok. Tapi Saya juga ga boleh egois. Kamu memang sekretaris Saya, tapi Kamu juga sahabat Saya. Dan Saya ga mau Kautsar mukulin Saya cuma gara-gara Saya nyuruh Istrinya kerja terlalu keras...," gurau Kenzo sambil berlalu.
Aruna pun tertawa mendengar ucapan Kenzo. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya seperti yang diminta Kenzo tadi.
Tiba-tiba selarik angin menyapa Aruna hingga menyebabkan beberapa lembar kertas di meja Aruna beterbangan. Aruna berdehem karena tahu sesuatu hadir di sana.
" Ruang kerja yang bagus ya Nak...," sapa George sambil duduk di atas sofa.
" Alhamdulillah, Aku juga suka sama design interiornya...," sahut Aruna.
" Yah, Om juga suka. Terasa nyaman dan hangat...," kata George sambil mengamati ruang kerja Aruna.
" Apa ada kabar baru Om...?" tanya Aruna sambil melangkah mendekati George.
" Luluk mulai diterror sama makhluk itu Aruna...," sahut George.
" Terus...?" tanya Aruna tak sabar.
" Kalo semua berjalan sesuai rencana, malam ini Kita bisa menyelesaikan semuanya...," sahut George.
" Ok, Aku siap Om. Aku ga sabar buat ngirim makhluk itu dan semua orang yang terlibat didalamnya ke dalam jurang kehancuran...," kata Aruna dengan mata berbinar.
" Jangan terlalu bersemangat Nak. Ingat, Kamu sedang hamil sekarang...," kata George sambil berlalu.
__ADS_1
" Aku ingat kok Om. Makanya Aku akan selalu hati-hati..., " sahut Aruna sambil menatap ke jendela tempat George melesat pergi.
\=\=\=\=\=
Namun rupanya rencana yang disusun George dan Aruna harus buyar begitu saja. Itu karena Ria yang semula menginap di penginapan terpaksa pulang ke rumah kontrakan untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
Ria kembali ke kontrakan sesaat setelah mobil pick up yang membawa perabotan rumah orangtua Pipit berlalu. Saat itu Luluk juga masih berdiri di depan teras rumah kontrakan Ria.
Kedua mata Luluk berbinar bahagia saat melihat Ria pulang ke rumahnya. Dengan ramah Luluk menyambut kehadiran Ria.
" Lho, udah pulang toh Mbak Ria. Katanya mudik, kok cepet banget. Sendiri aja, pacarnya ga nganterin ya ?. Tasnya juga ga keliatan, ga bawa oleh-oleh dong...?" tanya Luluk beruntun.
Ucapan Luluk membuat Ria tak kuasa menahan tawa. Namun Ria segera menghentikan tawanya saat melihat wajah Luluk berubah masam.
" Saya baru aja pulang Bu, tapi harus buru-buru ke kantor. Kalo tas Saya dibawa sama pacar Saya, mungkin ntar sore diantar...," sahut Ria sambil melintas di depan Luluk.
" Terus Mbak Ria pulang mau ngapain dong...?" tanya Luluk sambil mengikuti Ria.
" Dompet Saya ketinggalan Bu. Saya mau ambil terus langsung balik ke kantor...," sahut Ria sambil membuka pintu rumah.
" Bau banget sih. Padahal baru ditinggal sebentar...," gumam Ria sambil meraih dompet dari atas lemari.
" Mungkin ada tikus mati Mbak. Coba aja dicek ke dalam...," saran Luluk.
" Duh, tapi Saya harus segera balik ke kantor Bu. Gimana dong...," kata Ria gusar.
" Ya abis gimana lagi. Kalo udah bau gitu ntar nyebar ke rumah tetangga malah repot lho Mbak. Emangnya Mbak Ria mau dimusuhin tetangga gara-gara rumahnya bau...?" tanya Luluk.
" Ga mau lah...," sahut Ria cepat.
" Makanya cek dulu ke dalam. Ntar kalo udah ketemu, Saya minta tolong sama orang buat beresin...," kata Luluk sambil mengamati sekitar rumah.
Setelah memastikan di sekitar rumah tak ada orang lain, Luluk pun menyelinap masuk ke dalam rumah Ria.
__ADS_1
" Kalo gitu sekarang aja panggil orang buat beresin sumber baunya Bu. Saya bayar kok...," kata Ria sambil membalikkan tubuhnya dan bersiap keluar.
Namun langkah Ria terhenti karena Luluk langsung membanting pintu hingga tertutup rapat. Ria terkejut karena Luluk juga mengambil anak kunci lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya.
" Kok dikunci Bu...?" tanya Ria tak mengerti.
" Iya. Biar lebih aman dan cepat...," sahut Luluk sambil menyeringai.
Ria terkejut mendengar jawaban Luluk. Apalagi ia juga melihat sinar kemerahan di kedua mata Luluk. Tiba-tiba Ria merasa sangat takut dan menyesal telah pergi ke sana seorang diri. Ia menyesal karena telah melanggar pesan Kenzo dan Aruna.
Perlahan Luluk terus melangkah dan mendorong Ria agar masuk lebih dalam ke dalam rumah. Ria terlihat gusar dan tak kuasa melawan. Bau yang menerpa hidungnya sejak tadi kini membuat kepalanya pusing dan berat. Ditambah tatapan Luluk yang menghipnotis, membuat Ria tak berkutik.
" Kenapa Bu, kenapa begini...?" tanya Ria.
" Karena memang seharusnya begini Mbak Ria...," sahut Luluk setengah berbisik.
" Apa mau Ibu. Bilang sekarang dan Saya janji akan memenuhi semuanya...," kata Ria sambil menggelengkan kepalanya.
" Kamu bisa apa Mbak ?. Ngasih uang ?. Saya dapat lebih banyak dari yang Kamu janjikan. Jadi Saya ga perlu uang Kamu. Saya cuma perlu Kamu untuk memenuhi permintaannya...," sahut Luluk sambil melangkah maju hingga mau tak mau membuat tubuh Ria terdorong masuk ke dalam kamar tidurnya.
" Permintaan siapa Bu ?. Siapa yang nyuruh Ibu...?" tanya Ria.
" Dia...," sahut Luluk sambil menunjuk sesuatu di belakang Ria.
Lalu dengan sekali hentakan Luluk berhasil mendorong tubuh Ria dengan kencang hingga gadis itu terjengkang di lantai kamar tidurnya.
Ria meringis kesakitan saat tubuhnya membentur lantai. Ria berusaha bangkit sambil mengusap bok*ngnya yang terasa sakit. Namun Ria terkejut karena merasakan tubuhnya ditarik oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Saat Ria menoleh ke belakang, ia melihat sosok makhluk hitam besar tanpa busana sedang duduk di atas tempat tidur. Makhluk itu sangat tinggi, karena meski pun dalam posisi duduk namun kepalanya yang bertanduk tiga itu hampir menyentuh plafond kamar.
Ria pun menjerit sekencang-kencangnya saat makhluk itu mengulurkan tangan kearahnya. Dan Ria kembali menjerit saat tangan makhluk itu berhasil memeluk tubuhnya.
Ria memanggil Luluk dan memohon bantuannya namun Luluk hanya berdiri sambil tertawa. Kemudian dengan santai Luluk keluar dari rumah Ria, mengunci pintu dan memasukkan anak kunci ke dalam saku bajunya. Bersamaan dengan tertutupnya pintu rumah Ria, suara jerit tangis Ria pun lenyap bak ditelan bumi.
Kemudian Luluk kembali duduk di teras rumah Ria sambil menghitung pendapatan yang akan ia peroleh. Senyum nampak menghias wajahnya. Sesekali ia menoleh kearah pintu rumah Ria yang terkunci sambil membayangkan bagaimana makhluk itu menyantap Ria.
__ADS_1
bersambung