
George langsung membawa Kautsar mendarat di depan kamar rawat inap Aruna. Beruntung saat itu malam telah larut hingga tak banyak orang yang melintas di sekitar tempat itu.
Saat membuka pintu kamar terlihat Matilda tengah duduk menemani Aruna. Kautsar menghambur masuk dan langsung memeluk istrinya yang tengah terpejam itu. Sesaat kemudian Kautsar menoleh kearah Matilda lalu mendekat dan mencium punggung tangannya.
" Makasih udah jagain istriku Tante...," kata Kautsar.
" Sama-sama Nak. Aruna baru aja tidur karena pengaruh obat. Sebelumnya dia gelisah karena khawatir Kamu marah...," sahut Matilda.
" Aku ga mungkin marah Tante. Aku tau gimana kondisi Aruna dan bayiku sejak awal...," kata Kautsar sambil menatap Aruna.
" Tante tau itu dan Tante juga bilang begitu sama Istrimu ini Nak. Tapi keliatannya Aruna hanya bisa yakin kalo mendengarnya langsung dari mulutmu...," kata Matilda sambil tersenyum kecut.
" Dia memang keras kepala. Tapi sayangnya Aku cinta sama dia Tante...," sahut Kautsar sambil menatap Aruna dengan lembut.
Matilda dan George tersenyum mendengar ucapan Kautsar.
" Kalo gitu Tante dan Om keluar dulu ya Nak...," pamit Matilda sambil mengusap kepala Kautsar dengan lembut.
" Iya Tante. Sebaiknya Om dan Tante juga istirahat, biar Aku yang jagain Aruna...," kata Kautsar yang diangguki George dan Matilda.
Setelahnya Matilda dan George keluar dari kamar itu untuk memberi kesempatan Kautsar dan Aruna bicara dari hati ke hati.
Kautsar nampak menatap Aruna dengan tatapan iba. Ada rasa perih di hatinya jika mengingat sang istri bukan lah manusia biasa. Aruna adalah manusia yang memiliki darah serigala dalam dirinya. Karenanya ia bisa berubah sewaktu-waktu menjadi buas dan liar seperti serigala. Tapi di saat menjadi manusia Aruna adalah sosok yang mengagumkan. Tegas, disiplin, tangguh dan tentu saja cantik. Kata terakhir itu membuat Kautsar tersenyum lalu mendaratkan ciuman sayang di kening Aruna.
Perlahan Aruna membuka matanya karena merasakan kehadiran Kautsar di sisinya. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Namun detik berikutnya air mata nampak mengambang di kedua mata Aruna. Kautsar tersenyum sambil merapikan anak rambut Aruna.
__ADS_1
" Gimana keadaan Kamu Sayang...?" tanya Kautsar dengan lembut.
" Aku gagal men... jaga ba... yi Kita Kautsar. Ma... af...," sahut Aruna lirih lalu air matanya jatuh menganak sungai di pipinya yang pucat.
Mendengar jawaban sang istri Kautsar pun terharu. Ia memeluk Aruna dengan erat sambil menciumi kepala sang istri berkali-kali.
" Bukan salah Kamu Sayang. Jangan menangis lagi ya...," kata Kautsar.
" Aku bod*h karena ga memperhatikan kondisiku saat melakukan sesuatu. Aku memang bukan Ibu yang baik karena membiarkan Anakku menderita...," rintih Aruna.
" Sssttt..., jangan bilang gitu Sayang. Aku tau kok seberapa besar Kamu menyayanginya dan menginginkannya. Kita sayang sama dia, tapi Allah lebih sayang sama dia. Makanya Allah ambil dia sekarang. Jangan menyalahkan dirimu lagi ya. Itu sama aja Kamu menentang takdir Allah. Insya Allah Kita masih bisa punya bayi lagi nanti...," kata Kautsar sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.
Suasana hening sejenak. Hanya isak tangis Aruna yang terdengar memilukan. Dan itu membuat Kautsar hampir menangis. Air mata sudah mengambang di kedua matanya dan pasti jatuh jika Kautsar mengedipkan matanya. Namun Kautsar berusaha bertahan. Meski pun dia sangat sedih, tapi dia harus kuat karena Aruna membutuhkannya.
" Kalo ga bisa gimana Tsar...?" tanya Aruna tiba-tiba sambil mengurai pelukan mereka.
" Kautsar !. Bukan itu maksudku...!" kata Aruna kesal sambil mencubit pinggang Kautsar hingga sang suami meringis menahan sakit.
" Jangan cubit lagi Sayang. Sakit tau...," kata Kautsar sambil mengerucutkan bibirnya.
" Abisnya Kamu sih bikin gara-gara. Aku ngomong apa Kamu jawabnya apa...," sahut Aruna kesal sambil memukul dada Kautsar dengan telapak tangannya.
" Tapi Aku emang ga tau kok maksud Kamu...," kata Kautsar pura-pura tak tahu.
Dalam hati Kautsar merasa senang melihat sikap galak Aruna. Bukan kah itu artinya Aruna akan baik-baik saja ?.
__ADS_1
" Kata orang kalo abis keguguran itu cuma punya dua kemungkinan. Bisa hamil lagi atau ga bisa hamil sama sekali...," kata Aruna cemas hingga membuat Kautsar tersenyum.
" Kata orang menikah juga cuma punya dua kemungkinan. Cerai atau langgeng, punya anak atau ga. Kayanya di semua hal selalu punya dua kemungkinan, yah kaya warna hitam putih gitu. Iya ga sih...?" tanya Kautsar mencoba mengajak Aruna berpikir.
Aruna menatap Kautsar beberapa saat lalu tersenyum.
" Kamu benar. Kalo Kita sekolah juga pasti harus ngikutin ujian. Kemungkinannya cuma dua. Lulus atau ga. Begitu pun test masuk kerja...," kata Aruna antusias.
" Istri pinter. Jadi ga usah dengerin omongan orang. Ini hidup Kita, rumah tangga Kita, susah senang Kita yang jalani. Jadi santai aja. Soal anak, kalo Allah berkehendak pasti Kita dikasih. Saat ini Kita positif thinking aja sama Allah. Mungkin menurut Allah Kita belum siap dan layak untuk jadi orangtua. Makanya titipan Nya diambil dulu. Allah nyuruh Kita supaya mempersiapkan semuanya sebaik mungkin hingga saat Anak itu lahir Kita benar-benar dalam kondisi mental, fisik dan ekonomi yang siap. Atau mungkin Allah punya rencana indah untuk Kita di depan sana yang pastinya jauh lebih baik dari semua yang Kita pikirkan...," kata Kautsar bijak sambil mengusap sisa air mata di pipi Aruna.
Kedua mata Aruna nampak berkaca-kaca mendengar ucapan Kautsar. Ia terharu dan hampir menangis. Kautsar pun menarik Aruna ke dalam pelukannya dan membiarkan Aruna menangis lagi di sana.
" Nangis yang banyak, kalo perlu abisin semuanya. Tapi setelah ini Aku mau Kamu jangan nangis lagi dan menyalahkan diri atau siapa pun atas kejadian ini. Ngerti ga...?" bisik Kautsar di telinga Aruna.
Aruna tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis.
Di luar ruangan tampak Matilda dan George berdiri mematung. Keduanya bahagia karena Kautsar berhasil membuat Aruna bangkit dari keterpurukan. Alih-alih menyalahkan sang istri, Kautsar justru memberi banyak petuah bijak untuk Aruna.
" Ga nyangka Kautsar bisa ngomong kalimat bijak kaya gitu. Aku jadi terharu lho Sayang...," kata Matilda dengan mata berkaca-kaca.
" Iya. Ternyata Kita tak salah memilihkan pendamping untuk Aruna ya Sayang...," sahut George sambil tersenyum.
" Bukan Kita yang milih, tapi memang Aruna dan Kautsar ditakdirkan bersama. Apa Kamu lupa ada Allah yang Maha Mengatur...?" protes Matilda.
George tertawa mendengar ucapan Matilda lalu mengusak rambut sang istri dengan sayang hingga Matilda pun ikut tertawa.
__ADS_1
" Wah rupanya Istriku jadi ketularan bijaksana ya. Kayanya Aku harus bawa Kamu pergi dari sini karena Aku ga mau Kamu jadi kaya Kautsar Sayang...," kata George sambil menggendong Matilda lalu membawanya melesat cepat meninggalkan area Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=