Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
296. Dikenalin


__ADS_3

Niat Aruna dan Kautsar untuk mengecek kondisi kesehatan Aruna baru bisa dilakukan beberapa hari kemudian setelah pembicaraan mereka waktu itu. Tepatnya setelah mereka membantu Mukhlis dan Kakek Dita.


Aruna sengaja menghubungi dokter Sheina sebelum bertemu dengannya di Rumah Sakit.


" Assalamualaikum dokter. Apa kabar...?" sapa Aruna.


" Wa alaikumsalam, Alhamdulillah Aku baik-baik aja...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum di seberang telephon.


" Alhamdulillah, syukur lah kalo begitu. Kapan dokter ada di Rumah Sakit ?. Aku mau ngecek kondisi Aku nih dok...," kata Aruna.


" Apa ada yang sakit Run...?" tanya dokter Sheina cemas.


" Sampe saat ini sih ga ada yang sakit banget. Cuma kadang nyeri aja. Aku ga tau itu apa. Makanya Aku mau periksa dok...," sahut Aruna.


" Hari ini Aku dinas sampe sore. Kamu boleh datang kalo mau...," kata dokter Sheina.


" Mmm, tapi Suamiku juga mau nganterin dok. Apa Gapapa kalo Aku sedikut telat nanti...?" tanya Aruna.


" Oh Gapapa, Aku bakal tunggu sampe Kalian dateng kok...," sahut dokter Sheina.


" Wah makasih lho dok. Insya Allah sore ini Aku dan Kautsar datang ke Rumah Sakit...," kata Aruna antusias.


Dokter Sheina mengangguk lalu segera mengakhiri percakapan mereka karena ada seorang pasien yang membutuhkan bantuannya.


\=\=\=\=\=


Aruna dan Kautsar baru saja keluar dari ruangan dokter Sheina. Keduanya nampak tersenyum senang karena berhasil menyampaikan uneg-uneg yang mereka rasakan.


" Aku ke toilet sebentar ya Sayang...," kata Aruna tiba-tiba.


" Ok. Hati-hati ga usah lari...," sahut Kautsar.


Aruna pun tak menghiraukan ucapan suaminya. Ia justru berlari kecil menuju toilet yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


Kautsar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Aruna. Kemudian Kautsar memilih duduk di ruang tunggu. Dari tempatnya Kautsar bisa mengamati pergerakan Aruna saat keluar dari toilet nanti.


Tak lama kemudian Kautsar justru melihat dokter Sheina melangkah tergesa-gesa. Ternyata dokter Sheina menemui seseorang di ruang tunggu yang duduk di sudut. Wajahnya terlihat berbinar pertanda jika orang yang ditemui adalah orang yang membawa kebahagiaan untuknya atau orang yang penting dalam hidupnya. Tanpa sadar Kautsar pun tersenyum melihatnya.


" Kenapa senyum-senyum sendiri sih Sayang...?" tanya Aruna tiba-tiba.


" Oh itu, Aku ngeliat dokter Sheina ketemuan sama seseorang di sebelah sana...," sahut Kautsar sambil berbisik.


" Mana ?. Ga ada dokter Sheina di sini kok...," kata Aruna sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tunggu.


" Mungkin udah pergi...," sahut Kautsar.


" Yaahh, kenapa ga difoto sih Sayang...," keluh Aruna.


" Untuk apaan...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Ya mau tau aja. Pasti cowok deh yang ditemuin sama dokter Sheina sampe Kamu senyum-senyum kaya gitu..., " kata Aruna.


" Ya Allah. Itu kan privacynya dokter Sheina, masa Aku fotoin kaya orang kurang kerjaan aja. Lagian kenapa Kamu kepo banget sama urusannya dokter Sheina...?" tanya Kautsar.


" Aku cuma pengen tau siapa cowoknya dokter Sheina...," ulang Aruna.


" Ga usah kepo sama urusan orang. Ayo pulang...," kata Kautsar gemas sambil merengkuh bahu sang istri dan membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


Aruna nampak mengerucutkan bibirnya karena gagal mendapat info tentang sosok pria yang kini tengah dekat dengan dokter Sheina.


Tapi rupanya keberuntungan masih berpihak kepada Aruna. Saat di parkiran Rumah Sakit ia justru bisa bertemu langsung dengan dokter Sheina dan Rasyid. Sebelumnya dokter Sheina memang memutuskan pulang dengan Rasyid dan meninggalkan mobilnya di parkiran.


" Selamat malam dokter Sheina...," sapa Aruna antusias.


" Selamat malam Aruna. Baru mau pulang juga ?. Kirain udah pulang daritadi...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.


" Aku ke toilet dulu sebentar tadi. Makanya baru pulang sekarang dok. Dokter pulang sama siapa...?" tanya Aruna sambil melirik pria di samping dokter Sheina.


" Oh kenalin ini Rasyid dan Rasyid ini Aruna, pasien Aku. Nah kalo itu Suaminya Aruna namanya Kautsar...," kata dokter Sheina sambil menepuk lengan Rasyid lembut.


" Selamat malam, Saya Rasyid...," kata Rasyid sambil mengulurkan tangannya.


Aruna dan Kautsar menyambut uluran tangan Rasyid lalu menyebut nama masing-masing. Ketiganya langsung akrab dan itu membuat dokter Sheina tersenyum.


" Panggil Aruna aja Mas Rasyid. Saya rasa usia Mas Rasyid sama kaya usia Suami Saya, atau mungkin lebih...," pinta Aruna.


" Ok. Saya bakal panggil Aruna aja ya...," sahut Rasyid dengan mimik lucu hingga membuat Aruna tersenyum.


" Keliatannya Mas Rasyid ini anggota Polisi, betul ga sih Sayang...?" tanya Aruna sambil menyenggol lengan suaminya.


Ucapan Aruna membuat ketiga orang di hadapannya itu saling menatap sejenak kemudian tertawa. Dokter Sheina nampak menganggukkan kepalanya saat Rasyid menatapnya seolah memberi ijin Rasyid mengatakan semuanya.


" Betul Aruna. Saya memang Polisi. Padahal Saya udah nyamar tapi ketauan juga ya sama Kamu...," kata Rasyid sambil tertawa.


" Kenapa harus nyamar Mas ?. Emang dokter Sheina ga nyaman ya kalo dijemput sama Mas Rasyid kalo lagi pake seragam polisi...?" tanya Aruna.


" Sayang...," panggil Kautsar mencoba mengingatkan Aruna.


" Eh Iya. Maaf ya Mas Rasyid. Keceplosan...," kata Aruna tak enak hati.


" Gapapa Tsar, Aku maklum kok sama kekepoan Istrimu yang cantik ini...," sela dokter Sheina sambil tersenyum.


" Biar Saya jelasin ya. Dokter Sheina ga pernah malu kok Aruna. Dia menerima Saya apa adanya termasuk bagaimana pun cara Saya menjemputnya. Kebetulan hari ini Saya turun piket jam sepuluh pagi tadi, otomatis siang sampe sore Saya libur. Makanya bisa jemput pake baju bebas...," kata Rasyid sambil merengkuh bahu dokter Sheina dengan lembut.


" Oh gitu...," sahut Aruna malu-malu.


Rasyid, dokter Sheina dan Kautsar nampak tersenyum melihat Aruna yang salah tingkah karena salah menerka.


" Kalian mau kemana setelah ini ?. Kenapa Kita ga makan malam bareng aja...?" tanya dokter Sheina.


" Maaf dok, kebetulan Saya masih ada kerjaan yang harus Saya selesaikan...," sahut Kautsar sambil melirik kearah istrinya.


" Kalo Kamu Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Kalo Aku ngikutin Suamiku dong dok. Kemana pun dia pergi Aku ikut...," sahut Aruna sambil memeluk lengan Kautsar dengan erat hingga membuat Rasyid dan dokter Sheina tertawa.


" Sayang banget ya...," kata dokter Sheina sedikit kecewa.


" Gapapa, Kita masih buat janji buat ke depannya. Mungkin ga cuma makan bareng tapi bisa ngedate bareng. Betul ga sih Aruna...," kata Rasyid menengahi.


Ucapan Rasyid membuat wajah dokter Sheina merona sedangkan Aruna tampak antusias.


" Betul banget Mas Rasyid. Iya kan Sayang...?" tanya Aruna sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Kautsar.


" Iya Sayang...," sahut Kautsar sambil mengangguk.

__ADS_1


" Yeeeyy..., kalo gitu Kita atur kapan waktunya ya...," kata Aruna yang diangguki tiga orang di hadapannya.


" Kalo gitu Kami duluan ya dok, Mas Rasyid...," pamit Kautsar sambil menjabat tangan mereka bergantian.


" Silakan Mas Kautsar...," sahut Rasyid.


" Duluan ya, Assalamualaikum..., " kata Aruna sambil melambaikan tangannya saat motor Kautsar melaju meninggalkan parkiran Rumah Sakit.


" Wa alaikumsalam...," sahut dokter Sheina dan Rasyid bersamaan.


Kemudian dokter Sheina menatap Rasyid dan bertanya.


" Apa Kamu serius mau jalan bareng sama mereka Syid...?" tanya dokter Sheina.


" Serius dong Sayang. Emang kenapa, Kamu malu ya...?" tanya Rasyid.


" Ga, ngapain malu. Cuma kaget aja denger Kamu ngomong kaya gitu tadi...," sahut dokter Sheina cepat.


" Syukur lah, Aku pikir Aku udah bikin Kamu ga nyaman...," kata Rasyid sambil mengecup kening dokter Sheina hingga membuat wajah dokter Sheina merona.


" Kalo boleh tau kenapa...?" tanya dokter Sheina.


" Aku ngerasa hubungan Kalian dekat. Dan Aku jadi tertarik untuk mengenal mereka juga. Karena Aku kan harus tau semua yang dekat sama Kamu. Gapapa kan...?" tanya Rasyid sambil menggenggam jemari dokter Sheina dengan erat.


" Iya gapapa...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum manis.


" Bagus deh. Sekarang Kita mau kemana...?" tanya Rasyid sambil membantu dokter Sheina mengenakan helm.


" Makan dong, lapar nih...," sahut dokter Sheina hingga membuat Rasyid tertawa lepas.


Tak lama kemudian Rasyid pun melajukan motornya dengan dokter Sheina yang duduk manis di belakangnya. Sesekali tawa bahagia terdengar mengiringi perjalanan mereka.


Sedangkan di tempat lain Aruna nampak mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya. Saat itu mereka baru saja tiba di depan rumah mereka.


" Kenapa Kamu nolak ajakannya dokter Sheina, Sayang...?" tanya Aruna.


" Gapapa. Sengaja kok...," sahut Kautsar sambil turun dari motor. Sedikit kesulitan karena Aruna tak mau melepaskan pelukannya.


" Iya, tapi kenapa...?" tanya Aruna tak sabar.


" Kita harus ngasih kesempatan mereka buat deket dong Sayang. Emang Kamu ga liat kalo dokter Sheina masih agak canggung pas Kita mergokin mereka tadi...?" tanya Kautsar.


" Masa sih, Aku ga ngeh. Kayanya mereka biasa aja tadi...," sahut Aruna.


" Itu karena Kamu udah sibuk ngepoin mereka jadi ga ngeh sama gesture tubuhnya dokter Sheina...," kata Kautsar sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas.


Aruna tertawa lalu merentangkan kedua tangannya.


" Apa...?" tanya Kautsar.


" Gendong...," rengek Aruna.


" Gapapa kalo diliat orang ?. Ini masih di luar lho Sayang...," kata Kautsar mengingatkan.


" Biarin. Buruan sih...," sahut Aruna sambil mulai menghentakkan kakinya.


Kautsar tertawa lalu membungkukkan tubuhnya agar Aruna mudah naik ke atas punggungnya. Aruna ikut tertawa saat berhasil naik ke atas punggung suaminya. Sesaat kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dengan Aruna yang berada di punggung Kautsar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2