Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
306. Ujian Aruna


__ADS_3

Di saat yang sama di tempat lain.


Aruna kembali merasa kacau. Ia tahu jika kini saatnya ia akan kembali menjadi manusia serigala. Detik-detik yang berlalu membuat Aruna didera rasa takut yang amat sangat.


Aruna takut jika ia berubah menjadi manusia serigala maka ia akan kembali melupakan jati dirinya. Ia takut jika sesuatu terjadi pada bayi dalam kandungannya saat ia berubah menjadi manusia serigala nanti. Dan Aruna tak ingin kembali membahayakan suaminya dengan mengejarnya tanpa henti seperti yang pernah ia lakukan dulu.


Keresahan Aruna terlihat jelas sejak malam menjelang. Kautsar yang saat itu baru saja pulang usai menunaikan ibadah sholat Isya di masjid nampak tak berdaya. Kautsar sama takutnya dengan Aruna. Tapi ia berusaha tenang dan berniat bertahan karena tak ingin meninggalkan Aruna dan bayinya.


Berkali-kali Kautsar menjenguk Aruna di kamar karena khawatir dengan keadaannya. Namun saat Aruna mengibaskan tangannya pertanda ia harus pergi, Kautsar tak kuasa menolak.


Kautsar pun melangkah menjauhi Aruna lalu duduk menunggu di ruang tengah dan membiarkan pintu rumah dalam keadaan terbuka.


" Ssshhh..., aaarrgghh...,"


Kautsar menoleh saat mendengar suara itu dari dalam kamar. Ia tahu jika saatnya akan tiba. Dengan berat hati Kautar bangkit lalu berjalan menuju keluar. Sebelum pergi Kautsar mematung sejenak di ambang pintu. Kautsar tampak ragu meninggalkan Aruna di rumah seorang diri.


Si satu sisi Kautsar ingat pesan sang istri yang memintanya segera menjauh jika mendapati tanda Aruna akan berubah menjadi manusia serigala. Namun di sisi lain Kautsar merasa bertanggung jawab akan keselamatan bayi dalam kandungan Aruna. Kautsar khawatir jika Aruna menyakiti dirinya sendiri dan berimbas pada bayi dalam kandungannya itu.


" Kenapa masih melamun di sini Nak ?. Pergi lah...!" kata Orion tiba-tiba hingga mengejutkan Kautsar.


Kautsar tersenyum bahagia melihat kehadiran Orion, George dan Matilda secara bersamaan.


" Ayah...! " panggil Kautsar dengan mata berbinar.


" Iya ini Aku. Menjauh lah sekarang...!" perintah Orion.


" Baik Yah...!" sahut Kautsar sambil tersenyum.


Kautsar pun bergegas keluar dari rumah. Ia menstarter motor lalu memacunya dengan cepat meninggalkan rumah. Perasaannya menjadi lebih tenang saat melihat kehadiran Orion, George dan Matilda di rumahnya tadi.


Setelah Kautsar pergi, Orion, George dan Matilda bergegas mendatangi Aruna di kamarnya. Aruna terlihat sangat kacau. Wajahnya pucat dan dipenuhi keringat, nafasnya memburu, rambutnya kusut dan pakaian yang ia kenakan nampak sobek di beberapa bagian karena tak sanggup menahan tubuh Aruna yang membesar itu.


Posisi Aruna yang duduk bersimpuh di lantai membuat George dan Matilda sedikit kesulitan untuk membantunya berdiri.


Aruna menggeram marah saat Matilda menyentuhnya. Bahkan ia hampir mencakar Matilda dengan kuku runcingnya itu. Beruntung George sigap menarik sang istri agar menjauh hingga cakar Aruna hanya mengenai tempat kosong.


" Wow, dia marah rupanya...," kata Matilda sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Dia mengira Kamu akan menyakiti bayinya, makanya dia melakukan gerakan mencakar tadi...," sahut Orion.


" Apa bener begitu...?" tanya Matilda.


" Iya, masa Aku bohong...," sahut Orion cepat.


" Itu artinya diantara kesadarannya yang tinggal setengah itu insting keibuannya masih tetap ada. Bukan begitu Sayang...?" tanya Matilda sambil menatap George di sampingnya kemudian menatap Aruna yang mulai ditumbuhi bulu di seluruh permukaan kulitnya.


" Kamu betul Sayang...," sahut George sambil tersenyum.


" Ini keajaiban yang hampir mustahil. Ternyata sosok monster buas pun memilik hati selembut kapas jika itu berkaitan dengan anaknya...," kata Matilda kagum.


" Iya. Dan sekarang tugas Kita mengarahkan emosi Aruna agar tak membahayakan bayinya...," sahut George yang diangguki Matilda dan Orion.


Kemudian George dan Orion mendekati Aruna perlahan. Aruna yang tengah berproses menjadi manusia serigala itu pun menggeram sambil menyeringai kearah mereka.


" Tenang Aruna. Ini Ayah dan Om George...," kata Orion hati-hati.


" Aaarrgghh...!" sahut Aruna dengan lantang.


Aruna yang kini telah berubah menjadi manusia serigala itu nampak mengibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat mendengar ucapan sang ayah. Saat itu berbagai ingatan melintas di kepalanya dan itu membuat Aruna bingung.


Aruna kembali menggeram saat merasakan aroma darah manusia berada di dekatnya. Sangat dekat hingga membuat Aruna haus dan lapar di saat bersamaan.


Manusia serigala jelmaan Aruna nampak menundukkan kepalanya dan melihat kearah perutnya sendiri yang saat itu telah dipenuhi bulu. Ia menggeram sambil sesekali mengendus di sekitar perutnya. Matilda yang mengerti apa yang akan dilakukan Aruna pun nampak bergidik ngeri membayangkan Aruna akan memangsa bayinya sendiri.


" Orion, apa dia...," ucapan Matilda terputus saat melihat kedua mata manusia serigala jelmaan Aruna berkilat aneh.


Matilda tahu jika saat itu Aruna tengah dikuasai hasrat membunuh yang besar dalam dirinya.


Saat Matilda tak tahu harus melakukan apa pada manusia serigala jelmaan Aruna itu, Aruna nampak mengayunkan kedua tangannya kearah perut. Nampaknya ia bermaksud melukai diri sendiri. Orion yang melihat itu langsung sigap menahan kedua tangan Aruna dengan posisi saling berhadapan.


Untuk sejenak tatapan Orion dan manusia serigala jelmaan Aruna bertemu. Mereka saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Jika Aruna dikuasai hasrat membunuh, maka Orion nampak menatap Aruna dengan penuh kasih sayang sambil menggelengkan kepalanya.


" Jangan sakiti dia Nak. Dia anakmu, darah dagingmu...," kata Orion dengan suara bergetar.


" Aaarrgghh...!" suara Aruna kembali membahana di ruangan itu.

__ADS_1


" Iya Aku tau Nak. Dia tak berdosa. Kamu yang menginginkannya. Jadi jangan sakiti dia. Dia hadir sebagai jawaban atas penantian panjang Kamu dan Kautsar...," kata Orion.


" Aaarrgghh...!" sahut Aruna lagi.


" Iya iya. Dia kecil dan rapuh. Makanya Kamu harus melindunginya. Dia anakmu. A... nak... mu...," kata Orion sambil menekankan kata anakmu, berharap Aruna mengerti ucapannya.


Di luar dugaan. Mendengar kalimat terkahir yang diucapkan Orion membuat Aruna meraung. Ia melolong panjang beberapa kali seolah ingin melepaskan emosinya.


Lolongan panjang terdengar bersahutan di luar sana seolah menyambut lolongan Aruna tadi.


Setelah puas melolong Aruna kembali menatap Orion yang masih setia mencekal kedua tangannya. Perlahan ia menundukkan kepalanya untuk melihat kearah perut. Lalu sesaat kemudian terlihat air jatuh menetes di atas perut Aruna. Rupanya manusia serigala jelmaan Aruna menangis hingga membuat Matilda ikut menitikkan air mata.


Dari tempatnya berdiri Matilda dan George menyaksikan tubuh manusia serigala jelmaan Aruna menyusut. Bulu-bulu yang memenuhi permukaan kulitnya pun perlahan memudar. Moncong serigala dan taring panjang yang menghias wajahnya pun perlahan memudar dan berganti dengan wajah manusia. Dan beberapa saat kemudian Aruna telah kembali ke wujudnya sebagai manusia.


Orion tersenyum lalu memeluk Aruna dengan erat dan menciumi kepalanya dengan sayang. Matilda pun ikut menghambur memeluk Aruna dan kemudian menangis bersama.


" Alhamdulillah Kamu berhasil Nak. Kamu berhasil melewati fase terberatmu. Selamat Sayang...," kata Orion dengan mata berkaca-kaca sambil mengurai pelukannya.


" Apa itu artinya...," ucapan Aruna terputus karena Orion memotong cepat.


" Kamu lulus Aruna. Kamu berhasil mengendalikan dirimu. Mulai sekarang Kamu bisa mengatur kapan saatnya Kamu ingin berubah menjadi manusia serigala. Tak ada waktu khusus untuk Kamu berubah karena kendali dirimu ada di tanganmu...," kata Orion sambil tersenyum.


George yang bersimpuh di samping Aruna pun ikut tersenyum sambil menggenggam jemari tangan Aruna dengan erat.


" Meski pun bulan purnama penuh...?" tanya Aruna.


" Iya, meski pun bulan purnama penuh...!" sahut Orion mantap.


Aruna pun terharu mendengar jawaban sang ayah. la pun membenamkan diri dalam pelukan Orion lalu menangis di sana. Setelah puas menangis ia menoleh kearah George dan Matilda yang juga tengah memeluknya.


" Aku berhasil Om, Tante...," kata Aruna di sela tangisnya.


" Iya Sayang. Selamat ya...," sahut George dan Matilda bersamaan. Keduanya bergantian menciumi wajah Aruna kemudian memeluknya dengan erat.


Dalam sekejap ruangan itu pun diwarnai tangis bahagia. Orion dan George adalah orang yang terlihat paling bahagia. Mereka bangga karena berhasil mengawal Aruna hingga melewati fase terberatnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2