
Kautsar, Arka dan Ahmad kembali dari musholla setengah jam kemudian. Saat itu Hardini dan Diana tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Sedangkan Aruna memilih berbaring di kamar.
" Kemana Aruna Ma...?" tanya Arka mewakili keinginan Tahuan Kautsar.
" Di kamar Pa. Lagi rebahan. Katanya kepalanya agak pusing...," sahut Diana sambil mulai memotong sayuran.
" Coba dibawain teh manis hangat biar pusingnya hilang Ma...," kata Arka.
" Iya Pa...," sahut Diana sambil mengelap tangannya.
Kemudian Diana meraih gelas berisi teh manis dari atas meja. Namun tiba-tiba Kautsar mengambil alih gelas teh yang ada di tangan Diana.
" Biar Aku aja Ma...," kata Kautsar tiba-tiba.
" Ok. Sekalian dipijit telapak kakinya ya Tsar...," kata Diana sambil tersenyum.
" Siap Ma...," sahut Kautsar sambil mengacungkan jempolnya.
Kemudian Kautsar mengetuk pintu kamar Aruna. Tanpa menunggu jawaban, Kautsar pun masuk ke dalam kamar Aruna lalu menutup pintu.
Di dalam kamar Kautsar melihat Aruna tengah berbaring menelungkup. Mengira jika sang Mama yang masuk ke dalam kamar, Aruna pun mengatakan sesuatu.
" Aku ga sarapan Ma. Ntar aja, lagi males...," kata Aruna tanpa menoleh kearah pintu.
" Aku bawain teh manis buat Kamu Aruna. Diminum ya...," kata Kautsar sambil meletakkan gelas berisi teh manis hangat itu di atas meja belajar Aruna.
Mendengar suara Kautsar membuat Aruna terlonjak kaget lalu membalikkan tubuhnya. Kemudian Aruna bangkit dan duduk di atas tempat tidur.
" Iya makasih...," kata Aruna lirih tanpa menatap Kautsar.
Melihat sikap Aruna membuat Kautsar menghela nafas panjang sambil menyigar rambutnya dengan jemari tangannya.
" Kata Mama Kamu pusing. Mau berobat ga ?. Kalo mau biar Aku antar...," kata Kautsar.
" Ga perlu. Aku cuma mau istirahat di rumah...," sahut Aruna.
" Ga ke kampus...?" tanya Kautsar lagi.
" Ga...," sahut Aruna sambil menggelengkan kepalanya.
Kautsar pun hanya tersenyum tipis. Baginya sikap Aruna yang kekanakan ini justru membuatnya gemas. Menyadari Kautsar sedang menatapnya Aruna nampak berdecak sebal.
__ADS_1
" Udah kan nganter tehnya. Keluar sana.Ngapain malah ngeliatin Aku kaya gitu...," kata Aruna judes.
" Iya iya Aku keluar. Ga dikasih kiss dulu nih. Kan udah nganterin teh manis...," goda Kautsar sambil mengedipkan matanya dengan jenaka.
" Kautsaarrr...!" panggil Aruna lantang hingga membuat Kautsar tertawa.
Kemudian Kautsar bergegas keluar dari kamar saat melihat Aruna bersiap melempar bantal kearahnya.
" Nyebelin...," gumam Aruna sewot.
\=\=\=\=\=
Hari itu Aruna memilih tak masuk kuliah. Bukan hanya karena letih usai bertarung dengan Shofia, tapi juga karena jejak kemerahan yang ditinggalkan Kautsar di lehernya.
Pagi itu Aruna masuk ke kamar setelah Diana membuka pintu kamar. Ruangan yang temaram bisa menutupi kondisi Aruna saat itu karena Arka dan Diana sama sekali tak melihat piyama Aruna yang berantakan.
Kemudian Aruna bergegas mengambil pakaian lain dari dalam lemari. Saat menanggalkan piyamanya di depan cermin Aruna terkejut. Ia melihat ada warna merah keunguan di lehernya. Bukan hanya satu tapi tiga sekaligus.
Aruna menghentakkan kakinya karena ingat itu adalah ulah Kautsar.
" Ck, nyebelin banget si Kautsar. Ngapain sih bikin tanda di leher kaya gini, mana banyak lagi. Bisa abis nih dikatain temen-temen...," gumam Aruna kesal.
Saat itu lah Diana masuk ke dalam kamar dan ikut mengamati tanda kemerahan di leher Aruna.
" Mama apaan sih...," sahut Aruna dengan wajah merona sambil menutupi lehernya dengan telapak tangan.
" Lho apanya yang apaan. Kan Mama cuma bilang kalo Kautsar itu...," ucapan Diana terputus saat Aruna menutup mulut sang Mama dengan telapak tangannya hingga membuat Diana tertawa.
" Please Mama. Aku malu...," kata Aruna sambil membenamkan wajahnya di pundak Diana.
Diana pun menghentikan tawanya lalu memeluk Aruna dan mengusap punggungnya dengan lembut.
" Gapapa Aruna. Dia boleh melakukan itu. Dia kan Suami Kamu. Halal untuk Kalian melakukan yang lebih dari ini...," kata Diana dengan lembut.
" Tapi Aku takut Ma. Kautsar marah banget waktu ngelakuin itu tadi...," sahut Aruna hingga membuat Diana tersenyum.
" Kautsar ga marah, tapi dia cemburu. Makanya untuk membuktikan kepemilikannya dia nandain Kamu di leher supaya semua orang tau kalo Kamu itu miliknya...," kata Diana.
" Apa Mama tau kalo Aku sama Kautsar berantem tadi...?" tanya Aruna yang diangguki Diana.
" Kalo ga dicegah sama Papa, Mama pasti udah keluar tadi...," sahut Diana.
__ADS_1
Aruna terdiam sedangkan Diana nampak tersenyum tipis. Diana tahu betul jika Aruna adalah gadis yang lugu karena selama ini belum pernah memiliki kekasih. Dan saat Aruna dijodohkan dengan Kautsar, Diana adalah orang pertama yang merasa khawatir.
Tapi saat mendengar pertengkaran Aruna dan Kautsar tadi membuat Diana mengerti mengapa Kautsar hilang kendali. Diana yang tahu jika Aruna baru saja menghilang usai menjalani 'takdirnya' pun mulai menasehati Aruna.
" Kalian bisa omongin masalahnya baik-baik nanti. Jangan biarin kesalahan pahaman ini berkembang jadi racun dalam hubungan Kalian...," kata Diana sambil membelai kepala Aruna dengan lembut.
" Tapi Aku khawatir Kautsar lari setelah tau apa yang terjadi Ma...," keluh Aruna.
" Kamu lupa ya. Kan Papa sama Ayah Orion udah pernah bilang alasan perjodohan Kalian. Mama yakin Kautsar juga lupa, makanya Kamu omongin dan ingetin Kautsar tentang semuanya. Mama yakin setelah Kalian bicara, semua akan kembali normal...," kata Diana.
Ucapan Diana membuat Aruna tersentak lalu tersenyum. Aruna menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
" Sekarang siap-siap sholat Subuh ya Nak...," kata Diana.
" Iya Ma...," sahut Aruna cepat.
Kemudian Diana mengambil perlengkapan sholat milik Arka dan bersiap membawanya keluar kamar. Saat Diana hampir mencapai pintu kamar, Aruna kembali mengatakan sesuatu.
" Tapi kayanya hari ini Aku bolos ga ke kampus dulu Ma...," kata Aruna.
" Lho kenapa...?" tanya Diana.
" Aku malu Ma. Tanda yang Kautsar bikin di leher Aku keliatan banget. Aku ga mau jadi bahan gunjingan di kampus gara-gara ini...," sahut Aruna malu-malu.
" Kan masih bisa pake baju yang lehernya tinggi Nak...," kata Diana.
" Ga bisa Ma...," sahut Aruna.
Diana menghampiri Aruna dan mengecek tanda kemerahan di leher putrinya itu.
" Iya sih. Lagian kenapa Kautsar ga bikin tanda di tempat yang lebih tertutup aja biar Kamu masih bisa ke kampus ya Nak...," kata Diana.
" Mama...," rengek Aruna sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Diana tertawa.
" Iya iya. Kamu boleh libur hari ini. Hanya hari ini ya Nak...," kata Diana di sela tawanya.
" Iya Ma. Lagian Aku juga perlu istirahat setelah kejadian semalam...," sahut Aruna.
Diana pun mengangguk lalu bergegas keluar kamar saat Arka memanggilnya.
Kini Aruna nampak sedang berbaring di atas sofa ruang tengah sambil berbincang dengan kedua orangtua dan mertuanya. Saat itu mereka tengah membicarakan konsep resepsi pernikahan Aruna dan Kautsar.
__ADS_1
Rona bahagia nampak tersirat di wajah Diana dan Hardini hingga membuat Aruna, Arka dan Ahmad ikut bahagia.
\=\=\=\=\=