Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
276. Khayalan Indah


__ADS_3

Kecemasan di wajah Rasyid membuat dokter Sheina tersenyum. Sisi hatinya pun menghangat. Nampaknya ia harus setuju dengan pernyataan Orion tadi jika ia harus mulai bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang. Karena di sisinya kini tengah berdiri seorang pria tampan yang mengkhawatirkan keadaannya.


Meski baru saling mengenal, namun sikap Rasyid mampu membuat dokter Sheina melambung.


" Biar lah Aku sedikit egois kali ini. Aku mengira kebaikan Rasyid karena memiliki tujuan tertentu yaitu ingin mendekatiku. Gapapa, ga ada salahnya Aku terima uluran tangannya ini kan. Walau hanya berteman setidaknya dia bisa diandalkan dalam kondisi genting...," kata dokter Sheina dalam hati.


Melihat dokter Sheina terdiam sambil menatap lekat kearahnya membuat Rasyid makin cemas. Ia memberanikan diri menyentuh lengan dokter Sheina.


" Sheina...," panggil Rasyid sambil mengguncang lembut lengannya.


" Eh, iya Rasyid. A... ku baik-baik aja kok...," sahut dokter Sheina gugup.


" Alhamdulillah, syukur lah kalo begitu. Biar Aku antar Kamu sampe rumah ya...," kata Rasyid.


" Tapi...," ucapan dokter Sheina terputus saat Rasyid memotong cepat.


" Tugasku sudah selesai. Rekan-rekanku juga sudah kembali ke kantor. Jadi Kamu ga perlu khawatir kalo bakal mengganggu tugasku. Lagipula Aku ga punya kendaraan untuk pulang karena motorku udah dibawa sama temanku tadi. Yah, anggap aja Aku numpang di mobilmu sebentar sampe nemu Taxi nanti. Gimana, boleh kan...?" tanya Rasyid setengah memaksa hingga membuat dokter Sheina tersenyum lebar.


" Keliatannya Aku ga bisa nolak Pak Polisi yang satu ini...," sahut dokter Sheina cepat.


" Bagus. Biar Aku yang bawa mobil dan Kamu duduk manis di sana...," kata Rasyid setengah memerintah.


Dokter Sheina mengangguk lalu berpindah tempat ke kursi di samping kemudi. Sedangkan Rasyid duduk di balik kemudi sambil tersenyum. Sesaat kemudian mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan Rasyid dan dokter Sheina terus bicara banyak hal. Sesekali mereka tertawa saat Rasyid menceritakan pengalamannya bertugas di kepolisian.


Setengah jam kemudian mobil pun berhenti di depan rumah dokter Sheina. Bi Mey nampak tergopoh-gopoh membuka pintu pagar untuk menyambut sang majikan. Namun bi Mey tampak mengerutkan keningnya saat melihat sang majikan tak pulang sendiri karena diantar seorang pria berseragam polisi. Ia mengira jika sang majikan mengalami kecelakaan hingga harus dikawal polisi.


Saat dokter Sheina turun dari mobil Bi Mey pun sigap bertanya.

__ADS_1


" Ada apa Mbak Sheina ?. Kenapa pulang sama Pak Polisi. Apa Mbak Sheina kecelakaan ?. Lukanya parah ga, sakit ga...?" tanya Bi Mey beruntun hingga membuat dokter Sheina dan Rasyid tersenyum.


" Aku gapapa kok Bi. Kebetulan ketemu sama temanku ini di jalan makanya dianter pulang. Katanya kasian ngeliat Aku nyetir sendirian malam-malam begini. Oh iya Rasyid, kenalin ini Bi Mey. Nah Bi Mey, ini Rasyid. Dia polisi beneran ya bukan Polisi gadungan...," kata dokter Sheina dengan mimik lucu.


Rasyid pun mengulurkan tangannya dan Bi Mey langsung menyambutnya.


" Iya Mbak. Saya percaya kok...," sahut Bi Mey hingga membuat dokter Sheina dan Rasyid tertawa.


" Kalo gitu Aku langsung balik aja ya Shei. Udah larut ga enak kalo masih bertamu...," kata Rasyid.


" Ok. Makasih ya udah nganterin Aku pulang...," kata dokter Sheina.


" Sama-sama, Aku seneng kok ngelakuinnya. Aku pulang ya, Assalamualaikum..., " pamit Rasyid.


" Wa alaikumsalam..., " sahut dokter Sheina dan bi Mey bersamaan.


Setelah Rasyid keluar Bi Mey bergegas mengunci pintu pagar. Sementara itu dokter Sheina nampak melangkah masuk ke dalam rumah.


" Dia memang baik Bi. Ganteng, masih muda juga...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


" Kayanya dia suka lho sama Mbak...," kata Bi Mey.


" Tapi dia terlalu muda untuk Aku Bi. Kayanya lebih pantes jadi keponakan Aku deh...," sahut dokter Sheina gusar.


" Siapa bilang. Dia lumayan dewasa kok. Lagian kalo lagi berdiri berdampingan kaya tadi ga akan ada yang nyangka kalo Mbak Sheina lebih tua daripada Mas Rasyid..., " kata Bi Mey.


" Masa sih Bi ?. Padahal Aku yakin perbedaan umur Kami lumayan jauh lho Bi...," sahut dokter Sheina sambil melangkah menuju kamar.


" Paling cuma beda dua tiga tahun Mbak. Gapapa kok, biasa itu. Rasulullah aja beda lima belas tahun sama Istrinya tapi pernikahan mereka langgeng sampe maut memisahkan...," kata Bi Mey hingga membuat dokter Sheina menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Kemudian dokter Sheina menoleh kearah Bi Mey yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuknya.


" Istri. Apa Aku bisa menyandang status Istri lagi. Emangnya Rasyid mau menikahi Aku...?" gumam dokter Sheina ragu.


Kemudian dokter Sheina menggelengkan kepalanya untuk menepis khayalan indahnya sesaat tadi. Setelahnya dokter Sheina masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia berniat makan malam karena perutnya terasa sangat lapar setelah mengalami perubahan menjadi manusia serigala tadi.


\=\=\=\=\=


Rasyid baru saja tiba di rumah kontrakannya yang sederhana. Ia memang tinggal sendiri di sana. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia. Rasyid pun tak punya kakak atau adik karena dia adalah anak tunggal.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rasyid pun pergi ke dapur untuk menyeduh segelas kopi. Sesaat kwmudian aroma kopi pun menguar di dapur mini itu hingga membuat Rasyid merasa nyaman.


" Kopi emang minuman terbaik untuk mengusir lelah...," gumam Rasyid sambil menghirup aroma kopi di hadapannya.


Kemudian Rasyid melangkah menuju ruangan dimana terletak sepasang kursi dan sebuah meja. Ia duduk di atas kursi setelah meletakkan gelas kopi di atas meja.


Sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, Rasyid kembali mengingat kejadian sejam yang lalu. Ia tersenyum mengingat kebersamaannya dengan dokter Sheina tadi.


" Aku tau ada sesuatu yang Kamu sembunyikan Sheina. Bagaimana mungkin Kamu yang hilang itu mendadak ada di dalam mobil. Padahal Aku udah nyari Kamu kemana-mana tadi. Tapi Aku ga peduli. Aku hanya berharap bisa selalu ada di sampingmu dalam suka dan dukamu nanti...," gumam Rasyid sambil meneguk kopi perlahan.


Rasyid ingat bagaimana sulitnya dia untuk berinteraksi dengan wanita. Bahkan rekan-rekannya mengira dia memiliki kelainan se* karena tak tertarik dengan wanita.


Namun bertemu Sheina telah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Rasyid pun mulai berani bicara banyak hal dengan wanita itu. Bahkan Rasyid juga berani memperlihatkan kecemasannya pada dokter cantik itu.


" Aku tau ini terdengar konyol. Tapi bertemu Sheina membuatku mulai berpikir tentang pernikahan. Aku ga tau apa Sheina mau memberi kesempatan Polisi berpangkat rendah sepertiku untuk menjadi pendamping hidupnya. Karena Aku sadar perbedaan Kami terlalu besar. Dia wanita karir yang mapan dan cantik. Sedangkan Aku cuma pria yang punya modal cinta aja untuk meminangnya...," gumam Rasyid sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Kembali Rasyid meneguk kopi di dalam gelasnya. Setelahnya ia tersenyum kecut karena terasadar baru saja melambungkan khayalan indah untuk dirinya dan dokter Sheina.


Tak ingin larut dengan perasaannya Rasyid pun melangkah menuju kamar untuk beristirahat. Malam itu untuk kedua kalinya Rasyid mimpi indah tentang dokter Sheina.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2