Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
327. Takdir Aruna


__ADS_3

Lamunan Aruna buyar saat suara Kanaya terdengar memanggil namanya. Suara yang mencerminkan rasa gusar cenderung takut itu membuat Aruna menoleh. Ia tersentak kaget saat Kanaya berlari kearahnya. Dengan sigap ia menyambut Kanaya dengan merentangkan kedua tangannya.


" Ayo Bunda, jangan di sini. Kita pindah yuk...," rengek Kanaya sambil menarik tangan sang bunda.


" Emangnya Kanaya mau kemana, kan Khai sama Ayah masih di sana...," kata Aruna sambil menunjuk Khai dan Kautsar yang tengah asyik bermain bola.


" Aku ga mau di sana Bund, Aku takut...," sahut Kanaya.


" Takut apa ?. Kan ada Ayah sama Khai yang jagain Kamu...," kata Aruna sambil mengedarkan pandangan ke penjuru taman.


" Aku liat paman yang di sana itu Bund. Daritadi dia ngeliatin Aku terus...," sahut Kanaya sambil menunjuk kursi taman di dekat pohon mangga.


Jika dilihat dengan mata biasa kursi itu terlihat kosong. Namun bagi Aruna yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus kursi itu justru terlihat berbeda.


Ada seorang pria berwajah pucat yang tengah duduk di kursi itu. Dan saat Kanaya mengatakan apa yang dilihatnya tadi sudah pasti itu mengejutkan Aruna.


" Kamu liat Paman yang ada di sana Nak...?" tanya Aruna hati-hati.


" Iya Bund...," sahut Kanaya sambil menyembunyikan wajahnya di perut sang bunda.


" Mmm..., kalo Bunda boleh tau Paman itu pake baju apa dan lagi ngapain sekarang...?" tanya Aruna.


" Paman itu pake baju kuning kotor Bund. Celananya hitam. Rambutnya berantakan. Terus dari matanya keluar air mata, tapi warnanya merah kaya darah...," sahut Kanaya hingga membuat Aruna takjub.


Kini Aruna yakin jika Kanaya ternyata mewarisi kemampuannya dalam berinteraksi dengan makhluk astral. Meski baru tahap melihat dan belum sampai tahap berkomunikasi, namun Aruna yakin jika kemampuan Kanaya akan berkembang seiring waktu.


" Kanaya ga usah takut ya Sayang. Paman itu cuma teringat sama anaknya yang juga pernah main di sini. Itu sebabnya dia keliatan sedih dan menangis...," kata Aruna.


" Jadi Paman itu ga jahat Bund...?" tanya Kanaya sambil mengalungkan kedua lengannya ke leher Aruna.


" Iya. Makanya Kanaya ga usah takut ya...," kata Aruna sambil memeluk Kanaya lalu menggendongnya.


Kanaya mengangguk lalu menyembunyikan wajahnya di bahu sang bunda.


" Paman itu ga bakal ngikutin Kita ke rumah kan Bund...?" tanya Kanaya sambil berkali-kali menoleh kearah kursi kosong itu.


Aruna menggeleng dan itu membuat Kanaya tersenyum.


Gerak-gerik Kanaya tak lepas dari perhatian sang ayah. Kautsar juga melihat bagaimana anak perempuannya itu merengek sambil menunjuk kearah kursi taman yang kosong itu.


" Ayo Nak, Kita ke sana...," ajak Kautsar sambil menggandeng tangan Khai dan membawanya menghampiri Aruna dan Kanaya.


" Kanaya kenapa Bund...?" tanya Khai dengan mimik wajah lucu.


" Gapapa Khai, Kanaya cuma kecapean aja kok. Iya kan Nay...?" tanya Aruna sambil menatap Kanaya yang saat itu berada dalam gendongannya.


" Iya...," sahut Kanaya lirih.


" Capek ngapain. Kan Naya ga ngapa-ngapain Bund...," kata Khaizuran tak percaya.


" Aku capek karena liat hantu Khai...," sahut Kanaya ketus.


" Hantu, dimana...?" tanya Khaizuran sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


" Di kursi itu...," sahut Kanaya sambil menunjuk kursi taman yang kosong.


Mendengar ucapan anaknya membuat Kautsar terkejut. Ia menatap Aruna sejenak seolah meminta jawaban atas ungkapan Kanaya tadi. Aruna pun menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan pertanyaan Kautsar dan Kautsar pun menghela nafas panjang.


" Kalo gitu Kita pulang yuk. Udah sore juga...," ajak Kautsar sambil meraih Kanaya dari gendongan Aruna.


" Tapi Aku lapar Yah...," rengek Khaizuran hingga membuat Aruna dan Kautsar saling menatap dan tersenyum.


" Kita mampir sebentar buat makan ya Yah...," kata Aruna sambil meraih tasnya yang ia letakkan di atas kursi.


" Boleh Bund...," sahut Kautsar cepat hingga membuat anak dan istrinya tersenyum.


" Horeee...!. Aku mau makan es krim ya Bund...!" kata Khaizuran antusias.


" Boleh, tapi janji ga boleh banyak-banyak ya...," sahut Aruna.


" Iya Bund. Naya juga mau kan...?" tanya Khaizuran sambil menoleh kearah kembarannya.


" Iya...," sahut Kanaya cepat.


Sesaat kemudian Aruna dan keluarga kecilnya meninggalkan taman lalu melangkah menuju food court yang letaknya tak jauh dari taman itu.


\=\=\=\=\=


Sejak mengetahui bakat terpendam Kanaya, Aruna pun mulai sedikit extra menjaga Kanaya. Ia tak ingin gadis kecilnya mengalami masa sulit dan tak menyenangkan saat berinteraksi dengan makhluk astral.


" Apa ga bisa dibuang aja Bund...?" tanya Kautsar suatu waktu.


" Apanya Yah...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Kenapa harus dibuang Yah...?" tanya Aruna.


" Aku khawatir itu mempengaruhi tumbuh kembang Kanaya Bund. Dia masih kecil, terlalu dini rasanya membiarkan dia melihat sesuatu yang tak seharusnya...," sahut Kautsar gusar.


" Kamu ga usah khawatir Yah. Untuk sementara waktu Aku akan mendampingi Kanaya. Dan sambil jalan Aku akan cari guru spiritual untuk Kanaya supaya bisa membantu Kanaya mengarahkan kemampuannya itu...," kata Aruna sambil menatap Kanaya yang sedang bermain boneka dengan teman tak kasat matanya .


" Tapi Aku ingin Kanaya hidup normal seperti anak seusianya Bund...," kata Kautsar lagi.


" Iya Yah. Aku paham maksudmu...," sahut Aruna mencoba menenangkan suaminya dengan cara mengusap punggung tangannya.


\=\=\=\=\=


Jika Kanaya diketahui mewarisi kemampuan Aruna dalam hal berinteraksi dengan makhluk astral, hal berbeda justru ditunjukkan oleh Khaizuran.


Aruna yakin jika Khaizuran mewarisi darah makhluk malam di dalam tubuhnya. Hal itu terlihat karena Khaizuran memiliki tanda-tanda akan berubah menjadi manusia serigala di saat tertentu.


Dan malam itu adalah waktunya.


Setelah menidurkan si kembar, Aruna pun bangkit perlahan. Ia melangkah tanpa suara menuju ruang makan.


Saat itu Aruna berniat menyeduh kopi untuk suaminya karena malam itu Kautsar harus kerja lembur di ruang kerjanya.


Setelah meletakkan kopi di meja, Aruna keluar dari ruang kerja suaminya. Kemudian Aruna duduk di sofa sambil menonton televisi.

__ADS_1


Saat itu lah Aruna mendengar suara lolongan serigala di kejauhan. Aruna tahu jika saat itu sebagian anggota klannya akan mengalami perubahan wujud menjadi manusia serigala.


Tiba-tiba Aruna dikejutkan dengan suara bergemerisik di kamar Khaizuran. Aruna menoleh dan mengamati kamar sang anak yang terbuka itu dengan seksama.


Aruna melihat Khaizuran yang sedang tertidur itu tiba-tiba melompat bangun sambil menggeram. Meski kedua matanya terpejam namun Aruna bisa melihat jika kedua tangan Khaizuran tampak setengah menggenggam membentuk cakar yang siap mencabik musuhnya.


" Jadi darah makhluk malam itu menitis padamu Nak...," gumam Aruna sambil tersenyum.


Perlahan Aruna menghampiri Khaizuran yang sedang dalam keadaan tak sadar itu. Kemudian Aruna memeluk Khaizuran dengan lembut sambil membisikkan sesuatu ke telinga sang anak.


Ajaib. Khaizuran yang memang masih terpejam sambil menyeringai itu perlahan menurunkan kedua tangannya. Wajahnya yanh menyeringai itu perlahan mengendur. Dan sebelum tubuhnya terhempas jatuh ke lantai, dengan sigap Aruna menangkapnya.


Setelahnya Aruna membaringkan tubuh Khaizuran di atas tempat tidur lalu menyelimutinya dengan selimut bermotif Spiderman kesayangannya.


Aruna menatap Khaizuran sejenak sambil mengusap kepala sang anak dengan sayang. Kedua mata Aruna nampak berkaca-kaca. Bukan karena sedih tapi karena bahagia. Aruna bahagia bisa mengetahui kelebihan kedua anaknya di saat mereka masih belia hingga ia punya cukup banyak waktu untuk membantu si kembar nanti.


Perlahan Aruna mendekatkan wajahnya kearah Khaizuran lalu mengecup kepalanya dengan sayang. Tak lama kemudian Kautsar masuk ke dalam kamar dan melakukan hal serupa kepada anak lelakinya itu. Aruna tersenyum saat Kautsar juga mengecup keningnya.


" Kanaya juga Yah. Ntar dia ngambek lho...," kata Aruna mengingatkan.


Kautsar mengangguk lalu menghampiri Kanaya yang terlelap di tempat tidur yang berbeda. Kautsar tersenyum melihat anak perempuannya yang tertidur tanpa selimut itu. Kautsar meraih selimut yang terjatuh di lantai lalu menyelimuti tubuh Kanaya. Setelahnya ia mendaratkan ciuman di kepala Kanaya dengan lembut.


Sebelum meninggalkan kamar, Kautsar dan Aruna berdiri di ambang pintu. Bahkan Kautsar mengucapkan sebaris doa untuk kedua anaknya itu.


" Semoga Allah senantiasa melindungi Khaizuran dan Kanaya dimana pun mereka berada, menjadikan mereka anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang berbakti pada kedua orangtuanya dan bermanfaat untuk umat manusia...," doa Kautsar dengan tulus.


" Aamiin yaa Robbal'alamiin...," sahut Aruna sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


\=\=\=\=\=


Aruna masih harus menjalani takdirnya hidup sebagai manusia serigala bersama orang-orang yang ia cintai. Aruna juga masih harus mengawasi kedua buah hatinya yang tumbuh besar bersama dua warisan yang berbeda itu.


Dibubuhi kisah menegangkan saat mereka harus berinteraksi dengan makhluk astral membuat Khaizuran dan Kanaya tumbuh menjadi pribadi yang kuat.


Dan kisah Aruna pun berakhir di sini.


\=\=\= S E L E S A I \=\=\=


# Assalamualaikum wr wb...


Buat semua pembaca novel Titisan Makhluk Malam.


Penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas suport yang telah diberikan baik berupa like, komentar, vote , bintang dan hadiah.


Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang penulis lakukan baik disengaja atau tidak.


Semoga Allah senantiasa melindungi Kita dimana pun Kita berada, memberikan Rahmat dan hidayah Nya kepada Kita dan memberikan rizqi yang banyak, halal dan barokah kepada Kita semua. Aamiin yaa Robbal'alamiin.


Insya Allah kita bisa bersua lagi di karya-karya penukis selanjutnya. Akhirul kalam Alhamdulillahirobbil'alamiin.


Wassalamu'alaikum wr wb... #


penulis

__ADS_1


Ummiqu


__ADS_2