
Setelah menyaksikan istrinya dimangsa iblis sembahannya, Junaedi nampak bersimpuh di atas jalan beraspal sambil menangis. Ia terlihat rapuh dan tak berdaya. Suasana sunyi makin mencekam bersamaan dengan suara decak lidah makhluk itu saat menghirup darah istri Junaedi.
Sesaat kemudian makhluk hitam besar bertanduk tiga itu selesai menikmati makan malamnya. Ia menegakkan tubuhnya yang setinggi belasan meter itu lalu menatap lekat kearah Junaedi.
Menyadari dirinya ditatap oleh makhluk itu Junaedi pun mencoba bicara.
" Aku berhenti...," kata Junaedi lirih.
" Apa maksudmu Junaedi...?" tanya makhluk itu sambil menatap datar kearah Junaedi.
" Aku berhenti menjadi budakmu !. Aku berhenti meminta bantuanmu dan Aku mengakhiri hubungan Kita sekarang juga...!" kata Junaedi lantang sambil bersimbah air mata.
Ucapan Junaedi membuat makhluk itu tertawa. Tawa yang menggelegar seolah membelah langit malam. Terdengar keras dan memekakkan telinga.
Aruna, Matilda dan George hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Junaedi tadi. Apa yang diucapkan Junaedi adalah hal yang mustahil dan sia-sia.
" Kau bermimpi Junaedi. Kau bersumpah menjadi abdi setiaku, selamanya. Dan itu tak akan mungkin berakhir tanpa persetujuan dariku. Itu artinya, selamanya Kau akan menjadi budakku dan menyediakan tumbal untukku. Setelahnya Aku akan memberimu kekayaan yang selalu Kau impikan itu Junaedi. Bukan kah itu sebuah kerja sama yang bagus...?" tanya makhluk itu dengan senyum mengejek.
" Lebih baik Aku mati daripada Aku harus menjadi budakmu iblis sia*an...!" maki Junaedi lantang yang lagi-lagi hanya mendapat respon berupa tawa tanpa jeda dari makhluk itu.
" Lakukan jika Kau sanggup...!" tantang makhluk itu.
Junaedi tersenyum lalu menoleh kearah Aruna. Seolah mengerti apa yang diinginkan Junaedi, Aruna pun terkejut dan berteriak lantang.
" Jangan libatkan Aku dalam urusanmu itu Junaedi...!" hardik Aruna marah.
Seolah baru menyadari kehadiran Aruna, makhluk besar bertanduk tiga itu nampak menatap Aruna penuh hasrat dan itu membuat Aruna bergidik ngeri.
" Dia ?. Kau mengandalkan dia Junaedi...?" tanya makhluk itu.
" Dia yang akan mengakhiri semuanya. Aku mempersembahkan seorang wanita hebat dengan bayi di dalam rahimnya. Apakah itu cukup sebagai mahar untuk memutuskan hubungan Kita...?" tanya Junaedi mencoba bernegosiasi dengan makhluk di hadapannya.
" Dasar jahat !. Kau memang seperti iblis Junaedi...!" kata Aruna lantang.
Makhluk hitam besar bertanduk tiga itu pun tertawa mendengar perdebatan Junaedi dan Aruna.
Tapi iblis tetap lah iblis. Meski pun Junaedi telah mengorbankan Aruna dan bayinya, namun iblis tak akan pernah melepaskan Junaedi selamanya. Dan Junaedi tak tahu jika penawaran bod*hnya tak berarti sama sekali.
__ADS_1
Seolah menerima persembahan Junaedi, makhluk hitam besar bertanduk tiga itu pun melesat cepat menghampiri Aruna. Matilda nampak gelisah dan bersiap membantu tapi lagi-lagi George mencegahnya.
" Ini bukan ranah Kita Sayang...," kata George mengingatkan.
" Tapi Aruna...," ucapan Matilda terputus saat George memotong cepat.
" Aruna tau resiko dari tindakannya. Kita hanya bisa mengawasinya dari sini...," kata George dengan suara yang dalam.
Matilda pun mengangguk tanda mengerti. Ia paham jika suaminya juga khawatir dengan keselamatan Aruna. Namun garis merah yang terbentang antara mereka dengan dunia ghaib begitu nyata dan mereka tak bisa melanggarnya begitu saja.
Di depan sana Aruna nampak menghindari serangan makhluk itu sambil terus berdzikir. Sedangkan Junaedi nampak menatap pertarungan itu sambil tersenyum puas.
Di saat kondisinya terdesak Aruna terkejut karena mendapat bantuan dari arwah Pipit. Rupanya arwah Pipit hadir di sana sambil membaca dzikir dan doa yang membuat makhluk itu gusar.
Bersama arwah Pipit hadir pula arwah ketiga balita yang telah dikorbankan Luluk. Meski ketiganya diam tanpa suara, namun doa tulus mereka menjadi kekuatan tersendiri untuk Aruna.
Jika awalnya Aruna hanya menghindar, kini setelah mendapat tambahan kekuatan Aruna pun berbalik menyerang makhluk hitam besar bertanduk tiga itu.
Sebuah ledakan terjadi hingga membuat tubuh Aruna dan makhluk itu melayang berlawanan arah. Dengan sigap George berhasil menangkap tubuh Aruna sedangkan tubuh makhluk itu membentur jalan aspal dengan keras.
Aruna pun langsung bangkit dengan cepat. Sedangkan makhluk itu masih terduduk di jalan beraspal karena mengalami luka berat. Hal itu mengejutkan Junaedi. Ia tak menyangka jika makhluk besar itu berhasil dikalahkan oleh Aruna yang hanya seorang wanita biasa.
Jeritan terdengar dari mulut Aruna karena tak kuasa melihat peristiwa berdarah itu. Namun anehnya mobil kontainer terus melaju meninggalkan tempat itu seolah tak pernah terjadi sesuatu. Atau pengendara mobil kontainer itu memang tak melihat siapa pun di sana.
Tak lama kemudian Aruna melihat arwah Junaedi bangkit meninggalkan raganya yang hancur lalu berjalan menghampiri makhluk hitam besar bertanduk tiga itu. Arwah Junaedi nampak berdiri sambil menunduk di hadapan makhluk itu. Kemudian makhluk itu pun berdiri lalu menatap Aruna.
" Anak-anak itu milikmu. Ambil lah. Aku hanya akan mengambil Junaedi, istrinya dan Luluk...," kata makhluk itu dengan suara berat.
" Terima kasih...," sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama. Aku pergi sekarang...," kata makhluk itu sambil menundukkan kepalanya sejenak seolah memberi salam penghormatan kepada Aruna.
" Silakan...," sahut Aruna lirih.
Sesaat kemudian makhluk hitam besar itu melangkah menuju suatu tempat. Di belakangnya terlihat arwah Junaedi dan istrinya berjalan lambat mengikuti dengan patuh.
Aruna pun melepas kepergian makhluk itu beserta arwah Junaedi dan istrinya sambil menghela nafas panjang. Setelah mereka tak terlihat lagi Aruna menoleh kearah arwah Pipit dan tiga balita lainnya.
__ADS_1
" Sekarang Kalian bebas...," kata Aruna dengan suara parau.
" Terima kasih Tante...," sahut arwah Pipit dan ketiga balita itu.
" Sama-sama Sayang...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Boleh Aku memeluk Tante...?" tanya arwah Pipit penuh harap.
" Tentu saja...," sahut Aruna sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
Arwah Pipit menghambur memeluk Aruna dengan erat. Sedangkan ketiga arwah balita lainnya hanya bisa menatap moment itu sambil saling menatap di tempat masing-masing.
Aruna yang melihat arwah ketiga balita itu tertegun menyaksikan kebersamaannya dengan arwah Pipit pun memanggil mereka.
" Kalian juga boleh peluk Tante kok. Ke sini Anak-anak...," panggil Aruna sambil melambaikan tangannya.
Ketiga arwah balita itu tampak tersenyum senang. Mereka melayang cepat menuju Aruna dan ikut memeluknya erat.
Saat itu lah Aruna membaca dzikir dan doa yang tulus untuk keempat arwah balita di dalam pelukannya. Aruna meneteskan air mata saat merasakan pelukan keempat balita itu terurai satu per satu. Dan saat Aruna mendongakkan kepalanya ia melihat keempat arwah balita itu nampak melayang sambil tersenyum cantik dengan balutan pakaian yang indah dan bercahaya.
" Kami pergi ya Tante. Makasih dan selamat tinggal...," kata arwah Pipit dan tiga balita itu bersamaan.
" Pergi lah Anak-anak. Bahagia lah di sana...!" sahut Aruna sambil melambaikan tangannya.
Keempat arwah balita itu nampak dilingkupi cahaya yang perlahan menarik mereka makin tinggi dan terus tinggi hingga ke angkasa lalu menghilang di langit malam.
Aruna mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Ada rasa haru dan bahagia menyaksikan kepergian arwah keempat balita itu.
" Sudah selesai Nak...?" tanya Matilda lembut.
" Alhamdulillah sudah Tante. Aku senang melihat mereka pergi ke tempat yang seharusnya...," sahut Aruna dengan suara bergetar.
" Kamu pasti lelah. Kita pulang sekarang ya...," ajak Matilda yang diangguki Aruna.
" Naik lah Nak...," kata George yang kini telah berubah menjadi serigala besar.
Aruna pun naik ke atas punggung George, mencari posisi terbaik lalu memejamkan matanya. Kemudian Matilda mengusap lembut leher George untuk memberi tahu jika mereka bisa pergi sekarang. Sesaat kemudian George melesat cepat dengan membawa Aruna yang tertidur di punggungnya. Sedangkan Matilda nampak berlari di samping sang suami sambil tersenyum.
__ADS_1
\=\=\=\=\=