Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
217. Kedatangan Erlan


__ADS_3

Keesokan harinya di perusahaan terlihat kesibukan yang tak biasa. Rupanya Erlan datang lebih awal dan membuat semua divisi sedikit panik.


Beruntung Aruna dan Bianca telah menyiapkan semua berkas yang harus ditandatangani oleh pimpinan perusahaan.


Bianca dan Aruna pun nampak berdiri menyambut kedatangan Erlan di ruangan pimpinan yang biasanya ditempati Hasby.


" Selamat pagi Pak. Selamat pagi Om...," sapa Bianca dan Aruna bersamaan.


Mendengar sapaan Aruna pada Erlan membuat Bianca terkejut lalu menoleh kearah Aruna sambil mengerutkan keningnya. Sedangkan Erlan nampak tersenyum tipis. Sadar akan kesalahannya Aruna pun meralat ucapannya.


" Maaf. Maksud Saya selamat pagi Pak...," kata Aruna sambil tersenyum malu-malu.


" Selamat pagi Bianca, selamat pagi Aruna...," sahut Erlan ramah.


" Bagaimana perjalanannya Pak...?" tanya Bianca basa basi.


" Alhamdulillah lancar. Saya datang sama Istri Saya Bianca. Tapi sekarang beliau sedang istirahat di penginapan. Istri Saya titip salam untuk Kamu...," sahut Erlan sambil tersenyum.


" Salamnya Saya terima ya Pak. Salam balik untuk Ibu. Makasih...," kata Bianca dengan santun.


" Sama-sama. Istri Saya juga titip salam untuk Kamu Aruna...," kata Erlan sambil menoleh kearah Aruna.


" Alhamdulillah.... Makasih Om, eh Pak. Salam balik juga untuk Ibu...," sahut Aruna gugup.


" Insya Allah salam Kalian akan Saya sampaikan nanti. Oh iya, apa ada dokumen yang harus Saya tandatangani...?" tanya Erlan.


" Ada Pak...," sahut Bianca cepat sambil memperlihatkan beberapa map di atas meja kerja Erlan.


" Biar Saya pelajari dulu sebentar ya. Kalian boleh lanjutkan pekerjaan Kalian...," kata Erlan.


" Baik Pak...," sahut Bianca dan Aruna bersamaan lalu segera keluar dari ruangan direktur.


" Keliatannya Kamu kenal dekat sama Pak Erlan ya Aruna...," kata Bianca sambil menatap Aruna penuh selidik.


" Ck, jangan ngeliatin Bunda Aku kaya gitu dong Mama Bianca...," rengek Aruna dengan suara anak kecil seolah mewakili janinnya bicara.


Mendengar ucapan Aruna membuat Bianca memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan Aruna nampak mengusap permukaan perutnya dengan lembut sambil memasang wajah tak berdaya.


" Arunaaa...," panggil Bianca gemas hingga membuat Aruna tertawa.


" Iya iya. Ga sabaran banget sih...," kata Aruna di sela tawanya.

__ADS_1


" Buruan dong Aruna...!" kata Bianca.


" Pak Erlan itu Papanya temen kuliah Aku Bu. Aku biasa manggil Om. Makanya bingung tadi waktu ketemu harus manggil apa...," sahut Aruna.


" Oh gitu ya. Eh, teman kuliah Kamu yang kerja magang di sini juga ada kan...?" tanya Bianca.


" Iya. Emang kenapa Bu...?" tanya Aruna.


" Jangan-jangan salah satu dari mereka anaknya Pak Erlan...?" tanya Bianca.


" Oh bukan Bu. Mereka sama kaya Saya kok. Kami ini mahasiswa perantau yang masih mengandalkan kiriman orangtua untuk biaya kuliah dan biaya hidup di sini...," sahut Aruna cepat.


Bianca masih ingin bertanya lagi, namun panggilan Erlan membuatnya mengurungkan niatnya.


" Kita lanjutin ini nanti ya Aruna...," kata Bianca sambil bergegas masuk ke dalam ruangan direktur.


" Ngelanjutin apaan sih Bu. Yang ada ntar Ibu yang shock deh...," gumam Aruna sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Erlan memimpin rapat internal perusahaan. Bianca dan Aruna pun turut mendampingi. Untuk sementara Erlan terpaksa menghandle semua pekerjaan direktur.


Setelah rapat internal perusahaan, Erlan pun berniat mengecek pekerjaan semua divisi. Karena Aruna sedang hamil muda dan butuh istirahat, maka Erlan mengijinkannya untuk istirahat.


" Baik Pak...," sahut Aruna sambil menatap Bianca dengan tatapan terima kasih.


Bianca nampak mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.


" Dan selamat juga untuk kehamilan Kamu ya Aruna...," kata Erlan sambil menepuk bahu Aruna dengan lembut.


" Terima kasih Pak...," sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.


" Sekarang tolong tunjukkan Saya jalannya Bianca...," pinta Erlan sambil melangkah.


" Baik Pak...," sahut Bianca sambil menepuk punggung Aruna dengan lembut lalu mengejar Erlan yang melangkah lebih dulu.


Aruna hanya tersenyum melihat tingkah Bianca. Sesaat kemudian ia berjalan berlawanan arah dengan Erlan dan Bianca.


Erlan nampak serius mendengarkan penjelasan Manager tiap divisi yang mendampinginya melakukan inspeksi dadakan itu. Bianca nampak mencatat bagian penting dari pembicaraan Erlan dengan para Manager di sebuah buku kecil yang dibawanya.


Saat mendatangi Divisi Marketing Erlan melihat Ria tengah bekerja. Diam-diam Erlan tersenyum melihat kekasih putranya itu melakukan pekerjaannya dengan serius hingga tak menyadari kehadirannya. Nampaknya Ria juga tak menyadari jika dirinya tengah diamati oleh calon mertuanya.

__ADS_1


Kalisha sang Manager yang mengira Erlan bingung melihat keberadaan Ria pun mengatakan sesuatu yang menyenangkan Erlan.


" Itu karyawan magang Pak. Namanya Ria...," kata Kalisha.


" Oh ya. Bagaimana kinerjanya...?" tanya Erlan.


" Bagus Pak. Dia juga beberapa kali memberi ide agar penjualan Kita meningkat. Dan hasilnya sangat menggembirakan. Awalnya memang diterapkan di kelompoknya saja. Tapi karena baik untuk semua, akhirnya Saya minta kelompok lain mengikuti ide Ria itu Pak...," sahut Kalisha dengan bangga.


" Ternyata dia sangat berbakat ya...," kata Erlan sambil tersenyum.


" Betul Pak...," sahut Kalisha dengan cepat.


" Ada berapa karyawan magang di Divisi Marketing...?" tanya Erlan.


" Ada tiga Pak...," sahut Kalisha lagi.


" Bagus. Lanjutkan pekerjaan Anda dan terima kasih...," kata Erlan sambil menjabat tangan Kalisha dengan hangat.


" Baik Pak, sama-sama..., " sahut Kalisha dengan takzim.


Bianca pun ikut tersenyum kearah Kalisha lalu bergegas berlalu mengikuti Erlan yang melangkah ke divisi lain.


Akhirnya Erlan tiba di gudang dan melihat Kenzo sedang mengangkat beberapa peti kayu. Erlan tersentak melihat anak kesayangannya bekerja keras. Ada rasa haru sekaligus bangga melihat Kenzo yang rendah hati dan tak menyombongkan statusnya.


" Tolong rekam kegiatan mereka ya Bianca. Saya mau ngobrol sebentar sama kepala gudang...," pinta Erlan sambil menyerahkan ponselnya.


" Baik Pak...," sahut Bianca.


Kemudian Bianca pun mulai merekam pekerjaan karyawan gudang. Beberapa karyawan gudang tertawa saat menyadari mereka sedang direkam oleh Bianca.


" Eh, Kita lagi direkam tuh. Ayo semangat biar ntar dapat bonus...," kata salah satu karyawan.


" Ga mungkin dapat bonus. Ini kan emang kerjaan Kita. Biasanya mereka emang seneng aja ngeliat Kita yang kerjanya ngos-ngosan kaya gini...," sahut karyawan lain dengan kesal.


Kenzo pun menoleh kearah kedua karyawan yang sedang bicara itu. Mengerti apa yang mereka bicarakan Kenzo pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia terkejut melihat Bianca tengah merekam kegiatannya dan teman-temannya.


Kenzo lebih terkejut lagi saat melihat kehadiran sang papa yang sedang berbincang dengan kepala gudang pengganti Dito. Hati Kenzo bersorak gembira melihat sang papa ada di depan matanya. Rasanya ia ingin berlari memeluk sang papa tapi Kenzo terpaksa menahan diri karena tak ingin rahasianya terbongkar.


" Papa...," gumam Kenzo.


Seolah mendengar suara anaknya, Erlan pun menoleh dan tersenyum kearah Kenzo sambil mengacungkan ibu jarinya.

__ADS_1


Bianca yang tak sengaja mereka moment itu pun tersenyum senang. Apalagi Kenzo juga membalas sikap sang papa dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


__ADS_2