Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
70. Disesatkan


__ADS_3

Genk Comot masih belum menyadari keberadaan makhluk tak kasat mata yang mengepung mereka termasuk Aruna. Nampaknya gadis itu sedang fokus memberi suport pada Ria dan Kenzo yang baru saja 'jadian'.


Hingga saat Fadil mengedarkan pandangan dan menyadari sesuatu, ia pun langsung bertanya.


" Eh guys, ngomong-ngomong Kita ada dimana ya. Kok sepi banget kaya di hutan. Mana gelap banget lagi. Bukannya tadi Kita turun di pinggir jalan raya ya...?" tanya Fadil.


Pertanyaan Fadil menyadarkan lima temannya yang kemudian ikut menatap ke sekelilingnya. Dan saat itu lah Aruna melihat kehadiran makhluk astral yang ada di sekitarnya. Jumlahnya belasan dan itu membuat Aruna khawatir.


" Iya Dil, ini bukan tempat Kita turun tadi lho...," kata Kenzo.


" Galang, gimana nih...?" tanya Ria.


" Gue juga ga tau. Perasaan tadi Gue minta turun di pinggir jalan, kenapa sekarang malah di sini...," sahut Galang bingung.


" Bercanda Lo ga lucu Lang...," kata Agung sambil menepuk punggung Galang dengan keras.


" Gue ga bercanda Gung. Gue juga bingung nih...," sahut Galang sambil mendelik tak suka.


" Jangan-jangan Kita tersesat Lang...?" tanya Fadil.


" Bisa jadi...," sahut Galang lirih.


" Ya Allah..., kok bisa sih Lang. Kan Lo pede banget waktu nawarin jadi guide buat Kita. Tapi kok malah nyasar gini sih...?!" kata Ria gusar.


" Mana Gue tau kalo Kita nyasar kaya gini Ri. Gue bukan baru pertama kali ke sini, jadi Gue hapal daerah sini. Tapi jujur tempat ini emang asing banget buat Gue...," sahut Galang sambil mengamati sekelilingnya.


" Terus gimana dong...?" tanya Ria panik.


" Tenang dulu dong Sayang, Kita pasti bisa nemu jalan keluarnya kok...," kata Kenzo sambil mengusap lembut kepala Ria hingga gadis itu terlihat lebih tenang lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kenzo.


Melihat sikap Kenzo dan Ria membuat keempat anggota genk Comot lainnya melengos kesal.


" Sempet-sempetnya bermesraan di saat Kita semua lagi panik...," sindir Agung.


" Sorry Gung, Gue refleks aja tadi...," sahut Kenzo tak enak hati.


Di saat kelima temannya berdebat, Aruna mencoba berkomunikasi dengan makhluk astral yang mengepung itu.

__ADS_1


Penampilan para makhluk astral itu membuat Aruna tak nyaman. Meski tampil dalam wujud manusia sama seperti dirinya, tapi Aruna mencium gelagat aneh mereka. Sinar mata mereka bak hewan lapar yang tengah mengintai mangsa. Aruna merasa para makhluk astral itu memang ingin menyantap dia dan kelima temannya itu.


" Perkenalkan namaku Aruna. Aku mohon, tolong ijinkan Kami pergi dan jangan ganggu Kami...," kata Aruna dalam hati sambil menatap pimpinan makhluk astral itu.


Ucapan Aruna disambut tawa sang pemimpin makhluk astral itu.


" Sudah jadi peraturan tak tertulis, semua yang datang ke tempat ini adalah santapan Kami...," kata pemimpin makhluk astral itu sambil menjilat bibirnya.


" Tapi peraturan itu dibuat hanya untuk orang-orang yang merusak tempat ini. Aku dan temanku adalah orang yang sengaja Kalian sesatkan ke sini dan itu ga masuk dalam hitungan...," sahut Aruna tegas.


" Ck, siapa Kamu ini sebenarnya. Kenapa tau banyak tentang peraturan itu...?" tanya sang pemimpin makhluk astral itu sambil berdecak sebal.


" Siapa Aku itu ga penting. Ayo Kita buat kesepakatan...," kata Aruna.


" Kesepakatan apa...?" tanya sang pemimpin makhluk astral.


" Biarkan Aku dan kelima temanku lewat dan menemukan jalan keluar. Kami janji ga akan merusak apa pun selama perjalanan. Kami...," ucapan Aruna terputus karena dipotong cepat oleh pemimpin makhluk astral itu.


" Jika salah satu dari Kalian ada yang melanggar, maka dia adalah milik Kami...," kata pemimpin makhluk astral sambil menatap Aruna dan kelima temannya dengan tatapan tajam.


Aruna terdiam sesaat. Ia tak ingin genknya terluka atau bahkan tewas. Tapi penawaran itu lebih baik daripada ia membiarkan semua temannya tewas sia-sia menjadi santapan para makhluk astral itu.


" Baik lah. Tapi jangan ada satu pun diantara Kalian memancing Kami melakukan sesuatu...," pinta Aruna.


" Itu ga ada di dalam kesepakatan...," sahut pemimpin makhluk astral dengan tegas.


Aruna menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan kesepakatan yang baru saja dibuat. Sang pemimpin makhluk astral nampak tersenyum puas. Kemudian ia memberi kode pada pasukannya dan sesaat kemudian mereka lenyap tak berbekas.


Aruna mengusap wajahnya sambil berdzikir memohon petunjuk Allah. Di saat itu tiba-tiba Aruna teringat Kautsar. Pria yang menjadi suaminya yang perlahan mulai masuk ke dalam hatinya dan berusaha menempati hatinya itu.


" Andai Kautsar ada di sini mungkin Aku ga sebingung ini. Dia kan cerdas dan selalu punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Ck, kenapa malah jadi melow gini sih...," batin Aruna gusar sambil mengepalkan tangannya.


" Lo kenapa Run, kangen ya sama Kautsar...?" tanya Agung.


" Apaan sih Gung. Gue lagi mikir gimana caranya keluar dari tempat ini...," sahut Aruna.


" Itu bagus Run. Jangan kaya yang lain, bisanya cuma berdebat tapi ga mau mikir...," kata Agung.

__ADS_1


" Emangnya Lo mikir Gung. Bukannya Lo juga ikutan ribut daritadi. Pake ngatain Kita ga mikir segala...," kata Ria kesal sambil menoyor kepala Agung.


" Ish galak banget sih Ri. Ga ngerti deh Gue sama Kenzo kenapa bisa mau sama Lo...," kata Agung sambil mengusap kepalanya.


" Eh, maksud Lo apaan...?" tanya Ria sambil berusaha menyerang Agung lagi.


" Udah Ri, Gung !. Bukan waktunya berdebat karena hal sepele. Sebaiknya Kita cari jalan keluar sekarang. Tapi ingat, jangan ambil apa pun atau metik apa pun selama perjalanan...," kata Aruna.


" Maksudnya gimana sih Run...?" tanya Ria tak mengerti.


" Kita jalan sekarang buat nyari jalan keluar. Tapi selama Kita masih ada di hutan ini jangan ambil apa pun meski pun hanya sebuah batu atau ranting kering yang berserakan di tanah. Apalagi metik daun atau bunga langsung dari pohonnya...," sahut Aruna menjelaskan.


" Gue setuju...," kata Fadil.


" Kita semua juga setuju dodol. Emang Lo doang yang mau keluar dari sini...," sahut Kenzo kesal.


" Tapi kalo Kita tersesat lagi gimana Run...?" tanya Galang.


" Betul tuh. Bisa aja Kita justru muter-muter dan balik lagi ke tempat ini. Yah kaya yang pernah diceritain si Hasna yang dibawa setan bingung itu lho...," kata Fadil.


" Fadil apaan sih. Ga usah pake nyebut setan juga dong. Bikin takut aja sih, udah tau tempat ini serem...," gerutu Ria.


" Sorry Ri. Keceplosan...," sahut Fadil sambil nyengir.


" Gimana kalo Kita tandain pake tali atau sobekan kain aja...?" usul Aruna.


" Boleh juga...," sahut Galang.


" Jangan lupa berdzikir selama perjalanan biar ga dibawa setan bingung ya...," kata Aruna mengingatkan.


" Siaaapp...!" sahut kelima teman Aruna.


" Ok deal ya. Kita jalan sekarang yuk...," ajak Kenzo sambil menggandeng tangan Ria.


" Ok...!" sahut empat anggota genk Comot bersamaan.


Kemudian mereka mulai melangkah dengan Galang sebagai pemimpin jalan. Mereka tetap berusaha berkumpul, saling mengingatkan dan saling menjaga satu sama lain. Entah berapa lama mereka berjalan hingga rasa lelah perlahan mulai menyapa mereka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2