
Aruna dan Ria diijinkan pulang oleh dokter di hari yang sama. Kondisi Ria terlihat lebih baik. Ia dijemput oleh Kenzo dan kedua orangtua mereka masing-masing.
Ria dibawa pulang ke sebuah rumah yang asing baginya. Ternyata rumah itu adalah rumah milik kedua orangtua Kenzo.
" Ini rumah siapa Ma...?" tanya Ria sambil mengamati sekelilingnya.
" Ini rumah calon mertuamu Sayang...," sahut Mama Ria sambil tersenyum namun cukup mengejutkan Ria.
" Kok Kita ke sini...?" tanya Ria tak mengerti.
" Kamu akan tinggal di sini sampe acara akad nikahmu dan Kenzo dilaksanakan besok Nak...," kata Nina tiba-tiba.
" A... akad nikah Aku dan Ken... zo...?" tanya Ria gugup.
" Betul Sayang. Semua memang terlalu mendadak jadi dokumen pernikahan Kita pun masih harus diurus dan itu perlu waktu. Makanya orangtua Kita sepakat untuk menikahkan Kita secara siri dulu biar Aku ga khilaf saat jagain Kamu nanti...," sahut Kenzo sambil merengkuh bahu Ria dengan lembut.
Ria terkejut dan menatap Kenzo sambil menganga. Dan itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
" Tutup mulutmu RI, ntar ada lalat masuk gimana...?" tanya Kenzo sambil menutup mulut Ria dengan telapak tangannya.
Ria nampak tersipu malu dan memalingkan wajahnya kearah lain.
" Kamu setuju kan Nak...?" tanya Mama Ria hati-hati.
" Aku terserah Mama sama Papa aja...," sahut Ria lirih.
" Alhamdulillah...! " sahut semua orang sambil menghela nafas lega.
Ternyata kedua orangtua Kenzo dan Ria telah sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka secepatnya. Mereka berharap dengan menikah, Kenzo bisa lebih leluasa berada di dekat Ria untuk menjaganya. Selain itu mereka juga tak punya alasan menunda pernikahan Kenzo dan Ria karena keduanya sudah tak bisa dipisahkan lagi.
" Sekarang Kamu istirahat supaya bisa tampil fresh saat ijab Kabul besok...," pinta Nina sambil membuka pintu kamar.
Ria dan mamanya tersenyum lalu masuk ke dalam kamar.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di Rumah Sakit Aruna sedang duduk di atas kursi roda. la menunggu Kautsar menyelesaikan biaya administrasi perawatannya.
Saat itu Aruna kembali melihat dokter Sheina melangkah di koridor Rumah Sakit bersama beberapa orang perawat. Setelah berbincang dengan para perawat, dokter Sheina nampak melangkah mendekati Aruna.
" Sudah beres semua Aruna...?" sapa dokter Sheina.
" Alhamdulillah sebentar lagi beres dok...," sahut Aruna.
" Syukurlah. Jangan terlalu banyak gerak dulu ya. Istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obat. Saya tau kalo Kamu melanggar pesan Saya karena Saya bisa melacak keberadaan Kamu lho Aruna...," bisik dokter Sheina.
Aruna tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Senangnya bertambah satu orang yang mengkhawatirkan Aku...," kata Aruna hingga membuat dokter Sheina tertawa.
" Aku juga senang karena punya tanggung jawab baru menjaga keluargaku...," sahut dokter Sheina.
" Kita bisa pulang sekarang Sayang...," kata Kautsar tiba-tiba.
" Ok. Kalo gitu Kami pamit ya dok. Makasih sudah membantuku melewati semuanya...," kata Aruna.
" Sama-sama. Ingat waktu check up tiga hari lagi ya...," kata dokter Sheina sambil menepuk halus punggung Kautsar yang mendorong kursi roda Aruna.
" Siap dok...!" sahut Kautsar dan Aruna bersamaan.
Dokter Sheina pun melepas Aruna dan Kautsar sambil tersenyum. Ada kebahagiaan di dalam hatinya saat mengetahui dirinya tak sendiri di kota itu. Karena ada Matilda, George dan Aruna juga Kautsar yang memproklamirkan diri sebagai keluarganya.
\=\=\=\=\=
Malam itu dokter Sheina kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan tugasnya. Wajah lelahnya terlihat jelas. Apalagi ia baru saja usai melaksanakan operasi pada salah satu pasiennya yang menderita kanker rahim.
Dokter Sheina pun masuk ke dalam ruangannya dan membiarkan pintu sedikit terbuka.
" Capek ya...?" tanya sebuah suara menyapa dokter Sheina.
" Alam, Kau kah itu...?" tanya dokter Sheina sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
" Iya, ini Aku...," sahut pria bernama Alam itu sambil tersenyum.
" Ada sedikit urusan yang memaksaku harus menjauh darimu Sheina...," sahut Alam.
" Urusan apa yang membuatmu harus menjauhi ku. Bukannya selama ini semua baik-baik aja...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.
" Ada beberapa orang yang tak suka melihat kedekatan Kita dan berusaha menghancurkan hubungan Kita Sheina...," sahut Alam sambil melayang duduk di hadapan dokter Sheina.
" Siapa...?" tanya dokter Sheina penasaran.
" Orangtuaku...," sahut Alam cepat.
" Orangtuamu, tapi kenapa Alam...?" tanya dokter Sheina tak percaya.
" Mereka tak ingin ada orang lain terlibat dengan urusanku. Apalagi itu Kamu Sheina. Mereka takut Kamu akan melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka...," sahut Alam lirih.
" Bagus kalo mereka tau itu. Aku memang ga suka melihat ketidak adilan di depan mataku. Aku hanya ingin membantumu lepas dari belenggu yang menjeratmu Alam...," kata dokter Sheina gusar.
" Jangan lakukan apa pun Sheina. Kalo Kamu lakukan itu, Aku khawatir tak akan bisa lagi bertemu denganmu. Padahal sejak mengenalmu dan dekat denganmu Aku ga bisa jauh darimu...," kata Alam cemas.
" Tapi hubungan Kita memang mustahil berlanjut Alam. Kamu tau itu...," sahut dokter Sheina sedih.
" Aku tau Sheina. Tapi boleh kan Aku sedikit egois kali ini ?. Aku ingin tetap bersamamu Sheina. Bolehkan...?" pinta Alam penuh harap.
__ADS_1
Sheina hampir membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Alam, namun ia urungkan saat seorang perawat mengetuk pintu ruangannya yang sedikit terbuka itu.
" Ada apa Sus...?" tanya dokter Sheina.
" Pasien yang tadi dioperasi kritis dok...," sahut sang perawat bernama Erma itu dengan cepat.
" Ya Allah. Ayo Kita ke sana Sus...," kata dokter Sheina diikuti Erma.
Dokter Sheina pun bergegas keluar dari ruangannya dan melupakan stetoskop miliknya. Saat beberapa langkah dari ruangannya dokter Sheina berhenti lalu mencari stetoskop di saku bajunya.
" Ada apa dok...?" tanya Erma.
" Stetoskop Saya ketinggalan di meja Sus. Bisa tolong ambilkan...?" pinta dokter Sheina.
" Baik dok...," sahut Erma lalu membalikkan tubuhnya dan bergegas melangkah kembali ke ruangan dokter Sheina.
Kemudian Erma membuka pintu ruangan dokter Sheina. Saat itu lah sebuah suara menyambutnya.
" Kenapa balik lagi, apa ada yang ketinggalan...?" tanya Alam.
" Iya, stetoskop dokter Sheina ketinggalan Mas...," sahut Erma sambil meraih stetoskop milik dokter Sheina dari atas meja kerja lalu bersiap melangkah keluar ruangan.
Namun Erma menghentikan langkah kakinya saat tersadar jika ia baru saja menjawab pertanyaan seorang pria. Erma pun mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan untuk mencari sosok pria yang tadi menyapanya. Erma terkejut karena tak mendapati siapa pun di ruangan itu.
" Eh, tadi ada suara cowok tapi kok ga ada siapa-siapa ya di sini. Jangan-jangan yang tadi nyapa Aku...," gumaman Erma terputus saat ia melihat gorden jendela bergerak-gerak.
Erma menahan nafas karena melihat pergerakan gorden jendela yang makin cepat. Erma pun membelalakkan matanya saat saat merasakan hembusan angin hangat yang menerpa tubuhnya.
Karena takut Erma pun bergegas keluar dari ruangan dokter Sheina sambil membanting pintu dengan keras. Dokter Sheina yang melangkah pelan pun menoleh karena terkejut mendengar suara pintu yang berdebum keras.
" Kenapa Suster...?" tanya dokter Sheina sambil menatap Erma dari ujung kepala hingga ujung kaki.
" Gapapa dok...," sahut Erma cepat sambil menyerahkan stetoskop yang tadi diambilnya.
" Makasih. Tapi beneran Kamu gapapa, muka Kamu pucat banget lho Sus...?" tanya dokter Sheina tak percaya.
" Sa... Saya denger suara laki-laki di ruangan dokter tadi...," kata Erma terbata-bata Hingg mengejutkan dokter Sheina.
" Suara laki-laki apa Sus ?. Kan ga ada siapa-siapa di ruangan Saya...," kata dokter Sheina gusar.
" Tapi Saya ga bohong dok. Ada yang nanya kenapa Saya balik lagi ke dalam ruangan dokter tadi. Saya jawab kalo stetoskop dokter Sheina ketinggalan. Saya pikir itu tamunya dokter Sheina, makanya Saya jawab aja. Tapi pas Saya ngeh kalo ruangan dokter kosong ga ada siapa-siapa, Saya jadi mikir yang nanya siapa dong dok...?!" tanya Erma dengan suara bergetar.
" Kamu kecapean aja kali, jadi berhalusinasi. Sebaiknya Kamu istirahat dulu biar Suster Hani aja yang bantu Saya...," kata dokter Sheina tak enak hati.
" Tapi dok...," ucapan Erma terputus karena dokter Sheina sudah melangkah cepat diikuti suster Hani di belakangnya.
Setelahnya suster Erma nampak berdiri mematung di depan ruangan dokter Sheina. Ia ingin kembali ke dalam ruangannya namun di saat bersamaan dia juga penasaran dengan suara laki-laki di dalam ruangan dokter Sheina itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=