
Karena asyik bermain air membuat Aruna dan ketiga temannya tak menyadari jika mereka telah jauh bergeser dari tempat semula. Keempatnya kini nampak berdiri di depan sebuah gua yang berada di balik sebuah batu besar di sungai itu.
“ Goa apaan tuh...?” tanya Noni.
“ Mungkin goa peninggalan jaman pa sejarah...,” sahut Mika asal.
“ Apaan sih Lo. Kalo goa jaman pra sejarah artinya udah hampir ribuan tahun dong. Bentuknya juga ga mungkin masih utuh kaya gini...,” kata Sheila sewot.
“ Kok sewot sih Shei, Gue kan cuma nebak aja...,” sahut Mika tak mau kalah.
“ Lagian Lo ngomong ga pake aturan sih Mik. Kalo Lo bilang nih goa dari jaman penjajahan Belanda atau Jepang mungkin masih bisa Gue maklumin. Lah kalo jaman pra sejarah ya mustahil dong...,” kata Sheila.
“ Ish berisik banget sih Lo berdua. Diem bisa ga...?!” kata Noni kesal.
Sheila dan Mika terdiam lalu kembali mengamati gua itu. Sedangkan Aruna nampak berusaha mendekat kearah gua. Aruna terlihat cuek meski pun ketiga temannya memanggil dengan lantang.
“ Jangan ke sana Aruna. Aruna...!” kata Sheila, Mika dan Noni bersamaan.
Namun Aruna mengabaikan panggilan itu dan terus masuk ke dalam gua lalu menyentuh dinding gua.
“ Eh, liat deh. Mulutnya Aruna kok komat kamit kaya gitu ya...,” kata Noni setengah berbisik.
“ Aduh jangan-jangan si Aruna kesurupan. Lo inget kan kalo si Aruna itu terkenal aneh di sekolah. Walau Gue ga percaya, tapi kayanya yang mereka bilang bener deh kalo si Aruna itu emang aneh. Jangan-jangan sekarang si Aruna lagi ngobrol sama hantu...,” kata Mika cemas.
“ Jangan ngomong gitu dong Mik. Gue takut nih...,” sahut Sheila hampir menangis.
“ Ayo Kita tarik aja si Aruna biar ga masuk lebih jauh lagi...,” usul Noni yang diangguki Sheila dan Mika.
Ketiganya pun menyusul Aruna masuk ke dalam gua. Namun saat tiba di dalam gua mereka tak menjumpai Aruna di sana. Nampaknya Aruna telah masuk ke bagian dalam gua dan itu membuat ketiga teman Aruna khawatir, mereka pun mulai berteriak memanggil Aruna.
“ Aruna, Lo dimana...?!” tanya Noni.
“ Keluar sekarang Aruna, ini udah hampir Maghrib lho. Kita harus balik ke kemah kalo ga mau dihukum sama Pak Romi...!” kata Mika.
“ Betul Mik. Ayo Aruna, Kita balik sekarang...!” kata Sheila.
Sayangnya teriakan ketiga gadis itu hanya berbuah gaungan di dalam gua itu. Mika, Noni dan Sheila saling menatap dengan cemas karena bingung. Sesaat kemudian mereka dikejutkan dengan kehadiran beberapa kelelawar yang keluar masuk gua. Ketiganya berjongkok untuk menghindari serbuan kelelawar yang mendadak hadir di dalam gua itu.
“ Kok ada kelelawar segala sih, tadi kan ga ada...,” kata Noni sambil melindungi kepalanya dengan kedua lengannya.
__ADS_1
“ Iya, ini aneh deh. Kita keluar aja sekarang yuk...,” ajak Sheila.
“ Eh, jangan egois Shei. Kasian kan Aruna kalo di dalam sendirian...,” sahut Mika.
“ Kita keluar justru mau cari bantuan buat Aruna dodol. Gue juga ga mungkin ninggalin Aruna sendirian di sini...!” kata Sheila marah.
“ Sheila bener Mik. Ayo Kita keluar aja sekarang terus nyari bantuan...,” ajak Noni sambil membalikkan tubuhnya kearah pintu gua.
Namun langkah ketiganya terhenti saat menyadari langit telah gelap. Saat bersamaan di kejauhan mereka mendengar nama mereka dipanggil bergantian. Nampaknya para guru datang untuk menjemput mereka.
“ Kami di sini Pak...!” sahut Mika lantang.
“ Ngapain Kalian di sana, ayo keluar...!” perintah Ahmad dari luar gua.
“ Iya Pak. Tapi di sini gelap banget Pak, Kami ga bisa ngeliat apa pun...,” sahut Sheila.
“ Ya udah, tunggu sebentar. Bapak ke situ sekarang...,” sahut Ahmad.
Tak lama kemudian ruangan gua terlihat terang akibat sorot lampu senter yang diarahkan ke dalam gua. Beberapa pria dewasa nampak berdiri di depan gua sambil menatap cemas kerah Mika, Sheila dan Noni. Ketiganya pun bisa keluar dari gua dengan selamat.
“ Mana Aruna, kok ga keliatan. Terus ngapain Kalian di sini...?” tanya Romi yang ikut datang menjemput.
“ Kok ga ada apa-apa, terus Aruna kemana...?” tanya Romi panik.
“ Sabar Pak. Sebaiknya anak-anak ini diungsikan dulu ke tempat aman. Nanti Kita bisa nyari anak yang hilang itu sama-sama...,” kata seorang tokoh masyarakat.
“ Betul Pak Romi. Tolong bawa mereka bertiga ke perkemahan, biar Saya sama Bapak-bapak ini yang nyari Aruna...,” kata Ahmad.
“ Baik lah. Saya balik dulu ke perkemahan. Hati-hati ya Pak...,” sahut Romi sambil beranjak dari depan gua.
Setelah keprgian Romi dan ketiga siswa itu, Ahmad dan para penduduk sekitar masih bertahan di depan gua. Tokoh masyarakat bernama Abah Yong nampak menatap ke dalam gua sambil berkomat kamit. Ahmad dan yang lainnya menunggu dengan sabar hingga pria itu selesai berkomunikasi dengan penghuni gua.
“ Anak yang Kita cari ga ada di sini Pak...,” kata abah Yong tiba-tiba setelah mengusap wajahnya.
“ Kok gitu Bah...?” tanya ahmad tak mengerti.
“ Iya. Saya udah nanya sama penghuni goa, dia bilang cuma tiga anak itu yang masuk ke sini sedangkan Aruna ga ke sini sama sekali...,” sahut abah Yong datar.
“ Tapi mereka bilang Aruna masuk ke sini tadi...,” kata Ahmad ragu.
__ADS_1
“ Kalo Pak Ahmad ga percaya, Kita cek ke dalam aja yuk...,” ajak abah Yong lalu melangkah masuk ke dalam gua lebih dulu.
Ahmad mengikuti abah Yong masuk ke dalam gua sedangkan yang lain menunggu di depan gua. Tiba di dalam gua Ahmad menyorotkan lampu senter ke penjuru gua. Di sana tak ada apa pun selain beberapa kelelawar yang
bergantungan di atas gua.
“ Ini udah mentok ya Pak, ga ada jalan lain dan ga ada apa pun di sini...,” kata abah Yong.
“ Aneh. Terus Aruna kemana kalo ga ke sini...,” gumam Ahmad.
“ Sebaiknya Kita keluar sekarang Pak. Kita bisa cari Aruna di luar nanti...,” kata abah Yong.
Ahmad mengangguk lalu mengikuti langkah abah Yong. Tiba di luar gua mereka kembali membagi tugas. Ahmad dan abah Yong dalam satu kelompok memilih mencari di sisi kiri sungai sedang kelompok lain mencari ke sisi kanan sungai.
Sambil menyusuri pinggiran sungai Ahmad pun mengamati sekitarnya. Ahmad nampak menggelengkan kepalanya
membayangkan Aruna berada di lingkungan sungai yang gelap dan mencekam itu seorang diri. Sepanjang perjalanan abah Yong terus bicara dan itu membuat Ahmad berkesimpulan jika saat ini Aruna pergi ke dimensi ghaib yang sulit ditembus oleh manusia biasa.
“ Maksud Abah, Aruna diculik makhluk halus...?” tanya Ahmad.
“ Iya...,” sahut Abah Yong cepat.
“ Apa Kita bisa menjemputnya Bah...?” tanya Ahmad akhirnya.
“ Insya Allah bisa. Tapi banyak hal yang harus Kita lakukan Pak. Dan Saya ga yakin Kalian mau melakukan itu karena biasanya orang modern kaya Kalian ga percaya sama hal mistis...,” sahut abah Yong hingga membuat Ahmad tak enak hati.
“ Mmm..., jujur awalnya Saya emang begitu Bah. Tapi Saya ga punya pilihan lain sekarang karena Aruna adalah murid Saya yang merupakan tanggung jawab Saya dan teman-teman. Saya hanya mau Aruna kembali apa pun caranya...,” kata Ahmad mantap.
“ Begitu...?” tanya abah Yong sambil menatap Ahmad lekat.
“ Iya Bah. Tolong bantu Kami menemukan Aruna ya Bah...,” pinta Ahmad sungguh-sungguh.
Abah Yong nampak terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya hingga membuat Ahmad bernafas lega.
“ Saya pulang dulu sebentar karena harus mempersiapkan semuanya sekarang. Kita balik lagi ke sini setelah Saya siap membawa semua yang diperlukan...,” kata abah Yong.
“ Baik Bah. Tapi tolong lebih cepat ya Bah...,” pinta Ahmad yang diangguki abah Yong.
Kemudian mereka memutuskan pulang ke perkemahan dan akan kembali saat abah Yong siap membawa ‘perbekalan’ yang diperlukan untuk masuk ke dimensi ghaib menjemput Aruna.
__ADS_1
Bersambung