
Setelah melayat ke rumah duka, Kenzo memutuskan membawa Ria dan Aruna kembali ke kantor.
" Nanggung amat sih Ken. Kenapa ga sekalian liat pemakamannya si Pipit...?" tanya Aruna.
" Gue masih ada kerjaan Run. Kan Lo yang bilang tadi pagi kalo siang ini Kita harus ketemuan sama klien...," sahut Kenzo santai.
" Emang iya Run...?" tanya Ria.
" Iya. Sorry Gue lupa...," sahut Aruna sambil nyengir.
" Jadi Lo udah nemuin sesuatu Run...?" tanya Kenzo.
" Banyak Ken, bukan cuma satu. Ada beberapa petunjuk tapi Gue bingung nyatuinnya. Ini kaya potongan puzzle, harus hati-hati biar ketemu...," sahut Aruna.
" Kalian nih ngomongin apaan sih...?" tanya Ria tak mengerti.
" Lagi ngomongin sesuatu yang aneh di rumah Pipit tadi Ri...," sahut Aruna.
" Termasuk tentang penyebab meninggalnya Pipit...?" tanya Ria.
" Lo juga udah curiga sama penyebab kematiannya Pipit RI...?" tanya Aruna.
" Awalnya sih ga. Tapi sekarang Gue ikutan curiga. Soalnya tadi Gue ga sengaja denger kasak-kusuk tetangga yang ngomongin kematian Pipit yang aneh...," sahut Ria.
" Oh ya. Emangnya mereka ngomong apaan aja tadi...?" tanya Aruna antusias.
" Katanya sih dalam enam bulan terakhir udah ada empat balita yang meninggal dunia Run. Dan katanya lagi mereka semua itu justru anak para penyewa kontrakan. Aneh kan...," sahut Ria.
" Aneh banget dan patut dicurigai. Iya kan Ken...?" tanya Aruna.
" Kalo baru katanya sih belum bisa dibilang mencurigakan. Kamu dapat info itu darimana Sayang...?" tanya Kenzo.
" Kata orang yang tadi di samping Aku. Dia juga bilang kalo Mas Angga punya data meninggalnya keempat balita itu...," sahut Ria.
" Angga tuh siapa Ri...?" tanya Aruna.
" Dia penyewa juga sama kaya Gue. Kerjaannya sih katanya wartawan. Tapi Gue ga tau persis dia kerja di media apa dan dimana...," sahut Ria.
" Angga itu yang tadi duduk di samping Aku bukan sih, yang badannya gempal itu...?" tanya Kenzo.
" Iya betul. Kamu ngobrol sama dia juga ya Sayang...?" tanya Ria.
" Sedikit. Dia tadi juga ngomong soal kematian balita yang jarak kematian antara satu dengan yang lainnya hanya berkisar empat puluh harian aja. Aku tertarik untuk ngebahasnya tapi keburu Ustadz Makki datang tadi...," sahut Kenzo.
" Oh gitu ya...," kata Aruna sambil memijit keningnya.
__ADS_1
" Lo kenapa Run...?" tanya Ria khawatir.
" Gapapa, cuma pusing aja sedikit...," sahut Aruna.
" Kalo ga kuat lebih baik Lo pulang aja Run...," kata Kenzo.
" Ga perlu. Mampir makan siang dulu ya biar pusingnya ilang...," sahut Aruna.
Ucapan Aruna membuat Kenzo dan Ria saling menatap kemudian tertawa.
" Jadi ceritanya Lo lapar Run...?" tanya Ria di sela tawanya.
" Bukan Gue tapi Anak Gue. Lagian Lo berdua tega banget sih. Ngajak Ibu hamil jalan tapi ga dikasih makan...," gerutu Aruna kesal.
" Sorry Run, Gue lupa. Ya udah tanya sama Anak Lo mau makan apaan...," kata Kenzo sambil tertawa.
" Makan apa aja yang penting sehat...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Ok. Di depan sana ada rumah makan Padang. Kita berhenti di sana ya Sayang...," pinta Ria.
" Siap...!" sahut Kenzo cepat hingga membuat Aruna dan Ria tertawa.
Ketiganya pun makan siang di rumah makan Padang sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kantor.
\=\=\=\=\=
Dan seperti biasa Aruna pun kembali bermimpi. Dalam mimpinya Aruna melihat Luluk dan Usi yang tengah bertamu ke rumah orangtua Pipit. Ibu Pipit nampak menyambut keduanya dengan ramah. Mereka terlibat pembicaraan serius dan Aruna terkejut karena ternyata Luluk dan Usi membicarakan tentang Ria.
" Kalo Mbak Ria itu mah tertutup banget. Biar pun Kita sering nongkrong di teras rumahnya tapi ga sekali pun Kita ditawarin minum atau makanan apalagi diajak masuk ke dalam rumahnya...," kata Luluk sambil mengunyah keripik singkong yang disajikan ibu Pipit.
" Maklum aja lah Bu. Mbak Ria itu capek kerja. Pulangnya juga lumayan sore bahkan kadang sampe malam juga. Jadi pas pulang maunya ya istirahat...," sahut Aibu Pipit bijak.
" Tapi kan ga ada salahnya kalo duduk sebentar sambil ngobrol. Emang ga bisa ya. Kalo datang pasti langsung tutup pintu. Emangnya dia nyimpen berlian ya di rumahnya sampe Kita ga boleh masuk segala...," gerutu Usi menambahkan.
" Wah kalo itu Saya ga ikut-ikut deh. Saya khawatir salah omong...," kata ibu Pipit.
Tiba-tiba terdengar Pipit memanggil sang ibu.
" Ibuuu...!" panggil Pipit dari dalam kamar mandi.
" Maaf Saya tinggal sebentar ya Mbak. Pipit lagi pup...," pamit ibu Pipit sambil bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Luluk dan Usi begitu saja.
Melihat kesempatan itu Luluk dan Usi pun saling menatap lalu menganggukkan kepala. Sesaat kemudian keduanya bergerak mencari sesuatu dari laci-laci lemari dan rak-rak yang terdapat di ruangan itu.
" Dapet ga Si...?" tanya Luluk.
__ADS_1
" Dapet Mbak. Ada jam tangan bagus nih...," sahut Usi sambil memperlihatkan sebuah jam tangan wanita.
" Bagus. Cepetan simpen...," kata Luluk yang diangguki Usi.
" Mbak sendiri dapet apaan...?" tanya Usi sambil berbisik.
" Uang...," sahut Luluk sambil tersenyum lebar.
" Yeeeyy..., makan-makan dong Kita...," kata Usi sambil bertepuk tangan.
" Iya. Sssttt..., sini duduk lagi...," ajak Luluk.
Tak lama kemudian Pipit dan ibunya nampak keluar dari dalam rumah. Saat itu Pipit nampak telah mengenakan gamis beserta hijabnya. Rupanya Pipit akan pergi mengaji.
" Lho Pipit udah mau berangkat ngaji ya...?" tanya Luluk.
" Iya Tante...," sahut Pipit sambil mencium punggung tangan Usi dan Luluk bergantian.
" Mau dianter ga...?" tanya Usi basa-basi.
" Ga usah Mbak. Biar Saya aja...," sahut Ibu Pipit sambil tersenyum.
" Kalo gitu Kita keluar deh. Ga enak kalo di dalem padahal yang punya rumah lagi ga di rumah. Iya kan Si...," kata Luluk.
" Betul Mbak...," sahut Usi cepat.
" Maaf ya jadi keganggu deh ngobrolnya...," kata ibu Pipit sambil menutup pintu rumah.
" Gapapa. Kita bisa ngobrol lagi lain waktu kok...," sahut Luluk.
Tiba-tiba mimpi pun berpindah tempat. Aruna bingung karena mendadak pindah ke sebuah tempat yang sepi dan gelap.
Di sana ia bertemu dengan Pipit yang tengah berlari mencari jalan keluar. Namun aneh, Aruna tak bisa menggapainya. Aruna hanya bisa diam menatap Pipit yang terus berlari sambil menangis.
" Ibuuu... tolong Pipit Bu...!" panggil Pipit berulang kali.
Aruna memanggil Pipit, tapi sayangnya suaranya hanya memantul di tempat. Pipit sama sekali tak mendengar panggilan Aruna.
" Sebelah sini Pit. Pipit...!" panggil Aruna dengan suara lantang.
Pipit terus berlari dan akhirnya jatuh saat tubuhnya menabrak sesuatu. Pipit berusaha bangkit lalu mendongakkan kepalanya dan terkejut saat melihat sosok hitam tanpa busana dan bertanduk tiga tengah berdiri di hadapannya. Sosok makhluk aneh itu nampak menyeringai lalu mengulurkan tangannya untuk menangkap Pipit.
Refleks Pipit menjerit sambil menyilangkan kedua lengannya di atas kepala sambil mengatakan sesuatu yang mengejutkan makhluk itu.
" Ya Allah. Tolong Pipit ya Allah...!" jerit Pipit.
__ADS_1
Makhluk itu mengurungkan niatnya untuk menjangkau Pipit. Makhluk itu pun mematung di tempat sambil menatap tak percaya kearah Pipit. Nampaknya ia bingung bagaimana anak sekecil Pipit bisa mengucapkan lafal 'Allah' dengan baik dan benar.
\=\=\=\=\=