Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
289. Jati Diri Sang Pocong


__ADS_3

Saat itu Aruna memang melihat pocong merah itu sedang menempel erat di belakang Reyhan.


Reyhan pun hanya bisa menelan saliva dengan sulit sambil mulai membaca ayat kursi. Apa yang dilakukan Reyhan tak berimbas banyak karena pocong merah itu hanya sedikit menjauh dari tubuh Reyhan tapi tetap berada di belakangnya dan mengikuti kemana pun dia pergi.


" Kok Lo bisa tau kalo pocong merah itu lagi di belakang Gue Tsar. Emangnya Lo bisa ngeliat makhluk halus juga...?" tanya Reyhan setelah merasa dingin yang menyergapnya berkurang.


" Kan bukan cuma Lo, Gue atau Aruna yang liat pocong itu Rey. Gladys sama adiknya juga ngeliat kok. Buktinya Gladys langsung kabur meluk adiknya di sana...," sahut Kautsar sambil menunjuk kearah Gladys yang masih menangis ketakutan di pelukan adiknya yang berusia remaja itu.


" Oh iya ya. Gue ga ngeh. Kirain Gue Lo punya kemampuan lebih setelah nikah sama Aruna Tsar...," kata Reyhan.


Kautsar hanya tersenyum karena tak ingin mengiyakan dugaan Reyhan. Sesungguhnya Kautsar memang mulai bisa merasakan keberadaan makhluk halus di sekitar mereka saat dia mendampingi Aruna menghadapi makhluk halus. Walau kadang hanya sekelebat bayangan atau angin, tapi itu cukup membantu Kautsar mengetahui posisi makhluk halus yang bisa saja mencelakai istrinya. Dan itu bisa membuat Kautsar lebih cepat mengantispasi semuanya untuk melindungi istrinya.


Kemudian Kautsar menoleh kearah Aruna yang semula ada di sisinya. Ia melihat Aruna melangkah mendekati Gladys dan adiknya.


" Ga usah takut. Pocong merah itu ga jahat kok. Dia cuma mau ngingetin Kamu supaya berhati-hati..., " kata Aruna.


" Berhati-hati kenapa Mbak...?" tanya adik laki-laki Gladys penasaran.


" Berhati-hati setiap kali keluar rumah. Ada banyak ranjau yang dipasang di sekitar rumah ini dan tujuannya cuma satu yaitu membuat Kakakmu celaka..." sahut Aruna.


" Ranjau, maksudnya bom gitu Mbak...?" tanya adik Gladys panik.


" Bukan itu. Maksudku barang klenik seperti benda-benda yang dipakai untuk media guna-guna. Aku biasa menyebutnya ranjau...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Oh itu. Iya Mbak. Sebenernya Mbakku ini udah lama ga berani keluar rumah karena katanya sering ngeliat hantu. Dimana-mana dan sering. Hampir setiap tempat yang dia lewati pasti ngeliat penampakan...," kata adik Gladys.


" Oh ya, sejak kapan...?" tanya Aruna.


" Udah lama banget Mbak. Waktu Mas Mukhlis masih hidup juga beberapa kali ngeliat penampakan. Malah katanya hantu-hantu itu menampakkan diri ga kenal waktu. Pagi, siang, apalagi malam pasti nongol...," sahut adik Gladys hingga membuat Aruna mengerti mengapa Mukhlis terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri saat hendak keluar rumah.


" Terus apa lagi...?" tanya Aruna penasaran karena adik Gladys ternyata bisa memberi informasi yang dia butuhkan.


" Mmm..., kata Mas Mukhlis dia juga suka mimpi aneh. Tapi belum sempet cerita soal mimpi anehnya itu Mas Mukhlis keburu meninggal dunia...," sahut adik Gladys dengan mimik wajah sedih.

__ADS_1


" Oh gitu ya...," kata Aruna sedikit kecewa.


Kemudian Aruna menoleh kearah pocong merah yang nampak masih mengikuti Reyhan itu. Aruna mengerutkan keningnya karena merasa jika penampakan pocong itu sedikit aneh. Aruna yakin jika pocong itu juga arwah penasaran yang perlu bantuannya.


" Berhenti mengikuti dia. Sini bicara sama Aku. Insya Allah Aku akan berusaha membantumu jika Aku mampu...," kata Aruna.


Pocong merah berwajah hancur itu nampak mematung sejenak seolah ragu dengan ucapan Aruna. Namun saat ia menoleh kearah arwah Mukhlis dan melihatnya mengangguk, pocong merah itu pun ikut mengangguk.


Kemudian mengalir lah cerita dari pocong merah itu. Rupanya dia adalah Kakek Dita yang merupakan pemilik rumah kontrakan yang ditempati Mukhlis. Dia mengaku meninggal karena suatu sebab yang tak dia mengerti.


Aruna mencoba mencocokkan cerita Kakek Dita dengan arwah Mukhlis.


" Dia Kakeknya Dita. Dia udah lama meninggal dunia. Apa Kamu tau itu...?" tanya Aruna sambil menatap arwah Mukhlis.


" Meninggal, kapan ?. Kok Aku ga pernah denger. Atau jangan-jangan Kakek meninggal setelah Aku...?" tanya Mukhlis tak percaya.


" Menurut pengakuannya dia meninggal udah lebih dari setengah tahun yang lalu. Itu artinya saat Kamu masih hidup dia udah meninggal kan...?" tanya Aruna hati-hati.


" Keliatannya peran Dita dalam kematian Kakeknya juga besar...," kata Aruna.


" Betul. Bisa Kamu tanyakan apa penyebab kematiannya Run...?" tanya arwah Mukhlis.


" Sebentar ya...," sahut Aruna sambil melanjutkan interaksinya dengan pocong merah itu.


Aruna dibawa ke sebuah rumah dimana Kakek Dita tinggal. Sebuah rumah yang lumayan besar dan bagus. Kakek Dita nampak duduk sambil menghisap cerutu di tangannya. Di tangan lainnya terdapat sebuah ponsel. Rupanya saat itu Kakek Dita tengah bicara dengan seseorang.


Namun tiba-tiba Kakek Dita bangkit berdiri. Ia terlihat marah saat mendengar ucapan lawan bicaranya di seberang telephon.


" Baik lah terima kasih atas informasinya. Saya akan tanya Dita nanti. Maafkan Saya kalo sudah membuatmu tak nyaman...," kata Kakek Dita.


" Gapapa Kek. Mungkin Mbak Dita lupa ngasih tau kalo Saya udah bayar kontrakan sama dia...," sahut orang di seberang telephon.


Kakek Dita pun mengakhiri pembicaraan mereka lalu segera memanggil Dita.

__ADS_1


" Dita...!" panggil sang Kakek.


" Iya, kenapa Kek...?" tanya Dita sambil melangkah mendekati sang Kakek.


Saat itu Dita terlihat berpenampilan rapi. Ia membawa sebuah tas dan mengenakan pakaian terbaiknya. Wajahnya juga terlihat dipoles hingga membuatnya terlihat cantik. Nampaknya Dita akan pergi ke suatu tempat.


Saat langkahnya tiba di hadapan sang Kakek, tamparan keras pun melayang dan mengenai wajahnya. Dita terhuyung ke samping sambil memegangi pipinya.


" Kenapa Kakek memukul Aku...?" tanya Dita.


" Dasar kurang ajar. Kemana uang yang dibayarkan para penyewa rumah itu Dita. Kenapa ga Kamu serahkan padaku...?!" tanya Kakek Dita sambil berkacak pinggang.


" Oh itu. Maaf Kek, Aku lupa bilang. Tapi Kakek tenang aja. Uangnya masih utuh kok. Aku simpan di lemari...," sahut Dita berbohong.


" Bawa ke sini sekarang. Uang itu bukan hakmu. Ada hak orang lain di sana...!" kata Kakek Dita.


" Hak siapa Kek ?. Cuma Aku Cucu Kakek yang masih hidup dan menjaga Kakek selama ini. Tapi kenapa Kakek menyembunyikan semuanya dariku ?. Apa Kakek ga percaya sama Aku...?" tanya Dita dengan mata berkaca-kaca.


" Aku ingin percaya, tapi sayangnya Kau terlalu bod*h hingga mudah dimanfaatkan oleh orang lain...," sahut Kakek Dita ketus.


" Kenapa Kakek ngomong kaya gitu...?" tanya Dita tak suka.


" Aku tau kalo selama ini Kamu masih berhubungan sama dukun cab*l itu. Kamu sering ngasih uang kan sama dia. Jika Kamu memilih dia, tinggalkan rumah ini. Tapi jika Kamu mau bertahan, turuti apa perintahku...," kata Kakek Dita sambil berlalu.


Dita terkejut sekaligus marah mendengar ucapan sang Kakek. Ia meraih kursi kayu yang ada di dekatnya lalu melemparkan kursi itu kearah sang Kakek yang kebetulan melintas di depannya. Kursi itu mengenai kepala sang Kakek hingga membuat tubuh rentanya tersungkur jatuh di lantai. Kakek Dita pun jatuh pingsan dan itu membuat Dita panik. Ia mengira jika kakeknya meninggal akibat ulahnya.


Karena panik Dita pun menyeret tubuh sang Kakek ke kamar. Kemudian dia menghubungi kekasihnya dan memintanya datang ke rumah.


Saat kekasihnya datang, Dita pun memintanya membereskan sang Kakek. Dengan senang hati kekasih Dita menyingkirkan sang Kakek yang selama ini memang menentang hubungannya dengan Dita. Bahkan Dita dan kekasihnya membungkus tubuh sang Kakek yang pingsan itu dengan kain warna merah lalu menguburnya di belakang rumah.


Aruna nampak mengusap wajahnya karena tak sanggup melihat tubuh Kakek Dita ditimbun tanah. Rupanya saat ditimbun tanah itu, Kakek Dita masih dalam keadaan hidup. Saat terbangun dalam keadaan gelap ia panik. Dia berusaha keluar namun gagal. Tak lama kemudian Kakek Dita meninggal dunia karena kehabisan udara.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2