Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
263. Waktu


__ADS_3

Aruna melihat arwah Alam menunduk sedih sama persis seperti saat ia meregang nyawa di meja operasi.


Sebelum operasi pencangkokan ginjal dilakukan, Alam masih bertanya dimana kedua orangtuanya. Namun jawaban dokter Mudji yang saat itu mendampinginya membuat Alam mengerti jika kedua orangtuanya tak akan pernah datang untuk menjenguk apalagi menungguinya menjalani operasi.


" Apa mereka begitu sibuk hingga tak bisa meluangkan sedikit waktu untukku dok ?. Atau mereka khawatir jika mereka menjengukku maka kesempatan mereka mendapatkan banyak uang akan lenyap begitu saja. Jadi hanya itu nilaiku di mata mereka...," kata Alam tak percaya.


" Maaf Mas Alam. Tapi Saya sudah menghubungi Bapak dan Ibu. Saya juga bilang kalo Mas Alam akan operasi malam ini. Tadi Ibu bilang lagi di jalan, kalo Bapak lagi meeting. Saya ga tau, apakah mereka bisa datang atau ga...," kata dokter Mudji tak enak hati.


" Harusnya dokter bilang kalo operasiku sebentar lagi. Dan bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir mereka ketemu sama Aku...," kata Alam putus asa.


" Iya Mas. Saya akan coba hubungi sekali lagi. Sekarang Mas Alam tenang ya. Ga usah panik dan terus berdoa supaya operasi berjalan lancar...," kata Mudji sambil mengusap lengan Alam dengan lembut.


Alam yang terlanjur kecewa nampak membuang pandangannya kearah lain. Rasa sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit saat diabaikan oleh kedua orangtuanya. Alam memejamkan mata karena tak kuasa menahan tangis.


Tak lama kemudian dua orang perawat masuk ke dalam ruangan lalu membawa Alam ke ruang operasi.


Saat dalam perjalanan menuju ruang operasi itu lah Alam berpapasan dengan dokter Sheina. Saat itu brankar yang didorong oleh dua perawat sedikit selip hingga hampir tergelincir ke taman. Namun dokter Sheina sigap membantu agar brankar itu tetap berada di lantai koridor.


" Makasih dokter Sheina...," kata kedua perawat itu bersamaan.


" Sama-sama. Hati-hati dong, kasian kan pasiennya kalo sampe jatuh...," kata dokter Sheina sambil melirik kearah Alam yang terbaring lemah itu.


Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Alam merasa jantungnya berdetak cepat melihat dokter Sheina yang cantik dan lembut itu. Sedangkan dokter Sheina langsung mengalihkan tatapannya kearah lain. Meski pun saat itu dokter Sheina tak memiliki perasaan yang sama dengannya namun Alam tak peduli.


Alam merasa semangat hidupnya bangkit saat melihat dokter Sheina. Alam ingin bisa bertemu lagi dan mengenal dokter Sheina lebih dekat. Dan itu lah yang ada di benak Alam saat ia dibawa masuk ke ruang operasi.

__ADS_1


Sebelum Alam pingsan karena pengaruh obat bius, nama dokter Sheina lah yang terakhir ia gumamkan. Dan dokter Sheina lah yang pertama kali dicari oleh Alam saat ruhnya pergi meninggalkan raganya.


Aruna menghela nafas panjang saat mengetahui bagaimana Alam bisa 'nyangkut' di ruangan kerja dokter Sheina. Ia merasa kagum sekaligus iba pada Alam. Kagum akan besarnya rasa cinta yang Alam miliki untuk dokter Sheina. Dan iba karena tahu Alam tak akan bisa memiliki cinta Sheina seutuhnya.


Setelah melihat kepergian Alam yang mengenaskan di meja operasi, Aruna seolah ditarik kearah ruang jenazah.


Di sana ia melihat ayah dan ibu Alam berdiri diam sambil menekuri lantai yang dingin. Tak ada yang bicara karena keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Keduanya terdiam karena baru saja ditegur oleh dokter Mudji yang protes pada mereka.


" Kok bisa sih Kalian bersikap seperti itu. Kalo Kalian membenci Alam setidaknya jangan perlihatkan rasa benci itu. Bisa kan pura-pura bersikap manis di depannya untuk yang terakhir kali. Kalian ga tau betapa putus asanya dia saat tau ga satu pun dari Kalian peduli padanya...!" kata dokter Mudji kesal.


" Kamu tau alasannya Mudji...!" sahut ayah Alam berusaha membela diri.


" Aku ga tau dan ga pernah mau tau. Itu urusan Kalian. Harusnya Aku ga pernah membantu Kalian mewujudkan rencana g*la Kalian itu. Aku menyesal dan Aku berhenti sekarang...!" kata dokter Mudji sambil berlalu.


Kedua orangtua Alam nampak saling menatap dan tak bisa berkata apa-apa. Mereka tak menyangka jika ketidak hadiran mereka justru membuat hubungan mereka dengan dokter Mudji memburuk. Awalnya mereka mengira dokter Mudji akan memihak mereka tapi nyatanya mereka salah. Dokter Mudji terlihat sangat terpuruk saat menyaksikan Alam meninggal dunia. Lebih terpuruk dari mereka yang adalah orangtua kandung Alam.


Meski bingung warga mencoba maklum dengan sikap kedua orangtua Alam. Mereka mengira jika kedua orangtua Alam terpukul kehilangan anak yang tinggal satu-satuhya itu.


Kemudian Aruna membuka matanya dan menatap dokter Sheina yang duduk sambil berdzikir. Ia tersenyum lalu menepuk pundak dokter Sheina dengan lembut.


" Gimana, apa Kamu dapat sesuatu...?" tanya dokter Sheina penasaran.


" Belum semua dok. Tapi Aku mulai nemu alasan kenapa Alam bertahan di sini...," sahut Aruna.


" Oh ya, apa alasannya...?" tanya dokter Sheina lagi.

__ADS_1


" Kamu...," sahut Alam tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna dan dokter Sheina.


Wajah dokter Sheina yang semula tegang terlihat mulai mencair bahkan merona. Dan itu membuat Aruna tersenyum senang. Sedangkan Kautsar yang berdiri di samping Aruna nampak mengerti apa yang terjadi.


" Jangan bikin dokter Sheina malu dong Lam. Kamu ga tau gimana rasanya. Akan menyakitkan rasanya saat tahu seseorang menyayangi Kita tapi Kita ga bisa membalasnya apalagi memilikinya...," kata Aruna sambil melirik kearah dokter Sheina.


Arwah Alam nampak tersentak seolah baru saja menyadari sesuatu. Ia menatap dokter Sheina dengan tatapan yang sulit dilukiskan.


" Apa Aku telah menyakiti dokter Sheina, Aruna...?" tanya arwah Alam hati-hati.


" Mungkin...," sahut Aruna cepat.


" Cukup Aruna. Jangan ngomongin soal perasaanku, itu ga penting sama sekali. Yang penting Alam bisa segera lepas dari ikatan yang membelenggunya selama ini...," sela dokter Sheina.


" Baik dok, Aku paham...," sahut Aruna.


" Jadi apa lagi yang bisa Kita lakukan setelah ini Sayang ?. Apa informasi yang Kamu dapat belum cukup untuk membantu Alam...?" tanya Kautsar tiba-tiba.


" Keliatannya Kita harus ke rumahnya untuk tahu ada apa sebenernya. Karena Alam masih sulit pergi. Ada sesuatu yang menahannya tapi Aku ga tau itu apa...," sahut Aruna.


" Apa Aku boleh ikut Kamu ke rumah Alam, Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Emangnya dokter punya waktu. Bukannya dokter ini super sibuk ya...? " tanya Aruna sambil tersenyum.


" Akan Aku siapkan waktu khusus untuk kasus ini Aruna. Kamu bisa hubungi Aku kapan aja...," sahut dokter Sheina mantap.

__ADS_1


Aruna tersenyum lebar mendengar ucapan dokter Sheina.


\=\=\=\=\=


__ADS_2