Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
318. Luka Raka


__ADS_3

Dalam ketidak berdayaannya Rasyid hanya bisa menatap tubuh Sheina yang telungkup tanpa busana itu. Ia ingin mendekat tapi kedua persendian kakinya terlalu lemah untuk menanggung bobot tubuhnya. Hingga akhirnya Rasyid hanya bisa mematung dengan tatapan terkunci kearah Sheina.


Matilda bergegas menutupi tubuh polos Sheina dengan selinut yang dibawanya. Kemudian Matilda menoleh kearah George.


" Kita tinggalkan tempat ini secepatnya karena ini tak baik untuknya...," kata George yang diangguki Matilda.


" Iya, lebih cepat lebih baik...," sahut Matilda.


George membungkuk lalu meraih tubuh Sheina dan menggendongnya sedemikian rupa. Rasyid yang melihat George dan Matilda bersiap membawa istrinya pergi pun tersentak kaget.


" Mau Kalian bawa kemana Istriku...?!" tanya Rasyid panik.


" Ke tempat yang aman, yang tak seorang pun akan menyakitinya...," sahut Matilda ketus.


" Aku ikut...!" kata Rasyid.


" Untuk apa ?. Bukannya tadi Kamu berniat membunuhnya...?" tanya Matilda dengan mimik wajah tak suka.


" Demi Allah Aku tak berniat membunuhnya. Aku juga baru tau kalo manusia serigala itu jelmaan Istriku. Jadi tolong jangan halangi Aku karena semua ini bukan seratus persen salahku...," kata Rasyid membela diri.


" Sayang...," panggil George untuk mengingatkan Matilda jika istrinya itu sudah berlebihan.


Matilda menghela nafas panjang lalu melirik kearah suaminya.


" Iya, Aku paham Sayang...," kata Matilda sambil tersenyum kecut.


" Bukan Aku tak ijinkan Kamu ikut Rasyid. Tapi di dalam sana ada seorang polisi yang terkapar bersimbah darah. Lebih baik Kamu tolong dia dulu. Biar lah Sheina menjadi urusan Kami...," kata George.


Ucapan George membuat Rasyid bimbang. Satu sisi ia khawatir pada Raka namun saat itu ia juga ingin mendampingi istrinya yang terluka akibat kecerobohannya tadi.


" Aku...," ucapan Rasyid terputus saat terdengar jeritan dari halaman Rumah Sakit.


Refleks Rasyid menoleh kearah Rumah Sakit dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Matilda dan George. Keduanya melesat pergi meninggalkan tempat itu sambil membawa Sheina.


" Kita pergi Sayang...," bisik Matilda sambil melesat pergi.


George mengangguk lalu mengikuti istrinya sambil menggendong tubuh Sheina yang terluka parah.

__ADS_1


Saat Rasyid menoleh kembali kearah George dan Matilda, ia tak melihat siapa pun di sana. Rasyid menahan marah sambil mengepalkan tangannya karena tahu mereka pergi dengan membawa serta istrinya. Kemudian Rasyid memutuskan kembali ke Rumah Sakit dengan langkah gontai.


\=\=\=\=\=


Rasyid nampak duduk menunggu Raka yang sedang ditangani dokter di UGD. Sebelumya Raka ditemukan pingsan bersimbah darah oleh salah satu perawat yang kebetulan melintas.


Sang perawat yang kebetulan bertugas malam hari itu baru saja tiba di parkiran. Saat sedang berjalan ia melihat sosok tubuh tergeletak bersimbah darah. Perawat itu mendekat dan terkejut mendapati seorang polisi terluka parah.


Semula ia mengira polisi itu telah tewas. Namun saat perawat itu hendak beranjak memanggil bantuan, tangan Raka bergerak dan mencekal kakinya. Sontak perawat itu menjerit ketakutan dan jeritannya itu lah yang terdengar hingga ke kebun apel tadi.


Rasyid nampak kacau. Bagaimana tidak, karena Rasyid sedang kebingungan saat itu. Di satu sisi Rasyid ingin mendampingi istrinya namun ia tak tahu kemana George dan Matilda membawanya. Dan di sisi lain Raka sangat membutuhkan kehadirannya.


Rasyid merasa secara tak langsung Raka terluka karena dirinya.


Rasyid pun menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya untuk mengusir rasa penat yang menderanya. Tak lama kemudian Rasyid tersenyum saat melihat dua orang polisi datang menghampirinya.


" Gimana keadaan Raka, Syid...?" tanya Yoga.


" Masih di dalam. Gue dari tadi nunggu di sini tapi belum ada kabar apa pun...," sahut Rasyid.


" Emang lukanya parah Syid...?" tanya Yoga.


" Kok Keliatannya. Emang Lo ga barengan sama si Raka...?" tanya rekan polisi lainnya.


" Gue ke sini abis nemuin istri Gue tadi. Pas Gue ke parkiran ternyata udah banyak orang di sana. Gue liat mereka lagi mengerumuni Raka yang pingsan bersimbah darah. Beruntung Raka langsung dibawa masuk sama security dan perawat tadi. Nah setelah Raka masuk UGD, Gue nelephon Lo deh...," sahut Rasyid.


Yoga dan rekannya nampak mengangguk tanda mengerti. Sedangkan Rasyid diam-diam mengutuk kefasihannya dalam berbohong tadi. Namun Rasyid terpaksa melakukannya karena tak ingin jati diri istrinya terungkap.


Tak lama kemudian dokter yang membantu Raka tampak keluar dari ruang UGD dengan wajah sendu. Saat melihat wajah sang dokter pikiran Rasyid pun mengembara entah kemana. Ia mendapat firasat jika Raka telah pergi dan tak akan kembali. Rasyid duduk sambil menundukkan kepala sekolah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh sang dokter.


" Gimana teman Saya dok...?" tanya Yoga mewakili Rasyid.


" Maaf Pak, dengan menyesal harus Kami sampaikan jika Kami gagal membantu pasien Raka melewati masa kritisnya. Beliau meninggal dunia empat menit yang lalu karena terlalu banyak kehilangan darah...," sahut sang dokter dengan mimik wajah sedih.


Mendengar ucapan sang dokter membuat Rasyid terpukul. Ia nampak memejamkan matanya sambil mengucap istirja. Setelahnya Rasyid menutup wajahnya dengan telapak tangan karena tak kuasa menahan tangis.


Yoga dan rekannya nampak sedih. Keduanya saling menatap sejenak sebelum mengucap istirja.

__ADS_1


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Raka meninggal dok ?. Tapi kenapa mendadak banget, apa yang terjadi dok...?" tanya Yoga dengan suara bergetar menahan tangis.


" Luka yang beliau derita sangat parah Pak. Keliatannya pasien Raka juga terlambat mendapat pertolongan. Andai bisa dibawa lebih cepat, mungkin akan berbeda ceritanya...," sahut sang dokter.


" Iya dok...," kata Yoga berusaha tak menyalahkan sang dokter.


" Sekarang jenazahnya dimana dok...?" tanya Rasyid.


" Sebentar lagi akan dibawa ke ruang jenasah Pak...," sahut sang dokter.


" Makasih dok...," kata Yoga.


" Sama-sama Pak...," sahut sang dokter sambil beranjak pergi.


Kemudian Rasyid dan Yoga saling memeluk untuk saling menguatkan. Rekan mereka masih berdiri di sana sambil menatap haru kearahnya keduanya. Bagi Rasyid dan Yoga kehilangan Raka adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan.


" Raka ga punya keluarga di sini karena semua keluarganya ada di Manado...," kata Yoga sambil mengurai pelukannya.


" Kalo gitu Lo hubungin keluarganya ya Ga...," pinta Rasyid yang diangguki Yoga.


" Sambil menunggu keluarganya datang menjemput, Kita bisa mengurus jenazahnya dulu. Jadi pas keluarganya datang jenasah Raka bisa langsung dibawa...," kata Yoga.


" Iya, Gue setuju...," sahut Rasyid sambil mengusap matanya yang basah.


Kemudian Yoga meraih ponselnya lalu menghubungi salah satu keluarga Raka. Sesaat kemudian Yoga nampak menggigit bibir karena tak kuasa mendengar tangis kesedihan dari seberang telephon.


" Gimana Ga...?" tanya Rasyid.


" Keluarganya Raka bakal datang ke sini Syid.


Paling cepat besok pagi sampe sini karena mencari penerbangan yang paling pagi itu lumayan susah...," sahut Yoga hingga membuat Rasyid mengangguk.


" Mereka nangis ya Ga...?" tanya Rasyid.


" Ga usah ditanya gimana respon mereka Syid. Raka itu kebanggan keluarganya. Makanya mereka sangat terpukul waktu denger dia meninggal...," sahut Yoga cepat.


Mendengar ucapan Yoga membuat Rasyid makin diliputi rasa bersalah. Rasyid mengira jika kematian Raka akibat ulah Sheina. Rasyid yakin Sheina tak sadar telah melukai Raka saat dirinya menjadi manusia serigala tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2