Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
267. Derita Alam


__ADS_3

Di kota lain kedua orangtua Alam tak kesulitan menjalani hidup, meski pun keduanya harus memulai segalanya dari awal. Semua berkat dukungan komunitas yang selalu memberi bantuan dimana pun mereka berada.


Usaha yang mereka tinggalkan dengan mudah dipindahkan ke kota itu. Hingga kedua orangtua Alam tetap bisa hidup mapan dan tak kekurangan apa pun.


Dua tahun setelah kematian anak ketiga mereka, Alam pun lahir. Betapa bahagianya kedua orangtua Alam saat itu. Untuk sejenak mereka lupa dengan perjanjian yang mereka buat dengan komunitas itu. Bahwa setiap anak yang telah memasuki usia remaja harus dipersembahkan kepada 'tuan' mereka.


Setiap anggota komunitas memiliki bagian yang berbeda di setiap periode persembahan. Sang tuan akan memilih secara acak anak siapakah yang akan dijadikan persembahan.


Jika anggota lain hanya kehilangan salah satu anak dari beberapa anak yang mereka miliki, orangtua Alam justru kehilangan hampir semua anak yang mereka miliki. Namun keduanya tak pernah protes atau mencoba mencari tahu apa sebabnya sang 'tuan' memilih semua anak mereka untuk menjadi persembahan.


Kehidupan Alam sebagai anak tunggal setelah kematian ketiga kakaknya terbilang istimewa. Dia dilimpahi kasih sayang dan harta yang tak habis tujuh turunan. Kedua orangtuanya selalu memenuhi segala keinginan Alam meski pun itu dirasa sangat mustahil dan sulit.


Setiap periode persembahan tiba, kedua orangtua Alam dibuat cemas karena khawatir anak semata wayang mereka kini juga harus dipersembahkan kepada sang 'tuan'. Namun kedua orangtua Alam bisa bernafas lega karena Alam selalu berhasil selamat karena gagal seleksi calon persembahan.


Tahun-tahun pun berlalu hingga akhirnya Alam bisa melewati masa remajanya dengan aman dan masuk ke fase dewasa.


Rupanya keanehan lain terjadi pada Alam. Meski pun ia gagal jadi persembahan, hidupnya pun menjadi kurang beruntung. Jika anak lain sudah bisa menemukan pasangan di usia belia, maka hal berbeda terjadi pada Alam. Ia kesulitan menemukan pasangan hidup. Alam bahkan harus meminta bantuan beberapa teman agar diperkenalkan dengan seorang wanita.


" Ga peduli apa statusnya, yg penting cewek baik-baik..., " kata Alam kala itu.

__ADS_1


Namun lagi-lagi Alam harus menerima kenyataan dirinya gagal jatuh cinta. Alam sadar jika ada sesuatu yang menghalanginya untuk bisa menjalin hubungan dengan wanita, namun ia tak tahu apa itu.


Tak lama berselang Alam jatuh sakit, sangat parah hingga membuatnya harus meringkuk di tempat tidur berminggu-minggu lamanya. Kedua orangtua Alam bingung karena Alam tak kunjung sembuh meski pun mereka telah mengobatinya dengan berbagai cara.


Rupanya hal itu membuat ibu Alam jenuh dan lelah. Ia bosan mengurusi Alam karena selama Alam sakit ia tak bisa keluar rumah untuk mencari udara segar.


Hingga kemudian periode persembahan kembali bergulir. Meski pun Alam bukan calon terpilih, namun ibu Alam merasa jika sebaiknya Alam dikorbankan saja. Apalagi saat itu kondisi keuangan mereka sedikit terganggu dengan adanya pesaing bisnis baru.


Ibu Alam pun meminta dokter Mudji untuk mengganti semua obat yang diberikan kepada Alam dengan obat lain yang bentuk dan warnanya mirip. Ayah Alam awalnya tak tahu akan niat jahat sang istri. Semua terbongkar saat dokter Mudji 'keceplosan' bicara di hadapannya.


" Stok obat pengganti habis, jadi untuk sementara Alam libur minum obat. Biarkan dia sejenak merasakan hidup tanpa tergantung obat yang justru membunuhnya secara perlahan itu...," kata dokter Mudji.


" Apa maksudmu dok. Jadi selama ini Kau memberi obat lain pada Anakku...?!" tanya ayah Alam marah.


" Aku bosan merawat Alam. Biarkan saja dia jadi persembahan Kita yang terakhir. Setelah ini pasti Kita bakal kaya raya dan ga akan ada seorang pun yang bisa menyaingi kekayaan Kita...," kata ibu Alam waktu itu.


" Apa Kau g*la ?. Alam itu anak Kita, hanya dia yang tersisa. Apa Kau tak ingin mempertahankan dia...?" tanya ayah Alam gusar.


" Cepat atau lambat dia akan Kita korbankan juga kan ?. Kenapa ga dari sekarang aja. Lagipula Alam sudah lama sakit dan kata dokter Mudji harapan hidupnya cuma sedikit. Jadi biar lah dia pergi sekarang dan Kita bisa menikmati semua harta ini saat Kita masih muda dan sehat. Apa artinya banyak harta kalo Kita dapatkan saat Kita tua dan pikun. Ga akan ada gunanya !. Sekarang lah saat Kita menikmati semuanya sepuas mungkin. Saat tua dan pikun Kita tinggal duduk manis di kursi karena memang itu yang Kita butuhkan saat itu...," kata ibu Alam mengemukakan alasannya.

__ADS_1


Entah setan mana yang mempengaruhi ayah Alam. Dengan mudah ia menyetujui ide g*la sang istri. Mereka pun memberikan Alam kepada tuan mereka sebagai persembahan terakhir.


Dengan bantuan dokter Mudji kedua orangtua Alam mulai menyiksa Alam dengan sakitnya. Perlahan mereka juga mengurangi perhatian mereka dan membiarkan Alam menderita seorang diri di kamarnya.


Namun seperti sedang mengejek kedua orangtuanya, Alam justru masih bertahan hidup meski pun dalam kondisi memprihatinkan. Ibu Alam tampak mulai tak sabar ingin segera menikmati harta hasil dari persembahan Alam.


Dan saat Alam dilarikan ke Rumah Sakit oleh dokter Mudji, kedua orangtua Alam justru sedang sibuk melakukan ritual persembahan. Bukan di tempat jauh melainkan di dalam kamar Alam.


Jika kedua orangtua Alam tak peduli sama sekali, hal berbeda justru terjadi pada dokter Mudji. Menyaksikan penderitaan Alam menjelang kematiannya membuat dokter Mudji merasa bersalah sekaligus iba. Berkali-kali ia meminta maaf kepada Alam hingga membuat Alam bingung.


" Iya dok, Aku Maafin dokter kok. Bukan salah dokter juga hingga sakitku separah ini. Semua sudah kehendak Tuhan. Jangan menyalahkan diri sendiri karena gagal mengobati Aku. Justru Aku mau berterima kasih karena dokter masih mau mendampingi Aku di saat sulit seperti ini. Padahal orangtua kandungku aja ga peduli sama sekali...," kata Alam sedih.


" Saya akan di sini sampe Mas Alam selesai dioperasi. Semangat ya Mas Alam. Mungkin sebentar lagi Bapak sama Ibu datang...," kata dokter Mudji berbohong.


Kemudian Alam pun menjalani operasi tanpa didampingi kedua orangtua kandungnya. Dan seperti yang diinginkan kedua orangtuanya, Alam meninggal dunia hari itu juga di meja operasi. Saat kabar itu disampaikan oleh dokter Mudji melalui sambungan telephon, kedua orangtua Alam bersorak gembira.


Kedua orangtua Alam bergegas ke Rumah Sakit. Bukan untuk menangisi kematian Anaknya tapi untuk memastikan jika Alam benar-benar telah meninggal dunia. Karena itu artinya persembahan mereka diterima dan mereka akan segera mendapatkan harta yang dijanjikan oleh sang tuan.


Selama berbulan-bulan kedua orangtua Alam hidup bahagia bersama harta yang mereka miliki. Hingga saat tamu misterius datang menagih janji, mereka diam ketakutan.

__ADS_1


Rupanya kedua orangtua Alam salah mengira. Persembahan mereka belum lah berakhir. Setelah menyerahkan keempat anak kandung mereka kepada sang tuan, mereka masih harus menyediakan satu orang lagi sebagai pelengkap persembahan. Dan jika mereka gagal menyediakan persembahan, maka nyawa mereka lah taruhannya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2