
Lamunan Aruna buyar saat ponselnya berdering. Aruna hanya melirik ponselnya yang sedang dalam posisi mengisi batterai itu dengan enggan.
Semula Aruna ingin mengabaikan panggilan itu. Namun saat melihat nama Kautsar di layar ponselnya, Aruna tergerak menerima panggilan video call itu.
" Assalamualaikum...," sapa Aruna ragu.
" Wa alaikumsalam Aruna. Alhamdulillah...," sahut Kautsar dengan nada suara lega hingga membuat Aruna tersenyum.
Untuk sesaat keduanya terdiam tanpa tahu harus bicara apa. Kautsar sengaja menghela nafas berkali-kali untuk mengumpulkan kekuatan. Ada banyak emosi di kepalanya saat itu yang ingin ia lampiaskan. Namun Kautsar berusaha menahannya karena ia yakin Aruna juga sedang 'keletihan'.
" Kamu dimana Run...?" tanya Kautsar basa basi padahal ia sudah tahu dari Galang jika saat itu Aruna ada di Rumah Sakit.
" Di Rumah Sakit...," sahut Aruna cepat.
" Udah sholat belum...?" tanya Kautsar.
" Udah, nih baru selesai sholat...," sahut Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum.
" Udah makan...?" tanya Kautsar yang memang mengetahui Aruna belum makan apa pun sejak pagi.
" Sebentar lagi...," sahut Aruna sambil meraba dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berpacu cepat.
Aruna merasa perhatian Kautsar adalah obat dari segala keresahannya hari ini. Ia bahagia dengan perhatian kecil Kautsar.
" Aruna...," panggil Kautsar.
" Iya...," sahut Aruna.
" Aku kangen sama Kamu...," kata Kautsar lirih namun masih terdengar oleh Aruna dan itu membuat kedua mata Aruna membola.
" Tumben...," sahut Aruna sambil melengos.
" Ck, Kamu nih ngerusak moment aja sih Run. Aku kan lagi nyoba romantis sama Kamu...," kata Kautsar sambil berdecak sebal dan Aruna pun tertawa.
" Maaf, abisnya Kamu lucu banget sih...," sahut Aruna di sela tawanya.
Kautsar ikut tertawa melihat Aruna tertawa. Ia berharap setelah tertawa beban Aruna sedikit berkurang dan membuatnya lebih relaks.
" Udah merasa lebih baik...?" tanya Kautsar saat tawa Aruna reda.
" Iya, makasih ya Tsar...," sahut Aruna tulus.
__ADS_1
" Sama-sama...," kata Kautsar.
" Kamu ga mau nanya apa yang terjadi hari ini di sini Tsar ?. Bukannya Kamu tadi marah-marah ya sama Agung...?" tanya Aruna.
" Mau banget. Tapi buatku yang terpenting saat ini adalah memastikan kalo Kamu baik-baik aja dan ga terluka Aruna. Soal kejadian apa hari ini, itu kan bisa diceritain nanti pas sampe Jakarta...," sahut Kautsar bijak hingga membuat Aruna terharu.
" Tapi sayangnya Aku terluka Tsar...," kata Aruna sambil menatap tangan kanannya yang terbalut perban.
" Oh ya, di bagian mana ?. Parah ga, udah diobatin belum...?" tanya Kautsar panik.
" Cuma luka kecil aja kok, ga usah lebay deh...," sahut Aruna sambil memutar bola matanya.
" Aku ga suka Kamu nyepelein luka ya Aruna. Kalo Kamu ga mau perhatiin luka Kamu itu, Aku bakal nyusul Kamu sekarang juga...!" kata Kautsar setengah mengancam.
" Eh, ga perlu. Lukanya udah diobatin kok. Nih liat kan...," sahut Aruna panik sambil memperlihatkan telapak tangannya yang di perban.
" Itu luka kena apaan Run...?" tanya Kautsar sambil mengerutkan keningnya.
" Kena kaca pigura...," sahut Aruna cepat.
" Kok bisa...?" tanya Kautsar lagi.
" Panjang ceritanya Tsar. Bukannya Kamu bilang mau nunggu Aku sampe Jakarta aja biar bisa cerita sepuasnya...?" tanya Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kalo gitu Aku makan dulu ya Tsar. Kamu juga jangan lupa makan. Ntar kebiasaan, sibuk ceramahin Aku eh taunya diri sendiri lupa makan...," kata Aruna hingga membuat Kautsar tertawa keras.
" Ok Sayang...," sahut Kautsar dan lagi-lagi itu membuat Aruna membulatkan matanya.
Sesaat kemudian pembicaraan Kautsar dan Aruna pun berakhir. Aruna bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan keluar musholla untuk menemui Fadil, Galang dan Agung.
Kemudian keempatnya melangkah menuju kantin Rumah Sakit untuk makan siang.
\=\=\=\=\=
Kenzo mulai siuman saat hari kedua dirawat di Rumah Sakit. Tawa Ria pun pecah saat melihat Kenzo membuka mata.
" Alhamdulillah, akhirnya...," kata Ria sambil menghambur memeluk Kenzo.
" Jangan gitu Ri, Kenzo kan baru aja siuman. Dia juga perlu oksigen buat bernafas. Kalo Lo pelukin kaya gitu gimana dia bisa nafas...," tegur Aruna.
" Oh iya, Gue lupa. Maaf ya Sayang...," kata Ria sambil membelai pipi Kenzo dengan lembut.
__ADS_1
Kenzo nampak mengangguk lalu kembali memejamkan matanya. Melihat hal itu membuat Ria bingung.
" Ga usah panik Ri, Fadil lagi manggilin dokter buat ngecek kondisinya Kenzo...," kata Galang menenangkan Ria.
" Iya Lang, makasih...," sahut Ria cepat.
Tak lama kemudian seorang dokter bersama seorang perawat datang menghampiri Kenzo. Aruna dan teman-temannya diminta menunggu di luar saat sang dokter memeriksa Kenzo.
Setelah memastikan kondisi Kenzo membaik, sang dokter keluar dari ruangan untuk menemui Aruna dan teman-temannya. Sang dokter menyarankan agar Kenzo dirawat beberapa hari di Rumah Sakit itu.
Mendengar ucapan sang dokter membuat Aruna dan keempat temannya tampak saling menatap bingung. Tujuan mereka ke Lampung adalah untuk mengerjakan tugas sekalian berlibur. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Apalagi mereka masih harus bolak balik ke kantor Polisi untuk memberi keterangan.
" Kita bagi tugas aja guys...," kata Fadil tiba-tiba.
" Bagi tugas gimana Dil...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Kita kan berenam. Jadi pas dibagi tiga tempat. Dua orang di Rumah Sakit, dua ke kantor Polisi dan dua lagi ke perkebunan. Titik kumpul ya di Rumah Sakit ini karena Kita ga mungkin ninggalin Kenzo di sini sendirian kan. Gimana...?" tanya Fadil sambil menatap kelima temannya satu per satu.
" Gue setuju. Lebih praktis juga...," sahut Agung cepat.
" Iya sih. Tapi kebutuhan informasi yang Kita perluin dari perkebunan itu kan beda-beda Dil...," kata Ria.
" Kita rolling aja Ri. Misalnya hari pertama yang ke perkebunan Gue sama Aruna. Yang ke kantor Polisi Galang sama Agung dan yang nemenin Kenzo ya Lo lah. Nah, besoknya Kita bisa gantian...," usul Fadil.
" Kayanya itu yang terbaik. Gue setuju sama usul Fadil...," kata Galang.
" Gue juga...!" sahut empat orang lainnya.
" Nah kalo gitu deal ya. Siapa yang mau ke perkebunan dulu hari ini...?" tanya Fadil.
" Gue aja deh. Kan Gue yang kenal sama pemilik perkebunan itu...," sahut Galang.
" Kalo gitu Gue ikut Galang...," kata Aruna.
" Ok. Artinya yang ke kantor Polisi Gue sama Fadil ya...," kata Agung.
" Iya...," sahut Aruna dan keempat temannya bersamaan.
Setelahnya Aruna, Galang, Fadil dan Agung keluar menuju tempat yang disepakati tadi. Galang dan Aruna menumpang Taxi untuk tiba di perkebunan, sedangkan Fadil dan Agung naik kendaraan umum.
Sementara itu Ria yang mengurus keperluan Kenzo selama dirawat di Rumah Sakit. Beberapa kali ia terlihat keluar masuk ruangan sambil membawa beberapa benda.
__ADS_1
Kenzo nampak bahagia melihat Ria bersamanya. Apalagi gadis itu tak pernah mengeluh meski pun Kenzo tahu jika Ria juga sangat letih dan kurang tidur karena menemaninya di Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=