Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
174. Tak Menyadari


__ADS_3

Lian menyudahi ingatannya lalu bangkit menuju jendela. Ia menyibak tirai jendela lalu menatap langit malam yang dihiasi bulan dan taburan bintang. Terlihat cantik, namun tak sepadan dengan perasaannya saat ini.


Lian menutup kembali tirai jendela dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu selama beberapa waktu.


Dari balik cermin ruh Lian nampak tersenyum senang melihat aksi Dian yang meminjam raganya itu tengah berjalan kebingungan.


" Sekeras apa pun usahamu, Kamu ga akan bisa menjadi Aku Dian. Ada sisi dimana seseorang akan menyadari jika Kau bukan Aku...," gumam ruh Lian sambil menatap Dian dengan tatapan tajam.


Saat itu Dian yang meminjam raga Lian memang sedang berpikir tentang sikap Aruna. Nampaknya ia mulai mencurigai Aruna. Dian yakin jika Aruna mengetahui sesuatu tentang rahasianya. Walau tak tahu pasti di bagian mana Aruna mengetahui sisi gelapnya, namun Dian harus mulai bersikap hati-hati saat berhadapan dengan Aruna.


" Keliatannya anak magang yang namanya Aruna itu tau sesuatu. Atau dia curiga sama Gue. Tapi ga mungkin kan. Wajahnya aja polos begitu. Gue yakin kalo ngeliat penampakan hantu pasti langsung pingsan saking takutnya. Atau Gue test aja besok ya...," gumam Dian sambil mengetuk pelipisnya berulang kali.


Setelah lelah berpikir, Dian menghentikan langkahnya dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Capek. Lebih baik Gue tidur sekarang...," kata Dian sambil menguap panjang.


Tak lama kemudian Dian pun tertidur pulas disaksikan ruh Lian yang menatap sedih dari balik cermin di depannya.


\=\=\=\=\=


Aruna berhasil menjalankan tugasnya sebagai assisten Lian dengan baik hingga mendapat pujian dari direktur perusahaan yang bernama Hasby.


" Jadi Kamu karyawan magang di sini Aruna...?" tanya Hasby usai meeting dengan salah satu relasi bisnisnya.


" Betul Pak...," sahut Aruna dengan santun.


" Saya suka kinerja Kamu. Saya pikir Kamu layak untuk menggantikan Lian jika suatu waktu dia berhalangan hadir...," kata Hasby sambil melirik Lian yang tengah merapikan berkas yang telah ditandatangani tadi.


Wajah Lian nampak menegang saat mendengar kalimat yang diucapkan atasannya itu. Sedangkan Aruna nampak salah tingkah karena ia merasa jika Lian akan 'menekannya' setelah ini.


" Makasih atas pujiannya Pak. Tapi Saya masih perlu banyak belajar dari Bu Lian bagaimana cara menghandle tugas yang diberikan kepada Saya Pak...," sahut Aruna tak enak hati.


" Itu betul. Kalo untuk kondisi kepepet sih Ok lah. Tapi untuk situasi yang aman terkendali, Kamu masih harus banyak belajar sama Lian...," kata Hasby sambil melirik kearah Lian.


" Baik Pak...," sahut Aruna.

__ADS_1


" Lian sudah lama mendampingi Saya sebagai sekretaris. Kadang rekan bisnis Saya sampe nanya apa istri Saya ga cemburu sama Lian. Soalnya Lian mengurus semua keperluan Saya dengan detail layaknya seorang Istri...," kata Hasby sambil tertawa hingga membuat Aruna sedikit terkejut.


" Jangan berlebihan memuji Pak. Saya khawatir ada yang salah sangka nanti. Lagian Saya ga mengurus semua keperluan pribadi Bapak kan...," sela Lian sambil tersenyum malu.


" Tapi Saya ngomong yang sebenernya kan Li. Kalo aja Saya belum beristri, Saya ga akan ragu memilih Kamu buat jadi Istri Saya lho Li...," sahut Hasby di sela tawanya.


" Udah ga usah ngelantur. Ntar ada yang denger terus lapor sama Ibu, bisa gawat Pak. Saya masih butuh kerjaan dan Saya ga mau dipecat gara-gara dituduh gangguin bosnya...," kata Lian.


Aruna tersenyum diam-diam mendengar ucapan Lian. Sedangkan Hasby nampak tertawa senang hingga tubuhnya berguncang. Aruna melihat interaksi Lian dan Hasby hanya lah interaksi antara atasan dan anak buahnya. Tak lebih. Namun saat Aruna mendongakkan wajahnya, ia melihat binar aneh di kedua mata Lian.


" Rupanya Bu Lian memendam rasa sama Pak Hasby. Sayangnya Pak Hasby ga sadar itu. Semua tindakan dan ucapan Pak Hasby ibarat menyiram bensin di atas bara api. Ya udah bisa ditebak kan gimana endingnya. Yang satu baperan, yang satunya tukang pehape in orang. Klop deh...," gerutu Aruna dalam hati sambil mengekori Hasby dan Lian yang melangkah lebih dulu di depannya.


Kemudian ketiganya masuk ke dalam mobil yang membawa mereka kembali ke perusahaan. Saat tiba di perusahaan Hasby mengatakan sesuatu yang membuat Aruna senang.


" Kasih waktu Aruna untuk istirahat Li. Kasian dia. Pasti dia tegang banget ngeliat perdebatan tadi...," kata Hasby sambil berlalu.


" Baik Pak...," sahut Lian dengan santun.


Setelahnya Lian memanggil Aruna yang berdiri tak jauh dari mobil.


" Baik Bu, makasih...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Cuma satu jam Aruna, ingat itu...!" kata Lian sebelum berlalu.


" Iya Bu. Insya Allah sejam lagi Saya udah ada di ruangan...," janji Aruna.


" Ok, Saya tunggu ya...," kata Lian sambil tersenyum tipis.


Aruna mengangguk lalu bergegas melangkah menuju pintu loby. Tapi langkah Aruna terhenti saat Lian kembali memanggilnya.


" Aruna...!" panggil Lian.


" Iya Bu...?!" sahut Aruna sambil membalikkan tubuhnya kearah Lian.


" Kerja bagus, Saya suka. Makasih...," kata Lian lalu bergegas meninggalkan Aruna yang kebingungan.

__ADS_1


Setelah hilang keterkejutannya, Aruna pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kantin.


Sepanjang perjalanan menuju kantin Aruna nampak bersenandung kecil. Ia bahagia bukan kepalang karena tugasnya mendapat penghargaan dari bos dan sekretaris di perusahaan itu. Meski pun sederhana namun sangat berarti untuk Aruna.


Aruna sengaja mengambil jalan pintas agar lebih cepat tiba di kantin kantor. Ia tak ingin dilihat oleh karyawan lain dan menimbulkan pertanyaan nanti.


Rupanya jalan yang Aruna pilih salah karena Aruna justru masuk ke lahan kosong yang pernah diceritakan Ria. Meski masuk dari sisi yang lain, namun Aruna langsung bisa mengenali tempat itu.


" Kok, malah ke sini sih...," gumam Aruna sambil bersiap beranjak dari tempat itu.


Namun langkah kaki Aruna terhenti saat sebuah suara wanita menyapanya. Terdengar lirih dan samar.


" Kamu bisa melihatku kan...?" tanya suara itu.


Aruna membalikkan tubuhnya. Ia melihat sosok hantu wanita mirip Lian, yang pernah dilihatnya di ruangan sekretaris, tengah berdiri sambil menatap sedih kearahnya.


" Apa maumu...?" tanya Aruna.


" Aku ingin ragaku kembali...," sahut ruh Lian sambil melayang mendekati Aruna.


Dari jarak sedekat itu Aruna bisa melihat jelas sosok yang dikiranya hantu yang mirip dengan Lian itu lebih seksama. Aruna nampak mengerutkan keningnya saat menyadari satu hal. Sesaat kemudian Aruna mundur beberapa langkah ke belakang.


" Kamu adalah ruh yang terperangkap di suatu tempat. Bagaimana Kamu bisa di sana, dan siapa sebenarnya yang telah tega membuatmu seperti ini...?" tanya Aruna.


" Itu yang ingin Kucari tau. Bisa kan Kamu membantuku Aruna...?" tanya ruh Lian.


" Sejak awal Aku ingin membantumu. Tapi Kamu selalu menghilang tiba-tiba tiap kali Bu Lian datang. Apakah semua ini ada hubungannya sama Bu Lian...?" tanya Aruna.


" Betul...," sahut ruh Lian cepat hingga mengejutkan Aruna.


Kemudian ruh Lian mulai menceritakan apa yang terjadi sejak awal hingga ia terbangun dalam kondisi terperangkap di balik cermin.


Aruna mendengarkan semua penuturan ruh Lian tanpa ada yang terlewat. Hanya satu yang Aruna sesalkan. Ruh Lian tak pernah menyadari jika dirinya sudah lama wafat. Andai Aruna bisa membantu menegakkan keadilan, namun Aruna tak akan bisa mengembalikan kehidupan Lian seperti semula.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2