Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
282. Beri Kesempatan


__ADS_3

Melihat Rasyid yang mematung saat ia menyapanya membuat dokter Sheina tak enak hati. Ia pun mengamati dirinya sendiri dari atas kepala hingga ujung kaki untuk memastikan jika kondisi out fit yang ia kenakan saat itu baik-baik saja.


" Kenapa, apa ada yang salah sama pakaianku...?" tanya dokter Sheina.


" Oh ga ada...," sahut Rasyid cepat.


" Masa sih. Tapi kenapa Kamu malah bengong kaya gitu...?" tanya dokter Sheina.


" Aku cuma kaget aja ngeliat Kamu tampil santai kaya gini. Biasanya kan Aku ngeliat Kamu tampil dengan pakaian formal. Jadi pas ngeliat Kamu kaya gini Aku kagum karena ternyata apa pun yang Kamu pake tetap terlihat cantik...," sahut Rasyid sambil tersenyum.


" Jangan gombal deh. Aku malu tau...," sahut dokter Sheina dengan wajah merona.


" Maaf kalo bikin Kamu malu. Tapi Aku cuma mau jujur aja kok...," kata Rasyid lagi.


" Iya iya. Duduk yuk, ga enak kalo ngobrol sambil berdiri..., " kata dokter Sheina.


Rasyid pun mengangguk lalu duduk di hadapan dokter Sheina. Bersamaan dengan itu Bi Mey keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan makanan ringan.


" Silakan Mas, Mbak...," kata Bi Mey.


" Makasih ya Bi...," sahut Rasyid dan dokter Sheina bersamaan.


" Wah Kalian kompak banget ya. Padahal ga ada ikatan apa-apa. Atau jangan-jangan ini salah satu tanda kalo Mas Rasyid dan Mbak Sheina bakal berjodoh...?" tanya Bi Mey sambil tertawa.


Ucapan Bi Mey membuat dokter Sheina tersipu malu, sedangkan Rasyid terlihat santai sambil tetap tersenyum.


" Jangan ngelantur ya Bi...," kata dokter Sheina sambil membulatkan matanya.


" Iya deh. Bibi ke belakang dulu ya. Silakan dilanjut obrolannya...," sahut Bi Mey sambil berlalu.


Dokter Sheina nampak menggelengkan kepala melihat sikap bi Mey. Namun beberapa langkah kemudian Bi Mey berhenti dan membalikkan tubuhnya kearah dokter Sheina hingga membuatnya bingung.


" Kenapa Bi...?" tanya dokter Sheina.


" Mau disiapkan makan malam sekalian ga Mbak...?" tanya Bi Mey sambil melirik kearah Rasyid.


" Mmm..., boleh Bi. Kamu mau kan makan malam di sini Rasyid...?" tanya dokter Sheina.


" Maaf bukannya ga sopan. Tapi Aku ke sini karena mau ngajak Kamu makan di luar kalo Kamu ga keberatan..., " sahut Rasyid hingga membuat dokter Sheina terkejut.


" Oh tenang aja Mas. Mbak Sheina pasti mau, Iya kan Mbak...?" tanya Bi Mey.

__ADS_1


Rasyid nampak tersenyum mendengar jawaban Bi Mey karena ia merasa jika jawaban itu mewakili perasaan dokter Sheina. Sedangkan di tempat duduknya dokter Sheina terlihat gugup dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona itu.


" Bi Mey...," panggil dokter Sheina lirih sambil menggelengkan kepalanya.


" Iya Mbak. Saya ambilin jaket dulu ya...," sahut Bi Mey sambil bergegas ke kamar majikannya untuk mengambil jaket dan dompet.


Melihat sikap ajaib Bi Mey membuat dokter Sheina panik. Ia berusaha bangkit lalu mengejar Bi Mey. Mereka pun berpapasan di depan kamar.


" Ini Mbak jaketnya. Dan ini dompetnya. Jangan pulang terlalu malam ya...," kata Bi Mey cepat sambil membantu memakaikan jaket di tubuh dokter Sheina.


" Bi jangan kaya gini dong. Aku malu tau. Kayanya kok pengen banget diajak jalan sama Rasyid...," sergah dokter Sheina.


" Gapapa Mbak. Ga usah bertele-tele nanggepin Mas Rasyid. Kita tau kalo Mas Rasyid itu naksir sama Mbak. Bukannya Mbak Sheina juga tertarik sama dia ?. Makanya biar ga sama-sama penasaran, sebaiknya ikut aja. Mungkin ada hal penting yang mau diomongin. Kalo di rumah ga bakal nyaman karena ada Saya. Kalo di luar Insya Allah lebih leluasa dan dijamin aman. Kan Mas Rasyid polisi, pasti bisa jagain Mbak Sheina dengan baik nanti...," kata Bi Mey sambil tersenyum.


Kedua mata dokter Sheina nampak berkaca-kaca. Ia terharu mendengar ucapan asisten rumah tangganya itu. Bi Mey memang bukan sekedar asisten rumah tangga untuk sang dokter. Bi Mey lebih mirip dengan ibu pengasuh yang setia dan memahami isi hati dan isi kepala sang majikan. Walau kadang kesal dengan sikapnya namun dokter Sheina memang merasa beruntung memilikinya.


" Makasih ya Bi. Aku pergi dulu...," pamit dokter Sheina.


" Iya Mbak...," sahut Bi Mey cepat.


Bi Mey mengantarkan sang majikan hingga ke pagar rumah. Saat itu dokter Sheina memilih ikut naik motor Rasyid daripada naik mobil pribadinya. Beruntung saat itu dokter Sheina mengenakan celana panjang dan kaos hingga dengan mudah ia duduk di belakang Rasyid.


Perjalanan terasa menyenangkan bagi Rasyid saat itu. Ia merasa bahagia karena berhasil mengajak wanita idamannya pergi bersamanya.


Lamunan Rasyid buyar saat dokter Sheina bertanya padanya.


" Kita mau kemana Rasyid ?. Kamu ga lupa kan kalo Kita ga pake helm...?" tanya dokter Sheina.


" Aku inget kok. Itu artinya Kita ga bisa pergi jauh. Iya kan...," sahut Rasyid sambil tersenyum.


" Bagus. Terus Kita mau kemana...?" ulang dokter Sheina.


" Makan. Kamu pilih tempatnya ya...," sahut Rasyid cepat.


" Ok. Makan pecel lele mau ga...?" tanya dokter Sheina.


" Boleh...," sahut Rasyid.


" Kita ke warung tenda di depan sana ya. Masakannya enak, sambelnya juga enak. Aku jamin Kamu pasti suka...," kata dokter Sheina.


" Siap Bu...," sahut Rasyid hingga membuat dokter Sheina tertawa.

__ADS_1


Rasyid pun ikut tertawa mendengar tawa dokter Sheina yang lepas itu. Lagi-lagi ia dibuat kagum pada sosok wanita yang tengah duduk di belakangnya itu.


Tiba di tempat yang dimaksud dokter Sheina pun turun dari motor lebih dulu, sedangkan Rasyid memarkirkan motornya di tempat parkir. Setelahnya Rasyid menyusul dokter Sheina yang duduk menunggu.


" Udah pesen...?" tanya Rasyid.


" Udah. Pecel lele juga kan...?" tanya dokter Sheina.


" Apa pun, asal Kamu yang pilih pasti Aku makan...," sahut Rasyid cepat hingga membuat dokter Sheina tersenyum.


" Gombal banget sih...," kata dokter Sheina sambil menepuk lengan Rasyid.


" Masa sih ?. Padahal Aku ga pernah gombal sama cewek lho. Tapi sama Kamu kenapa jadi lancar gini ya ngegombalnya...?" tanya Rasyid sambil menggaruk kepalanya.


" Ya mana Ku tau. Kan Kamu yang ngomong...," sahut dokter Sheina sambil meraih krupuk kulit dari toples di depannya.


" Itu karena Aku selalu suka ngeliat Kamu tertawa Shei. Dan hatiku juga merasa nyaman saat berada di dekat Kamu...," kata Rasyid dengan mimik wajah serius.


" Duh, gombal lagi. Please ya, ga usah ngelantur bisa ga...?" tanya dokter Sheina sambil menatap Rasyid lekat.


" Aku ga gombal Shei. Aku serius. Aku emang ingin membuat Kamu selalu tertawa. Ga suntuk, ga sedih, apalagi bete. Mau ga Kamu kasih kesempatan biar Aku bisa melakukannya terus Shei...?" tanya Rasyid sambil meraih jemari dokter Sheina dan menggenggamnya dengan erat.


" Apa maksud Kamu...?" tanya dokter Sheina.


" Ijinkan Aku menjadi pria yang dekat dengan Kamu Sheina. Tempat Kamu berbagi suka dan duka. Walau Aku ga semapan Kamu tapi Aku bisa diandalkan. Percaya lah...," kata Rasyid sungguh-sungguh.


" Maaf Rasyid. Apa ini ga terlalu cepat ya. Kita kan...," ucapan dokter Sheina terputus karena Rasyid memotong cepat.


" Aku hanya butuh kepastian Sheina. Aku ga mau memanjakan perasaanku dengan harapan kosong. Jika Kamu ga bersedia memberi kesempatan, tolong bilang sekarang. Biar Aku bisa mundur dan ga berharap lagi...," kata Rasyid tegas.


Ucapan Rasyid mengejutkan dokter Sheina. Dia menatap Rasyid sejenak untuk mencari kesungguhan di kedua mata pria di hadapannya itu. Setelah menghela nafas panjang Sheina pun memberanikan diri menjawab pernyataan Rasyid.


" Aku akan kasih Kamu kesempatan Rasyid...," kata dokter Sheina sambil menatap Rasyid lekat.


Senyum mengembang di wajah Rasyid. Dia langsung mengecup jemari dokter Sheina yang sedang digenggamnya itu hingga membuat sang dokter terharu.


" Makasih Sheina...," kata Rasyid dengan suara lirih.


" Sama-sama Rasyid...," sahut dokter Sheina sambil mengusap punggung tangan Rasyid dengan lembut.


Malam itu dokter Sheina memutuskan membuka hati untuk pria di hadapannya. Ia berharap tak akan mengalami luka yang sama seperti saat ia bersama suaminya dulu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2