Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
196. Ada Polisi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan, Amanda pun kembali ke kamar untuk istirahat. Neng memberikan obat pereda nyeri untuk sang majikan. Amanda langsung meminumnya tanpa bertanya karena ia memang perlu obat untuk meredam rasa sakitnya.


Kemudian Neng keluar dari kamar sang majikan dan segera menghubungi keponakan laki-lakinya yang berprofesi sebagai polisi. Neng membicarakan kondisi Amanda saat ini pada sang keponakan.


" Sebaiknya segera divisum di Rumah Sakit Bi...," kata keponakan Neng yang bernama Rofiq.


" Gimana caranya Fiq. Bibi takut sama Tuan Hambali...," sahut Neng sambil berbisik.


" Apa ga ada orang lain di rumah itu selain Bibi...?" tanya Rofiq.


" Ada. Si Rian supirnya Tuan. Tapi sekarang lagi nganterin Tuan ke proyek yang di luar kota. Ga tau kapan pulang...," sahut Neng.


Jawaban Neng membuat Rofiq tersenyum.


" Kalo gitu Bibi tunggu sebentar ya. Saya ke sana segera...," kata Rofiq.


" Sekarang...?" tanya Neng tak percaya.


" Iya. Bukannya Bibi bilang si Hambali itu lagi keluar...?" tanya Rofiq tanpa menambahkan embel-embel 'pak' saat menyebut nama Hambali.


" Eh, jangan Fiq. Bibi ga mau Kamu malah dituduh selingkuh sama Nyonya Amanda. Banyak mata yang bakal ngeliat dan lapor sama Tuan nanti...," kata Neng panik.


" Bibi tenang aja. Saya tau cara membungkam warga kok...," sahut Rofiq di akhir kalimatnya.


Neng menatap layar ponselnya dengan gusar. Ia sedikit menyesal telah menceritakan kondisi Amanda. Awalnya Neng hanya ingin minta saran bagaimana cara membantu Amanda lepas dari Hambali. Ternyata Neng justru mendapat respon yang luar biasa dari Rofiq. Mungkin naluri Rofiq sebagai penegak hukum lebih dominan hingga membuatnya tergerak membantu Amanda.


Neng pun tersadar dari lamunan nya saat jam besar di rumah Hambali berdentang delapan kali.


Neng pun bergegas membangunkan Amanda agar bersiap-siap.


" Nyonya bangun...," kata Neng sambil menepuk pipi Amanda berulang kali.


Tak ada sahutan. Amanda tampak tertidur pulas hingga tak merasakan tepukan di pipinya juga tak mendengar suara Neng yang memanggil namanya.


Karena khawatir Neng mendekatkan telunjuknya ke lubang hidung Amanda.


" Alhamdulillah masih ada. Tapi kenapa ga bangun juga. Jangan-jangan Nyonya keracunan obat yang tadi Aku kasih...," gumam Neng mulai panik.


Kemudian Neng meraih bungkus bekas obat yang tergeletak di meja. Neng mengecek tanggal kadaluarsa di kemasan obat dan bernafas lega karena ternyata obat itu masih aman dikonsumsi.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah Hambali. Neng mengintip dari balik gorden jendela kamar dan membulatkan matanya saat melihat dua orang pria berseragam polisi turun dari mobil.


Kemudian Neng bergegas keluar kamar untuk membuka pintu utama.


" Assalamualaikum Bi...," sapa Rofiq ramah lalu mencium punggung tangan sang bibi dengan takzim.


" Wa alaikumsalam. Kamu beneran ke sini Fiq...?" tanya Neng sambil mengusap kepala Rofiq.


" Iya Bi. Saya berdua sama temen Saya. Namanya Ritha...," sahut Rofiq sambil memperkenalkan temannya.


Ritha pun menjabat tangan Neng sambil tersenyum.


" Oh cewek toh. Bibi kira laki-laki. Abisnya pake celana panjang dan rambutnya cepak juga...," kata Neng malu.


" Ini namanya Polwan Bi. Emang kaya gini seragamnya. Kadang pake rok kok. Kebetulan Ritha abis tugas luar jadi sekalian aja Saya ajak ke sini...," sahut Rofiq sambil tersenyum.


" Dimana wanita yang mengalami KDRT itu Bi...?" tanya Ritha tak sabar.


" KDRT...?" ulang Neng tak mengerti.


" KDRT itu kepanjangan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bi. Ritha adalah salah satu anggota polisi yang bertugas di unit pelayanan perempuan dan anak. Jadi Bibi ga usah khawatir lagi. Hambali ga akan berani macam-macam karena tindakan Bibi ini dilindungi hukum...," kata Rofiq tegas.


" Iya Bi...," sahut Rofiq.


" Jadi bisa Kami ketemu dia sekarang...?" tanya Ritha lagi.


" Bisa. Nyonya ada di kamar lagi tidur. Tapi Saya ga bisa bangunin soalnya abis minum obat pereda nyeri. Kayanya Nyonya ngantuk banget karena udah berapa hari ga bisa tidur...," sahut Neng.


Mendengar ucapan Neng membuat Rofiq dan Ritha saling menatap curiga. Keduanya bergegas masuk ke dalam rumah diikuti Neng.


Kemudian Neng membuka pintu kamar dan terlihat lah Amanda yang terbaring di atas tempat tidur. Ritha bergegas menghampiri dan mengecek kondisi Amanda.


" Dia bukan tidur tapi pingsan...!" kata Ritha hingga mengejutkan Neng dan Rofiq.


" Saya ga ngeracunin dia kok. Saya beli obat itu di warung. Tolong jangan tangkap Saya. Rofiq, tolong percaya sama Bibi...," kata Neng sambil memegangi lengan sang keponakan.


" Iya Bi, Saya percaya kok. Tolong jangan bikin kacau ya. Bibi duduk dulu di sana. Biar Kami cek sekali lagi...," sahut Rofiq sambil berusaha menenangkan sang bibi.


" Tubuh, tangan dan kakinya lebam. Dan ada luka di belakang telinganya. Kita bawa ke Rumah Sakit aja sekarang...," kata Ritha.

__ADS_1


" Ok. Ayo Bi, Kita ke Rumah Sakit sekarang...!" ajak Rofiq.


" Iya. Tapi Bibi ga dipenjara kan Fiq...?" tanya Neng.


" Bibi cuma nemenin di Rumah Sakit dan bantu menjawab beberapa pertanyaan dari Polisi nanti..." sahut Rofiq sambil tersenyum.


" Oh kalo cuma gitu Bibi mau ikut. Tunggu sebentar, Bibi ambil dompet dulu...," kata Neng sambil bergegas keluar menuju dapur.


Ritha dan Rofiq langsung menggotong tubuh Amanda dan memasukkannya ke dalam mobil. Tak lama kemudian Neng masuk lalu mobil melaju meninggalkan rumah besar Hambali.


\=\=\=\=\=


Rupanya Amanda dilarikan ke Rumah Sakit yang sama dengan tempat sang ayah dirawat.


Istri Dito yang sedang menunggui suaminya terlihat cemas karena tak bisa menghubungi Amanda. Ia sudah meminta Hambali agar mengijinkan Amanda menjenguk ayahnya tapi Hambali menolak. Saat itu lah ia tak sengaja melihat brankar yang didorong cepat menuju ruang UGD. Ia pun menepi untuk memberi jalan. Namun matanya membulat saat menyaksikan siapa yang terbaring di atas brankar.


" Amanda...!" panggil istri Dito lantang hingga mengejutkan Neng, Rofiq dan Ritha.


" Ibu punya hubungan apa sama pasien...?" tanya salah seorang perawat.


" Dia anak Saya Suster. Kenapa dia, apa yang terjadi...?!" tanya istri Dito panik sambil menyentuh wajah Amanda.


" Sebentar ya Bu, Kami cek dulu kondisinya...," sahut sang perawat sambil menutup pintu.


Istri Dito nampak menangis menyesali apa yang telah terjadi. Bagaimana bisa dalam satu hari ia harus melihat dua orang yang ia sayangi terkapar di Rumah Sakit.


Suara sapaan Ritha membuat istri Dito mendongakkan kepala lalu menghapus air matanya.


" Jadi Amanda anak Ibu...?" tanya Ritha.


" Betul Bu Polwan...," sahut istri Dito.


" Dia masih terlalu muda untuk menyandang status Istri Bu. Kalo ini diusut, bukan hanya Suaminya yang akan terjerat hukum tapi kedua orangtuanya juga akan terlibat...," kata Ritha tegas.


Istri Dito kembali menangis. Ia tak tahu bagaimana cara menceritakan semuanya. Karena sejujurnya dia juga bingung bagaimana bisa ia menyetujui pernikahan Amanda dengan Hambali saat itu.


" Polisi ga bakal percaya kalo ada unsur mistis dalam kasus ini. Yang ada justru Aku dibilang mengada-ada. Terus Aku harus gimana...," rintih istri Dito dalam hati.


Neng yang berdiri di samping Rofiq nampaknya paham apa yang dialami ibu Amanda itu. Namun ia hanya diam karena khawatir salah bicara dan menjadi bumerang untuknya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2