
Setelah menziarahi makam Risma untuk kedua kalinya, Aruna terlihat lebih tenang. Ia pun kembali ceria dan itu membuat semua anggota genk Comot bahagia.
“ Ngeliat Lo happy kaya gini Kita jadi ikutan happy lho Run...,” kata Agung.
“ Masa sih. Emang ngaruh ya suasana hati Gue sama genk Comot...?” tanya Aruna asal.
“ Jelas dong, apalagi buat Agung...,” sahut Galang cepat hingga membuat semua anggota genk Comot menoleh kearahnya.
“ Maksud Lo apaan Lang...?” tanya Fadil.
“ Bukan apa-apa...,” sahut Galang cepat lalu bergegas beranjak menuju kamar dan membuat semua mata kini teralihkan kepada Agung yang nampak salah tingkah.
“ Apaan ?. Kenapa Lo semua ngeliatin Gue kaya gitu...?!” tanya Agung galak.
“ Gapapa, cuma pengen tau aja ada rahasia apa yang Lo sama Galang sembunyiin...,” sahut Ria mewakili empat temannya.
“ Galang aja Lo dengerin. Liat kan, abis ngomong kaya gitu eh dia malah ngacir ke kamar. Ga bertanggung jawab banget sih jadi orang...,” kata Agung kesal.
“ Bener juga. Galang emang nyari gara-gara biar Kita kesel. Kayanya perlu diberi pelajaran tuh anak...,” sela Kenzo sambil melangkah cepat ke kamar.
Sesaat kemudian terdengar teriakan Galang yang mengaduh kesakitan karena baru saja mendapat ‘pelajaran’ dari Kenzo. Keempat anggota genk Comot saling menatap sesaat kemudian tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Galang dan Kenzo.
\=====
Pendidikan Aruna di kampus berjalan lancar. Bersama genk Comot Aruna menemukan persahabatan dan persaudaraan yang erat. Meski pun Kenzo dan Agung memiliki perasaan yang berbeda kepada Ria dan Aruna, namun hubungan mereka tetap berjalan baik. Mereka menepis perasaan mereka hanya karena tak ingin genk Comot bubar begitu saja.
Sedang Kautsar yang pandai bisa lulus lebih cepat karena kepandaiannya itu. Kebanggaan terlihat dari wajah kedua orangtua Kautsar saat mereka datang dari Jakarta untuk menyaksikan wisuda Kautsar. Aruna dan genknya yang sengaja hadir untuk memberi suport pada Kautsar pun bertemu dengan Ahmad dan istrinya.
“ Pak Ahmad...?” sapa Aruna ragu saat melihat Ahmad berdiri di samping Kautsar.
Ahmad menoleh lalu tersenyum. Meski rambutnya telah memutih dan tubuhnya terlihat lebih gemuk, namun tak mampu membuat Aruna lupa pada guru SMPnya itu.
“ Apa kabar Aruna...?” tanya Ahmad sambil tersenyum.
“ Baik Pak, Bapak sendiri gimana kabarnya...?” tanya Aruna sambil mencium punggung tangan Ahmad dengan takzim di depan semua orang.
“ Alhamdulillah baik Aruna. Kamu juga kuliah di sini...?” tanya Ahmad.
“ Iya Pak...,” sahut Aruna sambil melirik kearah genk Comot yang nampak kebingungan.
Tak ingin terjadi salah paham, Aruna pun segera menjelaskan apa hubungannya dengan Ahmad.
“ Pak Ahmad ini guru SMP Gue. Dan Gue baru tau kalo beliau Ayahnya Kautsar...,” kata Aruna yang diangguki anggota genk Comot.
__ADS_1
“ Salut deh sama Lo Tsar. Bisa lulus dengan nilai sempurna gitu apa resepnya sih...?” tanya Ria tiba-tiba.
“ Sama aja kaya yang laen Ri. Banyak baca dan banyak nanya kalo ga paham...,” sahut Kautsar merendah.
“ Cuma itu...?” tanya Ria tak percaya.
“ Iya, Gue ga bohong kok...,” sahut Kautsar cepat.
“ Tuh denger Kalian, kata Kautsar harus banyak nanya kalo ga paham...,” kata Ria sambil menatap anggota genk Comot satu per satu.
“ Iya iya...,” sahut Fadil dan Kenzo bersamaan sambil melengos.
“ Aneh ya Tsar. Kalo di genk Comot tuh yang kebanyakan nanya malah diomelin tau ga...,” kata Ria dengan mimik lucu.
“ Jelas aja diomelin. Kan yang Lo tanya bukan soal mata kuliah tapi soal cowok...,” sahut Galang kesal hingga membuat semua tertawa.
Kemudian Ahmad mengajak Kautsar dan teman-temannya pergi ke rumah makan untuk merayakan kelulusan Kautsar. Ajakan Ahmad disambut antusias oleh genk Comot. Kautsar pun mengangguk lalu melambaikan tangannya kearah Barri yang saat itu berada tak jauh darinya.
“ Kenapa Tsar...?” tanya Barri setelah menyapa Ahmad dan istrinya.
“ Bokap ngajak makan siang bareng...,” sahut Kautsar.
“ Wah dengan senang hati kalo itu mah...,” kata Barri sambil tertawa disambut tawa semua orang.
Tak lama kemudian mereka pun bergegas meninggalkan kampus dan menuju ke sebuah rumah makan. Tiba di sana mereka disambut oleh seorang wanita yang kemudian mengarahkan mereka ke salah satu ruangan.
“ Bukan Ayah, tapi orang lain...,” sahut Hardini.
“ Siapa...?” tanya Kautsar.
“ Ntar Kamu juga tau...,” sahut Hardini sambil tersenyum.
Mereka diarahkan masuk ke sebuah ruangan dimana Arka dan Diana terlihat menunggu kedatangan mereka. Melihat kedua orangtuanya ada di dalam ruangan itu Aruna pun menjerit lalu menghambur memeluk Arka dan Diana.
“ Papa sama Mama kok ada di sini sih...?” tanya Aruna sambil mengurai pelukannya.
“ Mau ngasih surprise buat Kamu. Gimana, Kamu suka ga...?” tanya Diana sambil menatap Aruna dengan lembut.
“ Suka banget Ma. Tapi kok mendadak banget, terus kenapa di sini ?. Ini kan tempatnya Kautsar dan orangtuanya ngadain acara syukuran kelulusannya Kautsar...,” sahut Aruna bingung.
“ Sebenernya yang booking tempat ini Papa Kamu Aruna...,” kata Ahmad tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna dan Kautsar.
Arka, Diana, Ahmad dan Hardini nampak tersenyum simpul melihat anak mereka yang kebingungan.
__ADS_1
“ Papa sama Mama kenal juga sama Pak Ahmad...?” tanya Aruna tak mengerti.
“ Kita obrolin itu nanti ya Nak. Sekarang ajak teman-temanmu duduk terus Kita makan deh. Papa udah lapar lho nungguin Kalian daritadi...,” sahut Arka sambil melirik kelima teman Aruna.
“ Oh iya, sampe lupa. Ayo duduk guys. Kita makan bareng ya...,” ajak Aruna.
Kelima anggota genk Comot mengangguk. Sebelum duduk mereka menghampiri Arka dan Diana untuk berjabat tangan. Sebelumnya semua anggota genk Comot sudah mengenal Arka dan Diana karena keduanya beberapa kali berkunjung ke Malang untuk menjenguk Aruna.
Makan siang kali ini sedikit berbeda karena ditingkahi canda tawa Aruna dan teman-temannya. Sesekali Kautsar mengomentari candaan genk Comot hingga suasana dalam ruangan menjadi ramai.
Seperti menyadari jika ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Arka dan Diana kepada Aruna, genk Comot dan Barri pun pamit undur diri setelah menyelesaikan makan siang mereka. Aruna mengantar kelima temannya hingga pintu masuk rumah makan.
“ Ngapain sih buru-buru, emang Kalian mau kemana...?” tanya Aruna saat mereka tiba di pintu rumah makan.
“ Ada sedikit kerjaan buat mereka Run. Hari ini kan Gue pindah kost, makanya Gue perlu tenaga mereka buat ngangkutin barang...,” sahut Ria.
“ Kok sekarang, bukannya lusa ya...?” tanya Aruna tak percaya.
“ Sebenernya Gue mau cerita tadi, tapi keburu diajak makan sama Bokapnya Kautsar. Ga enak kan kalo nolak...,” sahut Ria sambil melirik keempat anggota genk Comot.
“ Tapi sekarang Gue ga bisa bantuin Lo pindahan Ri...,” kata Aruna tak enak hati.
“ Gapapa Run. Lo temenin aja orangtua Lo dulu. Jauh-jauh dari Jakarta masa Lo tinggalin gitu aja. Soal Ria serahin aja sama Kita...,” sahut Fadil menenangkan Aruna yang diangguki empat anggota genk Comot lainnya.
“ Ok deh kalo gitu. Thanks ya guys...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
“ Ok, duluan ya Run...,” kata kelima anggota genk Comot sambil melambaikan tangan.
Aruna pun balas melambaikan tangan lalu kembali bergabung dengan kedua orangtuanya di ruangan tadi. Saat masuk ke dalam ruangan Aruna merasa ada sesuatu yang berbeda. Suasana di dalam ruangan terasa sedikit menegangkan dan Aruna tak suka itu.
“ Kemari lah Nak. Ada yang perlu Papa omongin sama Kamu...,” kata Arka sambil menepuk kursi di sampingnya.
“ Iya Pa...,” sahut Aruna lalu duduk di samping sang papa.
“ Begini Nak, Papa sama Mama udah lama kenal sama Pak Ahmad dan Bu Hardini. Kami juga udah kenal sama Kautsar. Setelah lama mengenal, Papa sama Mama berkesimpulan kalo Kautsar ini pria yang baik dan bertanggung jawab. Jadi Kami sepakat untuk menikahkan Kamu dengan Kautsar...,” kata Arka dengan tenang namun mengejutkan Aruna.
“ Nikah, Papa bercanda kan...?” tanya Aruna gusar.
“ Papa serius Nak...,” sahut Arka cepat.
“ Saya dan Istri Saya juga ingin Kamu jadi menantu Kami Aruna, iya kan Bu...?” tanya Ahmad sambil menoleh kearah istrinya.
“ Iya Yah...,” sahut Hardini sambil tersenyum.
__ADS_1
Aruna menganga tak percaya. Ternyata surprise yang dibawa orangtuanya kali ini membuatnya tak berdaya. Diam diam Aruna melirik kearah Kautsar yang juga tengah menatap kearahnya. Aruna tercekat karena merasa tatapan Kautsar kali ini jauh berbeda dari biasanya dan itu membuat Aruna sedikit gentar.
\=====