CINTA NARA

CINTA NARA
Awal


__ADS_3

Nara tergesa - gesa berjalan dari kosannya menuju gedung kampus Arif dan Angga. Jam di pergelangan tangannya menunjuk pukul 2.15 menit. " Aku harus tiba dalam 15 menit, " ucap Nara sambil menyapu tetesan keringat yang mengalir di mukanya dengan telapak tangan kanannya.


"Semoga apa yang dikatakan perempuan muda itu benar. Selesai kuliah jam tiga sore, " gumam Nara.


Mendekati gedung kampus Arif dan Angga. Nara merasakan debaran jantungnya berdetak lebih cepat. "Hadeh ... , kenapa dengan aku ini, " gumam Nara sambil mengatur helaan nafasnya.


Memasuki pekarangan gedung kampus tampak para mahasiswa bergerombol keluar dari gedung itu. Dari banyaknya orang Nara hanya mengenal Arif.


"Nara ... , ada apa? kenapa kemari? " ucap Arif.


Sebelum sempat menjawab. Teman - teman Arif menggoda Nara. "Ciye ... ciye ... ini ternyata pacarnya Arif, " ucap salah seorang teman laki - laki Arif.


Nara tersenyum malu pada teman - teman Arif. Dikerumunan orang tampak seorang perempuan muda yang mendekati Arif dan Nara. "Oalah, ini toh pacarmu Rif !! kok wajahnya mirip denganku.


Perempuan muda itu tersenyum pada Nara.


"Perkenalkan namaku Dina, satu jurusan dengan Arif, " ucapnya ramah.


Deg ... , tiba - tiba ada rasa yang tak bisa di ucapkan Nara. Seperti ada sembilu menghujam jantungnya. Perih yang dirasakan saat nama itu terucap.


Mencoba memaksa tersenyum kepada Dina. Diamatinya wajah Dina. Wajahnya persis seperti wajah Nara. Bedanya Nara tampak lebih tinggi dibanding Dina. Kalau disandingkan mereka berdua tampak seperti kakak adik sesungguhnya.


Arif juga begitu kaget. Melihat Nara dan Dina saling berdekatan. Iya ... wajah keduanya sekilas mirip. "Ah, wajar saja mirip, mereka berdua sama - sama berasal dari Bengkulu, " gumam Arif sambil menangkis pikiran buruk dipikirannya.


"Kok bengong, " ucap Dina menepis terdiamnya Nara.


"Enggak kok Din. Perkenalkan namaku Nara. Aku cuma kaget. Wajah kita berdua selintas mirip. Padahal kita bukan saudara, " ucap Nara sedikit berbohong.


"Tapi ngomong - ngomong, Dina asalnya dari Bengkulu juga ya, " tanya Nara memaksa tersenyum.


"Iya, aku dari kecil sampai naik kelas 3 SMP tinggal di Bengkulu. Tapi bukan asli Bengkulu. Sejak kelas 3 SMP aku ikut papa dan mama ke Jakarta. Semenjak itu aku tak pernah lagi ke Bengkulu. Padahal aku sangat merindukan main ke pantai panjang, " ucap Dina sambil mengenang keindahan alam Pantai Panjang.


"Kalau begitu mainlah ke Bengkulu. Jadilah temanku. Nanti kita akan menikmati indahnya pantai panjang. Kalau boleh, aku bisa minta nomor ponselmu, " ucap Nara memohon.


"Baiklah. Tunggu sebentar ya. " Lalu Dina membuka tas ranselnya. Mengambil kartu nama cantik bernuansa pink.


"Ini kartu namaku, " ucap Dina sambil memberikan kepada Nara.

__ADS_1


"Terimakasih ya Din." Dibacanya nama yang tertera pada kertas bernuansa pink itu, Dina Prambudya. Pekerjaan tercantum sebagai direktur perusahan PT. Rafflesia Pertiwi.


Perusahan yang bekerja dibidang furniture.


"Wah ... , keren ya. Masih muda sudah jadi direktur, " ucap Nara berdecak kagum.


"Kalau begitu aku bisa bekerja di perusahanmu gak ya Din, " ucap Nara memohon.


"Nara ... uda yuk, " ucap Arif menghentikan pembicaraan dua gadis cantik itu.


"Ngapain buru buru Rif ? Nara juga belum ketemu dengan orang Bengkulu yang lain, " ucap Dina bersemangat.


"Udahan yuk. Lain kali kita sambung lagi. Assalamualaikum, " ucap Arif sambil menarik tangan Nara mengajaknya pulang.


"Waalaikum salam ... , " ucap Dina tersenyum geli melihat kelakuan Arif pada Nara.


Tinggallah Dina seorang diri dan beberapa mahasiswa yang tampak hilir mudik di depan gedung kampus.


"Sekarang aku punya teman wanita dari Bengkulu. Sepertinya Nara bisa jadi teman yang baik, " gumam Dina sepeninggal Arif dan Nara. Tiba - tiba ada seseorang menepuk pundak Dina dari belakang.


"Aduh ... kau rupanya. Kemana saja selesai kuliah gak kelihatan, " ucap Dina kaget melihat Angga yang tiba - tiba muncul.


"Ayo ... pulang, " ucap Dina.


"Kok buru - buru banget, " tanya Angga.


"Iya, aku mau lihat kantor dulu. Mumpung belum sore banget. Kalau akhir bulan begini banyak yang perlu di tandatangani. Kamu mau ikut aku gak ? " ucap Dina menawarkan diri.


"Gak sayang, aku lagi gak enak perut nih. Ini saja masih mules. Kayaknya aku gak bisa jauh dari kamar mandi. Hehe ... , " jawab Angga sambil terkekeh.


"Ya udah deh. Aku langsung berangkat ya. Mobilku sengaja tadi pagi aku bawa ke kampus. Bye ... bye ... sayang, " ucap Dina sambil beranjak pergi dan tak lupa melambaikan tangan kepada Angga.


Tinggallah Angga sendiri berjalan menyusuri jalanan menuju kos- kosan. Dilihatnya langit tampak gelap. Beberapa pohon rindang di pinggir jalan terlihat bergoyang kencang. Sepertinya sore ini hujan akan turun. "Ah ... aku harus sampai secepatnya di kosan, " batin Angga mempercepat langkahnya.


""''''''''''''


Ditempat lain, masih di jalan kenari. Tampak Nara dan Arif tidak langsung pulang ke kosannya. Mereka sedang asyik makan bakso tak jauh dari kampus.

__ADS_1


Menikmati makan bakso ditemani rinai hujan. Sambil menunggu hujan reda. Arif menanyakan keberadaan Nara kenapa ada di pekarangan kampusnya.


"Sayang ... , aku sudah larang kamu pergi ke kampus. Kenapa pergi juga ? " ucap Arif kesal.


"Aku bukannya mau membantah kamu kak Arif. Tapi tadi aku lapar. Mau ambil uang ke Atm. Ternyata saldonya kosong. Aku sudah berada terlalu dekat dengan kampus kamu. Jadi kupikir bisa pinjam duit dulu sebelum ibu transfer, " ucap Nara berbohong pada Arif.


"Bukannya Wa aja dulu. Nanti aku pasti pinjamin kok, " ucapnya dengan muka manyun.


"Aku tadi gak kepikiran mau ke kampusmu kak. Kebetulan sudah sedekat ini. Jadi kuputuskan ke kampus kakak. Tapi kenapa aku gak boleh kekampus. Aku kan pacarmu kak, " tanya Nara penasaran.


"Aku tak ingin kau terluka Nara. Tadi saja kau terlihat pucat di depan Dina , " ucap Arif menatap penuh cinta.


"Emang Dina itu siapa? Emang aku terlihat pucat tadi ya? " tanya Nara.


"Dina itu pacarnya Angga. Mereka dulu pacaran saat SMP. Semenjak ayah Dina dapat tugas negara / alias mutasi ke Jakarta. Maka hubungan itu putus. Tapi sekarang sejak kuliah mereka kembali merajut kisah yang dulu pernah singgah dihati mereka, " ungkap Arif.


"Oh ... CLBK ya, " ucap Nara pelan dengan mimik sedih.


"Iya, aku tahu. Kamu juga orang yang pernah ada di hati Angga. Aku tak tahu apa penyebab dirimu putus dari Angga. Bisa jadi karena Dina. Tapi aku tak mau tahu. Mungkin memang begini jalan Tuhan sehingga aku bisa jadi pacarmu, " ucap Arif.


Nara hanya diam. Disudut matanya sudah menetes air mata yang tak sanggup untuk ditahannya. Luruh dengan sendirinya saat Arif bercerita kisah CLBK Angga dan Dina.


Merasakan perih. Itulah yang dirasakan Nara saat ini. Selama ini Arif tahu banyak tentang Angga dan Dina. Ini pertama kali Arif menceritakan semuanya pada Nara.


Merasa iba pada Nara. Ditatapnya sosok yang duduk di depannya. Digenggamnya jemari tangan kanan Nara. " Percayalah aku menyukaimu bukan karena iba padamu. Tapi aku menyukaimu jauh sebelum Angga mengenalmu, " ucap Arif.


"A-pa ! " ucap Nara pelan dan matanya terbelalak memandang Arif sambil menyeka rinai air mata yang sempat jatuh perlahan dengan tisue di tangan kanannya.


"Iya, aku menyukaimu sejak kita masih anak- anak. Seingatku waktu aku SMP aku mulai menyukaimu. Tapi aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Kukira itu hanya perasaan anak remaja yang suka - suka doang. Tapi ternyata menimbulkan benih cinta, " ucap Arif sambil tetap menggenggam jemari tangan Nara.


Nara tergugu. Tak pernah ia menyangka Arif begitu lama memendam rasa cinta padanya. "Terimakasih kak Arif, terimakasih atas segalanya. Mungkin ini awal yang baik buat aku mengenal kakak lebih jauh lagi, " ucap Nara terharu setelah mendengar pengakuan Arif.


" Iya Nara. Tetaplah di sisiku, " ucap Arif memohon.


" Iya kak," jawab Nara pelan. " Aku akan mencoba membuka hati pada cinta yang baru, untukmu kak Arif. Tapi aku ingin sedikit memberi pelajaran buat Angga, " ucap Nara dalam hati.


Hujan pun reda. Sore ini semua tampak jelas di mata Nara. Awal jumpa dengan Dina membuka tabir rahasia isi hati Arif. Cinta memang tak salah. Cinta akan menemukan jalannya sendiri untuk menemukannya.

__ADS_1


Begitu pula Arif ... cintanya pada Nara akhirnya bersambut juga. Cinta ... oh ... cinta datang dan pergi. Pergi untuk menemukan cinta yang baru.


__ADS_2