
Ardi kembali menjemput Alya bersama Aura. Mereka akan makan siang bersama sebelum mengantarkan Alya bertugas di klinik. Putri kecilnya itu terlihat nyaman dan menikmati waktunya di luar rumah, meskipun hanya sebatas di dalam mobil. Mereka menunggu Alya yang sedang turun dari ruangannya.
Pagi tadi, Ardi tidak bisa mengantarkan Alya sampai ke ruangannya, karena ada Aura bersamanya. Dia tidak mau membawa putrinya masuk ke dalam rumah sakit sementara kondisi Aura sudah cukup stabil dan terbilang sehat. Lelaki itu takut Aura akan terpapar beragam virus yang rentan menyerang tubuh ringkih bayi mungilnya baru saja pulih dari sakitnya.
"Hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama Bubumu, karena besok pagi kita sudah harus pulang, Sayang." Aura hanya tertawa tanpa tahu apa maksud ucapan Ayahnya. Yang bayi mungil itu tahu, dia senang setiap kali bertemu Alya dan merasakan kasih sayang yang diberikan Bubunya dengan tulus.
Tak sampai sepuluh menit menunggu, Alya sudah terlihat keluar dari lobi rumah sakit dan berjalan menuju mobil yang dikendarai Ardi. Ardi segera keluar untuk membukakan pintu bagi Alya sekaligus melepas dan memindahkan kursi bayi yang dipakai Aura dan menyimpannya di kursi bagian belakang.
Aura yang digendong Ardi tampak semakin ceria saat melihat Alya berjalan mendekatinya. Kedua tangan mungilnya sudah terulur ke depan dan tubuhnya terus bergerak dalam dekapan sang ayah, tak sabar ingin segera dipeluk dan digendong okeh wanita yang dipanggilnya Bubu tersebut.
"Bu-bu ... Bu-bu ... aaa ... aaaa ...."
Aura semakin meronta dan berteriak saat Alya sudah berdiri di hadapan Ardi. Bayi kesayangan Alya itu tak sabar ingin berpindah ke pelukan wanita yang terlihat sedang merapikan hijabnya agar lebih aman dan tidak tertarik berantakan saat Aura bersamanya.
"Ayo, sini. Nah ... sudah ikut Tante, jangan rewel lagi, Sayang. Uuumm ...!!" Alya mulai menciumi pipi tomat Aura bergantian tiada henti membuat Ardi semakin terharu.
"Bukan Tante. Tapi Ibu." Ardi meralat ucapan Alya yang masih saja menyebutkan dirinya Tante untuk putri kecilnya.
Seketika Alya menoleh ke arah Ardi yang berdiri tepat di sampingnya karena masih menahan pintu yang terbuka dan hendak melindungi kepala Alya yang akan masuk ke mobil.
Jarak yang cukup dekat di antara kedua wajah itu mau tak mau memunculkan desiran sangat halus yang menyisiri rongga dada keduanya dan membuat pandangan mereka terkunci di saat Aura tengah merebahkan kepalanya di bahu Alya.
Ya Allah, maafkan aku yang terlena dengan pandanganku kepadanya.
__ADS_1
Alya menundukkan pandangannya dan cepat-cepat masuk ke mobil, membuat Ardi pun tersadar dan segera melindungi kepala Alya agar tidak terantuk atap mobil. Kemudian lelaki itu segera mengikuti masuk melalui pintu sebelah kanan.
Di dalam mobil, Ardi melihat Aura sudah meminum susunya di pangkuan Alya, dengan botol yang dipegangi wanita berhijab itu agar si bayi cantik tidak sampai tersedak. Ardi tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka, sekaligus merasa sedih karena esok hari tidak bisa lagi menikmati kebersamaan seindah ini.
Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat kita bertiga seperti ini, Al. Semoga penantianku tidak terlalu lama agar aku bisa segera membahagiakanmu sepanjang waktu.
"Alya ... apakah ฤทamu keberatan jika aku memintamu untuk tidak lagi menggunakan panggilan Tante untuk Aura?" Ardi menyalakan mesin mobil untuk mengatur suhu pendingin di dalam ruangan, namun belum ingin melajukannya.
"Aku ingin kamu merubah panggilanmu menjadi Ibu. Rasanya akan terdengar lebih pas dan indah untuk Aura," lanjut dokter duda yang mulai membuka hatinya tersebut.
Alya terdiam dan tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Di satu sisi dia bahagia dengan permintaan Ardi, namun masih ada keraguan yang menyelimuti hatinya.
Apakah aku pantas menyandang panggilan itu? Aku takut jika nantinya tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan.
Ardi tidak ingin memaksa Alya. Setidaknya dia sudah menyampaikan permintaannya. Sekarang dia hanya bisa menunggu, dan semoga saja Alya mempertimbangkannya, karena dia ingin membiasakan diri untuk ke depannya.
"Kita makan dulu, baru aku akan mengantarmu ke klinik." Ardi bersiap untuk melajukan mobil dan menyempatkan diri untuk kembali menatap Alya yang sudah memaku tatspannya pada wajah Aura yang mulai tertidur masih dengan ujung botol susu di mulutnya.
Wanita itu hanya mengangguk dan terlihat menyunggingkan senyuman yang membuat Ardi ikut tersenyum kemudian melajukan mobil keluar menuju jalan raya yang cukup ramai lalu-lintas kendaraannya.
"Mas, apakah Dokter Ardi mengatakan kepadamu tentang Dokter Alya? Atau mungkin rencana dia selanjutnya?" tanya Nara yang menemani Raga tidur di kamar mereka, usai makan siang bersama mereka.
"Tidak. Hanya semalam sebelum dia buru-buru menyusul ke rumah sakit, dia berharap semoga belum terlambat, hanya itu yang dikatakannya. Aku belum bertanya lagi kelanjutannya, karena tadi pagi dia pergi lebih dulu bersama Aura untuk menjemput Dokter Alya."
__ADS_1
Yoga ikut bermanja di sebelah Nara, berbaring dan memeluk istrinya yang masih menghadap ke arah putra sulung mereka. Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya dan mengganti dengan kaos rumahan.
Setelah dirasa Raga pulas seperti adiknya yang tidur di dalam boks bayi, Nara berbalik dan membalas pelukan suaminya. Yoga segera menarik pelan tubuh sang istri dan membawa ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak kembali ke kantor, Mas?" Nara menyamankan posisinya dan memejamkan matanya tanpa berniat untuk tidur.
"Sudah kukatakan tadi, aku merindukanmu, Sayang." Lelaki dingin namun berhati lembut itu mencium kepala Nara dan mengusapi rambutnya dengan sayang, membuat Nara tersenyum dan terus menikmati kedekatan fisik di antara mereka berdua.
"Kalau begitu beristirahatlah. Mungkin kamu terlalu lelah sehingga tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanmu." Nara menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh perhatian dari sepasang mata beningnya yang sudah terbuka lagi.
"Jangan memaksakan dirimu. Aku tidak mau kamu jatuh sakit, Mas." Nara mengusap lembut pipi suaminya yang sedikit menampakkan bulu-bulu halus di bagian tepinya, karena sudah beberapa hari belum dibersihkan.
Wajah lembut Nara mendadak berubah mendung saat mengingat beberapa kejadian yang membahayakan nyawa suaminya dan nyaris memisahkan mereka berdua. Mata beningnya mulai berkaca-kaca tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang suami yang sudah membalas tatapan sayunya dengan tatapan yang tak kalah sendu.
Satu per satu butiran air mata mulai menetes mewakili perasaan hati Nara yang masih mengkhawatirkan kondisi suaminya. Perlahan jemari tangan Yoga terulur ke wajah Nara yang telah basah dan membersihkan tangisannya dengan gerakan lembut yang penuh kasih sayang.
"Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja, Sayang. Demi kamu dan anak-anak kita, aku akan menjaga diriku lebih baik lagi. Aku mencintai kalian dan tidak ingin berpisah dari kalian."
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐๐
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
๐Author๐