CINTA NARA

CINTA NARA
2.76. TEMAN BAIK


__ADS_3

Setelah membantu proses kelahiran bayi Cindy, Alya pamit untuk meninggalkan klinik dan berangkat menuju rumah sakit.


Tujuan utamanya kali ini bukan untuk bekerja seperti biasanya, akan tetapi untuk segera memeriksakan kondisi kakinya.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Pak Sopir yang selama ini ditugaskan oleh Dokter Hanan untuk mengantarkan dan menjemput Alya dalam urusan pekerjaannya.


Melihat Alya terus meringis menahan nyeri yang terasa di kaki bawahnya, sopir tersebut ikut panik dan mempercepat laju mobilnya.


"Tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit nyeri karena tadi saya paksakan untuk berdiri lama tanpa tongkat penyangga."


Tiga puluh menit kemudian, mobil sudah berhenti di depan lobi utama rumah sakit.


Dengan sigap Pak Sopir turun dan menyiapkan kursi roda yang masih disimpannya di bagasi, untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat seperti saat ini.


"Mari, Bu. Saya akan antar Ibu ke ruang pemeriksaan dokter tulang."


Kursi roda sudah siap di samping pintu mobil yang telah terbuka. Alya turun dan langsung duduk di atas kursi roda yang selama beberapa bulan kemarin setia menemani aktivitasnya sepanjang hari.


"Terima kasih, Pak," ucap Alya dengan tulus.


Meskipun bisa bergerak otomatis dengan bantuan tombol navigasi di sisi kanan, Pak Sopir tetap mendorong dan mengantarkan Alya sampai di ruangan yang mereka tuju, yang berada di lantai dua yang merupakan area ruang pemeriksaan.


Karena sebelumnya sang sopir sudah mengabari Dokter Hanan, maka dokter tulang pun sudah menyediakan waktunya untuk segera memeriksa Alya lebih dulu.


"Selamat sore, Rendy." Alya menyapa dengan ramah rekan seprofesinya yang juga teman baiknya tersebut sembari menahan nyeri di kakinya.


"Sore juga, Alya. Ada apa dengan kakimu?"


Dokter sebaya Alya itu memperhatikan wajah Alya yang masih terlihat menahan sakit.


"Kakiku, maksudku pergelangan kakiku terasa sakit dan lumayan nyeri, Ren. Tadi tanpa sengaja aku berdiri cukup lama untuk membantu persalinan saudaraku."


Rendy yang sudah cukup akrab dengan Alya selama bertugas bersama di rumah sakit, berdiri dari kursinya dan menghampiri Alya. Kemudian dia berjongkok tepat di hadapan Alya.


"Maaf sebelumnya ...," ucap Rendy sebelum tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan medis itu mulai memeriksa kaki Alya.


Alya menarik rok yang dikenakannya sedikit ke atas, agar Rendy leluasa memeriksa pergelangan kakinya yang masih terasa sakit dan semakin nyeri.


Rendy mengetuk pelan di beberapa bagian dan melihat ke atas untuk memperhatikan reaksi Alya yang sedikit meringis kesakitan.

__ADS_1


"Sakit?" Dan Alya pun mengangguk lalu segera menghindari tatapan mata Rendy.


Rendy yang menyadarinya segera menunduk kembali dan fokus memeriksa bagian tulang yang dulu patah dan telah dioperasi olehnya.


Untuk beberapa saat lelaki yang selalu penuh perhatian itu masih memeriksa kaki Alya dengan serius. Dia ingin memastikan tidak ada lagi luka yang serius atas sakit yang dirasakan oleh Alya.


"Tulangmu hanya mengalami peradangan akibat adanya ketegangan yang hebat atau tiba-tiba, seperti yang kamu ceritakan tadi."


Rendy berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Dilepaskannya sarung tangan yang tadi dikenakan lalu dimasukkan ke dalam kotak sampah di sudut meja.


"Kamu berdiri tanpa tongkat penyanggamu dalam waktu yang cukup lama. Hal inilah yang menyebabkan bagian belakang pergelangan kakimu terasa sakit dan nyeri."


Alya mengangguk tanda mengerti dan juga mengakui kesalahannya. Semuanya terjadi begitu saja saat dirinya dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya bergerak cepat dan memberikan pertolongan pada Cindy sesuai kata hatinya.


"Rasa nyeri itu bisa terus terasa untuk beberapa waktu lamanya, dan bisa juga menghilang saat kamu telah cukup beristirahat."


"Dan jika kamu tidak ingin merasakan sakit seperti ini lagi, tetaplah disiplin selama masa pemulihanmu. Jangan lagi berdiri atau berjalan tanpa bantuan tongkat penyanggamu, sekalipun hanya sebentar saja."


Alya kembali mengangguk dan menyimpan semua pesan dari dokter itu di dalam ingatannya.


"Maafkan aku yang telah merepotkanmu, Ren. Aku akan lebih berhati-hati lagi setelah ini."


"Tidak masalah bagiku dan sudah menjadi tugasku sebagai doktermu dalam hal ini. Aku hanya tidak ingin proses pemulihanmu terhambat sehingga mengulur waktu kesembuhanmu menjadi lebih lama lagi, Al."


"Aku akan memberikan obat anti radang yang bisa kamu minum bersamaan dengan beberapa obat lain yang masih harus kamu habiskan."


Rendy menuliskan resep obat untuk Alya lalu menyerahkan secarik resep tersebut kepada perawat yang selalu mendampingi selama waktu prakteknya, untuk dibawa ke bagian apotik rumah sakit.


Setelah sang perawat keluar dari ruangan, Rendy menyelesaikan laporan pemeriksaannya pada berkas perawatan pasien milik Alya.


"Kamu tidak praktek hari ini?" tanya lelaki itu setelah menyelesaikan laporannya dan menutup berkas Alya. Diletakkannya berkas itu menjadi satu dengan berkas pasien lain yang telah selesai ditanganinya hari ini.


"Iya, tadi aku sudah mengajukan ijin ke bagian administrasi. Aku ingin memulihkan rasa sakitku ini lebih dulu."


Alya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengirimkan pesan kepada perawat yang bertugas mendampinginya hari ini, untuk memastikan bahwa sudah ada dokter pengganti di ruang pemeriksaannya saat ini.


Dia bernapas lega setelah mengetahui bahwa pasiennya telah ditangani oleh seorang dokter pengganti yang sedang lepas waktu.


"Kamu akan langsung pulang setelah ini?" Rendy kembali bertanya kepada Alya dengan ponsel yang juga telah digenggamnya.

__ADS_1


"Iya, Ren. Sepertinya aku harus mengikuti saranmu untuk banyak beristirahat dulu." Alya tersenyum samar seraya menatap sekilas dokter di hadapannya.


"Gunakan kursi roda untuk beberapa hari ke depan. Biarkan kakimu benar-benar beristirahat dulu. Setidaknya sampai rasa sakit dan nyeri di bagian tulang bekas patahan itu tidak lagi kamu rasakan seperti sebelumnya."


Perawat datang dan menyerahkan kantong obat yang dibawanya kepada Rendy. Dokter tulang itu kemudian meminta perawat untuk mengembalikan seluruh berkas pasien ke bagian administrasi, karena waktu prakteknya hari ini telah usai.


Setelah perawat mengambil tumpukan berkas dari atas mejanya dan pamit keluar, Rendy melepaskan jas putihnya dan menyampirkannya di punggung kursi.


Dia berdiri dan mengambilkan Alya sebotol air mineral di meja belakang yang disediakan oleh pihak rumah sakit di setiap ruangan dokter.


Dia kembali ke mejanya smapbil menyerahkan botol tersebut kepada Alya.


"Sebelum pulang, minumlah dulu obatnya, agar rasa nyerimu segera berkurang."


Alya dengan sungkan menerimanya sambil memperhatikan Rendy yang kemudian menyiapkan satu paket obat untuk diminumnya.


"Ini. Minumlah dulu, Al."


Dokter tulang itu dengan penuh perhatian sudah membukakan bungkus obatnya, sama seperti botol minumannya tadi, sehingga Alya tinggal meminum semuanya.


"Terima kasih," ucap Alya setelah selesai dan dibalas Rendy dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Al ...." Ragu-ragu Rendy mencoba berbicara dengan teman baiknya tersebut.


"Ya?" Tanpa sadar Alya kembali menatap Rendy begitu mendengar lelaki itu memanggil namanya.


"Bolehkah aku mengantarmu pulang?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2