CINTA NARA

CINTA NARA
2.69. KEPUTUSAN YOGA


__ADS_3

Episode kali ini mengambil setting lokasi yang sama dengan novel Menanti Cinta Untukku episode 67.


Info selengkapnya tentang novel ini ada di akhir episode di bawah ini.


.


.


.


Tanpa sepengetahuan Nara, Yoga telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk istri tercintanya.


"Apakah sudah siap, Sayang?"


Yoga mengalungkan tas kecilnya dan disimpan di depan dada lalu bersiap menarik koper yang sudah disiapkan Nara di ujung tempat tidur.


"Sudah, Mas. Aku siap walaupun aku tidak tahu ke mana kamu akan membawaku pergi."


Nara mengambil tas selempangnya lalu menggantungnya di bahu. Yoga tersenyum lalu mencium keningnya sebelum mereka keluar.


"Sebentar lagi kamu juga akan tahu. Ayo, kita berangkat sekarang!"


Mereka meninggalkan kamar dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu bersama Pak Budi yang siap untuk mengantarkan mereka ke bandara.


Yoga dan Nara pergi di saat Raga tengah dibawa jalan-jalan pagi oleh kakek dan neneknya. Sengaja mereka kembali pulang lebih dulu, untuk menitipkan Raga pada Bapak dan Ibu.


Bocah tampan itu akan merajuk manja jika melihat kedua orangtuanya akan pergi tanpa dirinya. Namun dia juga tidak akan rewel mencari mereka jika sudah tidak ada dan tidak terlihat bersamanya.


Tak lama perjalanan, mereka sudah sampai di bandara. Pak Budi membantu memurunkan koper dari bagasi lalu segera pamit lebih dulu.


"Kami titip Raga dulu ya, Pak. Maaf jika merepotkan semuanya." Sopan Nara mengulangi ucapannya yang sudah dikatakan sebelumnya di rumah orangtua Nara tadi.


"Kalau ada apa-apa dengan Raga, ssgera kabari kami." Yoga turut berpesan dengan wajah datarnya seperti biasa.


"Siap, Mas, Mbak. Raga akan selalu aman bersama kami semua di sini. Selamat berlibur. Saya pamit sekarang." Pak Budi tersenyum ramah sebelum masuk kembali ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari area bandara.


Yoga menggandeng tangan Nara dan mereka berdua melangkah masuk menuju loket check-in dan setelah itu segera masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan.


"Kita akan pergj ke Bali, Mas?" Mata bening Nara kian berbinar saat membaca tulisan pada tiket yang dipegang oleh suaminya.


"Iya, Sayang. Kamu suka?" Yoga merangkul bahu istrinya saat mereka duduk menunggu waktu keberangkatan.


Nara mengangguk senang, seperti gadis remaja yang baru saja mendapatkan kejutan istimewa. Selama tiga tahun tahun usia pernikahan mereka, sekali pun mereka belum pernah pergi berlibur berdua seperti yang akan mereka lakukan sekarang.


"Terima kasih, Mas. Aku sangat menyukai kejutanmu." Wanita itu kembali membaca nama kota tujuan yang tertera di dalam tiket untuk memastikan lagi penglihatannya.


"Anggap saja ini sebagai liburan bulan madu kita yang tertunda, Sayang."

__ADS_1


Paras cantik Nara merona seketika saat mendengar kata bulan madu yang diucapkan oleh suaminya. Mendadak hatinya berdebar bahagia sekaligus gugup.


Yoga tidak tahan untuk tidak mencium gemas pipi istrinya secara sekilas, tanpa melepaskan dekapan hangat di bahu Nara.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya panggilan untuk masuk ke dalam pesawat pun terdengar di ruang tunggu yang luas tersebut.


Yoga dan Nara segera berdiri dan bersiap bersama beberapa penumpang lain yang satu tujuan dengan mereka.


Berjalan bersama memasuki pintu keberangkatan, keduanya bergandengan tangan dengan tangan kanan Yoga menarik koper yang mereka bawa.


.


.


.


Dua jam kemudian, Yoga dan Nara telah sampai di bandara tujuan dan dijemput oleh pengelola villa yang sudah mereka pesan secara daring dengan rekomendasi dari seorang teman kuliah Yoga yang bernama Darma.


Darma pernah menyewa villa tersebut untuk berlibur bersama keluarga kecilnya. Bahkan juga menyewanya lagi sebagai hadiah pernikahan untuk adik semata wayangnya, Dimas yang menikah dengan Alila, sahabatnya sendiri.


Menurut keduanya, villa tersebut sangat indah dan nyaman, terutama untuk pasangan pengantin baru yang ingin berbulan madu dalam suasana yang privat dan tenang, jauh dari hingar-bingar keramaian kota.


Seorang pria lokal berusia sebaya menyambut dan menyapa mereka dengan ramah. Suaranya menampakkan logat Bali yang khas dan masih sangat kental. Dia memperkenalkan diri dengan nama panggilan Agung.


Sebelumnya Agung sudah menghubungi Yoga saat baru memesan villa yang akan mereka tempati sebentar lagi. Lelaki itu memastikan jadwal keberangkatan dan agenda apa saja yang akan mereka lakukan selama berada di Bali.


Melalui satu jam perjalanan dengan pemandangan yang indah dan memanjakan mata, akhirnya mereka sampai di halaman depan villa yang akan menjadi tempat liburan Yoga dan Nara.


Mereka bertiga disambut oleh seorang wanita bernama Ayu yang tak lain adalah istrinya Agung. Mereka berdua tinggal di sebuah paviliun di halaman depan villa yang menghadap ke arah jalan raya pedesaan.


Sementara di bagian belakang, villa yang dibangun sangat apik dengan konsep terbuka tersebut, menghadap langsung ke arah lepas pantai yang terkenal dengan suasana intim dan sangat romantis saat matahari terbit dan terbenam.


Sepasang mata bening Nara terus berbinar kagum mengamati keindahan villa yang akan mereka tempati selama dua hari ke depan.


Bangunan villa satu lantai yang cukup besar dengan halaman yang luas dan berfasilitas lengkap. Ada kolam renang pribadi di bagian belakang villa yang menyatu dengan teras yang luas, mengarah langsung ke bibir pantai yang tertutup untuk umum.


Lokasi villa tersebut memang berdekatan dengan sebuah pantai yang tidak terjamah oleh wisatawan umum. Hanya penghuni villa yang berada di sekitarnya saja yang bisa menikmati keindahan pantai itu sekaligus bermain di sana sepuasnya tanpa ada yang menganggu.


Agung membawakan koper ke dalam kamar utama, sementara Yoga dan Nara mengikuti Ayu yang sedang memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di dalam villa kepada kedua tamunya.


Setelah dirasa cukup memberikan penjelasan, Agung dan Ayu pamit untuk kembali ke paviliun mereka. Yoga menutup pintu depan dan mengajak Nara masuk ke dalam villa.


Mereka menuju ke dalam kamar utama yang berada di bagian belakang villa, dengan pintu yang terhubung langsung dengan teras dan kolam renang di halaman yang luas.


Setelah mencuci tangan dan membasuh wajahnya, Nara menepikan tirai yang masih menutupi sebagian jendela kaca yang besar lalu membuka pintu belakang.


Udara pantai yang sejuk dan sepoi langsung terasa menerpa wajah dan seluruh tubuh saat dirinya melangkah keluar kamar dan berdiri di ujung teras.

__ADS_1


Tak ada pembatas yang menghalangi pandangannya ke arah pantai di hadapannya. Semuanya masih alami seolah pantai itu adalah milik pribadi mereka yang tinggal di dalam villa.


"Bagaimana, Sayang? Kamu suka?" Satu ciuman dirasakan oleh Nara di pipi ranumnya.


Tiba-tiba Yoga sudah berdiri di belakang istrinya dan memeluk Nara dengan hangat. Wanita itu merasakan getaran yang begitu indah di hatinya setiap kali Yoga memeluknya dari belakang. Rasa hatinya melayang bahagia.


"Sangat suka. Tempat ini sangat indah, Mas. Terima kasih sudah mengajakku berlibur kemari."


Nara menyatukan kedua tangannya dengan tangan Yoga yang melingkar erat di pinggangnya, lalu menoleh ke samping dan menatap wajah rupawan suaminya yang bermanja di bahunya.


"Bukan berlibur, Sayang."


Satu ciuman lembut terasa di sudut bibir Nara. Kemudian perlahan turun menyusuri leher dan juga bahunya yang mulai terbuka. Seluruh tubuhnya seketika meremang dan menghangat.


"Bukan? Lalu apa namanya kalau bukan berlibur?" Nara masih belum mengerti maksud ucapan suaminya.


Yoga menarik tubuh Nara menghadap ke samping, begitu pula dirinya yang melakukan hal yang sama, sehingga kini mereka menjadi berdiri berhadapan dengan tangan yang masih saling melingkari pinggang satu sama lain.


Untuk sesaat Yoga terdiam dan hanya ingin menikmati paras cantik mempesona yang telah menjadi miliknya seutuhnya dan selamanya.


Disentuh dan dibelainya dengan lembut permukaan wajah Nara dengan perasaan cinta dan sayang yang membuncah.


"Inilah jawabanku sekaligus keputusanku untuk kita berdua, Sayang."


Nara membulatkan mata beningnya karena terkejut mendengarkan ucapan Yoga yang masih mengunci pandangan mereka dengan tatapan penuh cinta.


"Jadi ...?!?" Nara sudah merasa sangat bahagia meskipun belum mendengar langsung dari bibir manis suami tercintanya.


Wajah Nara berubah memerah dan menghangat dengan senyum sipu malu di bibirnya, saat Yoga memperjelas pernyataannya dengan suara yang lembut dan lirih tepat di telinganya.


"Kita akan berbulan madu untuk memberikan adik bagi Raga ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1



__ADS_2