
Hari pernikahan Indra dan Rizka tiba. Seluruh keluarga dan kerabat dekat sudah berkumpul lengkap di gedung tempat digelarnya rangkaian acara akad nikah dan resepsi.
Meskipun Indra dan Rizka hanya mengingjnkan pesta yang sederhana dan kekeluargaan, mereka tetap tidak bisa menolak saat Yoga dan Nara memberikan hadiah pernikahan berupa pesta yang mewah dan meriah yang dihadiri oleh banyak sekali tamu undangan dari kedua keluarga.
Acara yang diselenggarakan pada pagi hari dan akan berakhir di siang harinya itu diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an dan dilanjutkan dengan acara sakral ijab qobul.
Indra sudah duduk berhadapan dengan pamannya Rizka yang merupakan adik kandung dari almarhum papanya. Tangan mereka sudah bersalaman erat dan siap untuk mengucapkan ikrar ijab qobul.
Tak lama kemudian, ucapan kata sah dari kedua orang saksi menandai resminya hubungan suami-istri antara Indra dan Rizka.
Ucapan syukur ke hadirat Sang Illahi menggema di seluruh ruangan, menciptakan suasana bahagia berselimut keharuan di hati seluruh hadirin yang menyaksikan acara sakral tersebut.
Rizka didampingi oleh Tante Arum dan Nara, keluar dari belakang panggung untuk didudukkan di samping Indra.
Wajah sepasang pengantin baru tersebut memancarkan aura kebahagiaan yang tiada habisnya. Senyuman keduanya merekah indah ditambah dengan pipi merona Rizka yang masih terlihat malu-malu menggemaskan.
Sebelum acara dilanjutkan dengan penyelesaian dokumen pernikahan, Indra dan Rizka dipersilakan melakukan ritual pertama sebagai pasangan suami-istri.
Dengan hati berdebar Rizka mencium punggung tangan suaminya dengan penuh keharuan. Selanjutnya Indra segera membalasnya dengan melabuhkan ciuman lembut di kening istrinya dengan penuh rasa cinta.
Usai acara akad nikah dan beberapa ritual lainnya terlaksana, pesta resepsi pun digelar dalam suasana yang hangat dan bernuansa kekeluargaan.
Indra dan Rizka duduk di kursi pelaminan dengan bahagia sambil sesekali berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Di pertengahan acara, Alya naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru tersebut.
Ditemani oleh Nara, mereka berempat mengabadikan momen bahagia itu dalam bidikan kamera sang fotografer.
Alya turun bersama Nara dan menuju ke deretan meja hidangan yang berada di sisi kiri dan kanan gedung yang sangat luas tesebut.
Nara yang hendak menemani Alya mengambil makanan, urung melakukannya karena Raga datang bersama Mbak Indah dengan rengekan lelahnya.
Alya mempersilakan Nara untuk mengurus buah hatinya terlebih dahulu dan melanjutkan sendiri memilih beberapa hidangan yang tersedia lengkap dan menggugah selera untuk memanjakan lidah.
Saat hendak mencari tempat duduk untuk menikmati pilihan makanannya, tak sengaja dirinya bertubrukan dengan seseorang yang melintas hendak menuju ke atas pelaminan.
Sebagian makanan di piring Alya tumpah ke lantai. Beruntunglah karena tumpahannya tidak sampai mengotori kedua pakaian mereka karena keduanya refleks menarik mundur tubuh masing-masing setelah bertubrukan.
"Maaf ...." Keduanya mengucapkannya secara bersamaan dan saling menatap ke depan.
"Alya ...."
__ADS_1
"Ardi ...."
Seketika keheningan tercipta di antara mereka. Ternyata orang yang berjalan ke arah pelaminan dan menubruk Alya adalah Ardi yang datang seorang diri.
"Maaf, Al. Tadi aku terburu-buru karena datang terlambat."
Ardi memperhatikan pakaian Al, khawatir jika ada kotoran makanan yang menempel di gaun indahnya.
"Aku tidak apa-apa." Alya yang merasa risih diperhatikan dengan seksama oleh Ardi, segera menjawab lelaki itu dan mengambil jarak lagi.
Ardi tersadar oleh sikap Alya dan kembali bersikap setenang mungkin meskipun hatinya mulai bergetar saat kembali menatap wajah ayu dan penampilan anggun wanita di hadapannya.
"Aku ... aku ke sana dulu."
Sebelum hatinya semakin terasa tak karuan, Alya memilih untuk pergi meninggalkan Ardi dan melangkah pelan menuju deretan kursi yang disediakan di bagian tepi.
Pandangan Ardi terus mengikuti arah langkah Alya hingga wanita itu duduk di deretan kursi yang masih kosong. Setelah itu barulah dia melanjutkan tujuannya semula untuk naik ke atas pelaminan.
Dari tempat duduknya, Alya mencuri pandang ke arah Ardi yang sudah berjalan sendiri ke pelaminan menghampiri Indra dan Rizka.
Diam-diam dia mengulum senyum, melihat lelaki yang dicintainya itu berdiri di atas pelaminan dengan penuh wibawa. Pesona dirinya kian terpancar dan selalu memikat hati Alya.
"Dari dulu kamu tidak pernah berubah, Di. Sama seperti perasaanku kepadamu selama ini ...."
"Senyumanmu selalu mampu membuatku terpaku dan berlama-lama menatapmu, Al. Bahkan di saat kita telah berpisah dan menjadi milik orang lain seperti saat ini ...."
.
.
.
Alya telah berganti pakaian dan menarik kopernya ke beranda. Yoga dan Nara mengantarnya sampai di ujung beranda, di mana seorang sopir telah siap untuk mengantarkan tamu tuan mudanya.
Tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti tepat di belakang mobil yang hendak keluar mengantarkan Alya. Yoga dan Nara mengenali mobil itu dan sudah mengetahui siapa yang datang.
Keduanya berpandangan dan tidak bisa berbuat apa pun lagi. Sementara Alya yang tidak mengetahuinya terus menarik kopernya dan diberikan kepada sang sopir untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Namun sebelum diterima oleh sopir, koper itu terlebih dahulu diterima oleh seseorang yang baru saja turun dari mobilnya dan menghampiri mereka di beranda.
"Bolehkah aku mengantarmu?"
__ADS_1
Alya yang mendengar suara yang sangat dikenalinya itu terkejut. Mendadak hatinya berdebar kencang saat menoleh dan mengetahui siapa yang telah datang.
"Ardi ...."
Alya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena kedatangan Ardi yang tidak disangkanya sama sekali dan membuat mereka bertemu kembali.
Nara menggenggam tangan suaminya saat melihat kejadian tak terduga di depan matanya. Dia merasa bersalah karena turut menyembunyikan sesuatu tentang Alya.
Yoga hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan semua yang akan terjadi setelah ini.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Al? Bolehkah aku mengantarmu ke bandara?"
Seketika Alya merasakan lidahnya kelu dan suaranya tercekat begitu mendengar pertanyaan Ardi. Dia memalingkan wajahnya ke arah Nara dan Yoga.
Nara juga ikut menatap suaminya dengan tangan mereka yang masih terus bergenggaman sangat erat.
Yoga beradu pandang dengan Ardi, lalu beralih menatap Alya yang berdiri tak jauh dari posisi kedatangan Ardi.
Setelah menimbang dan memikirkannya, akhirnya dia menganggukkan kepala ke arah Alya dan Ardi.
"Di, aku harap setelah ini kamu tidak akan menciptakan masalah baru yang lebih rumit!"
Ardi yang menerima peringatan dari sahabat kecilnya itu hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.
Dia membawa koper Alya dan dimasukkan ke dalam bagasi mobilnya. Detelah itu dia kembali itu menjemput wanita yang akan diantarnya tersebut.
"Ayo, Al."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.