
Selama tinggal di rumah orangtuanya, Nara banyak membantu Rizka untuk mempersiapkan banyak hal pada kehamilannya yang sudah berusia lima bulan, lebih tua satu bulan dari kehamilannya sendiri.
Rizka yang masih berusia muda yakni menjelang dua puluh satu tahun, terlihat sangat antusias dan banyak bertanya. Dia sangat menikmati kehamilannya dan belajar banyak untuk memprsiapkan diri menjadi ibu muda yang siaga dan bahagia.
"Baca dan pelajarilah semua ilmu yang ada di dalam buku-buku ini dan belajarlah mempraktekkan apa yang sudah bisa dilakukan sejak sekarang."
Saat kemarin menemani Raga pergi ke wahana permainan, Nara menyempatkan diri untuk membelikan beberapa buku tentang kehamilan dan seputar persiapan menjadi ibu di usia muda.
Tak ketinggalan dia juga membelikan Indra buku yang sama, tentang persiapan dan kesiapan menjadi suami dan ayah siaga, agar bisa bekerja sama dan saling mendukung dengan Istrinya menjadi orangtua yang terbaik untuk anak mereka nanti.
"Ajak Indra juga untuk melakukan banyak hal bersama-sama. Kalian harus kompak dan saling melengkapi agar bisa menjadi orangtua yang baik tanpa melupakan tugas dan kewajiban sebagai seorang suami dan seorang istri."
Rizka sangat ssnang karena selama dua minggu ini bisa belajar langsung dari Nara untuk menjadi istri yang baik dan selalu disayang oleh suaminya.
Semua sikap dan perhatian yang diberikan Nara untuk Yoga menjadi titik perhatiannya dan coba diikutinya agar dirinya dan sang suami bisa seromantis kedua kakak iparnya yang selalu terlihat mesra dan membuat iri siapa pun yang melihatnya.
"Aku ingin seperti Mbak Nara yang bisa menjadi istri dan ibu yang baik sekaligus tanpa mengurangi perhatian dan kasih sayang untuk salah satu di antara kedua tanggung jawabnya. Kalian selalu menjadi pasangan panutanku dan Kak Indra."
Nara tersenyum melihat tingkah adik iparnya yang kadang kala masih menunjukkan sikap manja dan kekanakannya. Tapi di luar itu, Rizka selalu bersikap dewasa dan sangat mandiri.
Dia sama sekali tidak pernah mengeluh dan merepotkan suaminya yang juga mempunyai kesibukan dan tanggung jawab besar di kantor, sehingga seringkali kekurangan waktu untuk memperhatikan dirinya dan kehamilannya.
"Jika kamu merasa diabaikan oleh suamimu atau sebaliknya, katakan dengan jujur dan bicarakan berdua secara baik-baik agar kalian bisa sama-sama mengerti dan saling memahami, sehingga ke depannya bisa memperbaiki apa yang sempat terlupakan oleh salah satu di antara kalian."
Dan akhirnya mereka menutup perbincangan panjang keduanya saat Yoga dan Indra pulang bersama dan meminta waktu dan perhatian dari istrinya masing-masing.
Rizka segera menyambut sang suami dan mengikutinya ke kamar, meninggalkan Nara dan Yoga yang masih meluangkan waktu sejenak untuk Raga, sebelum meninggalkan bocah tampan nan cerdas itu bersama Mbak Indah dan kedua kakek-neneknya.
.
.
.
"Besok sore kita akan kembali ke kota baru, Sayang."
__ADS_1
Yoga masih terus memeluk erat istrinya di bawah satu selimut yang menutupi kedua tubuh berpeluh mereka, usai meminta haknya untuk dilayani oleh Nara.
"Iya, Mas. Besok pagi aku akan mempersiapkan semuanya."
Nara pun masih beristirahat di dalam pelukan suaminya. Wanita itu terus bermanja di tempat ternyamannya yang selalu membuatnya betah berlama-lama di sana.
"Sudah hampir petang, ayo segera mandi." Beberapa menit kemudian, Yoga mencium kening istrinya dan menyudahi kemanjaan istrinya mengingat langit mulai beranjak gelap.
Nara patuh tanpa bantahan dan bergegas mendahului suaminya karena dia harus menyiapkan hidangan makan malam setelahnya.
Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Nara keluar kamar meninggalkan Yoga yang masih berada di dalam kamar mandi.
Dia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Raga, sementara untuk yang lainnya sudah tinggal menghangatkannya saja.
Yoga keluar dari kamar mandi tepat di saat ponselnya berdering menandakan adanya panggilan suara yang baru saja masuk.
Setelah mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Nara, lelaki itu mengambil ponselnya dari atas meja dan menerimanya.
"Ya. Ada apa, Ben?" Sang asisten andalan meneleponnya dari kota baru.
Wajah Yoga yang semula segar dan cerah seketika berubah mendung gelap dengan ekspresi yang mengeras penuh ketegangan.
"Kapan kejadiannya? Bagaimana kondisi para pekerja kita yang masih tinggal di sana?"
"Satu jam yang lalu, Pak. Saat ini sebagian besar api sudah berhasil dipadamkan. Semoga segera padam semuanya."
"Bagaimana dengan para pekerja kita?" Yoga mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Beno.
"Semua pekerja kita selamat dan tidak ada yang terluka, Pak. Mereka berhasil menyelamatkan diri dan segera menghubungi pihak pemadam kebakaran."
Yoga menghela napas lega. Yang paling diutamakannya adalah keselamatan para pekerja di lokasi. Dia bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian yang tidak pernah diharapkan tersebut.
"Pihak kepolisian sudah turun tangan untuk menyelidiki penyebab kebakaran ini, Pak. Seluruh kamera pengawas di lokasi proyek kita dan sekitarnya sudah dibawa untuk diperiksa dan diselidiki lebih lanjut."
Beno masih terus melanjutkan laporannya dengan menceritakan semua yang diketahuinya dari keterangan para pekerja dan beberapa warga sekitar yang membantu proses awal pemadaman api sebelum mobil pemadam kebakaran datang.
__ADS_1
"Adakah hal-hal yang mencurigakan di sana?" tanya Yoga pada akhirnya.
Selama ini, tidak pernah ada satu pun pekerjaannya yang terkena masalah, apalagi masalah sebesar ini. Kalau pun ada, hanyalah masalah administrasi yang bisa diselesaikan dengan segera. Bukan masalah taknis di lapangan seperti kali ini.
Kecelakaan atau kelalaian memang mungkin terjadi, tapi dengan semua persiapan dan pengawasan ketat di setiap proyek yang dikerjakan oleh perusahaannya, kecil kemungkinan hal itu terjadi, kecuali dengan kesengajaan.
"Kami belum bisa memastikannya. Ada beberapa warga yang dimintai keterangan secara resmi oleh pihak kepolisian guna pengembangan penyelidikan, Pak. Apa kita juga perlu melakukannya sendiri?"
"Aku rasa tidak perlu. Kita serahkan dulu semuanya pada pihak kepolisian. Sambil menunggu hasilnya, urus asuransi dan ganti rugi untuk seluruh pihak yang terkait!"
"Baik, Pak. Kami siap melaksanakannya."
"Satu lagi, urus seluruh keperluan dan kewajiban kita untuk para pekerja di lokasi. Dan untuk sementara waktu, kamu atur kepindahan pekerjaan mereka ke proyek yang lain."
"Kapan Bapak akan kembali? Mungkin saja mulai besok akan ada banyak pihak yang ingin bertemu langsung dengan Bapak berkenaan dengan kejadian ini."
"Aku pulang besok sore. Atur semua pertemuan denganku mulai lusa dan persiapkan segala sesuatunya dengan baik!"
Beno sudah akan menutup sambungan teleponnya, saat tiba-tiba sang atasan kembali memanggilnya dan menyampaikan satu permintaan.
"Tolong sembunyikan masalah ini dari Nara. Bagaimana pun caranya, jangan sampai istriku mengetahuinya. Aku tidak mau kehamilannya terpengaruh karena mengetahui kabar tidak baik ini."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.