
"Anakku .... Tolong ... anakku ...."
Yoga tersentak dan terbangun seketika saat mendengar rintihan Nara di sampingnya. Lelaki itu tertidur sejenak lantaran lelah dan terlalu penat memikirkan kondisi istri dan calon anak di dalam kandungannya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Berdiri dan membungkukkan tubuhnya lebih ke bawah, Yoga membelai kepala Nara lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Aku takut ... aku takut ...."
Namun saat wajahnya menjauh dan menatap Nara, wanita cantik itu masih memejamkan mata dan belum bereaksi atas ucapannya.
"Rupanya kamu hanya mengigau ...." Yoga menghela nafas panjang dan hendak kembali ke kursinya yang diletakkan tepat di samping pembaringan.
Tapi belum sampai dia duduk, tiba-tiba terasa olehnya sentuhan lemah di pergelangan tangan, menahannya untuk tidak menjauh.
"Mas ...."
Yoga mengalihkan pandangannya ke atas dan mendapati sang istri sudah membuka kedua matanya dengan tatapan yang masih kosong dan sayu.
"Alhamdulillah, Sayang! Akhirnya kamu bangun."
Lelaki itu kembali mendekat dan mendekap tubuh Nara dengan pelan lalu kembali mencium keningnya penuh syukur.
"Aku sangat khawatir, Sayang."
Yoga merenggangkan pelukannya saat merasakan kedua tangan Nara bergerak ke atas dan menangkup wajahnya dengan tenaga yang masih terasa sangat lemah.
Sepasang mata beningnya berkaca-kaca saat memaku tatapan ke wajah Yoga dengan lekat dan dalam hampir tanpa kedipan.
Butiran air mata mulai luruh ke pipi saat akhirnya mata itu berkedip cepat seolah tak ingin kehilangan waktu sedetik pun untuk terus memandangi wajah suami tercintanya.
"Aku takut tidak bisa melihatmu lagi, Mas. Aku takut tidak bisa memandangi wajah ini lagi. Aku bermimpi kamu pergi ... pergi meninggalkan aku dan anak-anak kita ...."
Kedua tangan lemah Nara yang salah satunya terpasangi infus di punggung tangannya, mulai bergerak pelan membelai wajah suaminya, menyusuri perlahan dengan jemarinya yang halus dan lembut.
Air mata semakin deras mengalir membasahi wajah penuh cinta itu, membuat perasaan Yoga terbawa haru dan bahagia hingga ikut meneteskan air mata begitu saja.
"Aku ada di sini, Sayang. Aku selalu menunggumu di sini, di sampingmu. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Yoga meraih kedua tangan Nara dan meletakkan di atas perut bulatnya. Kemudian dia mengatur tubuhnya turun ke bawah untuk mencium genggaman tangan mereka lalu berpindah ke permukaan perut Nara dan memberikan banyak ciuman kecil di sana.
__ADS_1
Banyak doa dipanjatkannya di sana. Selain rasa syukur yang tiada henti atas perlindungan dan keselamatan yang diberikan untuk Nara dan kandungannya, juga permohonan tulus pada Yang Maha Kuasa agar senantiasa menjaga dan memberikan kesehatan juga kebahagiaan bagi mereka sekeluarga.
"Dia baik-baik saja kan, Mas? Calon anak kita selamat, bukan?"
Tangan Nara bergerak pelan mengusapi perutnya dan mencoba mencari-cari gerakan kecil yang biasanya dia rasakan sesekali.
"Dia kuat, seperti ibunya. Dia baik-baik saja, seperti juga dirimu, Sayang."
Wajah Nara yang semula masih diliputi kecemasan, mulai berubah cerah dengan seulas senyuman di bibir manisnya.
"Terima kasih sudah berjuang untuk melawan sakit yang kamu rasakan. Terima kasih sudah menjaga calon anak kita dengan sangat baik. Aku bangga padamu, Sayang."
Yoga pun menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menerbitkan sebuah senyuman sarat kebahagiaan di wajahnya yang tak lagi suram seperti sebelumnya.
"Aku sangat mencintaimu, Nara."
Nara tersenyum saat mendengar lelaki menyebutkan namanya. Selalu terdengar indah dan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, Mas Yoga."
.
.
.
"Ayo, Sayang. Kamu harus sarapan yang banyak. Ingat, calon anak kita juga butuh banyak nutrisi darimu."
Dengan telaten Yoga mulai menyuapi istrinya dengan menu sehat yg disediakan oleh rumah sakit. Dia duduk di tepi pembaringan berhadapan dengan Nara yang sudah duduk bersandar menikmati suapan demi suapan darinya.
"Mas, apa yang terjadi padaku kemarin? Apa aku salah makan atau ... keracunan makanan?"
Nara tidak berpikiran terlalu jauh. Setahu dia, ibu hamil memang rawan keracunan makanan dalam artian rentan terkena masalah pencernaan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri.
"Seingatku, yang terakhir aku makan adalah kue lapis legit yang kamu belikan untukku. Tapi sebelumnya, aku juga banyak menghabiskan camilan yang ada di rumah."
Yoga masih diam dan terus mendengarkan cerita istrinya. Dia tidak berniat untuk mengungkapkan kebenarannya. Lelaki itu tidak mau Nara semakin tertekan dan terbawa beban pikiran jika sampai mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
"Sepertinya dia tidak berpikir bahwa kue itu mengandung racun yang sengaja dicampurkan di dalamnya."
"Sudah lama kita tidak membelinya padahal itu adalah salah satu kue kesukaanku. Karenanya saat kemarin kamu membelikannya, aku langsung memakannya hingga habis hampir setengah kotak, Mas."
__ADS_1
Nara menunduk dan mengusapi perutnya dengan rasa bersalah di dalam hati.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati saat ingin makan atau minum apa pun, Sayang. Kamu tidak boleh sembarangan lagi. Kamu tidak tahu betapa cemasnya aku melihatmu seperti kemarin."
Yoga meletakkan sendok yang dia pegang lalu tangannya terulur ke atas, mengusap kepala Nara dengan sayangnya. Ada sesuatu yang membuat hatinya mendadak didera ketakutan lagi.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik sampai kamu harus terbaring sakit di sini. Aku benar-benar minta maaf, Sayang"
Nara hanya bisa mengangguk dan berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati lagi dalam hal apa pun. Dia tidak mau membuat Yoga khawatir dan mencemaskannya sedemikian dalam seperti ini.
Yoga menaruh piring di atas meja lalu memajukan tubuhnya lebih dekat dengan tubuh istrinya. Dibawanya tubuh Nara ke dalam pelukannya dengan sangat erat seakan takut kehilangan teramat sangat.
Nara yang merasakannya mulai membalas dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yoga sama eratnya.
Sepasang netra milik Yoga mulai tertutup rapat, lalu menampilkan kembali bayangan wajah Nara dengan mulut berbusa dan tak sadarkan diri.
Lelaki itu semakin mempererat pelukannya dan terus menciumi kepala Nara yang hanya pasrah dengan semua perlakuan Yoga padanya.
Isakannya mulai terdengar oleh Nara. Tangisannya pun telah tumpah membasahi wajah yang tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan hatinya.
Nara membiarkan Yoga memuaskan tangisannya hingga lelaki itu merasa lega dan bisa melepaskan semua ganjalan di hatinya.
Setelah dirasa Yoga sudah bisa menguasai perasaannya, Nara merenggang pelukan dan kembali mengunci tatapan mata mereka.
"Jangan terus-menerus meminta maaf, Mas. Aku.tidak apa-apa dan tidak akan pernah kenapa-kenapa. Aku dan calon anak kita baik-baik saja."
"Aku ada di sini. Aku akan tetap bersamamu, seperti halnya dirimu yang selalu ada bersamaku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.