
Dua minggu sudah kedatangan keluarga Pak Agung di kota Bengkulu. Rencananya keluarga Pak Bambang pun akan datang ke kota Palembang. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan tali silahturahmi. Tak tanggung - tanggung, keluarga Pak Bambang datang langsung ke rumah Pak Agung di kota Palembang.
Pertemuan kedua keluarga ini terjadi atas kesepakatan kedua orang tua mereka. Dan kedua anak mereka tidak diberi tahu sebelumnya.
Satu hari sebelum hari H keberangkatan keluarga Pak Bambang ke Palembang. Pak Bambang memberitahu Angga. Hari yang ditentukan adalah hari libur Angga yaitu hari sabtu dan minggu.
Jumat sore yang cerah, pukul setengah enam. Personil lengkap keluarga pak Bambang berangkat menuju Palembang melalui jalur udara. Angga sebenarnya sudah menaruh curiga. Ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga menghadiri acara pernikahan itu.
Semua keluarga Pak Bambang berangkat ke kota pempek itu dengan jalur udara. Berangkat dengan menggunakan salah satu maskapai Indonesia, yaitu Sriwijaya Air.
Sudah lama Angga sekeluarga tidak ke Palembang. Apa lagi Angga, seingat Angga waktu masih SD pertama kali ia datang ke kota Palembang.
Tiba di kota Palembang pukul setengah tujuh malam. Ada rasa senang di hati Angga dan Dion. Menginjakan kaki kembali di Bumi Sriwijaya. Eforianya bertambah saat di jemput dari bandara menuju rumah paman Angga.
Melintasi jembatan Ampera yang tersohor. Melihat indahnya sungai musi di waktu malam. Kilau cahaya warna warni lampu dari jembatan ampera menambah elok mata memandang pantulan cahaya yang menerpa air sungai musi.
Alam bumi Sriwijaya yang bersahabat. Mengundang minat para pelancong untuk sengaja datang tak hanya melihat keelokan sungai musi. Tapi merasakan makanan khas kota Palembang yang melegenda. Kenikmatan pempek dengan kuah cuko yang menggugah lidah para pecinta kuliner.
Kota yang indah dengan sungai musi membelah kota ini menjadi dua bagian. Sungai terpanjang di Pulau Sumatra. Angga merasa bangga walau tak di lahirkan di kota Palembang.
Perjalanan ke rumah Paman Angga hanya 15 menit dari bandara. Paman yang biasa di panggil dengan sebutan mang cik Man. Nama yang disematkan padanya. Padahal nama sebenarnya bukan itu.
Mang Cik Man sendiri yang langsung menjemput saudara sepupunya sendiri. Tiba di rumah Mang Cik Man, keluarga Pak Bambang sekeluarga di sambut suka cita oleh keluarga di Palembang.
Rumah Mang Cik Man yang terletak di pusat kota Palembang. Rumah yang lumayan besar dengan pekarangan yang luas. Bisa menampung keluarga besar Mang Cik Man dan keluarga jauh yang menginap di rumahnya.
Mang Cik Man seorang pengusaha kuliner yang berhasil. Dari seorang penjual pempek keliling dan sekarang mempunyai beberapa cabang restoran pempek. Tidak hanya menjual pempek , restoran pempek ini menyajikan makanan khas kota Palembang seperti tekwan, burgo, dan laksa.
Sesampainya di rumah Mang Cik Man. Bebenah diri terlebih dahulu. Lalu Angga sekeluarga di suguhin pempek yang menggoyang lidah mereka. Cuko buatan mang Cik Man tiada duanya. Menggelegar dengan sensasi rasa hangat di tenggorokan.
Di ruang tamu yang cukup luas. Angga sekeluarga berbaur bersama anggota keluarganya yang lain. Hanya beberapa yang dikenal oleh Angga. Selebihnya ia tidak tahu.
__ADS_1
Angga dan Dion sedang duduk menikmati setiap gigitan pempek kapal selam dan menyeruput cuko yang memang paling di sukainya. Tiba - tiba ada seseorang yang di kenalnya datang. Tiara sekeluarga berada di tempat yang sama dengannya.
"Waduh ... tamu jauh udah datang. Kalau jodoh gak bakalan lari kemana - mana, " sapa Pak Agung pada keluarga Pak Bambang.
Pak Agung beserta istri dan Pak Bambang bersama istrinya pula saling bersalaman satu sama lain. Saling menayakan kabarnya masing - masing.
Tiara merasakan ada perasaan aneh saat ia menatap kedua bola mata Angga. Semilir rasa membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Ia seperti melihat sosok sang mantan pada diri Angga. Sosok itu hidup kembali.
Tiara berpura - pura tidak merasakan hal itu. Ia mencoba menepis rasa itu.
"Hai ... kamu di sini juga, " sapa ramah Angga.
"Oh ... iya. Mang Cik Man kan pamanku juga, " balas Tiara mencoba menutupi kegugupannya.
"Ayo sini makan pempek dulu, " ajak Angga sambil makan pempek.
"Iya, bentar aku mau lihat calon pengantinnya dulu, " tolak halus Tiara dengan mengatupkan kedua telapak tangannya bersila didepan dada sambil berlalu menuju kamar sang calon mempelai.
"Kak Angga , kok senyum - senyum begitu, " ucap Dion sambil menyenggol kaki kakaknya.
"Ah, kamu ngelihat aja, " ucap Angga malu.
"Ciya - ciye ... kayaknya mulai jatuh cinta nih, " ucap Dion setengah berbisik mengoda kakaknya.
"Gak lah, kakak kan uda punya Dina, " elak Angga.
"Beneran gak mau ! kalau gak mau biar aku aja. Siapa tahu ia suka ama berondong, " jawab Dion sambil nyengir.
Kedua orang bersaudara itu saling berkelakar. Pak Agung memperhatikan keduanya yang duduk tak jauh darinya. Masih di ruangan yang sama, ruang tamu yang lumayan besar.
"Aku jingok dari sini. Seru nian kamu beduo itu. Apo yang kalian omongke, " tanya Pak Agung dengan bahasa Palembang yang fasih.
__ADS_1
"Ah, idak ado apo - apo mang. Ini pempeknya lemak nian, " elak Angga sambil berbicara dengan logat bahasa Palembang sebisanya.
"Pempek mang Cik Man ini memang juaro. Dak katik yang pacak nandingi, " puji Pak Agung sambil mengacungkan jempol kanannya.
"Iyo nian mang ," jawab Angga sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Yo udah lajulah bae makan pempeknyo. Kalau perlu tambah, " kata mang Cik Man sambil menepuk bahu Angga dan tersenyum pada Dion yang duduk di sebelahnya.
Angga dan Dion kemudian tertawa. Mentertawakan karena orang yang mereka sebut ternyata ada di depannya.
"Iyo nian mang pempek mamang kato orang Bengkulu 'camkoha ', " puji Angga sambil mengacungkan jempol kanannya di susul Dion mengacungkan jempol kanannya juga.
Mang Cik Man membalas ucapan kedua keponakannya dengan tersenyum. Tidak berapa lama kemudian Mang Cik Man memberi sambutan sebagai tuan rumah. Mang cik Man berterimakasih karena sanak saudara jauh sudi kiranya datang ke acara pernikahan anak pertamanya.
Semua bersuka cita ikut dan memberikan selamat turut merasakan kebahagian yang di rasakan keluarga mang cik Man.
Calon mempelai perempuan, Dini namanya. Usianya 28 tahun. Anak pertama mang cik Man. Dini di minta keluar kamar oleh mang cik Man. Di sampingnya ada Tiara yang setia menemaninya. Tiara dan Dini memang bersahabat dekat.
"Ciye ... ciye , calon pengantin, " ledek salah satu bibinya Dini.
Aura kebahagian terpancar di wajah Dini. Pernikahan yang ia impikan bersama pacar yang sudah 7 tahun dipacarinya. Ia tampak tersipu malu di ledek begitu.
Tiara yang berada di samping Dini pun kena ledekan juga.
"Yang ini kapan nyusulnyo, " ledek bibi Dini yang lainnya.
"Sebentar lagi, tinggal tanggal mainnyo, " celutuk Pak Bambang sambil melirik ke arah Tiara.
Di ledek begitu, Tiara pura - pura tidak mendengar. Ia hanya tersenyum saja. Padahal hatinya di buat dag dig dug oleh kehadiran Angga di dekatnya.
Angga pun tersenyum saat tak sengaja matanya dan mata Tiara saling menatap. Ada sebias rasa yang hilang dan rasa itu ia temukan kembali pada sosok Tiara. Pertemuan kedua yang memberi kesan. Kesan tersendiri di hati Angga dan Tiara ....
__ADS_1