CINTA NARA

CINTA NARA
3.6. SEPERCIK KEBAHAGIAAN


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Alya pada dokter anak yang baru saja melakukan pemeriksaan pada Aura.


Di dalam ruang pemeriksaan, Ardi dan Aura ditemani oleh Alya seperti janjinya semalam. Yoga hanya ikut mengantarkan sampai lobi rumah sakit karena ada pertemuan penting di kantornya.


"Apakah ada riwayat seperti ini dari orangtuanya? Saya rasa kondisinya menurun dari salah satu orangtuanya," jawab Dokter dengan mengajukan pertanyaan baru untuk Ardi.


Alya yang berdiri menatap Ardi sekilas. Lelaki itu terus menghadap ke atas memperhatikan Aura yang sudah berada di dalam gendongannya.


Wanita itu mengayunkan tubuh mungil putri kecil Ardi perlahan agar tetap tertidur pulas tanpa terganggu oleh pembicaraan mereka dengan sang dokter.


"Mungkin almarhumah istri saya, Dok. Saya tidak yakin karena saya tidak pernah melihat istri saya dulu seperti itu. Tapi ...." Suara dokter duda itu tercekat di tenggorokan saat hendak membicarakan sang istri yang telah pergi dengan tenang.


"Istrinya dulu memiliki riwayat maag kronis yang sudah menyebabkan pecah pembuluh darah hingga mengalami anemia yang telanjur akut, Dok." Alya melanjutkan penjelasan secara singkat kepada dokter wanita yang berusia lebih matang dari mereka tersebut.


"Saya kira itulah penyebabnya. Bayi Anda juga mengalami gejala anemia. Kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut termasuk pemeriksaan laboratorium untuk memastikan hasil yang tepat dan paling akurat."


Jantung Ardi berdegup sangat kencang saat mendengar ucapan Dokter yang membuat tubuhnya lemas seketika. Bayangan akan penyakit yang sama dengan yang diderita Bunga dulu, membuat hatinya diliputi kecemasan dan ketakutan yang sangat besar.


Alya yang melihat perubahan Ardi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menguatkan lelaki itu melalui untaian doa yang dia panjatkan, karena tidak mungkin untuk mendekati dan menenangkan orangtua tunggal tersebut secara langsung.


Pandangannya beralih pada wajah polos nan tenang bayi di dalam timangannya. Rasa haru menyeruak begitu saja ketika mengunci tatapan pada bayi yang disayanginya itu.


Mata indahnya mulai memerah dan berkaca-kaca namun ditahannya sekuat mungkin untuk tidak sampai menangis dan turut melemah seperti Ardi.


Menunggu dokter yang tengah menuliskan surat pengantar untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, Ardi kembali melihat ke atas untuk memperhatikan putri kecilnya.


Namun yang didapatinya pertama kali justru wajah sendu nan memerah Alya yang terus menatap lekat ke arah Aura yang semakin lelap dalam buaian dokter berhijab anggun tersebut.


Sesekali Alya menciumi wajah bayi mungil itu dengan sayang dan dibelainya dengan punggung jemari. Meskipun hanya melihatnya, Ardi bisa merasakan dalamnya ketulusan yang diberikan Alya untuk Aura.


"Terima kasih sudah menyayangi putriku sedemikian tulus, Al. Aku tidak tahu apa jadinya aku yang terlalu panik kemarin, jika tidak ada kamu yang datang membantu dan menenangkan Aura. Sekali lagi kuucapkan terima kasih ...."


Menyadari ada yang memperhatikannya, Alya mengangkat wajah dan mendapati Ardi yang masih menatapnya dengan dalam. Tanpa sadar Alya mengulas satu senyuman lembut untuk lelaki itu yang segera membalasnya dengan hal yang sama.


Mendapatkan balasan senyuman dari Ardi, Alya baru menyadari tindakannya. Buru-buru dia menunduk dan menghindari tatapan yang begitu menggetarkan hatinya tersebut.

__ADS_1


Wanita itu menggeser posisi tubuhnya sehingga wajahnya tak lagi terlihat oleh Ardi yang duduk berhadapan dengan Dokter, yang masih sibuk menulis beberapa catatan dan resep obat.


"Ya Allah, maafkan aku. Apa yang sudah aku lakukan tadi?"


Alya menyesali tindakannya yang di luar kesadaran tadi, kendati dalam hati dia merasakan sepercik kebahagiaan saat melihat Ardi melemparkan sebuah senyuman untuk dirinya.


"Dokter Alya, apa pagi ini Anda bertugas?" tanya Dokter yang sudah selesai dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Pagi ini saya libur, Dok. Ada yang bisa saya bantu?"


Yang sebenarnya, sepulang dari rumah sakit tadi malam Alya telah menghubungi bagian administrasi rumah sakit untuk mengatur ulang jadwal tugasnya dan meminta libur pada hari ini.


Dia ingin mendampingi Aura yang menurut dokter semalam, harus melakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis anak dan laboratorium juga.


"Karena pasien adalah kerabat Anda, akan lebih baik jika Dokter Alya bisa mengantarkannya ke laboratorium dengan surat pengantar ini." Dokter menyerahkan satu surat pengantar pada Ardi yang telah disampuli amplop putih berlabel rumah sakit.


"Setelah hasilnya keluar, bisa segera diserahkan kepada saya untuk kita analisa dan kita tentukan langkah selanjutnya." Alya mengangguk dan mengiyakan permintaan sang dokter.


Tanpa diminta pun sudah pasti dia akan melakukannya, karena Ardi sendiri merupakan tamu di kota ini. Lelaki itu belum pernah melakukan pemeriksaan apa pun sebelumnya, meskipun sudah sering bolak-balik datang berkunjung kemari untuk membesuk Yoga dan Nara.


Ardi menerima semuanya dan segera berdiri lalu mengucapkan terima kasih kepada Dokter dan perawat yang mendampinginya.


Alya melakukan hal yang sama kemudian keluar dari ruangan diikuti Ardi di belakangnya. Mereka berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


Ardi hendak mengambil alih Aura dari gendongan Alya, namun karena bayi mungil itu mengigau dan menangis, lelaki itu urung melakukannya dan membiarkan sang putri tetap berada dalam dekapan hangat wanita anggun tersebut.


"Maaf jadi merepotkanmu, Al," ucap Ardi di sela mereka menunggu lift yang belum terbuka.


"Jangan dipikirkan dan jangan membahasnya lagi, Di. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dan memang bisa aku lakukan," jawab Alya tanpa mengalihkan pandangannya dari Aura yang sudah kembali terlelap.


Di hadapan Ardi, diciuminya dengan gemas dan sayang bayi mungil itu, membuat hati Ardi kembali dialiri desiran halus untuk sesaat.


Denting suara nyaring terdengar seiring tanda merah menyala pada nomor lantai yang mereka pijak. Keduanya bersiap untuk masuk setelah pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar lebih dulu.


"Al? Kamu masih di sini?" Rendy keluar dari lift dan menyapa Alya yang terkejut melihatnya.

__ADS_1


Sesaat dia menatap Ardi dan mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Ardi yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan kedua dokter tersebut.


Rendy melihat ke arah ruang pemeriksaan Alya yang tampak di kejauhan, berselang beberapa ruangan dengan ruang pemeriksaannya sendiri.


"Aku tidak bertugas hari ini, Ren." Alya menjawab singkat karena Rendy pasti tahu jika sebenarnya dirinya tidak libur dan seharusnya sudah melayani para pasiennya di sana.


"Al ...." Ardi yang sudah mendahului masuk dan bergabung bersama beberapa orang yang sudah berada di dalam lift, memanggil Alya untuk memintanya segera masuk. Tangannya masih menekan tombol agar pintu tetap terbuka.


"Maaf, aku ke bawah dulu, Ren." Alya pamit dan buru-buru masuk ke dalam lift.


Rendy masih bisa menatap wajah tidak tenang Alya yang terus menunduk memperhatikan Aura, sebelum pintu lift benar-benar menutup rapat dan meninggalkan dirinya sendiri di tempat sepi tersebut.


"Sesayang itukah kamu pada bayi itu, Al, sehingga kamu sengaja mengalihkan jadwal tugasmu hanya demi menemani pemeriksaannya, bersama ayahnya yang tak lain adalah lelaki yang selama ini sangat kamu cintai ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2