CINTA NARA

CINTA NARA
2.97. KEBAIKAN BERBALAS KEBAIKAN


__ADS_3

"Mengapa Nara belum sadar juga, Dok?"


Sudah dua jam lebih Nara dipindahkan ke ruang perawatan, akan tetapi wanita itu masih belum sadarkan diri juga.


"Secara umum kondisi fisiknya sudah kembali normal dan baik-baik saja. Hanya saja kondisi psikisnya yang masih cukup mengkhawatirkan. Istri Anda mengalami trauma berulang dalam situasi yang berbeda-beda."


Yoga membenarkan penjelasan dokter syaraf yang datang untuk memeriksa keadaan Nara. Bahkan dokter yang sama yang dulu pernah ditemuinya saat menangani Alya tersebut juga menyarankan agar nantinya Nara melakukan konsultasi dengan seorang psikolog.


"Semakin cepat Ibu bertemu dengan psikolog maka akan semakin baik pula kondisinya, karena wanita hamil lebih peka perasaannya sehingga lebih mudah pula terbawa situasi emosionalnya."


Yoga mengerti hal tersebut dan mengiyakan anjuran yang disampaikan oleh dokter. Baginya kesembuhan Nara dan kesehatan calon bayi di dalam kandungannya adalah keutamaan yang harus dijaga dan dilindunginya.


"Bisakah saya bertemu dengan Dokter Alya untuk menanyakan kondisi kandungan istri saya, Dok?"


Sejak masuk ke ruang penanganan Alya sore tadi, Yoga belum bertemu lagi dengan Alya. Menurut perawat yang sebelumnya dia tanyai, Alya masih berada di dalam dan belum keluar.


Namun sampai Nara dipindahkan ke ruang perawatan pun, Alya belum menemuinya kembali.


"Bapak bisa menemui Ibu Nara di ruang perawatannya. Beliau masih beristirahat di sana setelah menyumbangkan darahnya untuk istri Anda."


Yoga terkejut mendengar jawaban dari dokter. Dia tidak tahu dan tidak menyangka bahwa Alya adalah orang yang telah mendonorkan darahnya untuk Nara.


Dia sama sekali melupakan bahwa golongan darah mereka sama, begitu pun dengan Bunga. Oleh sebab itu tanpa berpikir panjang lagi, Alya mengajukan diri untuk diambil darahnya dengan segera sore tadi, setelah dia memastikan bahwa kondisi kandungan Nara baik-baik saja.


.


.


.


"Kamu selalu mengutamakan orang lain dibandingkan kondisimu sendiri, Al."


Usai menyelesaikan pekerjaannya sendiri, Rendy segera menemui Alya dan menemaninya untuk memulihkan kondisi setelah diambil banyak darahnya demi menyelamatkan Nara.


"Aku tidak apa-apa, Ren. Hanya sedikit lelah saja. Sebentar lagi juga akan membaik."


Rendy menyiapkan makan malam untuk wanita yang dicintainya, yang baru saja diantarkan oleh karyawan bagian dapur.


Alya segera mengambil posisi duduk dan mengambil alih nampan berisi makanan yang dibawakan lelaki itu untuknya.


"Terima kasih. Aku bisa makan sendiri."

__ADS_1


Seperti biasanya, Alya tetap menjaga jarak dan membatasi kedekatannya dengan Rendy meskipun setiap hari mereka sering melewatkan waktu bersama.


Dia tidak ingin terlihat memberikan harapan pada dokter tulang itu sementara kenyataannya hatinya benar-benar tidak bisa menerima perasaan yang dimiliki oleh lelaki itu untuk dirinya.


Rendy menghela napas dengan hati yang lapang. Meskipun sudah terbiasa dengan perlakuan Nara yang demikian, tidak bisa dipungkiri jika sesekali hatinya masih merasakan sedikit kekecewaan atas penolakan Alya terhadapnya.


Namun lagi-lagi dia selalu menanggapinya dengan senyuman yang menghiasi wajah tenangnya disertai dengan sikapnya yang senantiasa lembut kepada Alya.


Alya mulai menikmati makan malamnya dengan lahap agar tenaganya lekas pulih dan dia bisa segera pulang tepat waktu malam ini.


Wanita itu tidak ingin membuat orangtuanya khawatir jika dirinya pulang terlanbat atau bahkan sampai menginap di rumah sakit.


"Kamu belum makan lagi sejak siang tadi, Ren? Makanlah dulu sebelum tubuhmu menjadi lemah karena belum terisi makanan. Ada perawat yang akan menjagaku di sini."


Alya menghindari tatapan mata Rendy yang terus tertuju padanya sedari tadi. Dia menunduk dan fokus pada makanan di pangkuannya.


Aku sudah makan sebelum ke sini tadi." Rendy terpaksa berbohong agar Nara tidak merasa bersalah karenanya. Lagipula memang dirinya sendiri yang ingin segera bertemu dengan Alya dan tetap menemaninya.


Alya diam dan kembali melanjutkan makan malamnya dengan kondisi tubuh yang telah mulai segar kembali. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh pandangan mata Rendy yang tak pernah lepas memperhatikannya.


"Ternyata kebersamaan dan kedekatan kita selama ini tetap tidak bisa membuka hatimu dan mengubah perasaanmu kepadaku, Al."


Rendy tersenyum sendiri menyadari bahwa cintanya memang benar-benar bertepuk sebelah tangan, tanpa sedikit pun harapan.


Rendy tersenyum menatap lekat-lekat wanita yang terus menunduk untuk menghindari pandangannya tersebut.


"Aku akan menyerahkan semuanya pada takdirku. Tapi satu hal yang ingin selalu aku katakan dan aku akui padamu adalah, aku sangat mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia, Al."


.


.


.


Ketukan pintu yang memang dibiarkan terbuka oleh Rendy, menghentikan lamunannya di hadapan wanita pujaannya. Alya yang sudah menyelesaikan makan malamnya pun segera menghabiskan minuman yang tersedia.


Rendy mengambil nampan di pangkuannya dan meletakkan di atas meja. Kemudian dia berdiri dan menyambut kedatangan seseorang yang sudah cukup lama berdiri mempehatikan kebersamaan mereka sebelum mengetuk pintu tadi.


"Selamat malam. Maaf jika saya mengganggu."


Alya merapikan pakaian dan hijabnya lalu menutup bagian bawah tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Selamat malam, Pak Yoga. Silakan masuk."


Dokter kandungan Nara tersebut tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memberikan salam kepada suami dari wanita yang baru saja ditolongnya.


Yoga menganggukkan kepala seraya berjalan masuk dan bersalaman dengan Rendy yang menyambutnya dengan senyum ramah bersahaja.


"Bagaimana kondisi Nara, Pak? Maaf saya belum bisa mengunjunginya. Sebenarnya sebelum pulang nanti, saya akan menemui Nara di ruangannya. Tapi justru Anda yang lebih dulu datang kemari."


Alya berusaha menunjukkan wajah cerahnya dengan keramahan dan senyumannya, untuk menutupi rasa lemas yang sebenarnya masih sedikit dirasakannya.


"Dia masih tertidur lelap. Dokter memberinya suntikan penenang agar kondisinya terkendali saat bangun nanti."


Alya mengangguk dan mengerti apa yang dimaksud oleh Yoga. Dia pernah mengalaminya bahkan sampai saat ini pun, trauma itu belum sepenuhnya hilang dari dalam dirinya.


"Jangan khawatir, Nara akan baik-baik saja dan kondisi kandungannya juga tidak banyak terpengaruh oleh kondisi ibunya yang sempat hilang kesadaran cukup lama."


Yoga mengangguk dan terus mendengarkan Alya yang masih meneruskan ucapannya.


"Hanya sempat menurun dan melemah karena syok yang dialami Nara sebelum pingsan, juga efek dari benturan yang mungkin dialaminya saat terjatuh di lantai."


Alya memastikan pada Yoga bahwa calon anak mereka selamat dan dalam kondisi yang sehat di dalam kandungan Nara.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Dokter Alya untuk Nara. Kalau bukan karena darah dari Anda, mungkin Nara akan tertunda penanganannya dan bisa saja mempengaruhi kehamilannya."


"Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati Anda, Dokter. Semoga kesehatan Anda lekas pulih seperti sedia kala."


Alya terus tersenyum dan menyampaikan doa dan harapan yang sama untuk kesembuhan Nara secepatnya.


"Keluarga Anda sudah banyak sekali membantu saya, Pak Yoga. Hanya bantuan kecil ini yang bisa saya lakukan untuk sedikit membalas kebaikan kalian."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2