CINTA NARA

CINTA NARA
2.71. BELUM YAKIN


__ADS_3

Di rumah orangtua Nara, Raga masih ceria bermain bersama Rizka yang tengah menikmati libur kuliahnya, usai beberapa minggu kemarin menjalani ujian yang menguras pikirannya.


"Om Inda ...!" Tiba-tiba Raga berseru sambil menunjuk ke arah pintu depan yang terbuka lebar.


Rizka segera berdiri begitu melihat suaminya benar-benar pulang dan tengah berjalan ke arah mereka.


"Kak, kok sudah pulang?" Rizka mencium tangan suaminya lalu mendampingi Raga yang juga ikut berdiri dan mengikuti apa yang dilakukan tantenya.


Indra mencium kening istrinya lalu beralih ke pipi gembul keponakannya.


"Karena kamu libur, Sayang. Makanya aku ingin mengajakmu makan siang di luar."


Rizka melebarkan senyumannya. Karena kesibukan masing-masing, sudah lama mereka tidak pergi berdua walau sekedar makan bersama.


"Tapi waktunya hanya sebentar, Kak. Kita ke tempat Mama saja, ya? Sekalian mengunjungi Mama."


Indra mengangguk. Sudah satu bulan lebih Rizka tidak bertemu mamanya, pasti dia sudah sangat merindukannya.


"Nanti kamu bisa menungguku di restoran. Sepulang kerja, aku akan menjemputmu lagi di sana, Sayang."


Wajah Rizka semakin berbinar mendengar jika Indra akan meninggalkannya lebih lama bersama sang mama.


"Terima kasih, Kak. Aku ganti baju dulu, ya." Rizka bergegas menuju kamar, meninggalkan Raga yang sudah asyik bermain bersama Indra.


Tak lama kemudian wanita muda itu sudah keluar dengan pakaian yang lebih rapi. Dia menggendong Raga dan menitipkannya pada Mbak Indah yang ikut tinggal di sana.


Setelah pamit pada Ibu dan Bapak, pasangan muda itu segera berangkat menuju ke restoran Tante Arum.


Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di restoran dan disambut oleh Tante Arum. Rizka segera memeluk erat mamanya yang sudah satu bulan lebih tak sempat dijumpainya.


"Sudah kangen-kangenannya. Nanti dilanjutkan lagi kalau suamimu sudah kembali ke kantor. Sekarang layani dia dulu untuk makan siang, keburu waktu istirahatnya habis, Nak."


Tante Arum melepaskan pelukan putri kesayangannya dan mempersilakan mereka menikmati makan siang yang telah disiapkan, karena di perjalanan tadi Rizka sudah menghubungi sang mama.


Tante Arum meninggalkan mereka berdua dan kembali ke meja pemesanan untuk memberi waktu keduanya supaya bisa menikmati kebersamaan.


"Ini, Kak. Segera dimakan, nanti kamu terlambat kembali ke kantor."


Rizka meletakkan sepiring sajian makan siang lengkap di meja tepat di hadapan suaminya, lalu duduk di samping Indra.


"Aku ingin disuapi, Sayang. Boleh?" Indra merajuk dengan tatapan memanja pada istrinya yang seketika merona dan tersipu malu.

__ADS_1


Rizka mengangguk lalu mengambil sendok yang ada di piring Indra dan mulai melakukan apa yang menjadi keinginan suaminya.


Dengan wajah bahagia Indra menerima suapan demi suapan dari tangan istrinya, dan sesekali ikut menyuapi Rizka dengan sendok yang lain.


"Kakak tidak malu, disuapi di depan umum seperti ini?" Sebenarnya Rizka menahan malu karena sang suami ikut menyuapinya tanpa henti.


Indra menggelengkan kepala dengan tegas. Dia bisa memahami sikap istrinya yang sering kali masih terlihat sangat polos dan santun.


"Kita adalah suami-istri, Sayang. Saling bersikap mesra dan penuh perhatian adalah salah satu cara untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga, agar cinta dan kasih sayang kita selalu bisa dirasakan oleh pasangan kita secara nyata."


Indra berusaha memberikan pengertian kepada istrinya, agar Rizka terbiasa dengan sikap dan perhatian yang ingin selalu ditunjukkannya pada wanita muda yang menggemaskan hingga ke hatinya.


"Jangan merasa malu jika aku sering berlaku romantis di setiap kesempatan, Sayang. Dan jangan malu untuk menunjukkan hal yang sama kepadaku, karena aku juga ingin merasa dimanjakan dan diistimewakan olehmu."


Semakin hari Rizka memang mulai terbiasa dengan sikap dan perhatian Indra yang selalu membuatnya merasa tersanjung. Dia pun mulai berusaha untuk mengimbanginya dan membalas dengan perlakuan yang sama, walaupun belum berani dilakukannya di hadapan orang lain.


Karena waktu istirahatnya terbatas, usai menghabiskan makan siangnya Indra pamit untuk kembali ke kantor dan meninggalkan Rizka bersama mamanya lebih dulu.


"Jangan nakal dan jangan merepotkan Mama. Aku akan segera menjemputmu setelah pekerjaanku sekesai," pesan Indra pada istrinya.


Rizka mengangguk lalu meraih tangan kanan sang suami untuk diciumnya.


"Hati-hati, Kak. Aku menunggumu."


"Saya titip Rizka sebentar, Ma." Indra mencium tangan mertuanya.


"Iya. Jangan khawatirkan dia." Tante Arum menepuk bahu menantunya dengan sayang.


Setelah Indra masuk ke dalam mobil dan melajukannya mejinggalkan area restaran, Mama mengajak Rizka masuk ke ruangannya untuk beristirahat dan melepas rindu.


Baru saja masuk melewati pintu, tiba-tiba Rizka merasa pusing dan perutnya serasa diaduk-aduk. Segera dia lari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan cairan bening yang terasa sangat pahit di mulutnya.


"Rizka, kamu kenapa, Nak?" Tante Arum ikut panik dan menyusul ke kamar mandi yang dibiarkan terbuka oleh putrinya.


Setelah beberapa kali muntah, Rizka berkumur dan membasuh wajahnya yang telah berubah pucat dan tidak nyaman.


Sang mama segera mengambil segelas air hangat dan meminta Rizka segera meminumnya. Tanpa menunggu lagi wanita muda itu segera meneguknya dengan cepat hingga tandas.


Tante Arum menyuruh putrinya tiduran di sofa untuk meredakan pusing yang masih dirasakannya.


"Kamu baru datang bulan? Kok mendadak lemas begini?"

__ADS_1


Rizka menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan mamanya.


"Aku ... aku malah sudah terlambat, Ma. Harusnya sudah dua minggu yang lalu ...."


Rizka memberanikan diri menatap mamanya dengan pandangan sayu.


"Jadi? Itu berarti kamu hamil, Nak?" Antara senang dan bingung Tante Arum mencoba menebak apa yang terlintas di dalam pikirannya seketika itu.


"Aku juga belum yakin, Ma. Aku masih takut untuk memeriksanya. Tapi aku ...." Rizka memotong kalimatnya sendiri.


"Tapi apa, Nak? Katakan saja pada Mama." Tante Arum duduk di tepi sofa, sambil menggenggam tangan lemas sang putri.


Rizka memberanikan diri untuk bercerita pada mamanya, seperti kebiasaannya dulu yang tidak pernah menyembunyikan apa pun dari sang mama.


"Seingatku, bulan lalu aku beberapa kali melupakan pil yang seharusnya rutin aku minum setiap hari, Ma." Saat itu dia tengah disibukkan dengan banyaknya tugas kuliah yang menumpuk.


Jika benar kedua hal tersebut berhubungan, maka dugaan Rizka pasti tidak meleset.


"Aku sudah membeli tespek, tapi masih takut untuk mencobanya ...," jujur Rizka apa-adanya.


"Waktu paling efektif untuk menggunakannya adalah pagi hari setelah bangun tidur. Tapi coba saja kamu pakai sekarang dan besok pagi bisa kamu ulangi lagi." Tante Arum memberi jalan tengah, selagi sang putri bersamanya.


Akhirnya Rizka patuh dan mengambil tespek yang disimpannya di dalam tas. Dengan hati berdebar-debar antara takut dan penasaran, dia membaca petunjuknya lebih dulu lalu melangkah pelan dan mengunci dirinya di dalam kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, wanita muda nan mungil itu membuka pintu dan keluar. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi dengan menggenggam erat tespek di tangannya.


"Apa hasilnya, Nak?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2