
Malam menjelang, setelah Yoga dan Nara menghabiskan waktu dari siang sampai sore hari hanya untuk melakukan bulan madu yang sesungguhnya, hingga mereka benar-benar menikmati keintiman berdua tanpa ada gangguan sama sekali.
"Terima kasih, Mas. Kejutanmu selalu tak terduga dan membuatku semakin merasa disayang dan dicintai olehmu."
Tanpa ada rasa malu lagi, Nara memeluk erat tubuh suaminya dari belakang, saat Yoga berada di dapur dan tengah menyeduh kopi dan cokelat panas untuk mereka berdua.
Selesai dengan dua cangkir minuman yang dibuatnya, Yoga berbalik dan membalas pelukan istrinya dengan tubuh saling berhadapan.
"Aku memang menyayangimu dan mencintaimu, Sayang. Apa kamu masih meragukan aku, huumm ...?"
Yoga mencium kening istrinya sekilas lalu kembali menatap Nara yang menggeleng dan tersenyum sangat manis.
"Bagaimana mungkin aku meragukanmu, sedangkan perhatian dan kasih sayangmu selalu aku rasakan setiap waktu tanpa henti. Aku begitu tersanjung dengan semua perlakuanmu kepadaku, Mas."
Tanpa ragu wanita itu berjinjit kecil dan mencium kedua pipi suaminya bergantian.
"Aku juga sangat menyayangimu dan mencintaimu, Mas. Terus perlakukan aku seperti ini agar aku tak pernah bisa jauh darimu, walaupun hanya sebentar saja."
Tangan Yoga sudah berpindah dari pinggang ke atas, menangkup wajah Nara yang selalu membayangi pikirannya setiap saat tanpa jeda.
"Tak akan pernah kubiarkan kamu jauh dariku, Sayang. Kamu milikku. Hanya milikku seorang!"
Yoga mencium kening istrinya dengan lembut, penuh kehangatan dan cinta kasih. Hatinya bergetar merasakan betapa besar dan dalamnya rasa cinta yang dimilikinya untuk wanita di hadapannya saat ini.
Jiwa dan raganya, segala hal darinya hanya akan diserahkan pada Nara, wanita satu-satunya pemilik hatinya seutuhnya. Dalam pejaman matanya dia memanjatkan doa dan memohon penjagaan dan perlindungan atas cinta suci mereka.
Nara meresapi ciuman dari Yoga, suami yang sangat dicintainya. Dalam hatinya dia melantunkan sebait doa, agar kisah cinta mereka selalu terjaga dengan segala kebaikan untuk semakin menguatkannya, dan dijauhkan dari semua keburukan yang hendak melemahkannya.
Yoga melepaskan ciuman panjangnya dan memeluk Nara dengan erat, menepikan semua sekat hingga tubuh mereka menjadi semakin dekat dan rapat.
Nara membalas pelukan sang suami sama eratnya hingga degup jantung mereka terdengar beradu satu sama lain, seolah saling memberikan kehidupan dan harapan yang sama untuk kebahagiaan keduanya.
Usai memuaskan diri saling memadu rasa hati, mereka melepaskan pelukan dan saling melemparkan senyuman dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
Yoga membawa kedua cangkir minuman buatannya dan mengajak sang istri menuju teras belakang untuk duduk bersama melepas lelah, setelah apa sudah mereka lakukan berdua tanpa henti seharian tadi.
.
.
__ADS_1
.
"Mas, bangun, Mas!"
Nara membangunkan suaminya dengan sentuhan lembut tangannya dan bisikan lirih di telinganya. Yoga bereaksi, menggeliat pelan dan membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Masih malam, Sayang. Ayo, tidurlah lagi!"
Kembali memejamkan mata, tangan Yoga menarik tubuh istrinya yang sudah duduk hingga kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuhnya dengan wajah saling berhadapan.
Dikuncinya tubuh Nara dengan pelukan kedua tangannya, namun wanita itu tetap berusaha mengangkat tubuhnya lagi dan menopangkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Yoga.
"Mas ..., ini sudah hampir subuh. Buka matamu, bangun dan temani aku jalan-jalan di pantai."
Yoga membuka matanya dan mendapati wajah kesayangannya masih berada di hadapannya.
"Kamu ingin ke pantai?" tanyanya dengan suara berat nan serak khas bangun tidur.
Nara menganggukkan kepala lalu melabuhkan satu ciuman pembuka hari di kening suami tercintanya.
"Ciuman selamat pagi bukan di situ, Sayang ...."
Yoga terbangun sepenuhnya lalu kedua tangannya meraih wajah Nara dan menariknya pelan semakin ke bawah ke arah wajahnya.
Yoga menyambut bibir sang istri dengan bibirnya lalu menyatukannya dengan segera dan menggerakkannya perlahan sampai Nara mulai membalas dan mengimbanginya.
Beberapa saat kemudian Nara melepaskan ciumannya dan menarik wajahnya menjauh. Dia duduk tegak di samping Yoga yang masih tersenyum manja dengan tubuh telentang dan tatapan mata yang teduh memandang wajah istrinya yang masih merona.
Setelah tiba waktunya, berdua mereka turun dari tempat tidur dan bersiap untuk melaksanakan kewajiban. Setelah itu Nara membuka pintu belakang dan berjalan hingga ke ujung teras.
Dia mendekap tubuhnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin dan basah dari sapuan angin pantai yang menyapa kulit wajah dan tubuhnya.
Tiba-tiba dirasakannya pelukan hangat dari belakang, yang mengungkung tubuhnya dan menghalau rasa dingin yang semula dirasakannya.
"Selamat pagi, Sayang."
Yoga mendekap erat tubuh Nara dan berbagi rasa hangat di kedua tubuh mereka. Diciumnya pipi dan bahu sang istri, membuat Nara menggeliat pelan lalu berbalik menghadapnya.
"Selamat pagi, Mas."
__ADS_1
Nara membalasnya dengan ciuman sayang di kedua pipi suaminya, membuat Yoga melebarkan senyuman bahagia di bibirnya.
Setelah melakukan ritual pagi penuh kemesraan, mereka berjalan bergandengan tangan menuju tepi pantai yang mulai terang temaram oleh langit di ufuk timur yang mulai menampakkan warna paginya.
Yoga dan Nara berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai di sekitar villa, menikmati suasana yang masih sunyi dan sepi. Hanya suara riak pantai dan deburan ombak kecil yang terdengar memecah keheningan pagi yang indah.
Langit di ufuk timur mulai menampakkan sinar terangnya, membuat wajah keduanya mulai terlihat satu sama lain. Yoga menahan langkah mereka dan berdiri berhadapan dengan dua tangan yang saling menggenggam di samping tubuh mereka.
Nara menatap Yoga yang juga menatapnya dengan dalam. Mata bertemu mata, ditemani riak pantai yang tenang dan pelan menyentuh jemari kaki mereka.
Yoga mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nara dan mencium lembut keningnya. Setelah itu dia menyatukan kening mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan dengan mata yang saling terpejam.
Nafas mereka berhembus pelan saling menerpa wajah yang begitu dekat dan telah menghangat sedari tadi.
"Sayang, apa pun yang terjadi, jangan pernah kita berhenti saling mencintai. Jika ada ujian dan cobaan yang datang menghampiri, ingatlah selalu cinta kita, perjuangan kita menyatukannya, dan kita pasti bisa melewati semuanya bersama-sama."
Yoga berucap tenang tanpa melepaskan kedua wajah mereka yang masih bersentuhan dan saling menutup mata.
"Mungkin di depan sana akan ada banyak rintangan dalam perjalanan kita, Mas. Tetapi apa pun itu, tetap genggam tanganku selalu. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama dengan keyakinan dan cinta kita."
Nara membalasnya dengan suara lembut yang menenangkan hati, membuat Yoga merasakan getaran indah kembali menyapa dinding hatinya.
Mereka membuka mata dan saling menarik wajah hingga bisa saling menatap dan memaku pandangan satu sama lain dengan teduh dan penuh kasih, tanpa sedetik pun melepaskan pandangan dan genggamannya.
"Aku mencintaimu, Bidadariku. Kita akan selalu bersama melewati suka-duka kehidupan dengan kekuatan cinta kita. Cinta suci kita."
"Aku juga mencintaimu, Imamku. Selamanya kita akan selalu bersama dengan cinta kita yang telah teruji kuat dan hebatnya. Cinta kita adalah cinta yang terbaik."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.