
Ardi benar-benar serius dengan pernyataannya saat berada di rumah sakit malam itu. Dua hari berikutnya setelah Aura sehat dan kembali tinggal di rumah Yoga, dia membawa sang putri berkunjung ke rumah Alya untuk bertemu kedua orangtuanya.
Bertepatan dengan libur akhir pekan, Alya yang tidak bekerja pun terkejut dengan kedatangan mereka. Dirinya memang tidak diberitahu sebelumnya oleh Ardi jika lelaki itu akan datang secara khusus untuk bertemu Papa dan Mama.
Awalnya dia mengira bahwa Ardi akan menjemput untuk menghabiskan waktu liburnya di luar rumah. Ternyata dugaannya salah. Ardi muncul bersama Aura dengan penampilan yang lebih rapi dan semakin menawan.
Tanpa persiapan sama sekali, Alya dan kedua orangtuanya menyambut Ardi dan putrinya dengan kondisi rumah apa-adanya.
"Tidak perlu repot-repot, Om, Tante. Saya datang kemari hanya ingin bertemu dan meminta izin kepada Om dan Tante."
Ardi mencegah Mama yang hendak beranjak ke dapur dan mempersilakan beliau duduk kembali bersama Papa. Sementara itu Alya yang semakin gugup dan salah tingkah, memilih untuk bermain bersama Aura di samping Ardi yang tampak duduk dengan tenang dan percaya diri.
Saat kedua orangtua Alya telah siap mendengarkan, dengan lancar Ardi menyampaikan maksud kedatangannya. Tanpa terlewatkan sedikit pun, Ardi menceritakan kisah antara dirinya dan Alya, dari awal sampai dengan saat ini.
Dulu, meskipun menjalin kasih cukup lama bersama Alya, sekali pun lelaki itu belum pernah bertemu dengan kedua orangtua Alya.
Kala itu, Alya yang kuliahnya dibiayai oleh orangtua Riko, tidak ingin mengecewakan papa dan mamanya. Oleh karena itu dia sengaja menyembunyikan jalinan cintanya dengan Ardi dari keluarganya juga keluarga Riko.
Sayangnya, karena sikapnya tersebut orangtua Riko menganggap dirinya masih sendiri dan hanya berpikir untuk menyelesaikan kuliah saja. Hingga akhirnya tanpa diduga, tiba-tiba mereka meminangnya untuk dinikahkan dengan Riko.
"Saya minta maaf karena dulu tidak berterus terang tentang hubungan kami. Jujur, saya menyesal telah melepaskan Alya begitu saja dan tidak memperjuangkannya lebih dulu dengan menemui Om dan Tante." Ardi menyampaikan semua sebagaimana perasaan yang ada di hatinya.
"Waktu itu saya berpikir, keputusan orangtua tidak mungkin kami tentang. Apalagi dengan latar belakang cerita mengenai kebaikan hati keluarga mereka."
Mendengar penuturan Ardi, Alya mengingat pertemuan terakhir mereka ketika itu. Saat mereka memutuskan untuk berpisah karena dia harus menenuhi permintaan orangtuanya yang sudah menerima lamaran dari orangtua Riko.
Air mata luruh tanpa bisa dicegah. Sambil memangku Aura yang terlihat bingung dan terus memperhatikan dengan mata polosnya, Alya mencoba untuk menampakkan senyumannya pada bayi cantik itu.
Tak disangka, tiba-tiba tangan mungil Aura terulur ke wajah Alya, lalu dengan sikap spontannya dia menyentuh air mata yang membasahi wajah wanita keibuan yang memangkunya, seolah ingin menyeka dan menghentikan.
__ADS_1
Ardi yang tengah menjeda cerita dan menoleh ke samping, segera memberikan sapu tangannya untuk Alya. Cepat-cepat wanita anggun itu menerima dan membersihkan wajahnya dengan pandangan Aura hanya menatapnya lugu dengan bibir yang terbuka menggemaskan.
Setelah memastikan Alya kembali tenang, Ardi mulai menyampaikan keinginan dan niat tulusnya terhadap wanita cinta pertamanya tersebut.
"Saya memohon izin dari Om dan Tante untuk bisa menjadikan Alya sebagai teman hidup. Saya ingin menunjukkan keseriusan saya dengan memintanya secara langsung kepada Om dan Tante."
Sekali lagi Ardi menatap Alya dengan tatapan yang semakin dalam dan penuh cinta.
"Kami ingin memulainya dari sekarang dan mempersiapkan hati kami untuk melangkah dengan doa restu orangtua, menuju hubungan yang lebih baik hingga ikatan suci menyatukan kami nantinya."
Alya tak bisa membendung tangisannya lagi. Wanita lemah hati itu memeluk Aura agar bersandar di bahunya, guna menyembunyikan air mata yang kian deras mengalir.
Lagi-lagi sapu tangan yang sudah sedikit basah menjadi penyeka di wajah Alya yang semakin merah dan sembab. Ardi menghela napas sedalam mungkin untuk menahan rasa yang sama, ingin meneteskan air mata.
Sebagai jawaban atas niat baik dan keseriusan Ardi, Papa tidak banyak berbicara dan membalas. Kali ini beliau menyerahkan sepenuhnya kepada putri semata wayang yang sangat disayanginya. Doa restu sudah pasti diberikan dengan sepenuh hati.
"Kami sudah membuat satu kesalahan dengan pernikahan Alya sebelumnya. Sekarang kami akan menyerahkan semua keputusan pada putri kami."
Bayangan kebahagiaan yang akan dimiliki oleh Alya semakin terlihat nyata saat dua orang lanjut usia itu memperhatikan kehangatan hubungan di antara ketiganya.
"Dia yang berhak menentukan pilihan dan memantapkan hati untuk meraih kebahagiaannya sendiri. Kami hanya bisa merestui dan selalu memberikan doa yang terbaik."
Senyum bahagia mengembang di bibir Ardi seiring pancaran kelegaan di wajahnya yang semakin cerah. Sekali lagi ditatapnya wajah ayu nan anggun di sampingnya, yang dengan penuh ketulusan terus memangku dan menimang putrinya dengan sayang.
"Alya ...," panggilnya dengan suara lirih nan lembut, membuat wanita di sampingnya menoleh dan menatapnya dengan sendu.
Ardi menunggu jawaban dari Alya. Dia ingin mendengar Alya mengatakan dan memastikan lagi di hadapan orangtuanya.
"Bu-bu ... Ya-ya ... aaaa ...."
__ADS_1
Celoteh panggilan Aura menerbitkan senyuman di bibir Alya. Dia mencium kedua pipi tomat bayi kesayangannya hingga terdengar kekehan riang dari mulut mungil putri kecil Ardi.
Setelah memangku Aura menghadap ke depan, sekali lagi wanita berhijab anggun itu menatap Ardi dengan getaran yang terasa indah di hatinya. Kemudian pandangannya beralih kepada Papa dan Mama, dua orang yang sangat dikasihi dan dihormatinya.
"Aku menerimanya, Pa, Ma. Aku akan belajar membuka hatiku dan menyembuhkan luka lama yang ada di sana bersamanya. Aku percaya Ardi bisa membantuku untuk melupakan semuanya dan memulai hubungan baru yang lebih baik sebagaimana harapan kami berdua."
Kedua orangtua Alya mengucap syukur dengan raut bahagia di wajah yang telah menua dan mulai berkeriput. Ardi pun melakukannya seraya mengusap wajahnya yang telah mengulas senyuman bahagia.
"Terima kasih, Alya." Berulang kali lelaki itu menghela napas dalam-dalam guna meredakan gejolak yang tengah membuncah di hatinya.
"Mulai sekarang jadikan aku sebagai tempatmu berbagi segala hal. Jangan pernah menyimpan apa pun sendiri. Ada aku yang akan selalu mendampingi melawan ketakutan dan melepaskan belenggu masa lalumu. Kita akan bersama-sama menghadapi semuanya."
Alya mengangguk dan membalas senyuman lelaki yang selalu dicintainya tanpa henti. Dalam hati dia telah memupuk harap, semoga bisa secepatnya menepis dan membuang jauh bayang-bayang kelam masa lalu, yang masih sering hadir melemahkan hati dan jiwanya.
"Aku percaya padamu, Ardi."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.