CINTA NARA

CINTA NARA
Penulis


__ADS_3

Kepopuleran Nara membuatnya menjadi sangat sibuk. Hanya butuh waktu 3 bulan setelah novelnya beredar di pasaran toko buku ternama di Jakarta. Banyak undangan datang dari berbagai stasiun TV , radio dan beberapa komunitas menulis yang meminta kehadiran Nara sebagai bintang tamu dan nara sumber.


Hari - hari yang melelahkan bagi Nara. Ia tak pernah menyangka bisa menjadi penulis terkenal. Semua hal bisa menjadi ide buatnya untuk menulis.


Nara sangat produktif membuat untaian kata menjadi sebuah cerita yang menarik. Sebuah novel baru telah ia keluarkan kembali.


Novel tersebut telah beredar di pasaran bursa toko buku ternama di berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Mengagumkan ... , semua orang yang membaca tulisannya bisa hanyut terbawa suasana hati sang penulis romance ini.


Seiring dengan kesuksesan Nara menjadi penulis. Ada seseorang yang dengan setia menjadi kekasihnya. Arif, nama pria itu.


Arif merasa kian jauh dari sosok yang dicintainya itu.


Di suatu sore di saat senja menghampiri malam. Arif dan Nara bertemu di sebuah cafe di Jalan Kenari. Rinai hujan selalu saja hadir saat mereka berdua membuat janji untuk bertemu.


Bukan salahnya hujan. Bukan musim hujan tetap saja gerimis hadir menemani sepasang kekasih ini. Duduk santai berdua seperti ini sudah jarang mereka lakoni. Mengingat kesibukan yang menyita waktu mereka berdua.


"Nara ... , 2 bulan lagi aku akan wisuda. Sekitar akhir agustus. Aku harus pulang ke Bengkulu. Apakah kau akan mengikuti kepulanganku atau tetap tinggal di Jakarta? " ucap Arif sambil menikmati hidangan mie goreng seafood.


"Aku ingin bisa pulang menemanimu. Tapi banyak kontrak kerja yang ingin aku selesaikan dulu, " jawab Nara sambil menyantap mie goreng seafood pesanannya.


"Mungkin awal tahun depan saja aku pulang. Sementara aku di Jakarta dulu, " ucap Nara kembali.


"Aku ingin melamarmu dihadapan orang tuamu Nara. Aku ingin kita menikah, " ucap Arif sambil menatap lekat mata Nara.


"Secepat itu ... , " mulut nara tercekat mendengar pernyataan Arif yang tiba - tiba.


"Apakah kau tak ingin menikah denganku ! " ucap Arif pelan.


"Mau ... tapi tidak secepat itu, " ucap Nara sedikit berbohong. Tak terbesit dihatinya untuk menikah secepat itu apalagi bersama Arif.


Kemudian Nara dan Arif saling diam. Keduanya tenggelam dalam lamunan masing - masing. Nara terlalu banyak ambisinya. Banyak hal yang belum tercapai dalam hidupnya.


Nara ingin melihat Angga dan Dina porak poranda hubungan percintaanya. Rasanya belum puas hatinya menyaksikan sendiri kandasnya hubungan mereka. Memang terlalu kejam seorang sahabat yang ingin melihat sahabatnya menderita. Tak mengapalah toh Nara cuma berpura - pura bersahabat dengan Dina.


Lama juga mereka berdua terdiam. Sampai akhirnya Arif yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Tak mengapa. Aku akan selalu menunggumu, Nara ? " lirih suara Arif.


Nara hanya tersenyum getir. Ada segelitik perih yang tergores dihatinya. Hatinya belum rela untuk mengganti sosok Angga dengan seseorang selain dia.


Drret ... drett ....


Bunyi getar handphone Nara bergetar. Ternyata ada seseorang yang menelpon Nara.


"Assalamualaikum, " suara perempuan di ujung telepon.


"Waalaikum salam, " jawab Nara.


"Sore mbak. Saya Dara dari Ikapi Jabar. Akan mengadakan Book fair tanggal 27 Juli di Bandung. Mbak diundang sebagai bintang tamu dalam jumpa bedah buku mbak Ara Dilla. "


"Akhir bulan depan ya mbak. Mbak, aku minta dikirim draff proposal acaranya. Biar aku pelajari dulu. Insya Allah aku bisa hadir dalam acara itu, " jawab Nara.


"Iya mbak, nanti aku kirimin draffnya. Makasih sebelumnya. Assalamualaikum , " Dara mengakhiri teleponnya.


"Waalaikum salam. " Nara kemudian membuka jadwal agenda kegiatannya dalam ponselnya. Akhir Juli minggu terakhir. Tampaknya belum ada jadwal kegiatannya.


Seharusnya bulan Juni ini Arif sedang libur kuliah. Tapi ia tak ingin pulang ke Bengkulu. Ia Ingin selalu menemani Nara saat berada di Jakarta. Tak tega meninggalkan kekasihnya itu sendirian. Lagian tinggal 2 bulan lagi ia akan wisuda. Dan itu ... berarti ia akan pulang ke Bengkulu. Masa tugas belajarnya telah berakhir.


"Nara ! kita pulang yuk, " ajak Arif memecah konsentrasi Nara.


" Iya , " jawab Nara. Kemudian terdengar suara adzan magrib berkumandang. Setelah Arif membayar tagihan makanan kepada seorang mbak kasir yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Nara.


Setelah Arif membayar lunas pada mbak kasir cafe. Arif dan Nara beranjak meninggalkan cafe. Sebelum kaki mereka ke luar dari pintu cafe. Mbak itu mencegat langkah kaki keduanya. "Mbak ... tunggu ! maaf mbak, mbak yang namanya Ara Dilla ya !! " ucap mbak kasir setengah berteriak terengah - engah mengejar Nara dan Arif. Ia memegang sebuah buku, novel.


Nara dan Arif kemudian berbalik badan


"Iya , saya Ara Dilla."


"Alhamdulillah, ini benar mbak Ara ! saya pengagum berat novel yang mbak buat, "ucapnya sambil menunjukan novelnya Nara.


Nara melihat novel itu dalam genggaman mbak kasir cafe. "Terimakasih ya ! sudah membaca novelnya." Nara lalu menyunggingkan senyum dibibirnya.

__ADS_1


"Mbak ... aku mau minta tanda tangannya, " ucapnya seraya menyodorkan novel pada Nara. Lalu Nara mengambil novel itu. Ia meletakan buku novel itu disalah satu meja cafe. Lalu ia membubuhkan tanda tangan dan nama penanya pada novel itu pada kertas setelah cover novel.


Bukan main senangnya mbak kasir cafe itu. Ia mengucapkan banyak terimakasih pada Nara. Nara pun demikian tak henti mengucapkan terimakasih pada mbak kasir cafe yang telah membeli bukunya. Tak banyak zaman sekarang orang - orang yang rajin membeli buku.


Kemudian Nara dan Arif pulang ke kosan masing - masing. Mereka berpisah di persimpangan jalan. Melambaikan tangan perpisahan.


"""'''''''''''


Seminggu kemudian. Tibalah hari pembukaan islamic book fair yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno. Acara ini berlangsung selama 5 hari berturut - turut. Nara turut diundang dalam acara bedah buku tersebut. Buku yang dibedah adalah novel Nara sendiri.


Nara mengisi acara pada hari keempat. Jatuh pada hari sabtu pukul 16.00 - 17.30 Wib. Bersama Arif Nara pergi ke GBK. Dengan naik taxi keduanya tiba di GBK.


Tiba saatnya pembawa acara memanggil nama Ara Dilla untuk maju kedepan podium.


"Kita sambut penulis muda dan berbakat, Ara Dilla, " suara pembawa acara membahana di dalam ruangan GBK.


Gemuruh tepuk tangan penonton menyambut sang penulis muda dan berbakat ini. Riuh rendah suara penonton yang ingin melihat secara langsung "Ara Dilla". Sang penulis romance yang religius.


Nara lalu berdiri setelah namanya dipanggil. Nara menggunakan gamis berwarna aprikot. Dengan kerudung panjang berwarna coklat muda. Penampilan Dina sangat memesona. Arif begitu bahagia bisa menjadi kekasih Nara. Kekasih impiannya sedari remaja. Binar - binar cinta terpancar dalam kedua bola mata.


"Assalamualaikum waromatullah hiwabarakatu, selamat sore semuanya. Terimakasih sudah datang dalam acara bedah buku bersama saya, Ara Dilla, " sapa Nara kepada hadirin. Lalu ia duduk kembali pada tempat duduknya.


Semua orang memandang takjub sang penulis. Dipandu pembawa acara beberapa orang boleh bertanya langsung kepada penulisnya. Boleh tentang tips cara menemukan ide dalam menulis. Dan terakhir bedah novel Nara yang berjudul Penakluk Hati.


Arif duduk di bawah podium. Duduk diantara orang - orang pecinta dunia literasi. Menjadi suatu kebanggaan pada dirinya. Bisa memiliki Nara sebagai kekasihnya. Semoga hubungannya bersama Nara berlanjut kejenjang pernikahan.


Hampir 1, 5 jam acara bedah buku bersama penulisnya. Semua merasa cukup puas jawaban yang diberikan oleh Ara Dilla. Sebelumnya Ara Dilla meninggalkan podium. Semua penonton yang ingin berfoto bersama Ara Dilla maju ke depan podium.


Semua tersenyum bahagia bisa berfoto bersama penulis novel kesayangan mereka. Arif pun turut berfoto bersama. Tersungging senyum di wajah Nara. Bahagia tiada terkira. Sujud syukurnya pada Allah. Mempermudah jalannya menjadi penulis.


Terlintas ingatannya dimasa kecil. Gadis kecil merengek meminta dibelikan sebuah komik kesayangannya. Namun saat itu ibu tidak punya uang untuk membelikannya. Nara hanya menangis tersedu - sedu di dalam kamar seorang diri. Sampai akhirnya ibu meminjam uang untuk bisa membelikan komik kesayangan anaknya.Tak terasa setetes embun membasahi kedua sudut matanya.


Membaca komik adalah hobi Nara kecil. Saking hobinya membaca. Banyak ide - ide bermunculan di kepalanya. Banyak tulisan atau cerpen yang ia buat. Terbesit di hati Nara kecil menjadi penulis.


Nara bertekad akan terus menulis sampai ia benar - benar tak bisa menulis lagi. Selagi ia masih bisa bernafas dan selagi karyanya masih dinikmati orang. Maka ia akan terus menulis. "Ara Dilla sang penulis, " batin Nara. Kemudian Nara dan Arif meninggalkan hingar bingar acara Ini. Meninggalkan perhelatan acara islamic book fair.

__ADS_1


__ADS_2