
Alya tersenyum lemah saat melihat Nara dan Yoga berdiri di samping pembaringannya.
"Nara ..., Pak Yoga ...." Suaranya berat dan parau.
Pandangannya masih sedikit buram tapi dia tetap bisa mengenali dengan pasti pasangan suami-istri yang sangat serasi dan selalu romantis tersebut.
"Syukurlah Dokter segera siuman. Kami sangat mengkhawatirkan kondisi Anda."
Nara lebih mendekat dan menyentuh tangan Alya dengan lembut dan sangat hati-hati.
"Terima kasih atas waktu dan perhatiannya, Pak Yoga. Saya jadi merasa sungkan." Alya mencoba untuk mengangguk pelan meskipun kepalanya masih terasa berat dan sakit.
"Jangan dipaksakan. Istirahat saja." Yoga membalas singkat dengan anggukan yang sama.
"Sayang, aku tinggal keluar dulu sebentar. Kamu temani saja Dokter Alya."
"Ya, Mas." Nara tersenyum saat Yoga meninggalkan satu ciuman di kepalanya sebelum berbalik dan melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.
Alya ingin bergerak tapi tak bisa. Semuamya masih terasa sakit meskipun dia sudah mendapatkan suntikan pereda nyeri untuk sementara waktu.
"Dokter mau minum?"
Tanpa menunggu jawaban, Nara segera mengambil gelas berisi air putih yang sudah tersedia. Lalu dengan bantuan sendok kecil yang ada, disuapinya Alya sedikit demi sedikit dengan penuh perhatian.
Tanpa sadar pandangan Alya kembali memburam karena genangan air mata di kedua pelupuknya. Rasa haru menyeruak di hatinya melihat ketulusan Nara dan suaminya yang dengan suka rela menjaga dan menemaninya.
"Dokter kok menangis?"
Nara meletakkan gelas dan sendok yang dipegangnya ke atas meja, lalu beralih memegang tangan dokter ayu itu dan menggenggamnya untuk memberinya kekuatan.
"Aku ingat Mama dan Papa di sana. Jika aku yang masih muda saja sakit dan tak berdaya seperti ini, bagaimana dengan mereka yang sudah lanjut usia dan jauh dari aku, anak satu-satunya?"
Air mata Alya tumpah begitu saja, mengalir membasahi wajahnya yang masih pucat pasi. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya seperti pesan orangtuanya saat terakhir dia pulang beberapa waktu yang lalu.
Nara ikut larut dalam kesedihan Alya. Sama dengan dokter itu, dia juga tahu bagaimana rasanya hidup jauh dari orangtua dan merindukan kehadiran mereka, apalagi di saat-saat seperti yang tengah Alya alami sekarang.
Dulu, dirinya juga merasakan kesedihan Alya saat ini, saat harus dirawat pasca penculikan dan keguguran yang dialaminya, yang akhirnya mempertemukan dia dengan dokter berhijab amggun tersebut hingga saat ini mereka mulai berteman baik.
Bedanya, dia masih didampingi oleh Yoga suaminya dan beberapa orang terdekat yang tinggal bersama mereka. Sementara Alya hidup seorang diri di kota perantauannya ini, tanpa satu pun sanak-saudara yang berada di dekatnya.
Nara menghapus butiran air mata yang telanjur lolos membasahi pipinya, lalu dilanjutkan dengan membersihkan wajah basah Alya akibat tangisannya yang mengalir deras.
__ADS_1
"Mereka pasti baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya, karena putrinya senantiasa mendoakan dari sini."
Alya mengangguk sebagai ucapan terima kasih karena telah menenangkan hatinya sehingga dirinya merasa lebih baik kemudian.
"Terima kasih, Ra. Kamu dan Pak Yoga sangat baik terhadapku."
Nara hanya tersenyum tanpa ingin menjawabnya. Ada satu hal yang ingin ditanyakannya pada Alya, tapi entah waktunya tepat atau tidak untuk saat ini.
"Dok, bolehkah saya menanyakan sesuatu tentang kejadian ini? "
Meskipun Yoga sudah berpesan untuk tidak dulu menanyakan perihal kronologi jatuhnya Alya, namun Nara tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya yang besar yang membuatnya penasaran.
"Apa? Katakan saja." Alya menunggu sambil menahan sakit di kepalanya. Dia mencoba untuk menutupi tapi Nara sudah lebih dulu melihat kesakitan itu.
Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menekan tombol di atas pembaringan agar ada perawat atau dokter yang datang untuk memeriksa kondisi Alya yang tampak kesakitan.
Yoga mengikuti dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan dan berhenti di samping sofa. Nara yang melihatnya bergegas melangkah mendekati sang suami yang langsung memeluknya dari samping.
"Dokter Alya kesakitan, Mas. Sepertinya luka di kepala itu yang menjadi penyebabnya." Nara membalas pelukan Yoga dengan erat.
"Apa kamu menanyakan sesuatu kepadanya?" Yoga sepertinya tahu niatan istrinya semula.
Nara mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu seraya menggeleng pasti.
Yoga menghela nafas kasar, sedikit kecewa karena Nara tidak mendengarkan larangannya dan hampir saja memperparah kondisi Alya.
"Maaf ...." Nara masih menatap ke arah suaminya dan menunggu hingga akhirnya Yoga tersenyum dan mengusap kepalanya dengan sayang.
Nara merasa lega dan bahagia, suaminya tidak sampai marah karena sikapnya yang hampir saja melanggar larangannya.
"Terima kasih, Mas." Nara merapatkan pelukannya dan merebahkan kepalanya di atas dada Yoga.
Sesaat mereka terdiam dan terus memperhatikan dokter dan perawat yang masih menangani Alya.
"Siapa yang akan menjaga Dokter Alya jika kita pulang nanti, Mas?"
Sebelum istrinya bertanya, Yoga sudah lebih dulu mengatisipasi hal tersebut seperti sebelumnya.
"Jangan khawatir. Aku sudah mengurus semuanya, Sayang."
Yoga mengusapi lengan Nara yang direngkuhnya membuat wanita itu menghela nafas lega.
__ADS_1
Dokter sudah berjalan menjauh dari pembaringan dan hendak keluar namun dengan cepat dihentkan langkahnya oleh Yoga untuk menanyakan keadaan Alya.
"Dokter Alya hanya butuh istirahat dengan perasaan yang tenang dan tidak terbebani oleh hal apa pun yang dapat menegangkan pikirannya."
"Apakah ada ha serius yang mengganggu pikirannya saat ini?" tanya Yoga yang juga menjadi pertanyaan bagi Nara.
"Bisakah Pak Yoga ikut ke ruangan saya? Saya akan menjelaskannya di sana."
Rupanya dokter tersebut mengenali Yoga dan sudah diberi tahu oleh bagian administrasi bahwa lelaki itu yang akan menjadi penanggung jawab dan perwakilan dari keluarga Alya.
"Sayang, aku akan ikut dengan Dokter ke ruangannya. Tetaplah di sini bersama Dokter Alya."
Yoga melepaskan pelukannya dan segera mengikuti langkah sang dokter keluar dari ruangan Alya.
Sampai di ruangan dokter yang ternyata beliau adalah dokter spesialis saraf, Yoga mendapatkan beberapa penjelasan dari dokter tersebut.
"Cidera dalam di bagian kepalanya sebenarnya tidak terlalu parah. Hanya saja, jika diagnosa saya tidak salah, Dokter Alya pernah mengalami kejadian yang menimbulkan rasa trauma di dalam dirinya."
"Dan sayangnya, dia memendam sendiri semua itu dan menyembunyikannya dari semua orang di sekitarnya."
Yoga tahu itu. Semua kisah masa lalu Alya tentang berbagai kekerasan yang dialaminya dan diterimanya dari Riko, mantan suami yang sangat membenci dirinya.
"Kalau boleh saya memberikan saran, sebaiknya Dokter Alya menjalani konseling dengan seorang psikolog, agar dia bisa melepaskan diri dari rasa traumanya."
Yoga mengingat semua pernyataan dokter di hadapannya. Pikirannya kini tertuju pada sosok seseorang yang telah membuat Alya merasakan kekerasan fisik dan tekanan mental, yang membuatnya mengalami trauma berkepanjangan.
"Lelaki seperti dia memang harus diberi pelajaran yang setimpal, meskipun Alya pasti memilih untuk memaafkannya dan tidak ingin memperpanjang masalah."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.