CINTA NARA

CINTA NARA
2.18. HANYA WAJAHMU


__ADS_3

"Mbak Embun sudah lama membuka galeri batik ini?" tanya Nara usai makan siang bersama di kafe yang terletak di seberang galeri milik Embun.


Berdua mereka menyeberang jalan dengan hati-hati karena ramainya situasi lalu-lintas di sekitar mereka.


"Kalau galeri ini baru aku buka dua tahun yang lalu setelah anak kami mulai duduk di bangku sekolah dasar. Tapi aku masih mempunyai satu toko lain yang merupakan peninggalan dari almarhumah ibuku."


Mereka sampai di depan galeri dan Embun mengajak Nara masuk lalu menuju ke ruang kerjanya yang dibatasi oleh dinding kaca kesrluruhan, sehingga mereka bisa berbincang sambil memperhatikan suasana di dalam galeri.


"Oya, waktu makan siang pertama kita dulu, kalian mengenakan koleksi batik dari galeriku, kan?" Ternyata Embun jeli dan selalu mengingat satu per satu koleksinya.


"Iya, Mbak. Aku memesannya secara online," jawab Nara dengan senyuman malu.


"Minggu ini galeriku mengeluarkan produk baru untuk seragam keluarga di mana pembeli bisa memesan sesuai ukuran putra-putra mereka."


Embun menjeda ucapannya sembari mengambil satu paperbag berlabelkan galerinya lalu menyerahkannya pada Nara yang duduk bersamanya di sofa.


"Dan ini, aku sudah menyiapkan satu seragam khusus untuk keluarga kalian. Semoga kalian berkenan menerima dan memakainya."


Nara terkejut karena tak menyangka akan menerima bingkisan istimewa dari teman barunya di kota ini. Nara membukanya dan mengeluarkan brosur kecil yang menampilkan keseluruhan jenis, model dan warna dari seragam keluarga tersebut.


Setelah melihat gambarnya, Nara tertarik untuk melihat salah satu dari pakaian yang ada di dalam paperbag tersebut. Dan tangannya menarik keluar bungkusan yang paling kecil yang berisi kemeja baik seukuran Raga.


"Mbak, corak batiknya indah sekali dan kombinasi motifnya sangat menarik," puji Nara tulus setelah merentangkan kemeja untuk putranya tersebut.


"Ini adalah desain terbaru kami. Dan warna yang aku pilih coba aku sesuaikan dengan warna kesukaan keluarga kalian yaitu abu tua."


"Terima kasih banyak, Mbak. Mas Yoga pasti menyukainya dan kami pasti akan memakainya nanti." Nara memeluk Embun dengan erat.


Setelah Nara melipat kembali kemeja Raga dan memasukkannya ke dalam paperbag, mereka melanjutkan obrolan mereka dan membahas banyak sekali hal hingga tak terasa sore mulai menjelang.


Mengendarai mobil masing-masing, Alam datang bersama dengan Yoga yang hendak menjemput sang istri. Setelah menutup perbincangan hangat mereka, Nara pun pamit pada Embun dan Alam, demikian juga Yoga.


Membawa paperbag yang diberikan oleh Embun, Nara berjalan dengan menggandeng tangan suaminya, menuju mobil mereka yang terparkir tepat di depan galeri.


"Mas, Mbak Embun memberikan bingkisan untuk kita bertiga."


"Apa, Sayang?" tanya lelaki yang tengah fokus dengan kemudinya itu.


"Ini. Batik seragam untuk kita sekeluarga. Koleksi terbaru dan desain terbaru yang baru saja mereka keluarkan minggu ini."


Nara menunjukkan paperbag yang dipangkunya. Lalu setelah itu dia bercerita tentang kebersamaannya dengan Embun hari ini.


Sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Yoga mendengarkan cerita Nara sambil sesekali menoleh sekilas sekedar untuk menatap wajah sang istri yang terlihat begitu bahagia.

__ADS_1


"Teruslah seperti ini, Sayang. Tersenyum bahagia dan selalu penuh keceriaan."


.


.


.


Setiap malam tiba, Yoga masih waspada dan selalu diliputi kecemasan akan kondisi Nara.


Hampir di setiap tidurnya entah siang maupun malam, Nara masih sering merintih ketakutan, seolah terbayang kejadian di mana dia diculik dan disekap oleh lelaki yang terobsesi dan mencintainya dengan cara di luar kewarasan.


"Mas, peluk aku. Aku takut ...."


Cepat-cepat Yoga merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya, lalu disandarkan kepala Nara di atas dadanya yang bidang agar wanita itu merasa lebih tenang dan semakin nyaman.


"Sudah, Sayang. Sekarang pejamkan matamu. Bayangkan semua hal indah yang kita miliki bersama, agar kamu lebih mudah terlelap dan melupakan semua ketakutanmu."


Nara mengangguk dalam pelukan suaminya. Dirasakannya tangan Yoga mendekap tubuhnya dengan erat, membuatnya merasakan kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuh.


"Selamat tidur, Bidadariku. Bermimpilah tentang kita, tentang cinta dan kebahagiaan kita. Aku mencintaimu."


Yoga melabuhkan ciuman di kepala Nara yang dibalas oleh wanita itu dengan ciuman lembut di dada suaminya, membuat lelaki itu merasakan getaran indah di hatinya.


"Selamat malam, Mas. Aku juga mencintaimu."


Yoga masih membuka matanya. Dia selalu menunggu dan memastikan istrinya telah terlelap dan tidur dengan tenang. Tangan Nara yang memeluknya erat mulai merenggang dan terkulai lemas di atas dadanya.


Hati-hati Yoga meraih ponsel yang berada di atas kepalanya. Dengan tetap memeluk istrinya, dia membuka laman pesan dan mulai menuliskan sesuatu untuk dikirimkannya pada seseorang.


"Pastikan dia mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Dan pastikan juga dia tidak akan mendapatkan ketenangan sedikit pun di dalam sana!"


Yoga tidak pernah main-main dengan setiap orang yang berani mengusik kehidupannya, terlebih jika itu menyangkut istri dan anaknya. Baginya kebahagiaan mereka adalah sebuah keutamaan.


Setelah menghubungi salah seorang dari tim pengacaranya, Yoga mematikan gawainya dan meletakkannya kembali.


Baru saja dia mulai memejamkan mata, terdengar suara lirih Nara di dalam pelukannya.


"Dia tidak menyentuhku .... Dia berbohong ...."


Hati Yoga terasa begitu perih seolah tengah teriris dan melukainya begitu dalam. Dia tidak tega melihat istrinya terus diselimuti ketakutan karena bayangan penganiayaan yang dialaminya.


"Jangan mendekat .... Jangan menyentuhku ...."

__ADS_1


Inilah yang selalu dikhawatirkan oleh Yoga. Bayangan kejadian buruk itu masih terus menghantui pikiran Nara. Kecemasan akan kekerasan yang dirasakannya membuat jiwanya dilanda ketakutan yang terus mengganggu ketenangan dirinya.


"Ssttt ..., tenanglah, Sayang. Tidurlah kembali. Aku akan selalu menjagamu di sini."


Yoga mempererat pelukannya agar Nara merasakan dekapan hangatnya. Diciuminya puncak kepala sang istri dan dilantunkannya rangkaian doa terbaik untuk kesembuhan wanita tercintanya.


"Mas ..., jangan pergi .... Jangan tinggalkan aku .... Aku takut ...."


Hiks ... hikss ... hiksss ....


Setengah sadar Nara terisak, membuat tubuhnya terguncang di dalam pelukan suaminya.


Yoga menahan kesedihannya dan membersihkan matanya yang mulai terasa basah, tak ingin sang istri sampai mengetahuinya.


"Aku di sini, Sayang. Aku selalu bersamamu. Jangan takut, tidurlah kembali."


Memeluk dan mengusapi punggung istrinya dengan teratur dan terus-menerus, Yoga berusaha untuk membuat istrinya kembali terlelap tanpa rasa gelisah.


Meskipun istrinya sudah bersikeras menolak untuk bertemu dengan psikolog lagi, namun diam-diam Yoga masih terus berkonsultasi dengannya.


Dia meminta petunjuk dari psikolog tersebut agar dirinya bisa menghadapi sang istri saat trauma dan ketakutan akan kejadian buruk itu kembali mengganggu pikiran Nara seperti saat ini.


Nara membuka mata agar bayangan menakutkan itu sirna dari pikirannya. Wajahnya terangkat ke atas, mencari wajah sang suami untuk dipandanginya tanpa henti.


Tangannya bergerak pelan menyentuh wajah suaminya yang kini telah menunduk dan menyatukan pandangan mereka.


Yoga melabuhkan ciuman hangat di kening sang istri membuat wanita itu merasakan kesejukan di relung sanubarinya.


Ditelusurinya wajah Yoga dengan seksama, mencoba mengingat setiap lekukan yang terpahat indah membentuk paras menawan lelaki yang dicintainya itu. Dia ingin mematri wajah rupawan itu di hati dan jiwanya.


"Aku hanya ingin mengingat satu wajah lelaki di dalam pikiranku. Hanya wajahmu, wajah lelaki yang sangat aku cintai."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2