
Untuk kesekian kalinya Nara harus menghadapi kenyataan pahit ini. Menunggu kabar suaminya yang masih ditangani di dalam ruang perawatan intensif, setelah didapati olehnya tak sadarkan diri di dalam kamar mereka.
"Ya Allah, hamba mohon jangan ambil dia. Jangan ambil suami hamba. Jangan ambil ayah dari anak hamba. Kami masih sangat membutuhkannya. Kami sangat membutuhkan kehadirannya ...."
Nara bersujud lama, beralaskan karpet musholla rumah sakit yang telah didudukinya sejak tadi. Dia memilih menunggu di tempat ini, agar hatinya lebih tenang berdoa dan memanjatkan permohonannya.
Masih terbayang jelas di pelupuk matanya, tangisan yang pecah diiringi teriakan histeris darinya saat melihat Yoga roboh tak sadarkan diri di pangkuannya. Seketika beberapa orang datang dan terlihat sama paniknya dengan dirinya.
Dokter Danu yang turut menjadi salah satu tamu undangan mereka dengan sigap langsung memeriksa kondisi Yoga, sementara Ardi segera menghubungi pihak rumah sakit agar mempersiapkan segala sesuatunya untuk proses penanganan Yoga sebentar lagi.
Pak Budi dan beberapa pengawal dengan cepat menyiapkan mobil untuk membawa atasan mereka ke rumah sakit.
Dokter Danu dibantu Ardi dan Bapak membopong tubuh Yoga dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit. Nara turut serta menemani suaminya dengan kepanikan disertai hujan air mata.
Sedangkan Raga yang telah tertidur pulas, berada dalam gendongan Ibu yang ditemani oleh Bunga dan Bibi Asih, menunggu kabar di rumah dengan perasaan gelisah, khawatir dan penuh kesedihan.
Di tengah khusyuknya berdoanya di dalam musholla, seseorang datang menghampiri dan menepuk pundaknya. Saat Nara menoleh dan menatapnya, tangisannya kian tumpah tak terkendali lagi di dalam pelukan seseorang tersebut.
"Kamu harus kuat. Ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi nanti. Tak baik meratapi keadaan karena di balik kesedihan kita saat ini, kita tidak pernah tahu akan seperti apa kehidupan kita ke depannya."
Nara mendengarkannya sambil terus membayangkan wajah dan senyuman Yoga yang selalu melekat di benaknya.
"Jika memang sudah menjadi jalan takdir-Nya, kita bisa apa? Berserah diri saja pada Allah, maka hati kita akan merasa lebih tenang menghadapi semuanya."
Nara hanya bisa mengangguk dan terus melepaskan kesedihan juga ketakutannya melalui derasnya air mata yang mengalir tanpa henti.
Dalam sekejap mata, kebahagiaan yang baru saja dirasakannya telah berubah menjadi kesedihan luar biasa yang hanya bisa dilampiaskannya dengan tangisan, berharap hatinya lebih tenang dan ikhlas setelahnya nanti.
Masih tergiang dengan jelas di telinganya, ucapan Dokter Danu di dalam mobil tadi, saat perjalanan mereka menuju ke rumah sakit.
"Saya tidak bermaksud mendahului kehendak Yang di Atas, tapi kali ini kita harus bersiap untuk kemungkinan yang paling buruk."
__ADS_1
Nara semakin meraung di pelukan seseorang yang masih menemani di sampingnya. Berdua mereka duduk bersimpuh, melantunkan doa tiada putus dalam hati, sama-sama memohon yang terbaik dan tetap berharap masih ada keajaiban yang Allah berikan untuk Yoga.
Nara tidak yakin akan mendapatkannya lagi, mengingat sudah beberapa kali Allah memberikan kesempatan bagi Yoga untuk bertahan dan akhirnya kembali bersamanya, yang mana itu telah dianggapnya sebagai sebuah keajaiban.
Di antara vonis dokter yang selalu mengatakan bahwa harapan hidup Yoga hanya tinggal menunggu tibanya waktu dari Yang Maha Kuasa, nyatanya sudah beberapa kali Yoga masih kembali dari koma dan tidur panjangnya, meskipun dokter sudah angkat tangan dengan segala usahanya.
Dan sekarang, setelah yang terakhir kalinya, hampir dua bulan lamanya Yoga mendapatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya, masih pantaskah Nara terus-menerus memohon akan datangnya keajaiban itu lagi?
Tidak! Nara tidak ingin menjadi hamba yang serakah hanya karena keberuntungan yang masih terus didapatkannya selama ini, sehingga mengubah dirinya menjadi hamba yang penuntut dan terus meminta dengan harapan terlampau tinggi pada Sang Maha Pemberi Hidup.
Sementara dia tahu, kondisi Yoga memang sudah berada di ujung nyawa, titik terakhir dari perjalanan panjang kehidupan yang telah dilaluinya.
Beberapa kali kesempatan baik dari Allah telah membuat Yoga berada di sisinya lebih lama, bahkan bisa menyelamatkan hidupnya dari kecelakaan fatal kala itu.
Allah pun telah memberikan kesempatan berikutnya sehingga Yoga bisa merasakan dan menikmati impìan terbesarnya yaitu memiliki Raga dan bisa merawat bayi mereka dengan bahagia selama empat bulan ini.
Yang terakhir, betapa Allah telah bermurah hati memberikan waktu pada Yoga untuk bisa mendengarkan pengakuan cinta darinya, saat hatinya lambat-laun mulai terbuka dan bisa mencintai lelaki itu sepenuh hati.
Itulah harapan terbesar Yoga yang akhirnya telah didapatkannya dengan memiliki dirinya, Raga dan pernikahan sesungguhnya yang baru saja mereka awali.
Lantas, masih pantaskah dia terus meminta pada Sang Penentu Takdir, sementara pada kenyataannya, sampai detik terakhir ini pun tidak ada donor jantung yang diterima Yoga untuk bisa menyambung nyawa kehidupannya?
Ikhlas. Hanya itu yang bisa Nara lakukan sekarang. Tak mudah memang, tapi dia harus bisa melakukannya agar Yoga pun tidak terus terbebani dengan banyaknya harapan dan permohonan di dalam hatinya, sehingga justru akan memberatkan langkah terakhir suaminya menuju ke pangkuan Sang Pencipta.
"Sayang, maaf ...."
Ucapan pertama yang didengar Nara dari bibir pucat suaminya, membuatnya semakin tak kuasa membendung air matanya.
Nara menggeleng dan mencoba untuk terus menampakkan senyumannya di hadapan Yoga yang terbaring sangat lemah dengan bunyi alat monitor di sampingnya yang teratur namun lambat.
Lelaki itu menarik tangan istrinya dan mendekapnya di atas dada. Detak jantung Yoga yang terasa melalui sentuhan tangan Nara, membuat wanita itu didera ketakutan yang semakin besar. Dia takut akan segera mendengar detakan terakhir dari jantung suaminya tersebut.
__ADS_1
"Jangan ucapkan kata maaf lagi. Aku di sini dan aku akan selalu menemanimu," ucap Nara dengan suara terbata-bata menahan isakannya.
Yoga menggeleng lemah dan terus memaku tatapannya pada paras cantik wanita yang sangat dicintainya tersebut. Cinta selamanya, cinta tiada akhir, meski maut akan memisahkan.
Cinta hingga ujung nyawa dan akhir kehidupannya, hingga nafas terakhir dan detak jantung terakhirnya menutup lembaran kisah hidup di antara mereka. Cinta sejati sampai mati, hingga kelak mereka dipertemukan kembali di kehidupan abadi.
"Waktuku telah habis, Sayang. Aku harus pergi."
Nara tidak tahu harus menjawab apa. Mengangguk untuk melepaskannya atau menggeleng untuk menahannya. Dia hanya bisa diam, berserah pada Allah, apa pun yang terbaik yang akan menjadi takdir bagi suaminya.
"Aku mencintaimu, Ga." Akhirnya hanya kalimat itu yang lolos dari bibir manis Nara, yang membuat Yoga tersenyum pasi mendengarnya.
"Aku mencintaimu, bukan karena saat ini atau masa lalu. Aku mencintaimu karena kenyamanan yang selalu kamu berikan kepadaku dari waktu ke waktu, hingga aku menjadi terbiasa karenanya dan merasakan kebahagiaan setiap kali bersamamu."
Sudut mata Yoga mengalirkan cairan bening yang turun hingga membasahi pipi dan telinganya. Cepat-cepat tangan Nara menyekanya dengan lembut lalu membelai wajah rupawan yang dulu sangat jarang dia perhatikan tetapi sekarang selalu dia rindukan.
Tanpa peduli ada Dokter Danu dan dokter lain juga perawat yang ada di dekat mereka, Yoga dan Nara terus mengunci pandangan dan berbicara dari hati ke hati, menikmati detik demi detik waktu yang masih bisa mereka lalui bersama, meskipun diliputi rasa haru dan pilu yang menyentuh kalbu.
"Tolong jaga Raga untukku. Pastikan dia selalu mengingat dan menyayangi ayahnya, meskipun aku sudah tidak bisa menggendongnya dan bermain bersamanya lagi. Katakan padanya bahwa aku sangat menyayanginya dan aku sangat bangga bisa menjadi ayahnya."
Nara terus membelai wajah yang semakin pucat itu. Ingin rasanya menumpahkan air mata di atas dada Yoga yang selama ini selalu memberinya ketenangan dan kenyamanan, namun dia tak bisa melakukannya. Dia harus menepis kerapuhan hatinya dan tetap terlihat kuat di hadapan lelaki itu.
Tiba-tiba seruan perawat yang berdiri di samping alat monitor yang terhubung dengan tubuh Yoga, membuat jantung Nara berdegup kencang hingga dirinya menahan nafas seketika.
"Dokter, denyut nadi pasien melemah dan detak jantungnya semakin cepat!"
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
💜Author💜