
"Jangan menolakku, Al," pinta Ardi dengan suara tenang.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," lanjutnya lagi tanpa ingin menerima keberatan dari Alya.
Wanita lembut itu hanya mengangguk, tak bisa lagi menghindari permintaan Ardi.
Setelah melewati drama pagi kerewelan Aura yang hanya mau dimandikan dan disuapi oleh Alya, akhirnya bayi cantik itu tertidur pulas karena lelah.
Ardi meninggalkan sang putri bersama Nara untuk mengantarkan Alya terlebih dahulu. Selain itu, ada seseorang yang ingin ditemuinya di sana untuk mengumpulkan informasi tentang Alya yang belum diketahuinya.
Memburu waktu agar dokter berhijab anggun yang akan diantarnya tidak datang terlambat, mereka segera masuk ke dalam mobil yang kemudian dilajukan oleh Ardi dengan hati-hati.
"Maafkan Aura yang terlalu manja dan menjadi sangat tergantung padamu, Al. Padahal di rumah, dia sangat sulit didekati oleh orang lain termasuk kakek dan neneknya sendiri."
Yoga membuka percakapan dengan Alya seputar putri kesayangannya yang sangat lengket pada wanita masa lalunya tersebut.
"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku senang melakukannya. Aura adalah bayi yang lucu dan sangat menggemaskan." Alya tersenyum membayangkan bayi lucu yang tengah mereka bicarakan.
"Entah mengapa, setelah bertemu lagi dengannya aku langsung merasa dekat dan sangat menyayangi Aura," jujur Alya apa-adanya.
Ardi menoleh sekilas ke samping, menatap wajah wanita yang dulu selalu mengisi hari-harinya dengan kenangan cinta terindah.
"Ketulusan dan kebaikan hatimu memang mudah membuat banyak orang terpikat padamu, Al. Dan aku adalah salah satunya ...."
Dokter duda itu tersenyum dan kembali menatap ke depan dengan hati yang semakin tak menentu.
"Dulu kamu adalah orang yang pertama kali memegangnya saat dia lahir ke dunia. Mungkin karena itulah, sekarang Aura begitu terikat dan sangat dekat denganmu, Al."
Ardi melayangkan ingatannya pada hari yang penuh kenangan segala rasa. Hari di mana Alya membantu Bunga dalam proses kelahiran bayi mungil kesayangan mereka, Aura.
Hari yang penuh drama dan air mata, antara datangnya kebahagiaan dan nyaris kehilangan yang harus dirasakannya dalam waktu yang bersamaan.
Lelaki itu kembali mengalihkan pandangan ke arah Alya dan menatap wajah yang tengah tersenyum dengan lembut sembari menatap ke arah depan tersebut.
Dulu, dialah wanita yang selalu hadir mengisi hari-harinya dengan kenangan cinta yang terindah. Wanita yang sangat dicintainya sepenuh hati, namun harus dia relakan untuk orang lain demi bakti kepada orangtua.
Dan sekarang, mereka dipertemukan kembali setelah kepergian Bunga, istri yang telah mendampinginya dengan cinta abadi dan memberinya seorang bayi mungil yang cantik jelita.
__ADS_1
Rasa cinta yang dulu sama-sama harus mereka tepikan, kembali hadir dengan segala keindahan yang sama seperti dulu, mencoba mengetuk pintu hati keduanya agar terbuka lagi untuk mengulang kisah asmara yang telah lalu.
"Apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku saat ini, Al? Aku tidak tahu, benar atau salahkah rasa yang hadir kembali kali ini. Yang aku tahu, aku mulai menikmati kehadiran rasa indah ini di hatiku."
Mobil mulai memasuki halaman rumah sakit dan berhenti tak jauh dari pintu utama. Saat melihat Alya hendak membuka pintu di sampingnya, Ardi menahannya dan meminta wanita berhijab itu untuk menunggunya.
Segera Ardi keluar lalu mengitari bagian depan mobil dan siap membukakan pintu untuk Alya yang masih menunggu di dalam mobil dengan senyuman yang disembunyikannya.
"Keluarlah. Aku akan mengantarmu lagi sampai ke atas."
Tanpa bisa menolak Alya turun dengan debaran keras di dalam hati. Ardi meletakkan tangannya di atas pintu untuk melindung kepala Alya agar tidak sampai terantuk atap mobil.
"Terima kasih." Di dalam hati, Alya merasa tersanjung oleh perhatian yang ditunjukkan Ardi untuk dirinya.
Wanita anggun itu merapikan pakaian dan hijab yang dikenakannya, sebelum mulai melangkah bersama Ardi di sampingnya, dengan senyuman keduanya yang saling ditunjukkan satu sama lain.
Tanpa Alya dan Ardi sadari, di belakang mereka, Rendy yang baru saja memarkir mobilnya tersenyum getir menatap dua orang di depannya tersebut, yang terus berjalan bersama memasuki lobi gedung dan menghilang dari pandangannya yang masih terdiam di dalam mobil.
"Senyuman kalian telah menunjukkan adanya rasa yang sama. Rasa yang memang tidak pernah hilang dari hati kalian dan sekarang bersemi kembali di saat kalian telah sama-sama menjalani kesendirian lagi."
.
.
.
"Jam sebelas siang, tapi setelah itu aku ada jadwal operasi jadi mungkin akan langsung ke klinik usai dari sini. Maaf jika siang nanti aku tidak bisa menemani Aura." Alya terlebih dahulu meminta maaf, padahal bukan itu maksud dari pertanyaan Ardi.
"Jangan pikirkan soal itu. Selesaikan saja tugas dan pekerjaanmu dengan baik," sahut Ardi untuk meluruskan pertanyaannya.
"Aku ingin mengantarmu ke klinik nanti. Apakah boleh, Al?" Mereka berdua berhenti dan berdiri tepat di depan ruang pemeriksaan Alya.
Hati Alya berdesir halus mendengar pertanyaan dari Ardi yang tidak disangkanya. Dipegangnya gagang pintu untuk menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari debaran keras yang terus berdentum dan menyesakkan dadanya.
"Mengapa dia mulai sering mendekatiku seperti ini? Apakah dia sudah mengetahui sesuatu tentang diriku ...?"
"Alya ...?" Panggilan Ardi membuyarkan rekaan di pikiran Alya.
__ADS_1
"Oh ... eh, iya. Tapi kasihan Aura kalau kamu sering meninggalkannya, Di. Lagipula aku masih bisa berangkat sendiri menggunakan taksi daring seperti biasanya."
Ardi menggeleng. Dia sedang tidak ingin menerima penolakan dari Alya. Dokter duda itu terus terngiang-ngiang peringatan dari Yoga untuk mencari tahu kebenaran tentang Alya sebelum dia dan Aura pulang kembali ke kotanya.
"Demi menjawab rasa penasaranku dan untuk memastikan perasaanku yang mulai bersemi kembali, aku harus segera mengetahui semuanya, Al."
"Aura tidak akan rewel jika ada Raga dan Nara bersamanya. Jadi, tunggu aku di sini dan aku akan menjemputmu nanti."
Alya hanya bisa mengangguk dan mengiyakan ucapan lelaki di hadapannya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu dan jangan lupa beristirahat." Kalimat itu mengalir begitu saja seperti sebuah kebiasaan, entah karena apa.
"Iya. Kamu juga hati-hati." Malu-malu Alya membalasnya dengan pesan yang terdengar manis di telinga Ardi, tanpa berani menatapnya sebab wajahnya sudah terasa menghangat.
Ardi mengembangkan senyuman di bibirnya manakala mendengar ucapan lirih nan lembut dari wanita anggun yang terus menghindari pandangannya. Hatinya membuncah bahagia hanya karena satu pesan dari wanita anggun itu.
Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh Alya, Ardi berbalik dan berjalan menuju tangga. Dia sengaja turun melalui tangga karena hari masih pagi dan suasana cukup lengang. Bisa sekalian berolah raga lagi.
Sampai di lantai bawah, dokter duda itu tidak langsung keluar menuju area parkir, melainkan berbelok ke arah kantin di bagian samping.
Kemarin sore, usai berbicara sebentar dengan seseorang yang menyapa dan mengenalinya, Ardi membuat janji lagi dengan seseorang tersebut untuk bertemu dan berbincang lebih lama pagi ini. Dia ingin menyelesaikan pencarian informasi tentang wanita masa lalunya, Alya.
"Semoga akan ada banyak hal yang aku ketahui setelah ini. Aku tidak ingin salah langkah dalam menyikapi perasaanku padamu saat ini."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.