
Di balik pintu, Yoga yang hendak masuk menahan langkahnya dan mendengarkan ucapan Ardi pada Alya tentang suaminya. Suami yang sudah sekian lama tidak dimiliki oleh wanita itu.
"Sampai kapan aku harus ikut menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Ardi? Bukankah sekarang status mereka telah sama-sama sendiri? Haruskah aku mendahului Alya dan mengatakannya pada Ardi?"
Ayah dari dua putra tampan itu menghela napas panjang dan tidak mengerti dengan jalan pikiran Alya yang bersikeras tidak ingin masuk ke dalam kehidupan Ardi lagi, padahal dia selalu mencintainya tanpa henti dan tak terbagi.
Ada ataupun tiada Bunga di sisi Ardi, dokter berhijab anggun itu tetap tidak ingin mengganggu kebahagiaan Ardi bersama putri kecilnya, Aura. Alya merasa tidak pantas untuk masuk ke dalam kehidupan bahagia Ardi, sekalipun lelaki itu kini telah sendiri sepertinya.
"Baiklah. Aku akan menunggu lagi untuk beberapa waktu ke depan. Jika kalian berdua masih tetap bersikap seperti ini, maka aku yang akan bertindak, apa pun keputusan kalian nantinya!"
Tok ... tokk ... tokkk ...!!!
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Yoga masuk kemudian menyapa Ardi dan Alya.
"Bagaimana keadaan Aura?" tanya Yoga pada sahabat kecilnya. Pandangannya langsung tertuju pada bayi mungil yang terus tertidur nyenyak itu.
"Mungkin karena masih ada pengaruh obat yang bekerja, dari tadi dia masih pulas seperti itu. Semoga nanti malam dia tidak rewel, agar tidak membuat panik kita berdua." Ardi mencoba mencairkan suasana dengan candaan kecilnya pada Yoga.
Selama Aura harus menginap di rumah sakit, atas ijin sang istri Yoga akan menemani Ardi di malam hari untuk menjaga putri kecil kesayangannya.
"Jangan khawatir, segera panggil perawat untuk datang kemari, jika kalian sudah tidak bisa menenangkan Aura. Maafkan aku karena tidak bisa ikut menemaninya di sini."
Alya menanggapi candaan Ardi dengan serius seolah dia pun merasa bersalah sebab harus pulang dan meninggalkan bayi mungil yang disayanginya itu.
"Walaupun bisa, aku harus tahu diri untuk tidak terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan kalian berdua. Aku percaya, waktu akan membuat kalian berdua terbiasa dengan kenyataan ini. Kalian berdua pasti bisa menjalani kebersamaan yang erat, dekat dan bahagia."
"Aku hanya becanda, Al. Lagipula selama ini aku sudah terbiasa menanganinya seorang diri. Setiap malam kami selalu tidur bersama dan sejauh ini Aura sama sekali tidak pernah merepotkan."
"Entah mengapa, hanya denganmu saja dia menjadi manja dan sangat dekat, Al. Bahkan dia pun memanggilmu dengan sebutan kesayangannya untuk Bunga." Ardi melanjutkan kalimatnya dalam hati.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Alya membersihkan meja dan memasukkan semua kemasan kosong bekas mereka ke dalam kantong lalu membuangnya ke dalam kotak sampah di luar ruangan.
Hanya tersisa kopi kesukaan Ardi yang masih ada di atas meja beserta kantong makanan yang baru saja dibawa oleh Yoga.
__ADS_1
Karena Yoga sudah datang, Alya berniat untuk segera pamit. Sebelumnya, dia berjalan mendekati pembaringan untuk melihat Aura dan meninggalkan ciuman sayang bertubi-tubi di seluruh wajah bayi mungil nan menggemaskan itu.
"Tante pulang dulu, Sayang. Besok pagi kita akan bertemu lagi. Cepatlah sembuh dan teruslah ceria agar Ayahmu selalu bahagia karenamu."
Alya mencium lama kening Aura disaksikan oleh Ardi yang ikut melangkah mendekati mereka.
Entah mengapa dia selalu menyukai dan menikmati momen setiap kali Alya mencium putri kecilnya. Bahkan dia bisa ikut merasakan ketulusan yang diungkapkan oleh wanita itu melalui setiap perhatiannya pada Aura.
"Hatimu sungguh luar biasa, Al. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang berubah darimu. Justru kamu semakin mengagumkan dengan kebaikan dan ketulusan hatimu."
Alya yang tidak menyadari keberadaan Ardi yang sudah ada di dekatnya, membalikkan tubuhnya dan menabrak begitu saja tubuh tegap Ardi yang tengah berdiri dengan tenang memperhatikan dirinya.
Bruukkk ...!!!
Alya mundur satu langkah dan mengangkat wajahnya. Tatapannya bersiroboh dengan tatapan Ardi yang sudah tertuju padanya lebih dulu.
Tak terelakkan lagi, dua pasang mata yang tanpa terduga saling memaku pandangan itu terkunci untuk beberapa saat. Ada getaran yang sama mereka rasakan di dalam hati. Sama seperti waktu itu, di masa yang telah lalu.
Saat kesadaran penuhnya kembali, Alya mengerjap lalu mengalihkan tatapan ke arah kosong di sekitarnya.
Alya merapikan hijabnya yang sempat terantuk kepala Ardi. Dan sekali lagi Ardi terpaku menatapnya masih dalam jarak yang tak tersekat lebar. Dekat dan sangat jelas.
"Aku pamit du ... lu ...." Alya mematung saat menyadari Ardi masih menatapnya dan memperhatikan tingkah lakunya dengan pandangan yang sangat dalam.
"A-aku ... Aku pulang sekarang." Tanpa menghiraukan Ardi yang masih terpaku, Alya bergeser ke samping lalu melangkah maju meninggalkan lelaki yang membuat sanubarinya berdebar dahsyat dan bergetar hebat karenanya.
Melewati Yoga yang tengah melakukan panggilan suara dengan Nara di sofa, Alya memberikan tanda pamitan dengan kedua tangannya yang tertangkup di depan dada, kemudian bergegas keluar meninggalkan ruang perawatan Aura.
Yoga yang tidak memperhatikan apa yang terjadi sebelumnya, menghentikan pembicaraan dengan istrinya sejenak dan melihat ke arah Ardi ynag masih berdiri terpaku di samping pembaringan.
"Di, apa yang terjadi? Mengapa Dokter Alya pulang dengan terburu-buru seperti itu?" tanya ayah dua putra tersebut tanpa menutup panggilan pada Nara, sehingga sang istri bisa ikut mendengarkannya.
Tanpa membalikkan badan, Ardi juga memberi tanda dengan mengangkat tangan kanannya ke atas, kemudian mengusap kasar wajahnya dengan rasa penyesalan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab dokter duda itu singkat, namun hatinya masih dipenuhi pikiran tentang Alya yang pergi begitu saja karena ulahnya yang tak terkendali.
"Maafkan aku, Al. Aku tidak bisa mengendalikan diriku dan pandanganku terhadapmu. Entah mengapa aku telah lancang memperhatikan dirimu diam-diam seperti tadi ...."
Ardi duduk di tepi pembaringan dan tetap menyembunyikan wajahnya yang masih memerah penuh penyesalan dari Yoga.
Tak mau menganggu sang sahabat yang mungkin belum ingin bercerita, Yoga membiarkan Ardi dan kembali melanjutkan perbincangan dengan istri tercintanya.
Sementara itu di luar ruangan, Alya masih terdiam bersandar pada dinding dan mencoba menenangkan perasaannya yang masih bergejolak dan penuh debaran.
Memejamkan mata dan mulai mengatur napasnya yang masih terasa sesak dan memburu, wanita berhijab itu membersihkan wajahnya yang telah dibasahi air mata.
"Maafkan aku, Di. Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku dan meninggalkanmu begitu saja. Semoga kamu tidak tersinggung karena sikapku tadi ...."
Setelah merasa tenang kembali, Alya menegakkan tubuhnya dan mulai melangkah lagi untuk turun ke bawah sembari mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi daring.
Belum sempat dibukanya kunci layar di genggamannya, sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya kembali.
"Masih bolehkah aku mengantarmu pulang?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.