CINTA NARA

CINTA NARA
2.51. CINTA LUAR BIASA


__ADS_3

Alya berdiri dengan tubuh yang mendadak lemas. Dia meminta perawat untuk memanggil dokter pengganti dan melanjutkan pemeriksaan pasien berikutnya.


Setelah meminta waktu istirahat sejenak, Alya berjalan pelan dan masuk ke ruangan pribadinya di belakang ruang pemeriksaan. Tak lupa dia membawa serta tas dan ponselnya jika sewaktu-waktu dia ingin pulang.


Selain terhubung dengan ruang pemeriksaan, ruang pribadi tersebut juga mempunyai pintu utama yang menghadap ke koridor klinik pada sisi yang lainnya.


Mengunci kedua pintu ruanganl dengan cepat, Alya kemudian menghambur dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi telungkup.


Wajahnya terbenam dalam bantal dengan isakan lirih yang terdengar kemudian.


Hiks ... hiikss ... hiiiksss ...!!!


Wanita yang biasanya terlihat tegar dan penuh senyuman itu kini hanya bisa menangis meratapi kejadian yang melemahkan dirinya. Semua yang baru saja dialaminya terjadi begitu mendadak dan di luar dugaan sama sekali.


"Mengapa aku harus bertemu lagi dengannya? Mengapa dia masih terus menggangguku?"


Alya berbalik badan menjadi telentang dengan guling yang dipeluknya di atas tubuh.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa dia terus menyalahkan diriku? Apa yang telah aku perbuat sehingga dia begitu murka terhadapku?"


Sampai sekarang pun dia dan keluarganya juga belum mengetahui siapa sebenarnya yang telah mengirimkan bukti-bukti kejahatan Riko kepada Alya selama ini, hingga akhirnya kedua keluarga mengetahui kebenaran tentang kandasnya pernikahan mereka.


Alya memang tidak tahu-menahu tentang semua yang dilakukan oleh Yoga untuk menghentikan tindakan kasar dan semena-mena Riko terhadap dirinya.


Namun imbasnya, dialah yang menjadi sasaran tuduhan Riko. Lelaki itu semakin membencinya dan ingin membalaskan semua dendamnya pada Alya.


.


.


.


Di kantornya, Yoga masih menyusun rencana untuk menghentikan tindakan Riko yang semakin tak terkendali.


Dia bukannya tidak tahu jika Alya yang kini harus menanggung imbas dari semua campur tangannya membereskan masalah Riko.


Riko semakin membenci Alya dan ingin menghancurkan wanita itu lantaran dianggap telah berani melawan dan membuka rahasia besar mereka sehingga kedua keluarga akhirnya mengetahui semuanya.


Karenanya dia tengah berusaha untuk mencari titik kelemahan lelaki itu, agar bisa segera mengunci pergerakannya dan membuatnya berhenti mengganggu dan melukai Alya lagi.


"Mas, aku perhatikan dari tadi, kamu kelihatannya sangat suntuk. Apakah masih berhubungan dengan masalah yang tadi?"

__ADS_1


Nara yang baru datang dari pantri, menghampiri suaminya dan menyerahkan secangkir kopi susu hangat buatannya.


"Minumlah dulu agar pikiranmu lebih rileks dan menjadi tenang kembali."


Yoga menutup laman rahasianya agar Nara tidak mengetahuinya. Bukan bermaksud untuk membohongi sang istri, tapi untuk saat ini biarlah orang kepercayaannya yang bergerak sendiri tanpa harus ada kegaduhan karena terlalu banyaknya pihak yang mengetahui.


"Terima kasih, Sayang. Aku baik-baik saja dan semakin baik-baik saja karena perhatianmu ini." Yoga menerima dan segera meminumnya sedikit demi sedikit.


Nara merangkul bahu suaminya lalu menciumi puncak kepalanya, sama seperti yang biasa Yoga lakukan kepadanya.


Setelah itu dia duduk bermanja di pangkuan lelaki itu, yang segera meletakkan cangkir yang masih dipegangnya di atas meja.


Tangannya segera melingkar di pinggang ramping wanita kesayangannya. Dipandanginya wajah menawan di hadapannya, yang juga tengah menatapnya dengan binar cinta yang besar.


"Aku tahu kamu sedang berbohong akan sesuatu, Mas. Tapi aku juga tahu, kamu pasti punya alasan kuat mengapa harus menyembunyikannya untuk saat ini."


Yoga tidak mengelak. Dia mengangguk lalu mencium pipi istrinya dengan lembut.


"Setelah semuanya selesai nanti, aku pasti akan menceritakannya padamu, Sayang."


Nara menyisir rambut sang suami dengan jemarinya, merapikan beberapa helaian yang mulai teracak ke sana kemari. Yoga membiarkannya dan tersenyum karena perhatian dari istri tercintanya.


"Aku bangga memilikimu, Sayang. Kamu bukan hanya sangat perhatian padaku, akan tetapi juga begitu pengertian dan tidak mudah terpancing emosi akan sesuatu yang belum ada penjelasannya."


"Kamu bukan hanya bisa menyenangkan diriku, namun lebih dari itu, kamu juga selalu bisa menenangkan hatiku. Kamu dan cintamu sangat luar biasa, Sayang. Dan aku semakin mencintaimu karenanya."


"Terima kasih karena sudah memilihku dan mencintaiku dengan setulus ini, Mas. Sama sepertimu, aku pun bersyukur telah memilihmu dan melabuhkan hatiku pada cinta tulusmu yang luar biasa."


.


.


.


Sampai di rumah, Riko masih meluapkan emosinya setelah bertemu dengan Alya di klinik. Apalagi wanita itu pula yang harus memeriksa kondisi kehamilan Cindy dan memberitahukan tentang jenis kelamin calon anak mereka.


"Aaarghh ...!!! Mengapa dia ada di sana? Mengapa dia semakin menjadi-jadi, sementara aku justru menjadi semakin terpuruk seperti ini? Aku tidak bisa menerima semua ini. Tidak bisa!!"


Riko memukul meja dengan keras hingga telapak tangannya merah dan memanas. Lelaki itu menahan sakit setelah tiga kali melampiaskan kemarahannya dengan pukulan keras menggunakan tangan kosong.


"Hentikan, Rik! Aku mohon jangan bersikap seperti ini. Kamu membuatku takut ...." Cindy memang jarang melihat suaminya marah, apalagi sampai naik pitam seperti ini.

__ADS_1


Riko yang dikenalnya sejak remaja dulu adalah lelaki yang baik dan sangat menyayanginya. Dia memang keras kepala tetapi sekali pun tidak pernah marah apalagi berbuat kasar dan sampai menyakitinya.


Terhadapnya, Riko selalu bersikap layaknya seorang suami pada umumnya, kendati tidak bisa dikatakan perhatian terlebih lagi romantis.


Riko tertegun mendengar ucapan istrinya. Dia memutar kepalanya mencari keberadaan Cindy yang sedari tadi telah diabaikannya.


Dilihatnya Cindy duduk di tepi tempat tidur dengan kedua tangan mendekap perutnya yang sudah terlihat besar dan membuncit. Wajahnya terlihat pias karena mendengar suara teriakannya.


"Maafkan aku, Cin. Aku hilang kendali karena melihatnya di sana."


Riko menghampiri istrinya, duduk di samping Cindy dan merengkuh tubuh berisi yang masih tegang ketakutan. Diciumnya kepala wanita itu agar kembali merasa nyaman.


Cindy menghela nafas panjang dengan sedikit rasa sesak di akhir hembusannya.


"Mengapa kamu selalu saja memikirkannya dan selalu naik darah setiap kali bertemu dengannya? Mengapa dia selalu membuatmu marah seperti ini? Apa salahnya? Atau aku yang salah? Atau justru kamu yang bersalah?"


Cindy mulai berkaca-kaca. Wanita itu terbawa situasi, ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang mengandung, membuatnya lebih perasa dan mudah terpancing emosi.


Riko merasa bersalah karena melupakan keberadaan Cindy bersamanya, sampai-sampai dia dengan mudahnya meluapkan begitu saja seluruh emosinya di hadapan istri tercinta.


"Maafkan aku. Sekali lagi aku minta maaf."


Riko mempererat pelukannya dan membiarkan sang istri yang sudah telanjur meneteskan air mata itu, melepaskan tangisannya hingga terisak di dalam dekapannya.


"Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersamamu dan bersama anak kita nanti. Tapi mengapa sepertinya sulit sekali bagimu untuk menghapus bayangannya dari hidupmu?"


Untuk pertama kalinya Cindy mengungkapkan perasaannya, isi hati yang selama ini selalu disimpannya rapat-rapat.


"Apakah aku tidak lebih penting darinya? Apakah aku tidak lebih berharga darinya? Benarkah seperti itu??"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2