CINTA NARA

CINTA NARA
3.78. MELAWAN KETAKUTAN


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim ...!"


Untuk kedua kalinya di hari yang sama, Ardi mencium kening Alya dengan penuh kelembutan. Hatinya berdesir halus, lebih dari sebelumnya.


Jika pagi tadi dia mencium istrinya di hadapan banyak orang, malam ini pasangan suami-istri tersebut sudah berada di dalam kamar. Hanya ada mereka berdua, sementara Aura sudah terlelap sendiri di atas tempat tidur.


Alya turut memejamkan mata saat Ardi menciumnya dengan penuh perasaan. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan tidak larut dalam ketakutan yang coba melemahkannya kembali.


Ardi melepaskan ciumannya perlahan dan menarik wajahnya menjauh. Pandangan mereka beradu dengan degup jantung yang bertalu semakin keras.


Tubuh Alya bergetar hebat saat kedua tangan Ardi terulur dam mulai menyentuh ujung depan kain penutup kepalanya. Ardi masih menahan gerakan dan memperhatikan raut wajah di hadapannya. Dia memastikan sekali lagi jika sang istri tetap mengizinkan dirinya untuk melanjutkan.


Senyuman Alya terlihat meski dipaksakan di tengah debaran ketakutan di dadanya. Tiba-tiba terlintas bayangan sebuah tangan yang hendak menggapai wajahnya hingga dia memejamkan mata penuh ketakutan.


Masih diam dalam posisi terakhirnya, Ardi membiarkan Alya yang berusaha melawan ketakutannya. Dia percaya Alya pasti mampu mengatasinya.


Tak lama kemudian Alya membuka mata, setelah berhasil menepis bayangan yang hampir saja menggoyahkan lagi keberaniannya. Tatapan matanya kian sayu menatap wajah teduh Ardi yang menunggu dengan sabar.


Kedua tangan Ardi kembali bergerak pelan semakin ke atas. Alya merasakan kain hijabnya tertarik lepas saat Ardi membukanya dengan sangat pelan dan hati-hati. Dia telah ikhlas dan pasrah sepenuhnya.


Ardi tak berkedip menatap istrinya yang tak lagi mengenakan penutup kepala. Ada yang masih terasa kurang dalam pandangannya, hingga tangan itu kembali bergerak ke belakang kepala Alya dan menarik pelan sesuatu di sana.


Lelaki itu tersenyum puas saat melihat rambut ikal Alya tergerai indah dan menjadi pusat perhatiannya kali ini. Tangan kirinya membelai sisi kiri rambut hitam Alya, sementara tangan kanannya merapikan helai-helai rambut yang terlihat berantakan di bagian depan.


"Alya, kamu sangat cantik. Dari dulu kamu tidak pernah merubah penampilan rambutmu meskipun tertutup hijab."


Ardi masih terus memaku pandangannya pada wajah ayu alami Alya, berikut rambut panjangnya yang hitam dan ikal. Tatapannya tajam dan dalam, penuh kekaguman sekaligus kerinduan yang begitu dalam.


Alya memberanikan diri untuk tetap menatap wajah rupawan dan mempesona di hadapannya. Ada kerinduan yang sama yang dia rasakan hingga mampu menghangatkan seluruh perasaannya saat ini. Rindu pada satu-satunya lelaki yang dia cintai dan kini telah menjadi miliknya, menjadi suaminya.


"Aku sangat merindukanmu, Alya. Aku masih tidak percaya, sekarang kita bisa bersama kembali dan tak akan pernah terpisahkan lagi," lirih Ardi dengan suara yang semakin berat.


Kedua tangan Alya saling meremas untuk mengusir kegugupan. Tatapan mata Ardi dan ucapannya barusan, membuat tubuhnya bergetar dan menghangat secara bersamaan.


"Bolehkan aku memelukmu? Sekadar untuk mengobati rasa rindu ini?"


Ardi masih menjaga batasan sementaranya. Dia tidak ingin memaksa Alya meski tubuhnya bereaksi lain. Tak dipungkiri, dia begitu ingin menyentuh dan mendekap istrinya dengan segenap cinta.

__ADS_1


Seketika hati Alya melemah. Tiba-tiba bayangan perlakuan buruk yang dialaminya dulu, terlintas jelas dalam pikirannya. Rasanya dia ingin menghindar karena merasa belum siap dan dipenuhi rasa takut.


Namun hati kecilnya masih teguh dengan tekad semula. Alya berusaha melawan ketakutan itu dan menepis bayangan peristiwa kelam tersebut. Dia harus mengutamakan perasaan Ardi yang sudah menjadi suaminya sekarang.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa menerimanya atau tidak, tapi aku tidak akan melarangmu. Kamu sudah berhak atas diriku sepenuhnya."


Alya menjawab dengan sedikit ragu. Dia takut Ardi akan tersinggung dengan jawabannya. Wanita itu semakin berdebar, menanti apa yang akan dilakukan Ardi setelah mendengarnya.


"Aku ingin kamu sembuh lebih dulu, Alya. Aku akan membantumu dengan caraku, sebagai suamimu. Aku hanya butuh kepercayaanmu, apa pun yang akan aku lakukan terhadapmu mulai saat ini."


Alya mengangguk, berusaha memahami semua ucapan lelaki itu. Dia percaya Ardi tidak akan membuatnya kecewa apalagi sampai menyakiti hati. Wanita itu sangat mengenal kepribadian suaminya.


Setiap apa yang dia rasakan, lelaki itu bisa turut merasakannya. Bahkan di saat dirinya menderita dan kesakitan, Ardi sama sakitnya dan ikut merasa sedih. Perpisahan di antara mereka nyatanya tidak benar-benar memisahkan perasaan yang ada di dalam hati mereka.


"Sepenuhnya aku percaya padamu." Singkat jawaban Alya membuat Ardi berani untuk memulai.


Memupus jarak di antara kedua tubuh mereka, tangan Ardi meraih tangan istrinya. Perlahan dia membawa sepasang tangan itu untuk diciumnya dengan lembut. Dia ingin membuat Alya nyaman dan tenang saat mereka berdekatan seperti saat ini.


Setelah melepaskan tangan sang istri, pelan-pelan Ardi meletakkan tangannya di kedua sisi pinggang Alya. Sejurus kemudian dia mengunci tubuh kecil itu dalam ikatan tangannya.


Berbeda dengan Alya yang tampak gugup dan ketakutan, Ardi tetap menunjukkan sikap tenang meskipun hatinya juga berdebar dan tubuhnya kian menghangat.


"Apa kamu ingin aku berhenti?" tanya Ardi sekali lagi.


Sejujurnya lelaki itu bukan sekadar ingin melampiaskan kerinduan seperti alasan yang dia katakan tadi. Lebih dari itu, Ardi juga ingin Alya membiasakan diri dengan sentuhannya. Dengan seringnya mereka bersentuhan maka akan lebih mudah bagi Alya untuk melawan ketakutan yang dia rasakan.


Ardi berharap sang istri bisa segera pulih dari trauma yang masih membelenggu hati dan jiwanya. Karena peristiwa kelam masa lalunya, Alya masih membatasi ruang gerak di antara mereka, sekalipun keduanya telah menikah dan hidup bersama.


"Jika kamu masih takut, maka aku akan berhenti. Jangan memaksakan dirimu jika memang semua ini masih terasa sulit bagimu." Ardi mengalah, tak ingin membuat Alya merasa terpaksa dengan keputusannya sendiri.


Namun saat dirinya hendak menjauh dari tubuh Alya, wanita itu justru menurunkan tangannya dari dada Ardi. Disertai rasa ragu dan malu yang bercampur dengan debaran keras di dadanya, Alya melakukan hal yang sama seperti suaminya.


Ardi merasakan kedua tangan Alya telah menyentuh tubuhnya dan memberikan pelukan yang sama. Ardi tersenyum lega dan segera memeluk Alya lebih erat.


"Terima kasih, Alya," bisiknya lembut di telinga istri tercinta..


Ardi merapatkan tubuh mereka hingga semakin menyatu tanpa sekat apa pun kecuali pakaian yang membatasi. Tak terkira rasa haru dan bahagia yang menyeruak indah di hati keduanya.

__ADS_1


Tangan kanan Ardi bergerak ke atas, mengusapi kepala istrinya dengan penuh kasih. Sesekali dia melabuhkan ciuman sayang di puncak kepala Alya, sebagai tanda syukur atas peristiwa luar biasa tersebut.


Alya memejamkan mata dan menyamankan posisinya. Dia mulai merasa nyaman berada dalam pelukan hangat suami tercinta. Degup jantung mereka terdengar satu sama lain, menyatu dengan hembusan napas mereka yang seirama.


Dalam hati Alya terus bersyukur karena telah berhasil melawan ketakutannya. Dia bertekad untuk memberikan Ardi kebahagiaan di hari pertama pernikahan mereka.


Wanita itu sungguh tak ingin mengecewakan suaminya. Sudah seharusnya dia mulai menyerahkan diri seutuhnya pada lelaki pilihannya, satu-satunya pemilik hatinya.


Aku akan terus berusaha demi kamu, Ardi. Aku harus sembuh dan pulih dari ketakutan dan rasa traumaku. Aku ingin hidup bahagia bersamamu dan Aura, selamanya!


.


.


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana πŸ™πŸ’œ


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2