
Satu minggu berlalu, Yoga mengijinkan istrinya kembali ke kantor bersamanya. Sementara Raga sang buah hati, mereka tinggal di rumah bersama Bibi Asih dan Mbak Indah, dengan pengamanan yang ketat meskipun tak terlihat.
"Tetap bersamaku dan jangan pernah jauh dariku, Sayang!" Yoga mencium kening Nara sesampainya mereka di ruang kerja Yoga.
"Bagaimana bisa aku pergi jauh darimu, jika yang aku pikirkan saja hanya dirimu, Mas."
Nara membelai wajah suaminya dan menatapnya dengan mesra, sebelum meninggalkan kecupan sekilas di bibirnya dan masuk ke kamar untuk meletakkan pakaian ganti yang dibawanya.
Hari ini mereka akan memenuhi undangan makan siang dari Alam dan Embun guna mengakrabkan diri secara pribadi di luar urusan pekerjaan. Oleh karena itu, Nara sudah menyiapkan baju yang akan mereka kenakan nanti.
Yoga tersenyum memperhatikan sang istri sembari mengusap bibirnya yang baru saja mendapatkan sentuhan singkat dari bibir manis Nara yang selalu dirindukannya.
Dia mulai membuka layar kerjanya dan memeriksa beberapa laporan yang tertinggal dari hari kemarin. Duduk di kursi dengan wajah serius, lelaki itu larut dalam pekerjaan yang menyita pikirannya.
Nara keluar dari kamar dan menghubungi bagian pantri supaya mengantarkan secangkir kopi untuk suaminya. Kemudian dia membawa laptop ke meja di samping pintu yang merupakan meja kerjanya. Sama seperti Yoga, wanita itupun mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Pukul sebelas siang, pasangan suami-istri itu sudah siap dengan pakaian yang sebelumnya telah disiapkan oleh Nara.
"Kamu cantik sekali, Bidadariku."
Yoga menatap kagum ke arah istrinya yang telah mengganti pakaiannya semula dengan dress midi batik dengan motif truntum berwarna cokelat muda nan lembut, seragam dengan kemeja batik lengan pendek yang dipakai olehnya.
"Aku membelinya dari galeri batik milik Ibu Embun, Mas. Koleksi batiknya sangat beragam dan gerai miliknya yang ada di kampung batik selalu ramai oleh pengunjung."
Yoga mengangguk dan tersenyum tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wajah Nara yang dipoles riasan tipis alami dengan rambut yang diikat sebagian di bagian belakang menggunakan jepitan warna senada.
Lelaki itu serasa terhipnotis oleh pesona sang istri sehingga tanpa sadar langkahnya kian mendekat, ingin memeluk dan mencium wanita kesayangannya. Nara yang melihat suaminya mendekat malah menarik tubuh itu hingga Yoga berdiri tepat di hadapannya.
Tanpa tahu keinginan suaminya, wanita itu merapikan krah kemeja Yoga lalu menata acak rambutnya dengan jemari tangannya. Dia lebih suka penampilan rambut Yoga yang sedikit teracak, karena karena baginya justru itu semakin menambah daya tarik sisi maskulinnya.
"Sudah rapi, Mas. Kita siap untuk berangkat."
Ucapan Nara tak membuat Yoga menjauh. Lelaki itu masih menatap istrinya lekat-lekat, dengan perasaan yang semakin campur-aduk.
"Mas, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Nara setelah menyadari sikap suaminya yang masih bergeming di tempatnya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Yoga menggerakkan kedua tangannya dan mengunci tubuh Nara dalam pelukannya. Nara yang terkejut ikut terbawa maju merapat dan meletakkan tangannya pada bahu suaminya.
Pandangan mereka beradu, saling menatap dalam diam dengan pendar cinta yang berpijar dari dua pasang mata mereka yang saling memaku takjub.
__ADS_1
"Aku tak ingin pergi. Aku tak ingin melewatkan suasana seindah ini. Aku ingin menikmatinya tanpa henti. Aku dan kamu, hanya kita berdua di sini ...."
Tanpa peduli waktu yang terus berputar, mereka seolah lupa tujuan mereka berpenampilan serapi itu. Keduanya justru menyatukan ciuman dengan lembut dan hangat, saling meresapinya tanpa ingin saling mengakhiri.
.
.
.
Hampir saja terlambat, akhirnya mereka sampai di restoran tepat waktu. Yoga dan Nara berjalan bergandengan tangan memasuki ruangan bersekat di bagian depan yang sudah dipesan oleh Alam dan Embun untuk menjamu mereka.
"Maaf, kami sedikit terlambat." Yoga dan Nara saling berpandangan dengan senyum tertahan mengingat apa yang tadi membuat mereka hampir melupakan waktu.
"Perkenalkan, ini Nara istri saya. Sayang, beliau berdua adalah Pak Alam dan Ibu Embun," lanjut Yoga kemudian.
Yoga menyalami Alam, sedangkan Nara bersalaman dan saling memberikan pelukan perkenalan dengan Embun.
"Akhirnya kita bisa bertemu. Emm ..., rasanya akan lebih nyaman kalau kita memanggil Mbak ya, agar terkesan semakin dekat dan akrab." Embun begitu ramah dan terlihat sangat menyukai Nara.
"Dan sepertinya kita juga harus merubah panggilan kita dengan Mas saja, mengikuti mereka. Bukan begitu, Mas Yoga?" Alam mengikuti ucapan istrinya.
Alam dan Embun kemudian mempersilakan kedua tamunya duduk di hadapan mereka. Selanjutnya perbincangan ringan dan hangat pun mengalir begitu saja di antara mereka berempat, hingga suasana mulai mencair sembari menunggu pesanan makanan untuk mereka datang.
Setelah bertukar cerita tentang banyak hal, hidangan makan siang pun tersaji lengkap menggugah selera. Embun sengaja memesan beberapa menu khas kota mereka yang tersedia di restoran tersebut.
Yoga dan Nara terlihat sudah terbiasa dengan menu-menu yang tersaji karena sebelumnya sudah sering mendapatkan kiriman makanan dan camilan khas tersebut dari rekan bisnis Yoga yang lainnya.
Setelah melalui dua jam kebersamaan dalam suasana kekeluargaan, dua pasangan pengusaha muda itu mengakhiri pertemuan mereka karena harus kembali mengurusi pekerjaan masing-masing.
"Terima kasih atas undangannya. Lain waktu semoga kami bisa mengundang balik Mas Alam dan Mbak Embun untuk kami jamu pada pertemuan kita berikutnya."
Nara dan Embun berpelukan dan bersalaman mengakhiri pertemuan pertama mereka, diikuti Yoga dan Alam yang sudah lebih akrab karena ini merupakan pertemuan mereka yang kedua.
"Sampai bertemu lagi, Mas Alam. Dan semoga proyek kerjasama kita berjalan dengan lancar dan segera berdiri megah di kota ini."
"Aamiin, Mas Yoga. Sukses selalu untuk kita berdua."
Mereka berempat keluar bersama menuju halaman parkir yang cukup lengang. Di ujung teras mereka berpisah untuk menuju mobil masing-masing.
__ADS_1
Yoga masih mengenggam tangan Nara hingga mereka sampai di samping pintu mobil sebelah kiri. Yoga membukakan pintu untuk Nara dan melepaskan tangan Nara agar istrinya masuk lebih dulu.
Namun tanpa mereka sadari, dari dalam mobil yang berada tepat di samping mereka, keluar dua orang pria bertubuh kekar yang dengan cepat menarik tubuh Nara dan memasukkannya secara paksa ke dalam mobil.
"Sayang ...! Naraaa ...!!!"
Kejadian yang secepat kilat itu membuat Yoga tak sempat menahan dan menghalangi kedua pria yang sudah berhasil mengambil istrinya. Yoga berusaha membuka pintu mobil tersebut, akan tetapi sudah telanjur terkunci dari dalam.
Bersamaan dengan itu, satu pria yang masih berdiri di luar mobil melumpuhkan Yoga secara cepat dengan beberapa kali pukulan keras di bagian kepala, yang membuatnya langsung terjatuh tak sadarkan diri di samping mobilnya sendiri.
"Mas ...! Mas Yogaaa ...!!!"
Nara yang melihat suaminya tergeletak pingsan langsung berteriak sekuat tenaga dan berusaha untuk keluar dari dalam mobil.
Namun usahanya sia-sia belaka, karena tubuhnya terus dicekal oleh pria yang duduk bersamanya. Dan setelah itu, pria yang baru saja memukul Yoga segera menyusul masuk dan langsung melajukan mobil itu dengan cepat keluar dari area restoran.
Nara terus meronta dan mulai menangis kencang, apalagi saat menoleh ke belakang, dia tak bisa lagi melihat sosok suaminya yang terhalang mobil mereka, karena lelaki itu rubuh tak sadarkan diri, entah bagaimana keadaannya.
"Ssttt ...!!! Diamlah, Nara. Tak perlu menangisi lelaki itu, karena ada aku di sini bersamamu."
Seketika tangisan Nara terhenti begitu mendengar suara yang tak asing baginya. Dia menatap ke depan, di mana seorang lelaki duduk dengan penuh senyuman dan membalas tatapannya.
"Ka-Kamu ...?!?" Wajah Nara pucat pasi seketika seiring tubuhnya yang mendadak lemas dan lunglai begitu saja.
"Iya, ini aku. Akhirnya aku mendapatkanmu, Nara!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.