
Setelah pertemuan dalam acara book fair, pertemanan Nara dan Dina dimulai. Kian hari semakin akrab. Hal ini menimbulkan ketidaksukaan Angga.
Angga merasa perhatian Dina terbagi dua. Dina lebih asyik membuat janji bertemu dengan Nara ketimbang bersamanya. Dina yang notabene pecinta buku sangat menyukai novel yang dibuat Nara. Dina mempunyai minat yang sama dalam dunia literasi. Menyukai dunia literasi tapi tapi belum berani menulis. Menulis dilakukannya hanya pada buku diary mungil miliknya.
Hari ini Dina izin untuk tidak masuk kuliah. Dina sudah janji untuk menemani Nara yang akan mengadakan talk show disalah satu stasiun radio di Jakarta.
Nara cuma pasang status lewat Wa agendanya hari ini. Dan Dina menawarkan diri untuk menemaninya. Gak tahu kenapa saat melihat Nara. Dina merasakan ada sesuatu yang ingin diketahuinya dari gadis cantik yang wajahnya mirip dengannya ini.
Dina dan Nara terpaut usia 2 tahun. Dan Dinalah yang lebih tua. Melihat mereka berdua berjalan pasti banyak yang mengira mereka layaknya kakak adik. Ya , wajah mereka berdua memiliki rupa yang hampir sama. Bedanya Nara tubuhnya lebih tinggi dibanding Dina.
Tak hanya Angga. Arif juga merasakan kecemburuannya pada keakraban Nara dan Dina. Dan sempat protes pada Nara. Tapi Nara meyakinkan Arif kalau ia hanya butuh teman wanita yang bisa dijadikan sahabat.
"Bukan sahabat Nara. Kalau kau berteman dengan Dina. Itu artinya kau memiliki maksud tertentu dibalik itu semua, " Arif menasehati Nara.
"Maksud kak Arif apa ? aku tak mengerti, " Nara berdalih.
"Aku bukannya bodoh Nara. Kau sepertinya memang ingin berteman dengan Dina. Andai saja Dina tahu. Dia tak akan sudi berteman denganmu. Kurasa hatimu sudah membatu, " Arif berbicara keras pada Nara.
"Memang hatiku sudah membatu kak. Tapi aku minta kak Arif jangan pernah memberitahu perihal ini pada Dina. Biarkan aku yang akan mengatakan padanya, " pinta Nara.
"Baiklah. Entah apa yang kau pikirkan Nara. Yang jelas hal ini jangan pernah mengganggu hubungan kita, " Arif memperingati Nara.
Perkataan Arif dua hari yang lalu masih terngiang - ngiang di telinga Nara. Nara berharap semoga misi balas dendamnya berhasil. "Aku tak tahu kenapa aku ingin sekali melihat Angga menangis di depanku. Meminta maaf atas segala apa yang ia perbuat padaku. "
Hari ini jam 10 pagi. Dina dengan mengendarai mobilnya menemani Nara ke salah satu stasiun radio di Jakarta. Ada talk show untuk mempromosikan novelnya Nara.
Bersama Dina. Nara merasakan kenyamanan bersamanya. Dina baik. Sebenarnya hati kecilnya pun tak ingin membalas dendam kepada Angga. Takut melukai hati Dina.
"Ah ... biarlah semua berjalan apa adanya. Toh ... aku juga tak sengaja merencanakan ini semua. Semua mengalir apa adanya, " gumam Nara.
Acara talk show berjalan lancar dan sukses. Para pendengar radio banyak yang ingin memesan novel Nara. Nara berterimakasih pada semua orang yang telah mendukungnya selama ini.
Hingar bingar acara talk show di radio cukup meriah. Tak kalah dengan talk show yang dilakukan di stasiun TV. Penyiar radio mampu membuat suasana yang menghibur para pendengar radio.
__ADS_1
Diselingi lagu lagu yang lagi hits saat ini. Muncul juga lagu Andmesh yang berjudul cinta luar biasa. Lagu yang mengingatkan Nara pada Arif.
Selesai juga acara talk shownya Nara. Hari menjelang sore. Mobil Dina melaju membawa mereka pulang ke kosan. Selama perjalanan pulang. Nara mendapat vidio call dari ibunya.
"Assalamualaikum nak ? Kamu bagaimana kabarnya? Ibu kangen kamu. Ibu ingin ke Jakarta bertemu kamu. Kapan ya waktu yang tepat ya ! "
"Aku baik - baik saja ibu. Alhamdulillah novelku sudah dicetak dan sudah wara wiri di toko - toko buku di Jakarta. Mungkin juga sudah ada diberbagai toko buku di seluruh Indonesia. Terimakasih pada ibu yang selalu mendukungku."
" Iya nak. Kaulah anak ibu yang ibu cintai dan ibu banggakan."
" Ibu , ayah apa kabar? Aku kangen ayah juga. Selama aku di Jakarta ayah tak pernah menelponku."
" Ini ayahmu. Disamping ibu," Ibu mengalihkan handphone dan mengarahkan pada ayah Nara.
" Ini ayah Nara. Ayah selalu mendoakan yang terbaik buatmu." Seuntai senyum tersungging dibalik kumis tipisnya yang sebagian mulai memutih.
Melihat keakraban Nara bersama ayah dan ibunya lewat vidio call. Menimbulkan rasa iri dihati Dina. Sedari tadi Dina hanya diam melihat Nara bercengkrama dengan kedua orang tuanya.
"Andai saja papa tidak terlalu sibuk. Pasti papa akan meluangkan waktu untuk menelponku. Kalau mama ... tak usah diharapkan, " batin Dina.
Sebagai anak semata wayang, Dina selalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Tapi karena kesibukan mereka maka Dina lebih banyak menghabiskan waktu bersama bibi yang sedari kecil setia menemaninya sampai sekarang.
Sambil mengemudi mobil. Sembari melirik ke arah Nara yang masih sibuk vidio callnya.
" Kamu lagi dimana nak?,." ucap ibu Nara.
" Ini aku sedang dalam perjalanan pulang ke kosan ibu. Tadi aku ada acara talk show di stasiun radio. Seorang teman yang baik menemaniku. Ini orangnya bu, " Nara mengalihkan handphonenya untuk menampakkan wajah Dina.
" Hai tante .. , aku Dina. Waktu kecil aku juga tinggal di Bengkulu, " Dina tersenyum sembari melambaikan tangannya.
" Hai juga sayang. Kalau ke Bengkulu mainlah ke rumah tante, " ucap ibu Nara ramah.
" Iya tante, makasih."
__ADS_1
" Tante titip Nara ya!!, Nara tidak pernah jauh dari tante. Makanya tante khawatir padanya. "
" Iya, makasih ya sayang, " ucap ibu Nara.
" Sama - sama tante."
Lalu Nara menarik handphonenya ke arahnya.
" Nara teman kamu cantik ya!! Wajahnya kok mirip kamu ya, " ucap ibu penasaran.
" Iya, kan sama - sama cantik ibu."
" Iya sih. Ya udah ya nak. Lain kali ibu telpon lagi. Jaga diri, jangan lupa sholat ya. Assalamualaikum, " ibu mengakhiri vidio callnya.
" Waalaikum salam, " Nara mematikan handphonenya.
" Ibuku sepertinya menyukaimu Dina, ' Nara mencolek pinggang Dina.
" Aku juga sekali lihat sudah menyukai ibumu. Beda dengan mamaku yang terlalu sibuk, " ucap Dina sambil cemberut.
Nara terkekeh. " Kamu bisa aja Din."
" Ibuku emang baik, teramat baik. Aku sangat merindukannya, " ucap Nara pelan.
Butuh waktu satu jam mengendarai mobil. Akhirnya Dina sudah sampai tepat didepan kosan Nara. Nara turun dari mobil Dina. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan Dina yang mau menemaninya. Dilambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada Dina.
Tak jauh dari tempat Dina menurunkan Nara. Ternyata Angga sedang jalan kaki menuju kosan teman kampusnya. Bukan main kagetnya Angga saat ia melihat Nara turun dari mobil Dina. Dari mana mereka pergi?. Tampaknya mereka berdua sangat akrab. Apa yang Nara lakukan pada Dina. Apa Nara tidak tahu kalau Dina adalah pacarnya Angga saat ini. Semua berkecamuk didalam hatinya.
Angga berpikir keras. Bagaimana cara melarang pertemanan antara Dina dan Nara.
"Apa aku harus jujur pada Dina ! Jangan ... tapi bagaimana nanti kalau Nara memutar balikkan fakta ? tapi apa yang mau dibalikan. Sebenarnya aku yang salah. Pergi tanpa meninggalkan pesan. Tapi ini semua bukan salahku. Ini kemauan ibunya Nara juga. Hadeh...,. apa yang mesti aku lakukan! "
Ditempat lain. Setelah turun dari mobil Dina. Nara langsung masuk kekosannya. Dilihatnya mobil Dina dari jendela dalam kamar kosannya sampai menghilang. "Tak ada yang salah. Kenapa semua rencanaku berjalan sesuai kehendak Tuhan. Semua jalan tanpa harus bersusah payah. Dina sudah mau dijadikan sahabat, " gumam Nara.
__ADS_1
Strategi satu berjalan mulus. Target sudah di depan mata. Melumpuhkan musuh dengan mendekati kekasihnya. Ini adalah babak baru awal untuk melancarkan misi balas dendamnya. Lalu Nara tertawa lepas didalam kamarnya sambil berkata," Aku memang jahat. Tunggu langkah selanjutnya."
.