CINTA NARA

CINTA NARA
2.1. SELALU MENJAGAMU


__ADS_3

Tiiinnn ... tiiinnn ...!!!


"Sayang, awas ...!!" Yoga berusaha menarik tubuh Nara dengan cepat saat sebuah mobil yang hilang kendali karena rem blong berbelok ke pelataran parkir dan meluncur ke arah mereka.


Braakkk ...!!!


Mobil tersebut akhirnya berhenti setelah menabrak deretan mobil yang terparkir, termasuk mobil Yoga yang juga berada di deretan paling depan.


Yoga masih terus mendekap tubuh istrinya dan menyembunyikannya dalam pelukan. Tubuh Nara gemetar dan memeluk suaminya sangat erat dengan suara isakan yang terdengar kemudian.


"Alhamdulillah, kita selamat. Tenanglah, Sayang. Kita baik-baik saja." Yoga mencium dan membelai kepala Nara untuk menenangkannya.


Yoga membawa Nara kembali ke lobi gedung dan mendudukkannya di salah satu kursi. Sambil terus memeluk istrinya, lelaki itu mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Pak Budi yang berada di rumah dan memintanya untuk menjemput mereka.


Setelah mengirimkan lokasi mereka, Yoga menyimpan ponselnya dan kembali mendekap Nara yang masih terisak.


"Tenangkan dirimu, Sayang."


Seorang pengunjung yang sebelumnya melihat mereka hampir tertabrak, dengan sukarela memberikan botol air mineral baru yang belum dibukanya kepada Yoga untuk diminumkan pada istrinya yang masih terlihat ketakutan.


"Terima kasih." Yoga menerima dan menganggukkan kepala dengan takdzim. Dia lalu membuka segel tutupnya dan membantu Nara meminumnya sedikit demi sedikit.


Wanita itu masih menyimpan trauma mendalam atas kecelakaan yang dulu dialami oleh mereka berdua. Kejadian tadi hampir sama sehingga membuka ingatan Nara kembali pada peristiwa buruk itu.


"Kita tunggu Pak Budi dan segera pulang. Jangan menangis lagi, Bidadariku." Yoga membersihkan air mata di wajah sang istri lalu mencium lembut keningnya tanpa peduli tatapan beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.


Panggilan kesayangan terbaru dari suaminya berhasil membuat Nara tersenyum di tengah nafasnya yang masih belum teratur akibat keterkejutannya atas apa yang hampir menimpa mereka.


Wajahnya memerah karena menangis dan merasa malu karena sikap mesra yang selalu ditunjukkan suaminya di mana pun mereka berada.


"Mas, mobil kita ...?"


"Tidak apa-apa. Nanti ada orang dari pihak asuransi yang akan mengurusnya bersama pihak diler."


Nara melihat ke arah kerumunan orang yang ada di pelataran parkir. Dia memperhatikan mobil mereka yang sedikit terlihat dari tempat mereka duduk.


"Apakah kerusakannya parah, Mas?" Nara mulai tenang dan penasaran.


"Sepertinya tidak. Posisi mobil kita ada di paling ujung. Tidak langsung terkena benturan yang keras. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Yang penting kita selamat."


Nara mengambil botol minuman yang masih dipegang Yoga lalu meminumnya lagi. Yoga memperhatikan dengan tatapan teduhnya.


Dia sangat mengasihi wanita di sampingnya itu dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tanpa sadar tangannya terangkat ke atas dan mengusapi kepala Nara dengan sayang.


"Jagakan dia untuk hamba, Ya Allah. Hamba hanya ingin dia selalu bahagia. Apa pun akan hamba lakukan demi membahagiakan dirinya."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Pak Budi datang dengan berjalan tergesa. Begitu melihat dua orang yang dicarinya, lelaki paruh baya tersebut segera menghampiri.


"Mas Yoga dan Mbak Nara tidak apa-apa?" Beliau memperhatikan keduanya dengan seksama untuk memastikan kondisi mereka.


"Kami baik-baik saja, Pak. Hanya mobilnya saja yang terkena."


Yoga segera menggenggam tangan Nara dan mengantarnya masuk ke dalam mobil, lalu dia pamit sebentar untuk melihat mobil mereka dan menitipkan kuncinya pada pihak keamanan gedung perbankan yang mereka datangi tersebut.


.


.


.


Mobil yang dikemudikan Pak Budi memasuki gerbang perumahan lalu berbelok ke halaman sebuah rumah yang terletak di bagian depan.


Rumah berlantai dua bergaya minimalis dan tidak terlihat mewah, dengan halaman berumput hijau yang cukup luas, menjadi pilihan Yoga untuk menjadi tempat tinggal mereka di kota yang baru.


Yoga mengikuti kemauan sang istri untuk memulai semuanya dengan apa-adanya. Apalagi di sini mereka baru memulai semuanya dari nol, baik kehidupan mandiri mereka maupun usaha yang baru saja mereka rintis.


Nara juga ingin mengajarkan kesederhanaan pada Raga putra mereka sejak dini. Meskipun di kota kelahirannya dia merupakan penerus sang ayah yang telah memiliki segalanya, tetapi Nara ingin Raga tumbuh dan terbiasa menjadi anak yang rendah hati dan penuh kebaikan.


Mereka berdua turun dan disambut oleh teriakan lantang dari bocah kecil yang sudah berusia satu setengah tahun tersebut.


"Bubuu ... Yayaah ...." Dia sudah bisa memanggil kedua orang tuanya meskipun belum sesuai lafal aslinya.


"Gagaa ... ndong ... Yayaah ...." Kedua tangan mungilnya terangkat ke atas di depan Ayahnya yang sudah berjongkok menyambutnya.


"Sini, peluk Ayah!" Yoga menunggu Raga menghambur sendiri dan mengalungkan tangan di lehernya, baru kemudian dia memeluk dan mengangkat Raga dalam gendongannya.


"Raga tidak kangen sama Ibu?"


Nara berdiri di samping suaminya sambil mengusap kepala anaknya, dan serta-merta bocah kecil itu memindahkan kepalanya dari bahu sang Ayah ke wajah Ibunya dan mencium pipi kanan dan kiri Nara.


"Muuaah ... muuaah ... Bubuu ...!"


Lalu dia juga melakukan hal yang sama pada Ayahnya.


"Muuaah ... muuaah ... Yayaah ...!"


Dan keduanya pun mencium putra mereka bersamaan.


"Mmuaahh ... Raga ...!!"


Tangan kanan Yoga menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah, sementara tangan kirinya menggendong Raga yang terus memeluk dan bersandar di bahunya.

__ADS_1


Baru saja sampai di dalam kamar mereka, ternyata Raga sudah tertidur di bahu Ayahnya. Kata Bibi Asih tadi, bocah tampan itu memang belum mau diajak tidur siang dan hanya terus bermain sambil menunggu kepulangan kedua orangtuanya.


Nara meletakkan tasnya lalu menyiapkan tempat tidur mereka untuk Raga. Bocah yang masih berpipi gembul itu terbiasa tidur siang bersama orangtuanya. Barulah pada malam harinya, dia patuh untuk tidur di tempat tidurnya sendiri yang berada tak jauh dari tempat tidur Yoga dan Nara.


Setelah membaringkan putranya di tengah tempat tidur, Yoga turut telentang di sampingnya untuk meregangkan otot guna menghilangkan penatnya.


Namun saat melihat Nara yang hendak keluar dari kamar, lelaki itu segera bangkit dan mengejar lalu mendekapnya dari belakang.


"Mas ...!" Nara tersentak kaget karena pelukan tiba-tiba dari suaminya.


Yoga mendekap erat tubuh Nara seraya mencium bahu dan pipi istrinya. Mengingat kejadian di pelataran parkir tadi, hatinya mendadak merasakan ketakutan akan kehilangan wanita kesayangannya.


"Maafkan aku karena hampir saja terlambat menyelamatkanmu, Sayang."


Nara melepaskan dekapan Yoga pelan-pelan, lalu berbalik dan balas memeluk tubuh suaminya dengan erat. Dia juga membayangkan kejadian yang sama, bercampur dengan peristiwa buruk sebelumnya.


Merebahkan kepala di dada bidang suaminya, diam-diam Nara menitikkan air mata. Ketakutan yang sama juga membuatnya semakin mempererat pelukannya.


"Aku takut kehilangan kamu, Mas. Aku takut saat kamu menarikku tadi, justru kamu yang akan ...."


"Ssttt ...!!!" Yoga menghentikan ucapan istrinya. Dia tahu Nara masih terus terbayang peristiwa lama itu.


"Jangan takut dan jangan memikirkan hal yang buruk lagi. Aku akan selalu bersamamu, Sayang. Aku akan selalu menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkan dirimu."


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2