CINTA NARA

CINTA NARA
3.82. PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

Episode-episode terakhir ....


"Bagaimana perkembangan kondisi Pak Yoga, Di?" tanya Alya sembari menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya yang baru saja pulang, usai mengantarkan Nara menemui Yoga.


Ardi yang datang dengan lelah terus mendekap tubuh istrinya dari belakang, meskipun Alya terus menghindar dan menyibukkan diri di depan lemari. Dia berusaha selembut mungkin dan mengikuti setiap gerakan tubuh Alya yang masih memilihkan pakaian untuknya.


Wanita itu masih belum sepenuhnya tenang setiap kali hanya berdua dengan suaminya. Namun dia terus berusaha untuk melawan ketakutan yang masih membelenggu. Dia ingin sembuh dan menjalani kehidupan rumah tangga yang semestinya.


Ardi sendiri dengan sabar selalu menunggu dan mendampingi sang istri. Tak jarang dia mendahului untuk bersikap mesra pada Alya sekadar untuk membiasakan wanita itu dengan perhatian dan sentuhannya.


Lelaki itu tidak pernah memaksakan hasratnya. Rasa cinta yang dia miliki jauh lebih besar dan tulus daripada kebutuhan batinnya yang selalu dia abaikan demi kesembuhan Alya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Yoga. Masa pemulihannya akan memakan waktu yang lama. Semoga Nara pun kuat mendampingi suaminya. Dia harus membagi waktu dengan baik karena anak-anak juga membutuhkan keberadaannya."


"Aamiin!" Alya mengangguk bersamaan dengan Ardi yang memutar tubuhnya sehingga mereka berdiri berhadapan di depan lemari yang baru saja ditutup olehnya.


"Di ...," ucapnya lirih dengan hati yang mulai berdebar. Kedua tangannya masih memegang pakaian yang baru saja diambil, menjadi batas di antara kedua tubuh mereka. Wanita itu mulai gugup dan cemas.


Sesaat mereka beradu pandang dalam diam. Ardi bisa melihat ketakutan dalam tatapan mata Alya yang sayu. Sungguh dia merasa iba, tapi harus terus berusaha demi pulihnya kondisi sang istri tercinta.


"Aku hanya ingin memelukmu sebentar, Alya. Bolehkah?" Lelaki itu menunggu jawaban dari wanita cinta pertamanya.


Alya menunduk, memghindari tatapan teduh Ardi yang membuat jantungnya berdegup kian kencang. Dirinya tak pernah bisa menolak, meskipun diliputi ketakutan yang tak kunjung sirna selama ini. Perlahan dia mengangguk dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


Ardi tersenyum begitu melihat gerakan kepala Alya untuk menjawab permintaannya. Dia mengambil pakaian yang masih dipegang istrinya lalu meletakkan di atas sofa yang terjangkau oleh gerakan tangannya.


Alya semakin merapatkan pejaman matanya begitu menyadari tak ada lagi penghalang di antara mereka. Tangannya bahkan sudah diturunkan oleh Ardi. Lelaki itu menarik pelan tubuhnya dengan kedua tangan, lalu memeluk dengan begitu erat.


"Aku merindukanmu, Alya," bisik Ardi di telinga Alya.


Tubuh ramping itu bergetar ketika merasakan hembusan napas yang menerpa hangat di sekitar telinganya. Sungguh dia tak kuasa lagi melawan kegugupannya. Seluruh tubuhnya melemas dan hampir terjatuh jika Ardi tidak sedang mendekapnya seperti saat ini.


"Jangan takut, Al. Aku hanya memelukmu. Tenangkan dirimu. Lawan ketakutanmu! Ada aku di sini bersamamu, Sayang."


Ardi berucap pelan dan selembut mungkin. Hatinya turut berdebar melihat ketakutan Alya. Dia bisa merasakan dengan sangat jelas degupan jantung Alya yang begitu keras di dalam pelukannya.


Ada yang terasa berdesir halus di rongga dada Alya, saat mendengar satu kata yang diucapkan Ardi di akhir kalimatnya. Untuk pertama kalinya lelaki itu memanggilnya dengan sebutan sayang. Terdengar begitu lembut dan penuh kasih.


Seketika hatinya menghangat dan sangat bahagia. Dia merasa benar-benar disayangi dengan tulus oleh lelaki yang sudah menjadi imam hidupnya sejak dua minggu silam.

__ADS_1


Ada yang berbeda dirasakan di hatinya. Perlahan ketakutannya berangsur menghilang dan berganti kenyamanan yang begitu menenangkan hati dan jiwa.


Alya memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya. Dia membalas pelukan Ardi dengan hal yang sama. Kedua tangannya mulai menyentuh punggung sang suami dan memeluknya dengan perasaan yang semakin penuh keharuan.


Meski masih dibayangi kelebat-kelebat peristiwa masa lalu yang belum sepenuhnya sirna, namun wanita ayu nan anggun itu mulai berani bereaksi atas perlakuan dan sentuhan suaminya.


"Bisakah aku mendengarnya lagi, Di?" pinta Alya dengan suara bergetar. Kepalanya masih bersandar kaku di bahu lelaki tercintanya.


"Apa?" tanya Ardi yang masih belum menyadari kata-katanya sendiri yang terucap begitu saja.


"Yang terakhir kamu ucapkan ...," jawab Alya lirih menahan rasa malu yang membuat wajahnya turut menghangat.


Ardi mengingat-ingat dan mengerti maksud istrinya. Dia tersenyum bahagia atas sikap Alya yang mulai berani memintanya. Tanpa menunggu lagi, dia menuruti keinginan wanita yang sangat dikasihinya tersebut.


"Aku mencintaimu, Sayang!" bisik Ardi tepat di telinga Alya. Dia mengakhirinya dengan sebuah kecupan lembut di sana, lalu melebarkan senyuman.


Alya terkejut bukan main dengan perlakuan mesra Ardi. Ciuman kecil itu benar-benar membuat dia melupakan semua rasa yang lain. Apalagi suaminya tersebut juga mengulangi panggilan sayang untuk dirinya.


Kenyamanan semakin memenuhi hatinya, seiring desiran halus yang kembali terasa menyisiri seluruh rongga dada hingga memacu jantungnya berdegup kian kencang. Napasnya mulai memburu dipenuhi haru yang menyeruak dalam kalbu.


Alya menarik kedua sudut bibirnya, hingga terbentuk seulas senyuman mewakili perasaan yang bertahta di hati saat ini. Pelan-pelan dia menurunkan kepalanya, lalu memberanikan diri merebahkan di dada sang suami.


Lagi-lagi Ardi dibuat terkejut oleh tingkah Alya. Dirasakannya pelukan sang istri semakin erat hingga dia pun segera mengimbanginya dan semakin merapatkan tubuh mereka. Tak ada lagi sekat kecuali pakaian yang membatasi keduanya.


Alya mengangguk di dalam pelukan suaminya. Dia ingin sembuh dan bisa terlepas tuntas dari bayangan masa lalunya yang penuh kesedihan dan air mata.


Kali ini, hanya air mata bahagia yang menetes membasahi wajah ayunya. Sedikit demi sedikit, perhatian dan kasih sayang Ardi yang terus dirasakannya sepanjang waktu, mulai mengikis trauma mendalam yang bersemayam di jiwa rapuhnya.


Kehadiran Ardi mampu menumbuhkan kepercayaan dirinya. Lelaki itu bisa membuatnya tenang di saat semua hal buruk itu kembali mengganggu dan menggoyahkan keyakinannya untuk menguatkan hati.


"Asal kamu bahagia dan tidak keberatan, mulai sekarang aku akan memanggilmu demikian, Sayang," janji Ardi pada Alya. Diciumnya ujung kepala sang istri yang tidak mengenakan hijab karena berada di dalam kamar.


Alya meresapi ciuman dan panggilan sayang dari satu-satunya lelaki yang sangat dia cintai. Semakin dieratkan pelukannya, semakin menjadi segala rasa yang membuncah indah di dalam hati.


Terbersit sedikit penyesalan karena selama dua pekan ini masih belum bisa menjadi istri yang seutuhnya untuk Ardi. Justru sebaliknya, dia selalu membebani sang suami dengan semua ketakutan dan rasa traumanya.


Tanpa mereggangkan pelukan, Alya mengangkat wajah dan menatap Ardi yang masih terus menunduk usai menciumnya. Pasangan pengantin itu beradu pandang dengan tatapan penuh cinta.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang!" Ardi mengulanginya lagi.

__ADS_1


Satu tangannya terlepas dari pinggang Alya dan berpindah ke wajah yang mulai membuat hatinya juga berdesir halus. Dibelainya pipi wanita itu dengan pandangan yang mulai redup dan sendu.


"Teruslah berjuang untuk sembuh. Aku akan selalu menantimu hingga kamu bisa menerimaku sepenuhnya."


Wajah Ardi kian menunduk lalu melabuhkan satu ciuman panjang di kening sang istri. Setelah itu, pandangannya beralih turun dan memperhatikan bibir Alya yang masih menampakkan senyuman terindah.


Seperti biasa dia menahan diri untuk tidak menyentuh apalagi menciumnya. Dia menghela napas panjang untuk membuang hasratnya, lalu membalas senyuman Alya.


.


.


.


Mohon maaf jika menjelang tamat updatenya malah tersendat. Penulis sedang dalam proses merevisi naskah CINTA NARA Musim Pertama, yang insyaallah akan segera diterbitkan menjadi buku cetak. Bismillah, mohon doanya semoga semuanya diberikan kelancaran dan kemudahan. Aamiin ya rabbal aalamiin ...πŸ€²πŸ™


.


.


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana πŸ™πŸ’œ


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2