CINTA NARA

CINTA NARA
Permintaan Angga


__ADS_3

Keesokan harinya, masih di rumah Pak Donnie Prambudya. Satu hari setelah Dina di makamkan. Suasana berkabung masih dirasakan di sini.


Duka meninggalnya anak sang jenderal membuat seisi rumah merasa kehilangan. Sosok Dina yang baik, tidak merasa sombong sebagai seorang anak jenderal polisi bintang empat negeri ini.


Terlebih lagi dengan istri Pak Donnie Prambudya. Ia merasa sangat kehilangan anak yang sangat di sayanginya. Apa lagi tiga tahun terakhir ini. Ia sangat sibuk dengan berbagai urusan sebagai istri bayangkari. Dan ... hangout bersama teman - temannya.


Pagi harinya ... Pak Donnie telah berusaha membujuk istrinya untuk bangun dari tidurnya. Mengajaknya sarapan pagi bersama keluarga yang masih menginap di rumahnya. Namun ia mengatakan ia tak sanggup bangun. Separuh hatinya telah pergi. Pergi bersama Dina yang telah duluan meninggalkannya.


Akhirnya Pak Donnie keluar sendiri dari kamarnya. Ternyata di ruang makan telah menunggu keluarga besarnya yang mau sarapan bersama. Namun tetap menunggu kehadiran sang tuan rumah.


Pak Donnie kemudian menempati kursi yang biasa ia tempati untuk makan. Kursi di sisi kanan orang yang makan saling berhadapan. Namun kursi kosong di sebelahnya kosong. Seharusnya istrinya duduk di sebelah mendampinginya.


"Ayo ... silahkan di makan. Mamanya Dina tidak bisa makan bersama kita, ia tiba - tiba sakit. Ayo makan, anggap saja rumah sendiri, " ajak Pak Donnie pada yang lain.


Semua yang mendengar ajakan Pak Donnie hanya mengangguk saja. Mereka langsung melahap makanan yang tersedia di meja makan.


Meja makan berukuran besar dengan dua buah meja persegi panjang yang diapit menjadi satu. Dengan lima kursi saling berhadapan dan dua buah kursi saling berjauhan di kedua sisinya. Meja dengan nuansa putih dan kursi makan yang senada di tambah di tengah meja sebuah lampu gantung dengan hiasan berwarna putih pula. Menambah cantik diruang makan keluarga besar Pak Donnie Prambudya. Dimeja ini bisa menampung 12 orang untuk sekali makan.


Makan bersama pagi ini juga terasa hambar. Tak ada gelak tawa saat makan bersama disini. Semua diam, hanya suara sendok dan garpu yang saling berdenting di atas piring orang yang sedang makan. Selesai makan satu persatu dari mereka meninggalkan ruang makan itu.


Kini yang tertinggal di meja makan hanya Pak Donnie dan Angga. Angga memang sengaja mencari waktu yang tepat untuk meminta permohonan pada Pak Donnie.


Pak Donnie menatap tajam sosok yang di kenalnya sebagai kekasih Dina.


Angga yang duduk berjauhan tampak sedikit kagok saat di pandang dengan tatapan amarah pada sorot mata Pak Donnie.


"Mengapa kamu masih disini juga ? Seharusnya kamu tahu diri !!! Apa yang seharusnya kamu lakukan. Keluar sekarang juga dari rumahku. Aku tidak mau ada anak seorang pecundang berada di rumahku, " hardik Pak Donnie Prambudya.

__ADS_1


Angga tak perduli ucapan yang keluar dari mulut Pak Donnie Prambudya. Ia lalu memohon kembali.


"Om, aku mohon ... lepaskan ayahku. Aku tahu om sangat menbencinya. Tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan ayah dari jeratan hukum yang menderanya. Hanya om ... harapanku satu - satunya. Bagaimana caranya agar om bisa membebaskan ayahku, " pinta Angga dengan suara bergetar.


"Kamu dengar gak Ga, om tidak bisa melepaskan ayahmu begitu saja. Ayahmu harus menerima apa yang telah ia perbuat. Negara ini negara hukum. Tidak boleh ada orang seperti ayahmu berkeliaran hidup dengan memeras dan mengancam seseorang, " geram Pak Donnie.


Angga menatap Pak Donnie dengan pandangan mengiba. Memohon belas kasihan darinya. Berharap kemurahan hati Pak Donnie Prambudya.


"Percuma Ga, lebih baik kamu segera angkat kaki dari rumah ini, " pinta Pak Donnie dengan gemuruh amarah di dadanya.


Mendengar suara gaduh di ruang makan. Ayah Nara yang memang belum masuk ke dalan kamarnya. Namun ia sengaja bersembunyi di balik tembok menguping pembicaraan Pak Donnie dengan Angga.


Ayah Nara kemudian menghampiri dua orang yang berseteru itu. Tampak kedua belah pihak bersitegang.


"Pak Donnie ... maaf, biar saya mencoba berbicara pada Angga, " pinta Ayah Nara.


Ayah Nara kemudian duduk di sebelah Angga yang tampak nestapa. Lalu ia mencoba membujuk Angga kembali.


"Angga ... percuma saja, bila Pak Donnie sudah berkata demikian. Maka tak ada yang boleh menentangnya. Tambah di tentang tambah sulit menghadapinya. Mendingan kamu pulang ke Bengkulu saja. Semoga ada jalan untuk ayahmu bisa bebas. Memang kemungkinan kecil, tapi tetap berdoa dan berusaha.


Angga hanya diam tak bergeming. Pikirannya jadi menerawang kemana - mana. Ia tak menggubris apa yang dibicarakan oleh Ayah Nara. Dipikirannya masih ada satu cara yang belum dilakukannya.


Angga kemudian berlari kecil menuju kamar Pak Donnie Prambudya yang juga berada di lantai dua rumah ini. Ia tak menghiraukan apa yang disampaikan ayah Nara padanya. Batinnya berkata semoga satu kali ini saja usahanya akan membuahkan hasil.


Tok ... tok ... tok, " Tante tolong Angga, " ucap Angga sambil terus mengetuk pintu kamar Pak Donnie.


Istri Pak Donnie yang dipanggil tante oleh Angga tak kunjung membuka pintu. Hampir setengah jam Angga memanggil - manggil sembari mengetuk pintu dengan keras. Namun orang yang didalam tak juga muncul. Merasa kecewa, Angga kemudian terduduk lemas di depan pintu sambil kedua tangannya bersandar di pintu tersebut.

__ADS_1


Ayah Nara yang ditinggal oleh Angga di ruang makan. Ternyata masih saja mengikuti langkah kaki Angga. Setengah jam ia berdiri tak jauh dari Angga. Ia membiarkan Angga melakukan usaha terakhirnya. Setelah dirasa lumayan lama ia merangkul sosok Angga yang tampak begitu terguncang.


"Sudah om bilang, percuma saja nak. Mending kamu pulang saja, dari pada lama di sini akan membuat Pak Donnie akan semakin murka, " jelas Ayah Nara sambil tetap merangkul pinggang Angga dengan tangan kanannya dan tangan kiri Angga berada di di atas pundak kirinya.


" Ta - pi ... om , bagaimana cara agar ayahku bisa bebas. A-ku tak punya cara lain, " ujar Angga terbata - bata dengan raut wajah seperti menangis.


Ayah Nara membawa Angga tertatih - tatih berjalan pelan - pelan ke dalam kamar yang mereka tumpangi. Ia mencoba mendudukkan Angga di tempat tidur.


Angga tampak lemas tak bergairah. Wajahnya tampak putus asa. Ayah Nara kemudian memberikan segelas air mineral pada Angga.


Angga lalu meneguk air mineral yang ada di tangannya. Mencoba berusaha menenangkan hatinya dan pikirannya.


Setelah Angga merasa cukup tenang. Ia mengoba mencerna apa yang disampaikan Ayah Nara. Sekitar sepuluh menit kemudian Angga mulai sibuk mengemasi baju dan barang - barangnya kedalam tas travel bag miliknya.


Angga pamit pada Ayah Nara. Ia menggeret tas travel bagnya dan membawanya menuruni tangga. Ayah Nara mengikuti Angga dari belakang.


Turun dari tangga semua mata tertuju pada Angga. Tampak Nara dan ibunya beserta keluarganya yang lain duduk bercengkrama sambil menikmati bakwan goreng bikinan bik Ijah. Tak tampak Pak Donnie dan istrinya hadir di tengah mereka.


Angga pun pamit pada mereka yang ada di ruang tamu. Termasuk pada Nara yang duduk disana juga. Nara menyambut jabat tangan Angga dengan pura - pura tidak memperdulikannya. Padahal hatinya resah, kasihan melihat wajah Angga yang terluka.


Dahulu Nara ingin melihat Angga memohon meminta maaf padanya. Namun justru kemarin kebalikannya. Ia tak tega melihat laki - laki yang pernah ia cintai kini pulang dengan penyesalan yang mendalam.


Angga lalu berjalan keluar dari rumah Pak Donnie Prambudya. Pulang dengan perasaan hampa. Sebuah harapan telah sirna dan entah kapan ia akan mampu membebaskan ayahnya ....


.


Saksikan episide - episode terakhir Cinta Nara.

__ADS_1


__ADS_2