
Setelah melalui dini hari yang indah dan penuh gairah, paginya Yoga dan Nara bersiap untuk pulang. Mereka telah memesan tiket sebelumnya dan mengambil penerbangan pagi karena siang harinya Yoga harus menghadiri pertemuan penting di kantor utamanya.
Yoga memang mencari sela waktu di antara agenda kerjanya yang cukup padat di akhir bulan seperti ini hanya demi memberikan kejutan istimewa untuk istri tercintanya.
Meskipun hanya sebentar, tapi setidaknya mereka telah memiliki waktu khusus hanya berdua dan bisa melakukan banyak hal berdua saja tanpa ada yang mengganggu sama sekali.
"Mas, sudah siap kopernya?" tanya Nara saat melihat Yoga
masih sibuk dengan koper yang berada di atas tempat tidur.
"Sudah, Sayang. Tinggal menutupnya saja." Yoga menarik ritsleting utama lalu menguncinya.
"Siap!" Diturunkannya koper tersebut ke lantai lalu tersenyum ke arah Nara yang menghampirinya.
Wanita itu memeluknya dan bermanja di dada, seakan berat untuk mengakhiri liburan serasa bulan madu mereka kali ini.
"Ada apa? Masih kurang ya, liburannya? Maafkan aku, Sayang. Kali ini kita belum bisa lebih lama lagi di sini." Yoga mencium puncak kepala istrinya, sedikit menyesal karena hanya mengajaknya berlibur sebentar saja.
Nara menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. Bukan itu maksudnya.
"Tidak, Mas. Bukan itu yang ingin aku utarakan kepadamu. Justru aku ingin berterima kasih, Mas."
"Untuk apa?"
Wajah Nara terangkat ke atas menatap wajah suaminya yang sudah menunduk menatapnya lebih dulu.
"Terima kasih atas dua hari dua malam waktumu yang kamu khususkan untuk kita berdua, terutama untuk diriku. Aku sangat menghargainya dan tersanjung karenanya."
Senyum penuh ketulusan terukir di bibir manis wanita yang sangat dicintai Yoga itu.
Dia tahu waktu suaminya sangat terbatas bahkan hampir selalu kurang untuk melakukan semua kewajiban yang harus lelaki itu penuhi.
Dia juga tahu suaminya sudah berusaha untuk membagi waktunya agar seimbang antara keluarga dan pekerjaan, meskipun pada akhirnya dirinya dan Raga yang selalu mengalah dan harus ikhlas untuk merelakan Yoga saat harus mengutamakan tanggung jawab pekerjaannya.
"Sama-sama, Sayang. Terima kasih juga atas banyak pengorbananmu untuk keluarga kita. Kamu selalu mengerti kesibukanku meskipun waktuku untuk kamu dan Raga menjadi berkurang karenanya. Tapi kamu tidak pernah mengeluh, justru tetap selalu mendukungku dan menguatkan aku."
__ADS_1
Lama Yoga mencium kening Nara sebagai ungkapan terima kasih kepada wanita kesayangannya. Rasa syukurnya selalu bertambah dari waktu ke waktu atas keberadaan Nara di sisinya sebagai pendamping hidup yang terbaik.
Kehadiran Nara merupakan anugerah terindah di tengah gundah dan susah hatinya yang hampir mencapai titik keputusasaan dan kepasrahan atas garis takdir yang sempat melemahkan hati dan jiwanya.
"Jika dulu aku tidak bertemu denganmu, entah apa jadinya diriku ini. Mungkin saja waktuku tidak akan pernah sampai pada detik saat ini. Mungkin hidupku sudah berakhir dulu-dulu dalam ketidakberdayaan yang tak bisa aku lawan tanpa adanya sedikit pun kekuatan yang tersisa untuk kumiliki."
Hati Nara bergetar sedemikian hebat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh suaminya.
"Mas! Aku mohon jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kamu membuat aku merasa takut, Mas."
Bulir tangisan mulai menggenangi pelupuk mata bening Nara yang memburamkan pandangannya.
"Jangan lagi membuatku lemah dengan mengingat masa-masa sulit kala itu, karena hal tersebut membuatku semakin takut kehilangan kamu, Mas."
Air mata telah menetes melalui kedua sudut indera penglihatan wanita yang tengah merasa lemah tersebut. Yoga yang merasa bersalah karena sudah menjadi penyebabnya, buru-buru menyekanya dengan lembut dan sepenuh hati.
"Maaf, Sayang. Maafkan aku."
Diciumnya sepasang kelopak mata itu dengan segenap rasa, berharap tak ada lagi tangisan yang tumpah setitik pun dari mata bening yang sangat disukainya itu.
Kalimat berisi harapan sederhana itu nyatanya justru mampu menyentuh hati Yoga hingga ke relung yang terdalam.
Yoga sadar, keadaannya dulu sempat membuat Nara merasakan trauma yang mendalam. Berulang kali dihadapkan pada kenyataan nyaris kehilangan dirinya, membuat Nara selalu didera ketakutan yang luar biasa.
Wanita itu takut akan kembali menghadapi saat-saat penuh ketegangan dan kekalutan dalam hidupnya. Saat-saat di mana hatinya sedemikian lemahnya hingga bayangan akan kehilangan sang suami untuk selamanya, terus menghantui pikirannya setiap hari dan sepanjang waktu.
"Aku akan selalu menjaga diriku demi kalian. Aku akan selalu sehat dan kuat, agar kalian terutama dirimu tidak akan bersedih dan menangis seperti dulu lagi, Sayang."
Yoga mencium bibir Nara sekilas untuk menenangkan perasaan keduanya.
Segera didekapnya tubuh Nara, lebih erat dari pelukan sebelumnya. Sesungguhnya, dirinya pun kini merasa lemah sebab melihat sang kekasih hati menangis karenanya.
Berdua larut dalam pelukan yang saling menghangatkan, Yoga dan Nara mencoba saling menguatkan dan melepaskan ketakutan yang sama-sama mereka rasakan saat ini.
Setelah dirasa lebih tenang dan bisa menguasai perasaan, Yoga melepaskan pelukannya dan kembali menatap istrinya lekat-lekat.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf, karena terlambat mengajakmu berbulan madu, Sayang. Kita bukan lagi pasangan pengantin baru, tetapi baru melakukan bulan madu selewat ini."
Lelaki itu mencoba menghangatkan lagi suasana yang sempat berubah sendu sesaat tadi, dengan kalimat yang bisa membuat wanita pemilik utuh hatinya itu menjadi tersenyum dan merona kembali.
Dan benar saja, wajah Nara berubah seketika, menghangat dan memerah begitu mendengar ucapan sang suami.
"Kamu ingin kita melakukannya lagi di lain kesempatan? Huumm ...??" Yoga membelai wajah merona itu dengan tatapan teduh sarat cinta.
Nara mengangguk sembari mengunci pandangannya yang terus beradu dengan sepasang netra milik lelaki di hadapannya.
"Asal waktumu ada dan tidak mengganggu pekerjaanmu, Mas." Suara lembut mendayu itu terdengar manja dalam pendengaran Yoga, membuatnya tersenyum semakin lebar dan melupakan ketakutannya semula.
"Aku akan berusaha mengurangi waktuku di kantor untuk menggantikan waktu kebersamaan keluarga kita yang selalu tersita karena kesibukan yang tak bisa kukendalikan dengan baik."
"Aku akan melimpahkan beberapa pekerjaan kepada Beno dan Pram sepenuhnya, agar kita bisa lebih banyak waktu bersama, baik berdua maupun bertiga bersama Raga."
"Atau berempat dan berlima bersama adik-adik Raga nanti, Mas," tambah Nara dengan wajah berseri penuh harapan.
Yoga mengiyakan dan mengamini kalimat serupa doa yang diucapkan oleh Nara. Demi kebahagiaan wanita terkasihnya, dia akan melakukan apa pun untuk memenuhi segala keinginan sang istri.
"Apa pun akan aku lakukan demi terus bersama kalian yang akan selalu menjadi prioritas utamaku, Sayang. Apa pun keinginan dan permintaan kalian, sebisa dan semampuku akan selalu aku penuhi dan aku lakukan, demi kebahagiaan kalian, kebahagiaan keluarga kita."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.